Menolak Perjodohan

Menolak Perjodohan
Bab 25


__ADS_3

Hari ini John sudah rapi dengan pakaian, tapi kali ini ia tidak mengenakan seragam serba putih yang selalu ia kenakan saat akan pergi bekerja di rumah sakit. Kali ini ia hanya mengenakan pakaian hoodie berwarna hitam dan juga celana joger berwaena putih, ditambah ia juga mengenakan sepatu branded berwana hitam.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, ia pun berniat untuk mendatangi apartment Laura, karena hari ini ia sedang libur bekerja. Berniat untuk mendatangi Laura karena ingin membicarakan permintaan Agatha yang meminta  dirinya dan juga Laura untuk segera menikah.


Pikiran John berubah setelah ia menjadi lebih dekat dengan Laura, jika sebelumnya ia selalu berpikir untuk tidak menikah dalam waktu dekat, tapi kini ia bersedia dan tidak keberatan jika harus segera menikah dengan Laura. Karena semakin ia dekat dengan Laura, ia menjadi tahu lebih banyak tentang wanita itu. John percaya bahwa sebenarnya Laura itu wanita yang sangat baik dan penyayang, terlihat dari caranya memperlakukan Agatha dengan sangat baik.


John jadi senyum sendiri saat memikirkan Laura, dalam sejarah hidupnya baru kali ini ia merasakan jatuh cinta. Ternyata jatuh cinta tidak sepahit yang ia pikirkan, selama wanita yang menjadi pasangannya itu dapat memahami kondisinya yang berprofesi sebagai dokter.


John berlari kecil menuruni anak tangga yang berada di rumah mewah itu, ia tersenyum dengan sangat ramah pada Agatha yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. John menghampiri Agatha dan mencium pipi wanita paruh baya itu.


"Kau sudah rapi sekali John. Kemana kau akan pergi?" Tanya Agatha sambil memegang wajah cucu kesayangannya itu.


"Menemui kekasihku tentunya nek," Ucap John yang bersemangat menjawab pertanyaan Agatha, dan membuat wanita paruh baya itu terlihat bahagia saat mendengar John akan pergi menemui kekasihnya.


"Katakan pada Laura kalau aku sangat merindukannya," Ucap Agatha dengan mata yang berbinar. John hanya mengangguk dan segera pergi meninggalkan Agatha yang masih duduk disofa depan televisi besar itu.


***


Tak butuh waktu yang lama, akhirnya John sudah sampai tepat di depan pintu apartment milik Laura. Dengan cepat ia pun langsung menekan tombol bel yang berada di pintu berwarna cokelat itu. Ada perasaan degdegan saat ia akan bertemu dengan wanita yang menjadi kekasih pura-puranya itu.


Pintu itu pun terbuka dan memperlihatkan Laura yang seperti tidak percaya dengan kedatangan John di apartment miliknya. John tersenyum dengan sangat ramah pada Laura dan membuat wanita itu pun terlihat salah tingkah melihat ketampanan yang tercipta dari wajah John.

__ADS_1


"Apa kau tidak menyuruhku untuk masuk? Aku datang untuk bertamu," Ucap John sambil menatap serius wajah Laura yang masih berdiam diri menghalangi pintu masuk itu.


John pun masuk kedalam setelah Laura menghindar dari pintu itu. John berjalan menuju sofa dan duduk tanpa menunggu disuruh oleh Laura. John tersenyum saat Laura menghampirinya setelah menutup pintu apartment nya itu.


Laura duduk tepat disebelah John, ia masih terlihat tidak percaya dan bingung dengan maksud kedatangan pria itu ke tempat tinggalnya. Pria itu datang dengan tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu, biasanya kalau John akan menemuinya pria itu pasti akan menghubunginya terlebih dahulu. Seperti itulah John, pria yang sulit untuk ditebak. Pikir Laura.


John menempelkan telapak tangannya tepat diatas dahi milik Laura dan membuat Laura semakin bingung dengan sikap John.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya John memastikan bahwa kondisi Laura sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Sudah jauh lebih baik dari beberapa hari kemarin. Ada apa kau datang kesini?" Tanya Laura yang mencoba untuk menanyakan rasa penasarannya pada pria itu.


Bukannya menjawab, John malah meraih tubuh ramping Laura dan memeluknya dengan sangat erat. Membuat Laura yang berada didalam pelukannya itu semakin tidak mengerti dengan sikap John kali ini.


Laura pun akhirnya pasrah dan membalas pelukan pria itu, Laura berpikir mungkin saja pria itu sedang mengalami hal yang membuatnya terpuruk hingga pria itu mencari ketenangan melalui pelukannya.


Laura merasakan jantungnya yang kini berdebar saat berada di pelukan John. Ia tidak pernah berpelukan dengan pria lain kecuali ayahnya yang sudah tiada dan juga kakak laki-lakinya. Dan kini ia dipeluk oleh pria yang tak lain adalah kekasih pura-puranya dalam beberapa waktu kebelakang ini.


'Tenangkan hatimu Laura. Kau hanya merasa gugup karena berpelukan dengan pria itu,' Lirih Laura dalam hati.


***

__ADS_1


Sudah semakin larut, dan John pun masih terlihat sangat nyaman berada di apartment milik Laura itu. Laura yang merasa harus menyambut tamunya dengan baik, akhirnya ia bergelut dengan beberapa bahan dan peralatan di dapur. Ia hanya membuatkan John makan malam sesuai dengan bahan makanan yang tersedia di dapurnya itu.


Laura tersenyum saat ia selesai menata spaghetti yang carbonara yang telah ia buat beberapa menit yang lalu. Ia membuat dua porsi untuknya dan juga untuk pria yang sedang sibuk menonton televisi disofa sana.


Laura memberikan sepiring spaghetti yang telah ia buat kepada John, dan pria itu menerimanya dengan wajah yang tidak berhenti tersenyum melihat wajah cantik Laura.


"Harusnya kau dari tadi memperlakukanku dengan baik. Kau harus ingat aku ini adalah tamu Laura," Ucap John sambil melahap spaghetti yang telah dibuatkan oleh Laura itu.


Laura memutar bola matanya karena malas mendengarkan ucapan John, "Ya..ya..ya," Ucap Laura seakan mengejek John dan membuat pria itu langsung mengacak rambut milik Laura.


Deg! Perasaan itu datang lagi, perasaan yang sangat sulit untuk digambarkan oleh Laura. Entah mengapa disaat ia berdekatan seperti itu dengan John, pasti akan membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Ditambah John yang mengacak rambutnya membuat Laura terlihat semakin salah tingkah dan wajahnya yang mulai memerah.


"Enak," Ucap John sambil menghabiskan suapan terakhir dari spagheti yang telah dibuatkan Laura untuknya dan mengangkat piring itu ditunjukkan pada Laura, terlihat seperti seorang anak kecil yang memberi laporan pada ibunya jika makanannya sudah habis.


Laura hanya tertawa kecil melihat tingkah laku John yang semakin lucu jika dilihat-lihat. Laura tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ia akan menjadi dekat dengan seorang klien yang membayarnya untuk menjadikannya kekasih pura-pura.


"Nenekku meminta kita untuk segera menikah. Dia bilang waktu paling lama hanya 3 bulan, dan kalau dalam waktu 3 bulan aku tidak menikah denganmu maka aku akan dijodohkan kembali dengan wanita pilihan nenek," Ucap John sambil menyandarkan punggungnya ke sofa empuk yang berada di apartment Laura.


Laura hanya terdiam dan tidak menjawab ucapan John tadi. Ia sudah membayangkan jika hal ini pasti akan terjadi, lambat laun Agatha akan meminta jika John dan juga Laura untuk segera menikah. Laura sendiri pun bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang.


Laura menarik nafasnya dengan cukup panjang, "Lalu kau jawab apa? Lagi pula apa salahnya jika kau harus menikah dengan pilihan nenekmu itu?" Tanya Laura yang sebenarnya merasakan sakit pada hatinya ketika menanyakan hal itu pada pria yang berada didepannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Laura bagaimana jika kita berhenti berpura-pura, dan kau menjadi kekasihku sungguhan. Dengan itu aku tidak akan dijodohkan lagi oleh nenekku itu," Ucap John dengan mata berbinar seolah berharap jika Laura akan menuruti permintaannya itu.


Laura hanya terdiam dan mencoba mencerna ucapan yang terlontar dari mulut John. Jika ia setuju untuk menikah dengan pria itu, maka mereka melakukan itu dengan terpaksa bukanlah karena cinta. Dan sejak dulu Laura hanya ingin menikah sekali seumur hidup dengan pria yang dia cintai dan pria yang mencintainya.


__ADS_2