
Dion menyelonong masuk begitu saja kedalam ruangan Raka, Sedangkan Raka hanya mendengus melihat kebiasaan sahabatnya masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk terlebh dahulu, Yang merangkap menjadi Asisten karna ia sudah tidak heran lagi dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Kebiasan langsung masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Gerutu Raka.
"Hehehehe... "Sedangkan Dion hanya cengesen mendengar gerutuan Raka.
"Mana berkas Yang harus aku tanda tangani...? "Tanya Raka tho the point. Seoalah tau tujuan Dion masuk keruangannya.
"Ini. "Sembari menyerahkan berkas Yang ia bawa tadi. "Oh iya tadi aku melihat Lidya keluar dari ruangan mu dalam keadaan marah, Kau apakan dia...? "Lanjutnya yang masih penasaran alasan Lidya marah.
"Kenapa kau bertanya padaku, Tanyakan saja pada orangnya langsung! "Cuek Raka sambil terus membaca berkas Yang dibawa oleh Dion sebelum ia tanda tangani.
__ADS_1
"Siapa tahu aja kau tahu, Diakan sehabis dari ruanganmu. "Beritahu Dion.
"Aku tidak tahu. "Ucap Raka santai tanpa memikirkan ucapanya tadi menyakiti sekretarisnya.
"Yakin kau tidak tahu.. "Tanya Dion lagi yang masih penasaran, Tapi di dalam hatinya ia yakin bahwa Raka telah mengatakan sesuatu yang membuat Lidya keluar dari ruangan ini dalam keadaan marah. Raka menghela nafas sebelum menjawab pertanyan Dion.
"Iya tadi aku menegurnya untuk memakai pakaian yang sopan bila masih ingin bekerja disini, Jadi kalau ia tidak mau aku menyuruhnya untuk mengundurkan diri. Karna aku tidak suka melihat karyawan ku memakai pakai kurangg bahan itu, Kantor ku bukan Club malam sehingga dengan bebas memakai pakain seperti itu. "Terang Raka dengan jujur supaya sahabatnya tidak kepo lagi. "Ini sudah ku tanda tangani, Cepatlah pergi dari ruanganku. "Lanjutnya sembari memberikan dokemen yang sudah ia tanda tangani, Dan secara tidak langsung untuk keluar dari ruangannya.
"Aku kira kau suka dengannya diakan cantik dan sexy sesuai kriteria mu. "Celutuk Dion sembari menerima berkas yang di sodorkan Raka.
"Sekarang Cinta dulu di abaikan demi wanita murahan. "Sindir Dion. Secepat kilat ia segara keluar sembari membawa berkas yang sudah Raka tanda tangani, Sebelum mendapatkan amukan dari singa yang mengamuk. Dan benar saja setelah diluar ia mendengar teriakan yang menggelegar dari dalam.
__ADS_1
"Diooooooon. "Teriak Raka.
"Untung aku cepat keluar sebelum mendapatkan amukan singa itu, Kalau tidak habis aku. "Gumam Dion sembari mengelus Dadanya. Tanpa memperdulikan tatapan sekertaris Raka Dion melenggang masuk kedalam ruangannya begitu saja.
"Aneh. "Gumam Lidya sembari melanjutkan pekerjaan nya sebelum meeting bersama Raka siang nanti.
Sedang di dalam ruangan Raka, Raka tengah melamun dengan pandangan kosong setelah mendengar ucapan dari Dion yang menohok hati nya. Dia juga tidak bisa membantah memang benar apa yang dikatan Dion bahwa dulu ia meninggalkan Istri dan anaknya demi wanita yang hanya memanfaatkan nya.
Isak tangis Raka terdengar di dalam ruangan Raka, Setiap kali ia mengingat betapa kejam dulu mengabaikan mereka berdua hanya untuk Cinta semu semata. Diraih foto yang ada di meja kerjanya yang menemani dirinya akhir tahun - tahun ini.
"Maafkan aku. "Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Raka. Entah sudah ke berapa bahkan mungkin sudah ribuan, Namun tidak bisa mengurangi rasa sesak dihatinya.
__ADS_1
-
-****-