
Seminggu telah berlalu semenjak pertemuannya dengan anak - anaknya Zara, Hari - hari Bram terasa berwarna bahkan kadang ia senyum - senyum sendiri mengingat kedua bocil itu hal itu membuat Sania aneh pasalnya semenjak kepergian kakak ipar empat tahulau Bram tidak pernah seceria sekarang.
Sania menghampiri Bram yang sedang menonton televisi sambil senyum - senyum sendiri seolah ada yang lucu, Bahkan Bram tidak sadar dengan kedatangannya.
"Aku perhatikan akhir - akhir ini papah sangat ceria, Papah punya gebetan baru ya. "Celetuk Sania langsung mendapatkan pukulan dari Bram.
"sembarangan kalau bicara sampai kapanpun almahrum mamamu tidak akan pernah tergantikan di hati papah. "Kata Bram dengan mata melotot.
"Habisnya aku perhatiin papah akhir - akhir ini sering senyum - senyum sendiri padah tidak ada yang lucu, Aku kira papah sedang jatuh Cinta makakanya papah menjadi seperti itu. "Jawab Sania cemberut.
"Itu karna hati papah lagi senang akhirnya papah sudah bertemu dengan mereka, Apalagi Seina sangat lucu hingga papah yang melihat sangat gemas."Ucap Bram dengan senyuman.
" Tunggu - tunggu maksud papah mereka siapa?, Dan siapa itu Seina pah ?."Tanya Sania penasan.
Bram menghela nafas ia lupa memberitahu putrinya, Kalau ia sudah bertemu dengan Zara dan Zein.
" Papah lupa memberitahumu, Seminggu yang lalu papah bertemu dengan Zara dan Zein makanya papah sangat bahagia. "Jelas Bram.
"APAAAAA. "Teriak Sania menggema diruangan itu, Bram menutup telinga dengan tangannya karna suara putrinya sangat keras.
__ADS_1
"Kau ini selalu kebiasaan teriak. "Omel Bram.
"Maaf pah habisnya aku kaget dengan ucapan papah tadi. "Sahut Sania sambil tersenyum meringis. "Memang benar apa yang papah katakan. "Lanjutnya dengan wajah tidak percaya.
"Iya, Ngapain papah bohong padamu bahkan mereka hampir seharian main disini. "Jawab Bram dengan tegas.
"Ya ampun papah kenapa tidak memberitahu Nia, Akupun juga sudah rindu dengan mereka. "Kesal Sania bahkan wajahnya ditekuk.
"Kau kan sedang bekerja dikantor. "Jawab Bram santai.
"Tapi siapa Seina pah? "Tanya Sania ketika ingat Bram menyebutkan nama lain.
Bram menghela nafas. "Dia anaknya Zara dengan suami barunya. "Ucap Bram dengan wajah lesu.
"Hm. "Jawab Bram singkat. Ia masih mengira mantan menantunya sudah menikah lagi, Karna ia mendengar pembicaraan Raka waktu itu walau sekilas wajah Sein sedikit mirip dengam Raka namun ia segara menepisnya.
"Astaga kasihan sekali nasib ka Raka, Penantiannya selama ini menjadi sia - sia karna ternyata ka Zara sudah menikah lagi dengan pria lain. "Sania sungguh kasihan dengan nasib rumah tangga kakak yang hancur karna keegoisan kakaknya sendiri.
"Sudahlah jangan kau pikirkan mungkin ini sudah takdir kakakmu. "Nasihat Bram.
__ADS_1
"Iya pah. "Jawab Sania patuh.
"Bagaiman keadaan perusahan selama kakakmu pergi? "Tanya Bram mengalihkan pembicaraan.
"Semuanya baik - baik saja, Bahkan kita sekaran sedang mengerjakan proyek yang sangat besar. "Jawab Sania bangga.
"Papah bangga kepadamu. "Ucap Bram sambil mengusap kepala Sania.
Selama Raka pergia Sania dan Dionlah yang bertanggung jawab kepada perusahan, Untung saja mereka berdua bisa bekerja sama dengan baik.
Sedangkan di tempat lain, Tepatnya tempat Raka sedang liburan. Ia dikejutkan dengan kedatangan tamu yang tidak terduga.
"Malam Rak."Sapa mereka semua langsung masuk begitu saja.
"Kenapa kalian ada disini? "Tanya Raka.
Siapa yang memberitahu teman - tamannya ia ada disana, Bahkan Dave yang ia tahu sedang melanjutkan pendidikan diluar negripun ada disana namun hanya diam saja tanpa menyapa Raka. Tatapan Raka beralih kearah Dion yang barisan paling belakang karna yang tahu ia ada disana cuman tiga orang, Dion yang mendapat tatapan tajam dari Raka ia langsungg meminta maaf karna ia merasa bersalah.
"Maaf Rak mereka yang memaksa aku untuk memberitahukan keberadaan dirimu. "Jalas Dion karna ia tidak mau hanya dirinya yang kena marah.
__ADS_1
"Hey kenapa kalian tidak masuk kedalam. "Teriang Stev yang ada didalam.
Raka menghela nafas tanpa mengucapkan sepatah katapun ia masuk kedalam Villa begitu saja, Melihat itu Dion mengikuti Raka dari belakang karna ia tahu Raka sedang marah padanya padahal sebelum Raka pergi, Sahabatnya berpesan untuk tidak memberitahu siapapun dimana dirinya.