
"Apa kamu ingat terakhir kalian menginap disini?. "Raka pun mengangguk. Bram menghela nafas telebih dahulu sebelum melanjutkan nya. "Itulah juga terakhir aku bertemu dengan mereka berdua. Karna sehabis itu papa dan adikmu langsung terbang keluar negri, Ketika kembali lagi kesini papah sangat bahagi karna akan bertemu dengan cucu papah satu - satunya. Saking antusias nya kami langsung kerumah kalian tempat kalian tinggal, Bahkan papah tidak pulang telebih dahulu saking tidak sabarnya. Tapi apa yang papah dapat, Papah malah mendapat sesuatu membuat papah syok dan papah kecewa. Setelah bi yati menceritan segalanya. Setelah itu kami berdua pergi ke kantor kamu, Untuk meminta jawaban dari kamu. Namun lagi - lagi papah hanya mendapatkan kekecewaan saja setelah berbicara sama kamu. "Lanjutnya.
"Maafkan aku pah. "Hanya itu yang bisa Raka ucapkan.
"Sudahlah mulai sekarang lupakan Zara, Bukankan itu yang kau mau. "
"Tidak pah Zara masih sah menjadi istri aku. "Tegas Raka.
"Kalau begitu Urus segera surat perceraian kalian, Biar Dia menemukan kebahagian bersama laki - laki lain. "Papar Bram.
"Aku tidak akan membiarkan Zara bersam pria lain pah. "Jawab Raka tidak terima. Bram menaikan alis nya setelah mendengar protesan Raka.
"Jangan egois kamu Raka, Lagi pula Zara tau kalian sudah bercerai. "Sarkas Bram.
"Aku tidak peduli bahwa aku egois, Yang penting Zara tetep menjadi menjadi miliku selama nya. "Jawab Raka, Dengan mata memereh karna menangis karna membayangkan Zara bersama pria lain membuat hatinya sakit.
__ADS_1
Setelah berbicara itu Raka berjalan keluar, Dari Ruang kerja ayahnya meninggalkan Bram yang menatapnya nanar. Sebenarnya Bram iba kepada Raka, Namun ia harus tegas agar anaknya tida berbuat sesuka hati.
Setibanya Raka di luar, Yang berpapasan dengan adiknya yang sedang tersenyum. Namun bagi Raka itu adalah senyuman, Yang paling menyebalkan.
"Bagaimana rasanya di tinggalkan? " Tanya Sania dengan senyum mengejek.
Raka tidak memperdulikan Ejekan sang adik, Ia terus berjalan tanpa berhenti.
"Ckck menyesal pun sudah terlambat, Karna mereka sudah pergi jauh. " Lanjutnya sambil berteriak karna Raka semakin menjauh darinya. "Inilah ka Raka yang tuai ka, Kakak harus menerima nya. "Gumam nya sambil melihat kepergian Raka.
"Kamu lagi ngapain disini sania. "Tanya Bram membuyarkan lamunan Sania.
Sania langsung memeluk Bram seteleh mendengar suara Bram, Ia menangis dipelukan papah nya. Bram yang tidak mengerti anak menangis hanya membalas pelukan anak nya, Tadi ketika ia keluar dari ruang kerjanya. Bram mendapati sania berdiri sambil melamun.
Hiks, Hiks, Hiks.
__ADS_1
Sania terus menangis di pelukan papah nya, Sedangkan Bram hanya diam sambil terus menepuk - nepuk punggu anaknya. Karna ia tidak mengerti kenapa sania menangis, Ia membiarkan sania terus menangis sampai sania tenang.
"Kenapa kamu menangis hmm? " Tanya Bram lembut, Setelah tangisan sania reda.
"Hiks, Sania kasian kepada ka Raka pah hiks. "Adu sania sambil menangis. Bram menghela nafa lega, Ketika ia tahu alasan sania menangis.
"Papah juga kasihan kepada, Tapi kita harus apa itulah jalan yang ia pilih. "Sania mendongakkan kepala nya setelah mendengar jawaban ayah nya.
"Pah, Apa papa tidak bisa membantu ka Raka untuk menemukan ka Zara dan Zein. " Bram menghela napas dan menggeleng.
"Papah juga tidak tahu dimana mereka berdua Nia, Mungkin itu pelajaran untuk Raka agar ia menghargai anak dan istrinya nanti. "Akhirnya sania mengangguk dengan lesu.
-
-
__ADS_1
Bersambung....