
Pagi ini John sudah kembali ke rumah sakit untuk bekerja, dan di meja kerja John sudah terdapat banyak data pasien yang akan dia periksa. John kadang merasa sangat lelah dengan pekerjaannya namun ia kembali teringat saat berjuang keras untuk menjadi seorang dokter itu tidaklah mudah. Dan ia beruntung dari sekian banyak orang yang ingin menjadi dokter, ia salah satu yang berhasil mencapai tujuannya itu.
John menghela nafasnya sebentar dengan cukup panjang, ia harus terlihat sangat semangat ketika pasien datang. Pria itu pun segera mengenakan jas putih yang selalu menjadi khas dokter dan siap untuk memeriksa para pasien yang sudah menunggunya diluar.
Sudah beberapa jam John memeriksa pasien yang cukup banyak, akhirnya ia bernafas dengan lega karena sudah waktunya ia untuk beristirahat. Tatapan John tertuju pada pintu ruangannya yang terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang beberapa waktu lalu pernah menjadi pasiennya. Wanita itu tersenyum dengan sangat ramah sambil membawa kotak nasi dan menghampiri John yang masih duduk.
Gracia duduk dihadapan John, "Selamat siang dokter," Ucap Gracia sambil tersenyum ramah pada John, menyimpan kotak nasi itu tepat di meja kerja John.
John membalas senyuman Gracia dan tatapannya kini tertuju pada sebuah kotak nasi yang telah di berikan oleh wanita itu, "Apa ini?" Tanya John sambil menatap wajah cantik Gracia.
"Makan siang untukmu. Aku membuatkan ini khusus untukmu Dok," Ucap Gracia sambil membuka kotak nasi itu dan memberikannya pada John.
John hanya tersenyum dan merasa sangat beruntung memiliki pasien yang sangat baik dan masih mengingatnya. Dan hanya Gracia lah satu-satunya pasien yang membawakannya makan siang seperti itu. Dengan cepat John melahap makan siang yang telah diberikan oleh wanita itu karena tidak ingin membuat Gracia kecewa jika ia tidak memakan makanan itu.
"Enak," Ucap John sambil melanjutkan menghabisi makan siangnya itu.
John menatap wajah Gracia yang tidak berhenti tersenyum, kebahagiaan seorang pasien adalah kebahagiaan John juga itulah yang selalu ada dalam pikiran John. Ketika ada pasien yang berbuat baik padanya, sebisa mungkin John akan berusaha untuk berbuat baik juga.
"Harusnya kau tidak perlu repot membawakanku makan siang seperti ini. Tapi terima kasih untuk makanan yang telah kau bawa ini, aku sangat menyukainya karena rasanya juga sangat enak," Ucap John sambil menutup kotak nasi yang sudah habis ia makan itu.
__ADS_1
Gracia tersenyum saat mendengarkan apa yang diucapkan oleh John, "Tapi aku ingin membawakanmu makan siang setiap hari," Ucap Gracia sambil menunduk karena merasa sangat malu jika menatap langsung wajah tampan milik pria tampan yang berada dihadapannya itu.
John tertawa dengan cukup keras saat mendengar ucapan Gracia dan membuat wanita itu menjadi salah tingkah dengan wajahnya yang kini mulai memerah. John langsung menghentikan suara tawanya yang keras itu karena tidak ingin membuat Gracia salah paham padanya.
"Apa kau mengalami keluhan lagi?" Tanya John mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, dan membuat Gracia hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa menjawab sepatah kata pun.
John menatap serius wajah Gracia, "Lalu?" Tanya John untuk memastikan ada tujuan lain kah kedatangan Grace ke rumah sakit untuk menemuinya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Apakah kau keberatan jika aku datang kesini hanya untuk bertemu denganmu?" Tanya Gracia dengan suara yang sangat pelan.
Dan lagi-lagi John kembali dibuat tertawa oleh ucapan Gracia, karena ini pertama kalinya John mendapatkan pasien yang sampai menemuinya saat pasien itu sudah sembuh. Apakah John harus mengatakan tidak keberatan pada Gracia? Atau John harus bilang kalau Gracia jangan terlalu sering datang menemuinya saat bekerja? Itulah yang kini terlintas dalam benak John.
Wajah Gracia terlihat sangat berharap jika John memberikan ia izin untuk selalu bertemu dengan John saat makan siang. Namun di satu sisi ia merasa sangat malu karena sudah berkata seperti itu ke John.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu dok. Sampai bertemu nanti," Ucap Gracia sambil melambaikan tangannya dan mulai melangkah keluar dari ruangan John.
John hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah laku Gracia, John hanya berharap jika wanita itu tidak akan mengganggunya saat ia sedang bekerja karena itu akan sangat tidak nyaman untuk John.
***
__ADS_1
Dua hari berlalu dengan cepat, kini Laura merasa tubuhnya sangat tidak enak. Sejak ia bertemu dengan keluarga John beberapa hari yang lalu, kini ia mengalami demam yang cukup tinggi dan membuat Laura sangat tidak nyaman. Karena ia khawatir keadaannya semakin memburuk, ia pun bersiap untuk pergi ke rumah sakit untuk di periksa.
Sesampainya dirumah sakit, tidak perlu menunggu cukup lama akhirnya nama Laura pun dipanggil. Laura berjalan menuju ruangan dokter umum yang akan memeriksanya. Ia terkejut saat membuka pintu ruangan itu dan terlihat John yang tengah sibuk dengan beberapa kertas ditangannya.
John pun berjalan mendekati Laura dan segera memeriksa kondisi tubuh Laura. "Sudah berapa lama kau mengalami demam? Demammu ini terbilang cukup tinggi, untung saja kau cepat datang kesini untuk aku periksa," Ucap John kembali duduk ke kursinya dan diikuti oleh Laura yang duduk dihadapannya.
Laura menyimpan tasnya di kursi yang berada disebelahnya, "Aku merasa demam sejak pulang dari rumahmu. Aku kira demamku akan sembuh dengan sendirinya, tapi ternyata aku semakin merasa tubuhku tidak enak John," Jawab Laura yang memperhatikan John yang sedang menuliskan resep obat untuk Laura.
"Ini sudah aku tuliskan resep untukmu dan kau bisa mengambilnya di tempat pengambilan obat sana," Ucap John sambil memberikan selembar kertas pada Laura.
Laura hanya mengangguk dan segera meraih kertas yang diberikan oleh John, sebelumnya ia tidak menyangka bahwa yang akan memeriksanya adalah kekasih pura-puranya itu. Namun Laura kini tidak mempunyai banyak tenaga untuk memanfaatkan situasi kali ini.
"Semoga kau cepat sembuh. Jangan membuatku khawatir seperti ini," Ucap John dengan tatapan yang sangat serius memperhatikan Laura.
Laura terlihat seperti salah tingkah saat mendengar John khawatir padanya. Apa mungkin pria yang bernama John itu mulai jatuh cinta padanya? Pikir Laura.
"Nanti kalau kau sakit dalam waktu yang cukup lama bagaimana dengan rencana kita?" Tanya John yang langsung membuat wajah Laura berubah menjadi ketus dan sangat kesal mendengarnya.
"Ish kau ini hanya mementingkan urusanmu saja! Dasar pria tidak punya hati!" Ucap Laura mendengus kesal pada John, dan membuat John tertawa dengan sangat keras.
__ADS_1
Laura pun bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan John yang masih saja tertawa dengan sangat keras. Ia sangat kesal karena bisa-bisanya pria itu hanya memikirkan dirinya saja tanpa memikirkan Laura yang kini tengah sakit.
"Dasar menyebalkan!" Lirih Laura sambil menutup pintu ruangan John dengan cukup keras.