Menunggu Didalam Penyesalan

Menunggu Didalam Penyesalan
Episode 59


__ADS_3

Lima tahun kemudian


Seorang pria sedang duduk di sisi tempat tidur, Sambil memeluk sebuah Foto keluarga dengan penyesalan yang mendalam. Walaupun sudah bertahun - tahu berlalu, Tapi penyesalan itu tidak pernah hilang di benaknya bahkan semakin hari semakin bertambah seiring rasa rindunya yang besar di dalam hatinya. Setiap malam ia selalu memeluk foto itu Seolah - seolah meluapkan rasa rindunya yang selama ini ia pendam seorang diri, Bahkan dalam tidur pun ia selalu memelukanya.


Di usapnya foto anak kecil dan wanita dewasa yang sedang tersenyum kearah kamera, Tangisan semakin pecah mengingat dulu ia mengabaikan mereka. Tapi sekarang ketika mereka sudah pergi, dia sangat merindukan mereka mungkin itu karma untuknya yang telah mengabaikan mereka.


"Hiks maafkan Daddy sayang, Hiks maafkan aku Zara hiks. Kumohon kembalilah kepadaku, Aku sangat merindukan kalian hiks.."Lirihnya menangis.


Bahkan Raka tidak peduli bila tangisannya terdengar sampai keluar kamar, Ia menangis seorang diri di dalam kesunyian nya. Setelah setengah jam tangisan itu sudah tidak terdengar lagi di dalam kamar sunyi itu, Seirin terpejamnya mata Raka untuk pergi ke alam mimpi berharap bertemu dengan Zara dan Zein, Setidaknya sedikit mengobati Rasa rindunya selama ini.


Kicauan burung terdengar mengusik tidur lelap Raka, Dengan malas ia bangun dari tidur nya. Setelah menyimpan foto yang ia peluk semalaman ke nakas di samping tempat tidur, Raka masuk ke kamar mandi untuk mandi sebelum berangkat ke kantor.

__ADS_1


Setelah selesai rapi Raka berjalan keluar kamar untuk sarapan sebelum berangkat kekantor, Dengan langkah tegas ia menuruni tangga yan ada di rumahnya. Rumah yang dulu ia tempati bersama keluarga kecilnya, Dulu sehabis pulang dari rumah sakit ia memutuskan untuk kembali ke rumah itu daripada ke rumah orang tuanya.


Alasan sepele karna di rumah itu banyak kenang - kenangan istri dan anaknya, Walaupun kebanyakan kenangan pahitnya. Bahkan Foto yang dulu di ganti oleh Zara sudah kembali ke tempat semula, Untung biyati dulu menyimpannya di gudang dan tidak buang ke tempat sampah sesuai perintah Zara.


"Selamat pagi tuan. "Sapa pelayan muda dengan senyuman menggoda namun tidak di gubris sama sekali oleh Raka.


Dengan santai ia duduk dimeja makan untuk makan, Ia sudah terbiasa menghadapi wanita macam itu untuk menggoda dirinya. Jangankan tertarik melihatnya pun jijik, Karna di hatinya sekarang atau nanti, Hatinya sudah terpatri oleh satu wanita yang tidak lain istrinya tidak peduli berapa lama ia menunggu.


"Ihhh menyebalkan. "kesal pelayan itu namun hanya mampu di dalam hatinya saja, Ia tetap tersenyum walaupun hatinya sedang dongkol.


"Selamat pagi tuan. "Sapa keduanya.

__ADS_1


"Pagi. "Jawab Raka singkat.


Dengan segera Deon mebukan pintu untuk bos sekaligus sahabatnya, Setelah selesai ia mengitari mobil untuk duduk di bangku kemudi. Dengan segera ia menjalankan mobilnya untuk pergi ke kantor takutnya telat.


Bi Yati memandang mobil tuanya yang meninggalkan perkarangan rumah, Bi yati kasian kepada tuannya. Sikapnya semakin berubah menjadi dingin bahkan lebih dingin dari sebelumnya setelah pulang dari rumah sakit, Namun di balik sika tak tersentuhnya menyimpan sisi rapuh yang sengaja ia sembunyikan, Bahkan setiap malam bi yati selalu mendengar tangisan di kamar tuannya yang ia yakini tangisan Raka.


"Zein, Neng Zara kalian dimana bibi sangat merindukan kalian. bahkan tuanpun sangat merindukan kalian, Cepatlah kembali bibi rindu. "Lirihnya tanpa sadar air matanya menetes.


Bi yati sangat kehilang mereka, Rumah yang biasanya selalu hangat namun sekarang terasa dingin seiring dengan kepergian mereka berdua.


-

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2