
Berhari - hari sudah berlalu sejak kejadian yang tidak sengaja melihat Zara di dalam mobil yang sedang berhenti, Raka belum bertemu Zara lagi sampai sekarang. Bahkan Dion Yang dia suruh untuk mencari tempat tinggal Zarapun Sampai sekarang nihil belum membuahkan hasil.
Mood Raka menjadi memburuk, Setiap hari ada saja karyawan kantor yang terkena amukan Raka di kantor tanpa terkecuali Lidya. Tanpa segan Raka akan memecat karyawan yang membuat kesalahan walaupun sekecil apapu, Sehingga membuat para karyawan takut bila berhadapan dengan Raka langsung.
Lidya berdiri di ruangan Raka dengan tubuh gemetar, Ia ragu untuk masuk keruangan Raka takut terkena amukan seperti sebelum - sebelumnya. Tapi jika Dia tidak masuk nanti pekerjaannya akan terbelengkalai, Walaupun ia terpesona dengan Raka tapi tetap saja kalau bosnya itu sedang moodnya buruk ia tidak berani mendekatinya.
Dion yang ingin masuk keruangan Raka menatap Lidya dengan heran pasalnya Lidya sudah lama di depan pintu Raka namun belum masuk juga bahkan wajahnya pun agak pucat.
"Hey sedang apa kau berdiri di depan Ruangan Raka. "Tegur Dion mengagetkan Lidya yang sedang melamun.
Dengan Wajah kaget Lidya berbalik. "A_nu Say_a mau membererikan berkas ini ke tuan Ra_ka untuk di tanda tangani. "Ucap lidya terbata - bata.
"Kenapa kau tidak langsung masuk saja ke ruangan Raka. "Tanya Dion heran karna biasanya Lidya langsung masuk bila ada perlu dengan Raka.
"An_u. "Lidya menjawab dengan ragu.
"Anu apa..? Yang jelas dong ngomongnya saya tidak mengerti. "
__ADS_1
Dengan pelan Lidya menjawab. "Saya takut pa. "Cicitnya.
"Kau takut kena amukan Raka lagi...? "Tebak Dion. Lidya mengangguk membenarkan tebakan Dion.
"Ya sudah sini berkasnya biar Saya saja yang memberikannya kepada Raka. "Pinta Dion.
Dengan Ragu Lidya memberikan kepada Dion, Setelah diterima oleh Dion ia langsung kembali kemejanya dengan tersenyum lega karna tidak kena amukan Raka yang akhir - akhir ini sering uring - uringan tidak jelas.
Dion masuk keruangan Raka seperti biasanya, Ia bisa melihat Raka yang sedang memejamkan matanya sambil bersandar di kursi kerjanya.
"Kalau kau lelah sebaiknya istirahatlah di kamar pribadimu. "Tegur Dion.
"Itu berkas apa..? "Bukannya menjawab Raka malah balik bertanya.
"Oh ini. "Ucap Dion sambil menunjukan berkas yang ia bawa tadi. "Ini tadi dari Sekretarismu katanya harus kamu periksa dan tanda tangani. "Lanjutnya sambil menyerahkan kepada Raka.
Dahi Raka mengernyit tidak mengerti. "Terus kenapa ada di tanganmu..? "Tanya Raka.
__ADS_1
"Tadinya ia ingin masuk kesini, Tapi katanya ia takut kepadamu. "Jawab Dion apa adanya.
"Takut memangnya aku kenapa..? "Tanya Raka heran.
Dion menghela napas. "Kau kan akhir - akhir ini selalu marah - marah tidak jelas kepada karyawan, Jadi Lidya takut kena amukan mu lagi.. "Jawab Dion.
"Merekanya aja yang tidak becus bekerja kena nyalahin aku yang marahin mereka. "Prote Raka tidak terima.
"Terserah kau sajalah Rak. "Jawab Dion pasrah karna ia tidak akan menang kalau berdebat dengan Raka.
"Ngomong - ngomong kau sendiri ada apa ke ruanganku..? "Tanya Raka.
Dion menepuk jidatnya, Karna terlupa tujuan awal ia ingin masuk keruang Raka. "Itu mall yang setahun lalu kita resmikan ada sedikit masalah, Jadi harus kau sendiri yang harus mengeceknya kesana. "Ucap Dion.
"Memangnya tidak bisa kau wakili saja..?"
"Tidak bisa Rak, Harus kau yang kesana. "Jawab Dion tegas karna ini masalah sangat besar. Raka melihat ke pergelangan tangan untuk melihat jam.
__ADS_1
"Ya sudah kita berangkat sekarang, Sekalian kita makan siang disana. "
Akhirnya mereka keluar dari kantor, Semua karyawan membungkuk hormat melihat mereka berdua berjalan dengan wajah datar melewati mereka semua.