
Sampai di apartment Laura langsung menyiapkan obat yang telah diberikan oleh John dan meminumnya untuk segera sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasanya. Karena sejak ia mengalami demam selama beberapa hari, ia selalu saja merasa malas dan seperti tidak ada tenaga untuk melakukan sesuatu hal.
Laura masih sangat merasa kesal dengan ucapan John tadi di rumah sakit yang hanya mementingkan dirinya saja. Kalau biasanya Laura selalu bersikap bodo amat, tapi kali ini ia merasa hatinya sangat kacau saat John mengatakan hal seperti tadi. Laura pun bingung pada dirinya sendiri mengapa bisa sampai seperti itu. Apakah Laura mulai jatuh cinta pada John? Ah tidak mungkin itu terjadi, pikir Laura.
Laura berjalan menuju balkon yang berada di kamarnya, ia duduk disofa yang berada disana. Laura mencoba untuk menghirup udara segar yang berada di kota London, ia dapat melihat langsung kendaraan yang sedang berlalu lalang di jalan lewat balkon. Suasana seperti itu selalu menjadi ketenangan untuk Laura. Laura membuka ponselnya yang berbunyi dan melihat ada sebuah notif pesan dari John. Dengan malas Laura pun membuka isi pesan itu.
[Apakah kau sudah sampai apartment? Dan jangan lupa untuk segera meminum obat yang telah aku berikan. Aku minta maaf jika tadi aku salah bicara padamu, aku hanya becanda tapi kau menganggap itu serius.]~ Jhon.
[Ya, aku sudah sampai di aparment dan aku juga sudah minum obat yang telah kau berikan. Bukan urusanku jika kau becanda atau tidak, hanya saja aku sangat tidak suka dengan perkataanmu tadi yang hanya mementingkan dirimu sendiri.]~ Laura.
Setelah Laura membalas pesan pada John, ia berpikir apakah seorang kekasih pura-pura itu wajar menanyakan kabar dan segala macam? Selama ia bekerja menjadi kekasih pura-pura orang lain, tidak ada satu pun diantara para klien nya itu yang bertanya seperti apa yang dilakukan oleh John.
Ada perasaan aneh yang kini tengah Laura rasakan dalam hatinya, John memanglah terlihat sangat dingin dan cenderung pendiam. Tapi akhir-akhir ini ia bisa untuk becanda dan bahkan dibalik sikap dinginnya, ada perasaan khawatir pada Laura.
Laura dengan tidak sadar kalau kini ia tersenyum dengan sangat manis hanya karena membayangkan seorang pria yang bernama John itu. Setiap kali ia memikirkan John, wajahnya selalu saja memerah layaknya seperti orang yang sedang merasakan jatuh cinta pada seorang pria. Laura berpikir andai saja ia menjadi kekasih John, bukan menjadi kekasih pura-pura dari pria itu. Mungkin Laura akan merasa sangat bahagia karena memiliki kekasih setampan John dan juga merasa bahagia karena keluarga John yang selalu bersikap baik padanya bahkan terlihat seperti menyayanginya.
__ADS_1
Perasaan bersalah pada Agatha kini terlintas dalam pikiran Laura, bagaimana reaksi Agatha dan juga keluarga John yang lain jika suatu saat nanti mengetahui kebohongan yang telah dilakukannya dan juga John. Laura berpikir pasti mereka akan merasa sangat kecewa dan juga marah besar pada John dan juga Laura. Mungkin lebih parahnya lagi Agatha dan keluarga John tidak mau lagi kenal dengan dirinya. Kini Laura terlihat sangat frustasi dengan apa yang ia pikirkan.
Laura mencoba untuk menghela nafasnya dengan cukup panjang, ia ingin melupakan apa yang sempat ia pikirkan tadi. Laura khawatir jika ia berpikir keras akan mempengaruhi kondisi tubuhnya atau bahkan bisa memperburuk keadaannya.
"Biar John saja yang mengatur ini semua. Aku hanya dibayar dan menjalankan tugasku sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh John," Lirih Laura dan bergegas untuk masuk ke dalam kamarnya.
***
Malam harinya, John sudah sampai dirumahnya dan ia melihat Agatha yang sedang duduk di sofa yang berada di ruang tengah rumah mewah itu. John merasa ada sesuatu yang tidak beres karena melihat Agatha seperti sedang memikirkan sesuatu hal.
Dengan cepat John pun menghampiri Agatha dan duduk disamping wanita paruh baya itu. John tersenyum dan memeluk Agatha dengan erat, mencoba untuk memberikan ketenangan untuk neneknya itu.
Agatha menatap serius wajah cucu terakhirnya itu, "Aku hanya memikirkanmu dan juga Laura," Ucap Agatha dan membuat John berpikir bahwa neneknya akan meminta sesuatu pada dirinya dan juga Laura. Menikah, sudah pasti yang akan diucapkan Agatha. Pikir John.
John menghela nafas dan melepaskan tangannya dari punggung Agatha, "Memikirkanku dan juga Laura? Tidak ada sesuatu buruk yang terjadi pada kita berdua, kenapa kau harus memikirkan aku dan juga Laura nek?" Tanya John yang berpura-pura tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Agatha.
__ADS_1
Agatha bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir di hadapan John. Dan membuat perasaan John ssmakin tidak enak.
"Aku ingin kau segera menikah dengan Laura. Apakah kau bersedia untuk mengabulkan permintaanku ini?" Tanya Agatha dengan penuh harap jika John akan segera menikah dengan Laura, karena Agatha sudah terlanjur menyayangi kekasih cucunya itu.
John menghela nafas dan bangkit dari duduknya menghampiri Agatha, "Aku tahu nek kau sangat mengharapkan aku menikah dengan Laura. Dan aku pasti akan mengabulkan permintaanmu itu, tapi bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku dan juga Laura sudah sepakat untuk menilah 2-3 tahun lagi nek," Ucap John mencoba menjelaskan pada Agatha dengan sangat hati-hati agar tidak menyakiti perasaan wanita paruh baya itu.
"Terlalu lama. Apa kau ingin melihatku mati sebelum kau dan Laura menikah? Apa kau setega itu pada nenekmu ini John?" Ucap Agatha sambil menatap tajam wajah cucu terakhirnya itu.
"Tapi nek,"
"Aku beri waktu paling lama 3 bulan untuk kau menikah dengan Laura. Jika dalam waktu 3 bulan kau masih belum menikah dengan Laura maka aku akan mencarikanmu calon istri yang bersedia menikah denganmu dalam jangka waktu yang dekat!" Ucap Agatha yang membuat John langsung terdiam mendengarnya.
Mencarikan calon istri selain Laura? John saja membayar mahal Laura agar Agatha berhenti menjodohkannya. John terlihat sangat frustasi dengan keadaan sekarang.
"Akan ku bicarakan nanti dengan Laura nek," Ucap John, Agatha mengangguk dan pergi meninggalkan John sendiri yang masih terdiam ditempat.
__ADS_1
John kembali duduk disofa yang berada diruang tengah itu, apa yang ia khawatirkan ternyata jadi kenyataan. Rencana yang telah ia buat pada akhirnya menjadi sebuah bumerang untuknya, yang awalnya ia berniat untuk tidak cepat menikah tapi ternyata setelah ia mengenalkan Laura pada Agatha, wanita paruh baya itu memintanya untuk segera menikah dengan wanita yang dibayar untuk menjadi kekasih pura-puranya itu.
"Apa yang harus aku lakukan?"