Menunggu Didalam Penyesalan

Menunggu Didalam Penyesalan
Episode 114


__ADS_3

Sudah satu jam lebih Zara sibuk dengan dapur, kebetulan hari ini akhir pekan la tidak pergi ke kantor untuk bekerja. Makanya ia ingin memanjakan kedua anaknya dengan cara membuatkan kue kesukaan mereka, Rasa sudah Lama juga ia tidak menghabiskan waktu bersama Zein Dan Sein karna kesibukannya di kantor.


Zara meletakan kue Yang sudah jadi di atas piring Yang sudah ia sediakan, Senyum Zara tersunggin di bibir nya karna mersa puas dengan hasik kerjanya itu. Zara membawa keu Dan tidak lupa minuman Yang sudah ia but tadi ke halaman belakang rumahnya, Dimana saat ini ke dua anaknya berada.


Zara tersenyum melihat kedua anaknya bermain bersma, Bahkan tawa Sein sampai kedengar di telinga nya. Entah keusilan apa lagi Yang ia lakukan pada sang kakak, Namun anehnya Zein walau sering bersikap dingin di luar sana, Namun Zein akan selalu bersikap hangat kepada dirinya Dan Sein. Bahkan dirinya tidak akan marah walau sering menjadi sasarah kejahilan sang adik, Merasa dirinya sudah besar tidak pernah menunjukan kemarahan walau sering korban keusilan sang adik, Merasa dirinya seorang kakak Yang punya tanggung jawab menjaga Dan melindungi sang adik apalagi mereka berdua hidup tanpa kasih sayang sang ayah.


"Lihatlah Mas, Mereka tumbuh baik walau tanpa dirimu. "Gumam Zara tersenyum getir.


"Anak - anak berhenti dulu mainnya, Kemarilah. Mommy tadi membuatkan kue kesukaan kalian loh. "Panggil Zara. Mendengar sang ibu membuatkan kue kesukaan mereka membuat air liur Sein menetes tanpa sadar, Bahkan tanpa menunggu Lama Sein menyimpan kelinci Yang ia main tadi ketanah Dan langsung berlari ke arah Zara.


"Sein jangan lari!, Nanti kamu jatuh. "Tegur Zein namun tidah dihiraukan oleh Sein.


Zein hanya bisa menghela nafas kasar, Melihat prilaku sang adik Yang susah sekali di nasehati. Bahkan setiap hari ia selalu harus menstok kesabarannya mempunyai adik Yang kelewat aktif nya.


"Kau ini kalau di bilangin susah banget sih dek. "Decak Zein ketika sampai di hadapan mereka berdua.


"Maaf Ka, Habisnya aku sudah enggak sabar memakan kue buatan Mommy. "Cengir Sein dengan muluk mengembung.

__ADS_1


"Sein kalau bicara telan dulu makanan nya, Engga baik. "Tegur Zara dengan mata melotot, Ia tidak suka dengan orang Yang bicara sambi mengunyah makanan.


"Iya Mom. "Pasrahnya karna tidak mau kena omel lagi.


"Wleek kasihan deh kena marah Mommy, Makanya dengerin kalau di nasehatin. "Ledek Zein. Mata Sein melotot mendengar ledekan sang Kakak, Ingin sekali dirinya mencakar wajah tampan sang kakak namun dirinya tidak ingin kena marah dari sang ibu ia memilih tidak membalasnya. Zein tersenyum melihat sang adik Yang sedang melotot padanya sangat mengemaska, Apalagi melihat ketidak berdayaan Sein.


"Mom kapan kita kerumah Opa Bram lagi, Sein sudah rindu padanya apalagi kita sudah Lama tidak kesana. "Ungkap Sein.


Zara berusaha tersenyum mendengar ungkapan Sein. "Nanti ya sayang, Kalau waktu Mommy lagi senggang di kantor kita akan kunjungi rumah Opa Bram lagi. Sein sabar ya. "Hibur Zara sambil membelai rambut Sein Yang sedih.


"Baiklah, Tapi Mommy janji ya nanti bawa Sein bertemu Opa Bram lagi. "Sein mengangkat jari kelingkingnya ke arah Zara Yang langsung di sambut oleh sang empunya.


Mereka bertiga menghabiskan waktu disana, Sampai hari semakin panas barulah mereka masuk kedalam rumah. Sambil menunggu waktu makan siang tiba Zara menemani Sein menggambar, Sedangkan Zein sedang fokus dengan menyusun Lego nya membangan bangunan tinggi semakin hari kemampuan Zein semakin pintar memainkan Lego nya mungkin kepintaran menurun dari kedua orang tuanya.


"Wow sayang semakin hari kamu semakin mahir memahirkan legonya. "Puji Zara melihat sebuah bangunan dari Lego yan Zein buat.


"Terima kasih Mom atas pujiannya. "Katanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Zara beralih melihat kearah Sein Yang masih fokus kepada buku gambarnya. "Terus putri Mommy sedang gambar apa sih, Sampai seserius ini."Goda Zara. Ia tertegun meliahat hasil gambar putrinya, Bagaimana tidak Sein menggambar dua oran dewasa Dan dua anak kecil seperti sebuah keluarga bahagia. Apalagi dengan bangga Sein menjelaskan hasil gambarnya itu.


"Sein menggambar keluarga kita Mom, Disini ada Mommy, Daddy, Kakak dan Sein. Bagus kan gambar Sein. "Tunjuk Sein Satu persatu dengan Wajah berbinar namun tidak bisa di bohongi matanya ada kesedihan ketika Sein mengucapkannya.


"Sangat bagus sayang. "Ucap Zara sambil tersenyum getir, Sedangkan terus memainkan Legonya dengan wajah datar entah apa Yang di pikirkan bocah dingin itu.


Ting tong ting tong


Mendengar suara bell rumah berbunyi, Dengan segera ia berjalan kearah pintu rumah utamnya. Betapa kagetnya Zara melihat siapa Yang berdiri sambil membawa boneka beruang berukuran besar.


"Kamu. "Ucap Syok Zara namun baru saja Zara akan menutup pintunya ia di kagetkan dengan suara lainnya.


"Assalamualaikum Zara. "Ucap Bram Yang baru muncul.


"Waalaikum salam pahh. "Jawab Zara sambil mecium punggung tangan Bram. Sungguh Zara tidak menyangka dengan kedatangan Bram di rumahnya, Apalagi datang dengan seseorang Yang Zara benci Yang tidak lain Raka.


"Dasar licik. "Geram Zara di dalam hati.

__ADS_1


"OPAAAAAA. "Teriak seseorang dari dalam.


__ADS_2