
Tangisan Raka semakin keras, Mendengar ucapan ayahnya yang benar adanya. Apalagi Ia mengingat kenangan bersama mereka, Betapa kejamnya ia selalu menyakiti mereka. Bahkan Ia mengabaikan putra kandungnya sendiri, Bahkan setelah mendengar tangisan putranya tidak menggetarkan hatinya, Seoalah Ia anggap sebagai angin lewat. Sampai Zara memohon pun untuk memberi perhatian kepada Zein, Ia abaikan begitu saja.
Entah apa yang merasuki diri nya, Seolah dirinya tidak punya hati. Hanya karna Wanita sampah itu ia mengabaikan keluarga nya, Bahkan karna membela wanita itu ia sampai menampar Zara tanpa mendengar penjelasan Wanita itu.
Hanya karna Cinta buta nya kepada wanita, Yang ia anggap lebih baik dari Zara. Ternyata hanya wanita yang memanfaatkan dirinya saja. Ia menjadi pria yang egois yang tidak punya hati.
Karna keegoisan nya pula ia kehilangan anak, dan istrinya. Bahkan Janin yang belum ia ketahui pun sudah pergi darinya untuk selama - lamanya.
"Kanapa kamu menangis hah?, Seharus kamu senang karna tidak ada penghalang lagi untuk bersatu dengan wanita itu. Wanita yang sangat kau cintai. "Tanya Bram dengan sinis.
Raka mendongakan kepala dengan linangan air mata di pipinya, Setelah mendengar ucapan sinis bram. Sebenarnya bram tidak tega biar bagaimanapun Raka putranya darah dagingnya sendiri, Tapi ia harus memberi pelajaran kepada Raka agar tidak egois lagi.
"Sudah kubilang hiks aku tidak akan pernah menikahi perempuan itu. "Jawab Raka tegas.
"Ckck, Baru sekarang kamu nyadar dulu kamu kemana saja. "Decak Bram.
__ADS_1
"Dulu aku hanya buta karna Cinta pah. "Kilah Raka.
"Kamu bukan buta karna Cinta, Tapi kelewat bodoh. "Sentak Bram.
"Iya aku memang bodoh, Makanya aku minta maaf pah. "Raka mengakui bahwa ia bodoh mau aja di tipu oleh Wanita ular.
"Seharus kau bukan Minta maaf pada papah, Tapi kepada mereka yang telah kau sakiti. "
"Makanya itu pah!!, Beritahu Raka dimana anak dan Istri Raka pah?. "Melas Raka kepada Bram.
"Istri !, Bukan istri tapi Mantan Istri Raka. "Tekan Bram mengingatkan Status Anaknya dan Zara.
"Apa maksudmu? "Tanya Bram tidak mengerti dengan ucapan Raka.
"Karna Setelah dari Rumah pada malam itu, perusahan yang ada diluar kota sedang ada masalah besar, Jadi aku langsung pergi kesana untuk membereskan nya. Saking sibuk nya aku belum sempat mengurus perceraian kami sampai Saat ini. "Terang Raka.
__ADS_1
"Brengsek. "Bram marah langsung memberi pukulan kepada Raka, Walau di dalam hatinya ada setitik bahagia karna Raka belum menceraikan Zara.
Raka tidak melawan, Membiarkan papahnya memberi pukulan sepuasnya kepada dirinya. Dengan nafas ngosan - ngosan Bram menyudahi begeman kepada Raka.
Raka langsung menghampiri ayah nya, dan berlutut di depan Bram. Bahkan ia tidak peduli dengan Rasa sakit dibadan nya, Bram kaget melihat Raka berlutut di depan nya.
"Apa - apaan kamu ini Raka!, Bangun jangan berlutut di depan ku. "Sentak Bram sambil membangun kan Raka, Tapi Raka tetep kekeh untu berlutut di depannya.
"Aku tidak bangun sebelum papah memaafkan aku, Dan beritahu aku dimana mereka pah. "Ucap Raka kekeh.
"Aku tidak tahu mereka dimana sekarang. " Beritahu Bram jujur.
"Pah, Raka akui Raka salah tapi Raka sudah menyesal. Jadi Aku mohon kepada papah beritahu aku mereka ada dimana. "Mohon Raka sambil mengatupkan tangannya.
"Sudah kubilang, Aku memang tidak Tahu mereka dimana Bahkan aku sudah lama tidak bertemu mereka. "
__ADS_1
"Maksud papah?. "Tanya Raka penasaran, Sebab sepertinya ayahnya tidak berbohong dan berkata jujur.
Bersambung.....