Menunggu Didalam Penyesalan

Menunggu Didalam Penyesalan
Episode 97


__ADS_3

"Apa kamu tahu Raka dimana nak?, Soalnya Raka belum pulang kerumah sampai sekarang!. "Kata Bram dengan khawatir.


"Aku juga tidak tahu Om Raka ada dimana, Mungkin Raka sedang bertemu dengan temannya Om tapi lupa mengabari Om untuk pulang terlambat."Jawab Dion agar Bram tidak khawatir, Sebenarnya ia juga mencemaskan Raka apalagi tadi siang kondisi Raka tidak baik - baik saja.


"Benar kata kamu mungkin Raka sedang bertemu dengan temannya, Saking asiknya ngobrol sampai lupa ngabarin Om. "Ucap Bram sedikit lega.


"Iya Om makanya Om jangan khawatir dengan Raka, Begini saja bila Raka tidak pulang sampai satu jam lagi nanti aku bantu cari Raka jadi Om tenang saja ya. " Kata Dion.


"Baiklah nanti Om akan kabari kamu lagi. "Setelah itu Bram langsung mematikan teleponnya.


Baru saja Bram mematikan teleponnya, Mobil Raka sudah muncul di gerbang rumahnya melihat itu perasaan Bram menjadi lega apalagi melihat Raka turun dari mobil dalam keadaan baik - baik saja.


"Kau darimana saja Rak? kenapa Baru pulang. "Cecar Bram ketika Raka sudah ada dihadapannya.


"Tadi aku habis dari danau untuk menenangkan diri aku disana hingga lupa waktu. "Jawab Raka tidak berbohong.


"Ya sudah cepatlah mandi habis itu cepatlah makan, Kamu belum makankan? "Kata Bram walaupun ia masih penasaran.


"Belum, Kalau begitu aku masuk dulu kekamar papah juga cepatlah istrahat ini sudah malam. "Titah Raka karna khawatir takutnya kesehatan papahnya.


Setelah mendaptkan anggukan dari Bram Raka langsung pergi kekamrnya untuk mandi, Begitupun dengan Bram langsung istirahat di kamarnya, Tidak lupa sebelum pergi kekamrnya Ia mengabari Dion bahwa Raka sudah pulang kerumah.


"Syukurlah Bila Raka sudah pulang kerumah. "Gumam Dion dengan lega.

__ADS_1


********


Malam berganti pagi semua orang yang ada di dunia siap untuk memulai harinya tidak terkecuali Raka, Dengan baju santai Raka menuruni tangga untuk bergabung dengan keluarganya. Melihat Raka memakai baju santai membuat Sania dan Bram saling pandang, Apalagi Raka membawa koper di tangannya seperti orang yang mau pergi liburan.


"Bi tolong masukan koper saya kedalam mobil ya."Titah kepada pembantu yang kebetulan ada di depannya.


"Baik Tuan muda."Jawab pembantu itu sambil mengambil koper Raka.


"Kamu mau pergi Rak ?."Tanya Bram penasaran.


"Hmm."Jawab Raka sambil duduk di bangku.


"Memangnya kamu mau pergi kemana ?"Tanya Bram lagi yang tidak puas dengan jawaban Raka tadi.


"Ke Villa kita yang ada di puncak kebetulan aku ada kerjaan disana, Sekalin aku juga ingin liburan disana pah."Jawab Raka adanya.


"Tidak, Dia kakak suruh untuk mengurus peruasahan selama kakak pergi."


Setelah itu mereka melanjutkan sarapan mereka yang sempat tertunda karna rencana kepergian Raka, Selesai sarapan Sania Dan Bram mengantarkan Raka sampai teras rumah mereka.


"Jagalah perusahan selama kakak pergi, Kabari kakak jika terjadi sesuatu dengan perusahaan."Nasehat Raka.


"Baik kak."Jawab Sania patuh.

__ADS_1


"Pah aku pergi dulu ya, Jaga diri baik - baik selama aku pergi."Pamit Raka sambil memeluk Bram.


"Iya kamu juga hati - hati disana, Kabari papah selama kamu disana ya."Jawab sambil menepuk punggung Raka,


"Iya pah. "Kata Raka.


Setelah berpamitan Raka langsung masuk kedalam mobil dan langsung pergi dari sana, Melihat kakaknya pergi Sania pun pamit kepada Bram untuk segera pergi kekantor karna takut kesiangan.


"Hufttt aku sendirian lagi, Andai Zein ada disini pasti Rumah ini jadi Ramai. "Gumam Bram yang merasa kesepian, Apalagi anak - anak jarang ada dirumah karna sudah punya kehidupan sendir.


Kadang ia merasa iri kepada teman - temannya yang bisa berkumpul dengan cucunya, Sedangkan jangankan berkumpul keberadaan Zein pun ia tidak tahu ada dimana. Kalaupu ia rindu dengan Zein ia hanya bisa memeluk foto cucunya yang ia ambil ketika Zein sedang bermain dirumahnya.


"Sudah mungkin ini sudah takdirku yang kesepian. "Ucapnya pada dirinya sendiri ia langsung masuk kedalam rumahnya, Tapi langkah terhenti dengan suara yang ia rindukan sedang memanggilnya.


"Opaaa. "Panggil orang itu.


"Mungkin aku terlalu rindu dengan Zein hingga suaranyapun aku bisa mendengarnya. "Gumamnya sambil melanjutkan langkahnya kembali.


"Opaaa. "Panggil orang itu dengan suara sedikit keras.


Namun Bram tidak memperdulikannya ia menganggap dirinya sedang berhalunasi saking rindunya, Melihat Bram tidak berhenti Orang itu memanggil Bram dengan suara lebih keras lagi.


"OPAAAA ZEIN RINDU OPA. "Teriaknya.

__ADS_1


Jantung Bram berdetak dengan kencang setelah yakin kalau dirinya tidak sedang berhalunasi, Dengan tubuh bergetar Bram berbalik tanpa sadar air matanya mengalir melihat Zein sedang berdiri di depan sana.


"Apa aku sedang bermimpi, Kalau ini mimpi tolong jangankan bangunkan aku. "Gumamnya dengan terisak.


__ADS_2