
Setelah pekerjaan yang ada disana selasai, Raka sudah kembali ke kota tempat dimana dirinya di besarkan untuk kembali beraktifitas seperti dahulu. Hubungannya dengan Dave pun sudah kembali membaik seperti dahulu lagi, Walau sempat sedih setelah tahu alasan Dave membencinya tapi ia tidak terlalu lama larut dalam kesedihannya.
Siang hari Raka terpaksa kembali pulang kerumah untuk mengambil dokumen yang ketinggalan di kamarnya, Mobil Raka masuk ke halaman rumah orangtuanya. Dahi Raka mengernyit ketika melihat sebuah mobil yang sangat familiar terparkir di depan rumah Bram.
"Sepertinya aku tidak asing dengan mobil ini tapi dimana ya aku melihatnya."Gumam Raka sambil berdiri di depan mobil berwarna hitam itu.
Karna penasaran siapa tamu yang datang kerumah Bram, Raka langsung masuk kedalam rumah samar - samar dirinya mendengar suara anak kecil yang sedang tertawa. mungkin itu anak dari tamu papah pikirnya.
Namun semakin masuk kedalam entah kenapa jantung Raka berdetak dengan sangat kencang, Seolah ada sesuatu yang akan terjadi.
"Jantungku kenapa. "Gumam Raka sambil memegang dadanya.
Rasa penasaran Raka semakin tinggi, Dengan langkah cepat ia menghampiri dimana asal suara anak kecil itu yang berasal dari arah taman. Sesampainya disana mata Raka membelalak melihat Zara dan kedua anaknya ada disana bahkan disanapun ada Bram dan Sania.
Mereka semua tidak menyadari dengan kedatangan Raka karna posisi mereka membelakangi Raka, Samapi akhirnya tanpa sengaja Sein melihat Raka sedang berdiri di belakang sang ibu dengan tubuh kaku.
__ADS_1
"Om Tampan. " Teriak Sein langsung menghampiri Raka.
Mereka semua langsung berbalik setelah mendengar teriakan Sein tidak terkecuali Zara, Entah kenapa perasaannya tidak enak dengan pelan ia berbalik kebelakang. Mata Zara langsung bertatapan dengan mata Raka yang memancarkan kesedihan dan keputusaan, Setelah sadar Zara langsung memalingkan wajahnya Raka tersenyum kecut melihat itu seolah Zara enggan untuk melihat wajahnya walau semenitpun.
Inilah ia takutkan ketika pergi ke rumah Bram, Ia masih tidak ingin bertemu dengan Raka. Andai saja Sein tidak terus merengek mungkin ia tidak akan pergi kesana, Namun sudah beberapa hari bocah itu terus merengek terpaksa ia menurutinya.
Suasana di taman itu menjadi canggung setelah kedatangan Raka tiba - tiba, Bahkan Brampun tidak tahu haru berbuat apa untuk mencairkan suasana agar tidak canggung lagi.
"Om sedang nagapain disini ?"Tanya Sein polos yang membuat Raka gemas melihatnya.
"Berarti Om anaknya Opa Bram ya. "Dengan wajah menggemaskan ia kembali bertanya.
"Opa. "Ucap Raka dengan alis terangkat. Pandangan melihat kearah mereka semua untuk meminta penjelasan terutama Bram.
"Oh itu papah yang menyuruh Sein untuk memanggil Opa. "Jelas Bram mengerti arti tatapan Raka. Raka mengangguk sekarang dirinya mengerti alasan Sein memanggil seperti itu.
__ADS_1
"Memangnya kalian berdua sebelumnya sudah pernah bertemu? " Bram penasaran karna Sein terlihat akrab padahal waktu pertama kali bertemu dirinya, Dirinya yang berusaha untuk dekat dengan Sein.
"Ohh dulu Raka sehabis meeting di mall tidak sengaja bertemu Sein yang waktu itu terpisah dari ibunya, Karna kasihan Raka menemani Sein sampai bertemu dengan ibunya kembali. "Jelas Raka, Dulu ia tidak tahu bahwa Sein adalah putrinya Zara.
"Oh ternyata dia orangnya. "Gumam Zara di dalam hati. Entah apa yang hatinya rasakan yang jelas ada rasa senang melihat keakraban mereka berdua, Namun dirinya pun sedih karna Sein tidak tahu bahwa orang ya ia panggil om tampan itu ayahnya yang selama ini ia rindukan sedangka dirinya juga belum siap untuk memberitahu Raka sebenarnya.
Suasana di taman kembali mencair oleh celotehah Sein dan Raka, Sebenarnya Raka ingin sekali mengobrol dengan Zein namun putranya itu seolah tidak peduli dengan kehadiran dirinya disana bahkan ia sibuk sendiri dengan telepon genggamnya.
Bahkan sampai Zara berpamitan Zein tidak mengeluarkan suara sepatah katapun entah apa yang di pikiran hanya Zein yang tahu, Dengan nanar Raka melihat kepergian mereka terutama Zein.
Mengerti apa yang putranya rasakan, Bram menepuk pundak Raka untuk memberi kekuatan agar putra tetap semangat.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, Suatu saat Zein pasti akan menyayangimu lagi yang penting sekarang kau harus berusaha untuk merebut hatinya kembali walaupun mungkin tidak mudah untukmu. "Nasehat Bram.
"Iya pah. "Jawab Raka tersenyum paksa, Dirinya tidak yakin putra akan memaafkan dirinya kembali mengingat kebencian Zein kepadanya sangat besar.
__ADS_1