Menunggu Didalam Penyesalan

Menunggu Didalam Penyesalan
Episode 111


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Selama itu pula Raka tidak muncul lagi di hadapan Zara hal itu membuat Zara lega karna tidak harus melihat wajah Raka lagi yang selalu mengingatkan kenangan buruk nya beberapa tahun lalu. Namun anehnya akhir - akhir ini Zara selalu mendapatkan kiriman bunga dari orang misterius, Hanya meninggalkan sebuah kertas yang terselip di dalam bunga itupun hanya sebuah kata - kata romantis untuk dirinya.


Sudah sering kali Zara menolaknya pada kurir yang mengirimkan nya, Namun sang kurir memohon kepada Zara agar menerima bunga itu. Karna kalau Zara menolak gajinya akan di potong oleh bosnya. Sedangkan ia sangat membutuhkan uang itu untuk berobat sang anak yang sedang sakit, Karna kasihan Zara pun menerima bunga itu.


Seperti pagi ini Zara yang akan masuk kedalam Lift, Malah terhententi akibat terikan Resepsionis yang sedang berjaga. "Bu tunggu! "Teriaknya sambil berlari kearah dirinya.


Zara berbalik dengan dahi mengernyit. "Jangan berlari Lia pelan - pelan saja, Nanti kau akan jatuh. "Seru Zara.


"Maaf Bu, Habisnya saya takut ibu keburu masuk kedalam sana. "Jawab Lia sambil tersenyum kaku, Zara hanya menggeleng mendapatkan jawaban dari Lia.


"Oh iya Bu, Tadi ada seseorang yang mengirim bunga untuk Bu Zara. "Lanjutnya dengan menyodorkan bunga yang ia dapatkan dari kurir tadi.


Zara langung mengambil bunga itu." Terima kasih atas bunganya, Kau boleh kembali bekerja sekarang. "Ucap Zara yang langsung berbalik untuk masuk ke dalam Lift menuju keruangan nya meninggalkan sang karyawan yang masih berdiri di sana.


Hampir dua jam lebih Zara berkutat dengan perkerjaannya, Hingga tidak terasa waktu istirahat pun tiba. Barulah ia meregangkan Otot - otot yang terasa sangat pegal, Karna terlalu lama berkutat dengan laptopnya. Pandangan matanya menatap bunga Mawar merah yang tadi pagi yang masih tergeletak di atas meja kerjanya, Zara menghela nafas tanpa sadar tangan Zara mengambil bunga itu bahkan sampai menghirup wangi bunga itu.


"Hmm bunga ini sangat Wangi sekali, Sehingga aku ingin terus menghirupnya. "Gumam Zara sambil terus menghirup bunga itu. Zara mengambil kertas Yang terselip di dalam bunga, Seperti bunga - bunga sebelumnya.


Dimataku dirimu selalu indah,


bahkan mengalahkan keindahan bunga mawar ini.


Karna bagiku tidak ada paling cantik,

__ADS_1


Yang mengalahkan kecantikan mu di dunia. Wajah Yang ingin terus kupandang Dan kulihat setiap kali aku membuka mata ku.


*I* *love* *you*


*Bidadari* *surgaku*


" Huptt Sebenarnya siapa Yang terus mengirimkan bunga padaku, Dan apa tujuannya memberiku bunga ini. " Zara menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi kerja Zara, Ia lelah dengan pekerjaan yang tidak ada hentinya belum lagi sosok misterius yang terus mengirimkan dirinya bunga yang belum ia ketahui siapa dan apa tujuannya. Lamunan Zara buyar karna ketukan di pintu, Mungkin itu sekertaris yang membawa makanan yang ia pesan tadi.


Tok Tok Tok


"Masuk. "Teriak Zara dari dalam.


Dan benar saja sekertaris nya yang muncul, Sambil membawa makanan yang ia pesan tadi. "Maaf Bu ini makanan yang tadi ibu pesan. "Ucapnya dengan sopan.


"Bu apa ada lagi yang saya kerjakan? "Tanya Vini setelah selesai menyimpan makanan di atas meja.


"Tidak ada. "Jawab Zara singkat.


"Kalau begitu saya pergi dulu. "Baru saja Vini berbalik namun terhenti oleh suara Zara.


"Tunggu! "


"Iya Bu, Apa ada saya bantu lagi? "Tanya Vini dengan dahi mengernyit.

__ADS_1


"Apa kau sudah makan siang? "Bukannya menjawab Zara malah balik bertanya, Sedangkan Vini ia bingung harus jawab jujur atau bohong. Sebelum menjawab perut Vini berbunyi hal itu membuat Vini malu, Zara yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Lihatlah perutmu sudah menjawab duluan, Ayok makan bareng bersama saya kebetulan tadi saya pesannya kebanyakan. "Ajak Zara kepada Vini yang masih berdiri dengan muka memerah seperti tomat, Ia tidak berani mengangkat wajahnya karna terlalu malu.


"Tidak usah Bu saya akan makan di kantin saja. "Tolak Vini halus.


"Sudah jangan malu pada saya, Kebetulan makanan juga banyak sayangkan kalau tidak habis. Mubazir. "Kilah Zara bahkan tanpa sungkan ia menarik tangan Vini untuk duduk di sampingnya.


Mereka berdua makan dengan sambil mengobrol layaknya seperti teman, Hal itu membuat Vini beruntung bekerja dengan Zara yang ramah dan tidak memandang sebelah mata kepadanya.


Waktu pulangpun tiba dengan segera Zara langsung membereskan mejanya, Dirinya selalu pulang tepat waktu tidak pernah lembur di kantor seperti karyawan yang lain. Karna mengingat ia sudah mempunyai dua anak masih butuh perhatian dirinya, Kalaupun pekerjaan yang belum selesai ia memilih membawanya kerumah dan ia kerjakan setelah kedua anak tertidur.


Ketika keluar dari ruangan ia melihat Vini yang masih berkutat dengan laptotnya. "Vin saya duluan ya. "Pamit Zara ketika melewati meja Vini.


"Iya Bu. "


Sampai di bawah Zara langsung keluar kantor untuk menuju dimana mobil terparkir, Zara langsung masuk kedalam mobilnya. Tanpa Zara sadari gerik - geriknya sedang di awasi seseorang di dalam mobil warna hitam.


"Tuan mobil Nyonya sudah meninggalkan perusahaan. "Lapor orang itu kepada sang atasan.


"Awasi terus jangan sampai kau kecolongan. "Titah disebrang dengan nada dingin.


"Baik Tuan. "Jawabnya Yang langsung di matikan sang atasan, Dirinya hanya bisa mengelus dada saja. Dengan segera ia mengikuti mobil Zara namun dari jarak cukup jauh agar Zara tidak curiga sedang diawasi, Dirinya harus memastikan Zara baik - baik saja kalau sampai terluka bisa habis dirinya di tangan sang atasan Yang terkenal sangat kejam.

__ADS_1


__ADS_2