
Rangga terus berfikir bagaimana mencarikan solusi dari masalah ini. Bagaimana pun dia ingin tetap berjualan di sekolah. Sebelumnya Rangga sudah menemui pihak kepala sekolah dan juga guru guru saat memberikan tester buburnya, Rangga sudah meminta izin dan Rangga sudah mengatakan akan membagi hasil dengan pihak sekolah, bagaimana pun Rangga berjualan tidak menyewa tempat atau lapak. Begitu juga yang dia terapkan untuk di rumah sakit papa dan Auntynya.
"Begini saja, Saya mempunyai penawaran untuk kalian..." ucap Rangga
Setelah dihitung hitung dari modal 1 porsi buburnya, Rangga masih bisa membagi sedikit lagi untuk mereka yang mau ikut berjualan buburnya
"Bagaimana kalau kita bagi hasil, seperti yang saya tawarkan kepada pihak sekolah, saya membagikan kepada kalian yang mau ikut jualan bubur saya dengan keuntungan 10% dan sekolah 10% dari harga jual 1 porsi bubur?" ucap Rangga
Semua orang tampak berfikir, memikirkan tawaran Rangga.
"Lalu bagaimana jualan kami yang lain, dan kasihan pak Budi juga jualan bubur ayam, masak dia tutup?" tanya pedagang
"Kalian tetap jualan seperti biasa, ini bukan sistem titip, tapi tapi order langsung dan saya akan memberikan potongan 10% setiap porsi" ucap Rangga
Kalau hanya 10% kecil sekali untungnya?!, Sedangkan dia pasti mendapat untung yang lebih besar!. Salah seorang pedagang membatin.
"Ini masih tidak adil, jualan kami yang lain akan tetap terancam. Kalau gak, mas Rangga cari lapak lain saja bagaimana?"
"Iya mas, kasihanilah kami pedagang kecil disini mas,,"
Rangga berfikir, pedagang itu secara tidak langsung mengusir nya untuk tidak berjualan. Dia berfikir, Rangga sudah mengeluarkan 20% keuntungan untuk sekolah dan pedagang lain yang mau ikut jualan, itu pun dia sudah merelakan untuk mengurangi keuntungannya sendiri, tapi nyatanya mereka tidak mau di beri solusi itu.
"Saya Rasa ini solusi yang baik, Rangga sudah mengurangi keuntungannya lagi 10% untuk kalian yang mau ikut jualan, dengan bukankah sudah lumayan jika kalian bisa mendapatkan orderan yang lebih banyak?" ucap pak kepala sekolah
"Iya kalau banyak pak, kalau sedikit? kami inginnya mas Rangga tidak berjualan disini pak, Jujur saja ini mengganggu perekonomian pedagang kecil seperti kami..."
__ADS_1
Para pedagang di kantin itu terus mendesak kepala sekolah untuk menyuruh Rangga berhenti berjualan di sekolah. Sedangkan Rangga masih ingin berjualan di sekolah, meski dia memiliki power untuk meminta papanya mengurus hal seperti ini, tapi Rangga tidak ingin masalah ini bertambah besar. Pemuda itu mencoba membesarkan hatinya lagi untuk mengalah kepada mereka dan mungkin Rangga akan mencari tempat baru untuk berjualan. Dimanapun tempatnya, Aku yakin Allah akan kasih rejeki.
" Pada Intinya kalian semua tidak ingin saya berjualan di sekolah, padahal saya sudah mencoba mencari solusi untuk permasalahan , bisa saja saya melaporkan hal ini kepada papa saya sebagai pemilik sekolah,,,"
Deg!
Semua kembali diam, jika begitu mereka tidak akan bisa apa apa jika Angga sudah bertindak, maka mereka harus siap menanggung resiko terbesar yaitu tidak akan bisa berjualan lagi di kantin itu.
"Tapi, saya tidak akan melakukan itu, saya merasa kasihan pada kalian semua yang takut bersaing, padahal kami sekolah juga sampai siang, tentu para siswa juga masih jajan di kantin. Seoah olah bubur saya begitu mengganggu, padahal saya hanya berikhtiar mencari rejeki juga seperti kalian. Tidak masalah saya tidak berjualan disini, silahkan lanjutkan saja usaha kalian. Permisi,," ucap Rangga kemudian memilih pergi dari ruangan itu.
Ada sedikit rasa sedih di hati pemuda itu, baru saja akan memulai usaha, dia sudah mendapat ujian seperti ini. Tapi dia tidak akan menyerah, Rangga yakin di tempat lain, dia bisa mendapatkan rejeki itu.
Sampai di kelas, Rangga kembali mengikuti pelajaran seperti biasa, namun sejak tadi Jasmine terus menatap suaminya itu dengan perasaan bingung. Wajah Rangga terlihat lebih redup dari sebelumnya.
Saat bel istirahat sekolah terdengar, semua siswa siswi berhamburan keluar dari kelas.
"Kak,,, kakak kenapa?" tanya Jasmine saat menghampiri Rangga, Gadis itu yang biasanya tidak pernah menghampiri Rangga, baru kali ini mau menghampiri Rangga duluan. Disana juga ada Ayu dan Gerry
"Besok kita gak bisa jualan di sekolah lagi, pedagang di kantin protes..." Kemudian Rangga menceritakan semua yang terjadi tadi kepada Jasmine, Ayu dan Gerry.
"Sabar ya, aku yakin meskipun di tempat lain kalian buka usaha ini, pasti akan tetap laku. Mereka semua sudah pernah beli, dan mengakui bubur kalian enak, pasti mereka akan beli meski tidak berjualan disini lagi,," ucap Gerry dengan menepuk bahu Rangga
"Iya Ngga, bener yang di katakan Gerry salut, meski gak disini, pasti di tempat lain jualan kalian tetap laku keras" ucap Ayu
"Kok Gerry salut sih?! namaku Gerry Ardian Rajasa bukan Gerry Salut!" sungut Gerry
__ADS_1
"Udah cocok Gerry salut!" jawab Ayu kemudian pergi dan diikuti Gerry
Keduanya terlibat pertengkaran mulut sambil terus berjalan keluar. Ayu memanggil Gerry seperti itu karena gadis itu salut saja, Gerry berani datang ke rumah dan menyapa papanya. Biasanya kalau ada teman yang menjemput Ayu dulu, mereka hanya menunggu di depan komplek, tidak ada yang berani menemui papanya yang sangar.
"Maaf yah,,, kita harus berjuang lebih keras lagi" ucap Rangga kepada Jasmine
"Jangan patah semangat yah, Jasmine akan tetap di samping kakak, buat support kakak" ucap Jasmine dengan menatap Rangga sendu
"Pengen peluk" ucap Rangga dengan wajah memelas
"Mana bisa? ini kan disekolah bukan di rumah" Jawab Jasmine dengan mengigit bibirnya sendiri
Sebenarnya dia juga ingin memberi pelukan untuk penguat suaminya, tapi apalah daya, mereka masih berada di sekolah.
.
.
.
.
.
Manusia ya banyakan gitu, gak bisa bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan. Di kasih rejeki bukannya bersyukur tapi selalu merasa kurang kurang dan kurang. Gak ada puasnya dan sampai lupa bersyukur 😢
__ADS_1