Menunggu Didalam Penyesalan

Menunggu Didalam Penyesalan
Episode 95


__ADS_3

Dua jam berlalu akhirnya meetingpun selesai bahkan klien mereka sudah kembali ke kantornya beberapa menit yang lalu, Sedangkan Raka sebelum kembali ke kantor ia menyuruh Dion menunggu diluar karna ia ingin ke toilet terlebih dahulu.


Keluar dari toilet Raka menerima telepon dari salah satu temannya, Karna kurang fokus tanpa sengaja Raka menabrak seorang anak kecil yang kebetulan akan masuk ke kamar mandi.


"Paman kalau jalan hati - hati dong, Karna paman baju aku jadi kotor."Celetuk anak kecil itu dengan wajah yang masih menunduk sambil menepuk - nepuk celana yang kotor.


Jantung Raka berdetak dengan cepat bukan karna ia mempunyai kelainan jantung melainkan karna suara anak kecil di depannya yang sangat ia kenali, Walaupun ia tidak melihat wajah anak kecil di depan namun ia sangat hapal dengan suara itu. Karna setiap malam ia selalu mendengar suara itu memanggil dirinya di mimpinya, Mungkin saking rindunya dengan suara itu yang dulu ia abaikan.


Sedangkan anak kecil yang di tabrak masih sibuk dengan gerutuan, Hingga ia tidak sadar sedang di tatap Raka dengan tatapan rindu. Karna tidak ada jawaban dari Raka, Ia mengangkat wajahnya. Raut wajah langsung berubah dingin setelah melihat siapa ya ia tabrak bahkan tatapanpun penuh kebencian.


Tanpa menyapa Raka ia langsung masuk kekamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ia menyesal karna sudah mengajak ibunya makan siang disini karna itu ia harus bertemu dengan Raka.


Raka tidak sadar bila anak kecil itu sudah tida di depannya, Barun suara di telepon menyadarkan dirinya bahwa anak kecil itu sudah tidak ada.

__ADS_1


"Rak, Kamu tidak apa - apakan? "Panggil di sebrang telepon.


"Kemana dia. "Gumam Raka.


"Dia siapa Rak? "Tanyanya lagi.


"Sudahlah ya Stev nanti aku kabari lagi. "Ucap Raka langsung mematikan telepon begitu saja.


"Zein. "Gumam Raka dengan perasaan senang karna akhirna ia bertemu dengan putrnya.


"Zein. "panggil Raka. Langka kaki Zein terhenti karna mendengar suara dari Raka, Sebelum berbalik ia menghela nafas terlebih dahulu.


"Maaf saya tidak mengenal anda Tuan. "Ucap Zein dengan tegas. Setelah berucap itu ia berbalik namun saat ia akan melangkah ia terhenti kembali karna suara Raka.

__ADS_1


"Tidak Daddy yakin bahwa itu dirimu Zein Putra Wijaya. "Ucap Raka tidak kalah tegas sambil menekankan nama putranya, Melihat Zein Diam saja Raka kembali berbicara lagi.


"Selama ini kalian kemana saja, Daddy cari kalian kemana - mana tapi tidak pernah ketemu. Tapi Daddy tidak menyerah nak, Daddy sangat merindukanmu nak. "Ungkap Raka dengan mata berkaca - kaca mengingat selama ini sangat merindukan Zein bahkan sampai menangis saking rindunya.


Sudut bibir Zein terangkat mendengar kata rindu terucap dari bibir Raka, Mungkin jika dulu andai Raka berucap seperti itu ia akan bahagia karna itu yang ia harapkan dulu yang haus kasih sayang dari Raka. Tapi sekarang yang ada di hatinya sudah mati rasa, Yang tersisa hanya kebencian untuk Raka.


Zein berbalik dengan senyuman sinisnya. "Mungkin Tuan salah orang, Mungkin rindu itu untuk wanita yang ada di hati anda hingga anda sampai rela mencampakan anak dan istrimu. "Ucap Zein dengan sinis.


Raka terperangkap mendengar ucapan Zein, Ia tidak menyangka putra tahu alasannya dulu meninggalkan mereka demi bersama Celine yang ternyata hanya memanfaatkannya saja. Darimana putranya tahu apa Zara yang memberitahunya pikirnya.


"Kau kaget darimana aku tahu ya, Aku tahu dengan sendiri bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dengan teganya anda menampar Mommyku atas yang tidak pernah ia lakukan kepada wanitamu. Tadi anda bilang rindu padaku, Cihhh sejak kapan anda peduli padaku hah bahkan untuk menjenguk aku sedang sakit pun anda tidak pernahkan. Jadi jangan pernah anda bilang rindu padaku aku tidak percaya bagiku itu sangat memuakkan untuk didengar. "Teriak Zein penuh Emosi. Zein berbalik namun sebelum pergi ia mengatakan yang membuat Raka semakin terisak.


"Dan jangan pernah muncul lagi di kehidupan kami, Tanpa andapun kami sudah bahagia. "Lanjut Zein tanpa sadar air matanya menetes Buru - Buru ia menghapusnya.

__ADS_1


Zein pergi begitu saja meninggalkan Raka yang masih terisak karna ucapannya, Tapi Zein tidak peduli baginya itu belum seberapa dengan penderitaan ibunya.


__ADS_2