Menunggu Didalam Penyesalan

Menunggu Didalam Penyesalan
Episode 92


__ADS_3

"Sampai kapan loe akan begini terus Rak..? "Tanya Dion sambil memandang lurus kearah depan tanpa melihat kearah Raka.


Namun Raka hanya diam saja pandangan kosong tidak merespon sama sekali ucapan Dion, Ia masih asik kesedihan Dan penyesalannya.


Tiba - tiba Dion menarik kerah baju Raka Dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Dan badan Raka Yang hanya pasrah saja menerima pukulan dari Dion.


Bugh Bugh bugh


Pukulan - pukulan terus ia layangkan ke arah badan Raka sampai - sampai suaranya terdengar ke luar kamar, Dirinya kesal kepada Raka Yang masih larut dalam kesedihan. Menurutnya Raka sangat egois hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain Yang khawatir Dan peduli padanya, Ia sangat kasihan kepada Bram di usianya Yang sudah tua tetapi harus menanggung beban berat untuk mengurusi perusahan selama Raka tidak masuk kantor di tambah lagi memikirkan Raka Yang seolah tidak memiliki semangat hidup lagi.


Padahal kondisi Raka Yang seperti ini karna ulahnya sendiri, Dirinya dari dulu sudah mewanti - wanti Raka untuk sedikit saja membuka hatinya untuk Zara Dan menyangi Zein mungkin Raka tidak akan pernah mengalami penyesalan yang mendalam seperti tapi ya sudah semua nya sudah terjadi pikirnya.

__ADS_1


"Bangun Brengsek lawan aku. "


"Dasar pengecut. "


"Dasar Egois. "


Berbagai umpatan Dion lontarkan untuk Raka, Mungkin kalau kondisi Raka seperti dulu yang kekar Dan kuat pasti sudah membalasnya. Namun karna kondisi Raka sekarang sedang lemah ia tidak membalas pukulan Dion sama sekali.


"Dasar lemah. "Ucap sinis Dion. Ia membiarkan Raka bangun dengan sendirinya.


Beberapa menit kemudian ia memdengar suara tangisan, Dion menoleh kesamping Dan benar tangisan menyedihkan itu berasal dari Raka. Sebenarnya ia kasihan dengan Raka tapi ia membiarkan agar kedepanya Raka tidak akan mengulinganya tindakan kebodohan Yang merugikan diri sendiri nantinya.

__ADS_1


"Hentikan tangisan mu itu berisik aku mendengarnya. "Ujar Dion Yang merasa geli mendengarkn tangisan Raka.


"Sampai loe menangis kapapun tidak akan mengembalikan semuanya seperti semula, Loe jangan terus meratapi kesedihan mu itu. bersedih boleh tapi jangan keterusan, Apa loe enggak kasihan dengan bokap loe di usianya Yang sudah tua beliau harus menanggung beban untuk mengurus perusahan belum lagi harus memikirkan dirimu. Loe harus bangkit Rak bukan untuk dirimu sendiri, Tapi untuk papamu Dan adik loe, Selama ini mereka sangat khawatir dengan kondisimu. "Lanjutnya dengan bijak.


"Apa aku sanggup sedangkan bayangan itu selalu muncul diingatanku, Bayangan selalu mengingatkan ku bahwa mereka tidak bisa kembali padaku lagi Dan mereka sudah bahagia tanpa aku. Setiap kali aku mengingat itu hatiku sesak hingga sulit bernapas, Tapi jika aku mengingat kebodohan ku kembali aku sadar bahwa ini semua karna aku sendiri, Andai dulau aku menyangi Dan tidak mengabaikan mereka masih bersama ku. " Lirih Raka dengan tatapan kosong dengan air mata Yang terus mengalir di matanya.


"Apa kau sudah bertemu dengan mereka? "Tanya Dion penasaran.


"Sudah, Bahkan aku melihat dengan mata kepala ku sendiri bahwa mereka sudah bahagia Dan Yang menyedihkan itu mereka bahagi bukan bersama aku tapi dengan orang lain Yang menggantikan posisiku menyedihkan bukan. "Ucap Raka tersenyum getir mengingat itu.


Dion hanya diam ia kira selama ini Raka begini karna Zara tidak mau bertemu dengannya, Tapi ternyata Yang di alami Raka lebih parah karna harus melihat orang ia tunggu selama ini sudah bahagia bersama orang lain.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh mereka pembicaraan mereka didengar oleh Bram, Tadi dirinya mendapatkan laporan dari pelayan bahwa Dion dan Raka sedang berkelahi. Karna tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan apalagi kondisi tubuh Raka masih lemah, Ia langung berlari kesini namun malah ia mendengar curhatan Raka yang membuat hatinya ikut teriris.


__ADS_2