My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
Pesawat Kertas (Refisi)


__ADS_3

Tok...Tok...Tok...


Suara pintu diketuk dari luar membuat tidur sang empunya kamar sedikit terusik sigadis nampak menggerakan badannya hanya sebentar setelah itu kembali kealam mimpi.


"Non El... bangun non sudsh jam 6.30 non, kata den Yudis kalau masih belum bangun nanti ditinggal" terdengar suara si bibi membangunkan Elfiza.


"Demi apa? Gue kesiangan lagi" tetiak Elfiza karna perkataan dari bi Minalah yang membuat Elfiza terbangun dari tidurnya, lantas dengan terburu - buru menyambar handuk dan pergi kekamar mandi.


Elfiza bukan tipikal cewe ribet pada umumnya 10 menit baginya sudah cukup untuknya mandi dan bersiap,saat sudah sampai dimenja makan Yudis sudah menunjukan tampang kesalnya.


"Maaf" ucap Elfiza sembari mencomot roti isi selai kacang yang sudah ibunya siapkan.


"Awas saja kalau kakak sampai dihukum" ancam Yudis sembari pergi kedepan, tak berapa lama Elfiza selai memakan sarapannya lantas bergegas keluar untuk pakai sepatunya karna suara klakson kakaknya sudah sedari tadi berbunyi.


Tin...Tin...Tin.....


"Iya .. iya ... bawel, sabar " gerutuh Elfiza


"Bu aku berangkat ya" pamit Elfiza sembari mencium punggung tanga sang ibu.


"Iya hati- hati ya sayang " jawab ibu Nesya.


"Dekkkkkkkk... cepetaaaannnnnn" teriak Yudis.


" Iya kak, ini udah didepan iss ... bawel" ucap Elfiza.


"Telat banget ni" ujar Yudis.


***


"Arrrrrhhhhhhh.... gue nyerah bener dah ini mah bu Ita beneran mau bikin gue stresssss" triak frustasi Elfiza didalam kamarnya.


Ini sudah hari kamis dan tugas bahasanya sudah harus dikumpulkan besok namun sialnya Elfiza belum menyelesaikannya jangankan setengahnya bahkan tema dan judul saja belum ia temukan bagai mana ia bisa mengisi baitnya, pada akhirnya Elfiza tak punya pilihan lain selain meminta bantuan Yudha kakaknya.


Elfiza sudah berada didepan pintu kamar Yudha dia masih menimang apakah harus dirinya meminta bantuan sang kakak atau kembali saja kekamarnya dan membuat prosa itu sendiri.


"Ketok ga ya .. ko gue jadi takut ya .. apa balik kamar lagi aja kali..." gumamnya


"Tapi kalau balik kamar gue udah mentok ... ga bisa .. ga bisa mending gue ketok aja lah tapi kalau kak Yudha malah minta yang aneh - aneh gimana nanti pasti dijahili lagi" kembali Elfiza bermonolog.


"Kenapa si loe nyusahin banget dah isssss" grutuh Elfiza sambil memukul buku yang tak bersalah kesal saja rasanya.


"Ahh..bodo amat ketok aja mau atau engganya atau bahkan dijaili kakak gimana nanti yang penting tugas gue kelar dulu" gumamnya lagi.


Tok.....Tokkk....Tok...


Akhirnya pintu itu diketuk jua oleh elfiza,


saatu kali ketukan tak dibukakan dua kali pun sama, fikir Elfiza mungkin lagi nanggung tapi saat ketiga kali pintu itu diketuk tak ada jawaban pula membuat Elfiza heran sendri.


Pasalnya sang kakak selalu cepat respon untuk membuka pintu walaupun dia sedang tiduran rela bangun untuk membuka pintu, tapi kali ini malah sama sekali tak ada jawaban.


"Kenap? Apa dia tau kalau gue mau minta tolong ... ah tapi masa ia, apa ga ada dikamarnya, tapi tadi kata ibu ada ko dikamar... lagi mandi apa ya. coba sekali lagi aja deh " gumam Elfiza panjang.


Dorr....Dorrr...Dorrrrr


Kali ini Elfiza tak lagi mengetuk melainkan menggedor kamar tersebut berharap dibukakan nyatanya belum juga dibuka, tapi bukanlah sifat Elfiza kalau ia mudah menyerah.


"Kakakkkkk.... bukaaaaaaaaaaaaaa" kali ini dia berteriak bak dihutan rimba bukannya dibuka malah ka Yudis yang membuka kamarnya, mengomel karna merasa terganggu oleh teriakan Elfiza dan gedora pintu.


Sesat setelah Yudis masuk kedalam kamarnya pintu kamar Yudha terbuka baru Elfiza akan protes karna Yudha lama membukakan pintu hingga ia dapat omelan dari Yudis, baru saja Elfiza akan membuka mulutnya namun ia segera menutupnya kembali.


Hei, siapa dia wajahnya begitu tampan tak kalah tanpan dengan Yudha.


'Siapa dia tampan sekali teman kak Yudha? Ko gue baru liat ya apa gue kudet ya akhir - akhir ini. Tapi sumpah dia ganteng banget ga kalah ganteng sama ka Yudha' batin Elfiza bergumam membuat Elfiza melamun menatap pria tampan dihadapannya tanpa berkedip.


"Khemmmm" deheman dari pria itu membuat Elfiza tersadar dari lamunannya dan merasa malu sendiri.


"Maaf kakak ini siapa?" tanya Elfiza mengalihkan rasa malunya.

__ADS_1


"Dia teman kakak kenapa?" Yang menjawab malah Yudha yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tidak hanya tanya saja, memangnya tak boleh?" Tanya Elfiza polos.


"Tidak boleh tanya - tanya anak kecil macam kamu" jawab Yudha asal sambil melempar handuk basah bekas mengeringkan rambutnya kearah Elfiza,


belum apa - apa sudah kena jahilan oleh Yudha.


'Dasar, sabar El sabar .... demi tugas El demi tugas' Ucap hati Elfiza memberi semangat.


"Ada apa?" Tanya Yudha mulai jutek, entah kenapa Yudha selalu saja senang dengan mimik muka merajuk adik kecilnya itu, mukanya terlihat sangat lucu.


"Boleh aku masuk?" Elfiza balik bertanya.


"Mau apa kalau ga penting ga usah kakak sibuk" jawab Yudha.


"Penting sangat penting, boleh ya aku masuk boleh ya ... yayaya." pinta Elfiza merengek diambang pintu tak perduli tatapan aneh dari pria dihadapan Elfiza, mungkin dia berfikir apa Elfiza benar adiknya Yudha atau bukan.


"Haisss.... ya sudah ... boleh masuk tap_" .


"Asik makasih ka" ucap Elfiza cepat memotong ucapan Yudha karna dia tau kata selanjutnya dari ucapan tersebut adalah jangan lama - lama itu maka dari itu Rlfiza langsung menyambar saja.


"Dasar .... ada apa adik ku sayang?" tanya Yudha yang mulai menyebalkan bagi Elfiza.


"Aku mau minta tolong"


"Soal apa?"


"Soal tugas bahasa aku disuruh buat prosa tapi aku udah mentok soal inspirasi, aku minta tolong kakak boleh ya?" Pinta Elfiza berharap kalau Yudha tak mempersulitnya.


"Ga bisa" jawab Yudha singkat.


"Hanya sebentar menentukan tema dan judulnya saja biar nanti isinya aku sendiri yang buat kak " bujuk Elfiza.


"Tidak mau pokoknya" tegas Yudha.


"Haissss.... dek kakak lagi sibuk ga bisa" ucap Yudha kembali.


"Ibuuuuuuuuu" adu Elfiza dengan lengkingan khasnya bila mengadu, akhirnya ia mengadu juga semoga saja dengan mengadu Yudha mau membantunya.


"Yudha jangan buat adik mu rewel, ibu sedang repot ini" karna kebetulan ibu Nesya sedang lewat dan mendengar aduan dari anak gadis semata wayangnya membuatnya menegur sang kakak.


"Dasar tukang ngadu" ucap Yudha


"Makanya kalau ga mau diaduin bantuin dong" masih bertahan rupanya membujuk dengan merengek.


"Kakak mu ini lagi repot dek, kenapa ga minta buatkan Yudis aja si" ucap Yudha.


"Maunya sama kakak lagian aku ga minta dibuatkan hanya minta tolong carikan beberapa tema itu saja " ujar Elfiza kesal.


"Ihhhh .... kamu tu resek ya dek, kamu ga liat ada temen kakak, udah besok aja" ucap Yudha.


"Besok udah harus dikumpulkan kakak, ayolah bantuin aku" ucap Elfiza masih merengek.


"Sudah lah Yudh, loe ga kasian apa ama adik loe kan cuman bentar kata dia juga" ucap pria dihadapan Elfiza.


"Bener apa kata temen kakak, dia aja bisa kasian sama aku tapi kakak malah ga kasian sama adeknya sendri" mulai mendramatisir Elfiza berucap.


"Dasar cewek selebor sudah lah nanti saja kakak malas"


"Apa .... issss kakak mah " Elfiza suda malas untuk membujuk kakaknya itu, Yudha jika dia bilang nanti ga bakal ada yang bisa ganggu gugat, setelah malasnya hilang nanti dia sendiri yang akan temuin Elfiza.


Saat hendak melangkah untuk pergi dari kamar itu, saat itulah malaikat penolongnya datang.


"Sini biar ku bantu boleh?" Tanya sipria tersebut yang membuat Elfiza sukses membalikan badanya dan mengangguk antusias.


"Kamu kesulitan menentukan tema bukan?" Tanyanya kembali yang membuat anggukan Elfiza.


"Jun, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri" ujar Yudha, sebenarnya bukannya Yudha tak ingin membantu adiknya hanya saja dia ingin adiknya tak gampang menyerah dalam menghadapi masalah maka dari itu dia tidak ingin membantunya sebelum Elfiza benar - benar tak mampu.

__ADS_1


Mendengar ucapan Yudha, Elfiza mendelikan matanya tak percaya."Hissss" protes Elfiza.


"Udahlah Yudh, ga apa ... lagian cuman sebentar ini, gue bantuin dia dulu kasian adik loe, kita kebalkon saja biar dapat inspirasi" ajak pria itu.


"Tau dasar kakak durhaka, masa adiknya ditelantarkan" ujar Elfiza sambil berlalu.


"Ihhhh dasar mulutnya ya" ucap Yudha sambil melempar bantal kearah Elfiza yang sudah berhasil mengelak.


****


Setelah hampir tiga jam berkutat akhirnya prosa itu selesai dibuat.


"Huaaahhhhhh... akhirnya selesai juga, trimakasih kak" Elfiza berterimakasih.


"Sebagai ucapan terimakasih ku ini untuk kakak" ucap Elfiza sembari memberikan coklat favoritnya kepada pria tersebut.


"Trimakasi kembali aku ambil ya, lagi pula itu prosa kamu yang buat kok aku cuma bantu menemani saja" jawab sipria kembali.


"Hehehehe" Elfiza hanya tertawa saja.


"Oh iya selama tiga jam aku belum tau nama kamu, aku Arjuna" ucap si pemuda memperkenalkan diri.


"Oh iya aku sampai lupa, Elfiza kakak boleh panggil aku el" balas Elfiza sambil menjabat tangan Arjuna yang sedari tadi membentang.


"Ohhh iya karna kamu sudah kasih ini" sembari menggoyangkan coklat yang Elfiza berikan dihadapan Elfiza.


'Manisnya' batin Elfiza.


"Akan ku buatkan sesuatu" ucapnya kembali.


"Ga usah kak trimakasih"balas Elfiza menolak.


"Tak ada penolakan" ucapnya, lantas merobek secarik kertas dari bukunya dan membuat sesuatu entah lah apa, setalah selesai dia memberikannya kepada Elfiza.


"Pesawat kertas" gumam Elfiza.


"Yups, maaf ya ga bisah kasih yang bagus"ucap Arjuna kembali.


"Ga masalah ko kak, thank ya kak untuk hadiahnya" ucap Elfiza.


"Sama - sama, oh iya satu lagi kalau aku sedang tidak bisa berfikir jernih atau tak ada inspirasi seperti kamu tadi kakak buat pesawat kertas ini dan menerbangkannya, kamu boleh mencobanya mudah ko" Arjuna memberi saran, dan memberi tahukan apa yang selalu dilakukannya saat tak ada inspitadi seperti Elfiza, ya siapa tau saja itu membantu.


"Ok akan ku coba, trimakasih sekali lagi aku balik kamar dulu bay" ucap Efiza berlalu dengan diantar lambayan dari tangan Arjuna.


***


"Jarang sekali El mau akrab dengan orang baru yang dia kenal" ucap Yudha mengagetkan Arjuna sedaritadi Yudha memperhatikan interaksi antara Elfiza dan Arjuna, ternyata.


"Eh .. loe Yudh, maksudnya?" Tanya Arjuna.


"El akan cenderung mengabaikan loe, dan terus memaksa gue untuk membantunya mengerjakan tugas, tapi barukali ini dia akrab dengan orang baru yang dia kenal dan cowok pula" ujar Yudha.


"Hah.." Arjuna tak mengerti arah pembicaraan Yudha.


"Loe ngomong apa si?" Tanya Arjuna bingung


"Bahkan loe dapet coklat kesayangannya, gue aja yang sering bantuin dia buat selsain tugas atau masalahnya ga pernah tu dapet coklat dari dia lah loe, jadi iri gue ama loe" cerocos Yudha mendramatisir.


"Lebay loe, diakan adik loe kali, lagian loe juga tadi kaga mau bantuin dia, mungkin aja dia kesel ama loe" ucap Arjuna.


"Engga, bukan itu tapi ada sesuatu dari diri loe yang buat diatertari ngobrol sama loe, karna gue kakaknya jadi gue tau siapa dia" ucap Yudha tegas.


"Ya adik loe asik diajak ngobrolnya, dia juga lucu dan cantik pula" jawab Arjuna


"Loe suka ama dia?" Tanya Yudha yang dibalas cengengesan oleh Arjuna.


"Tidak boleh dia masih kecil" ancam Yudha waupun bercanda tapi ada nada serius disitu yang takboleh dibantah oleh Arjuna dan itu membuat tantagan tersendiri untuk Arjuna buat dapetin hati kakaknya biar dapetin hati Elfiza jika benar dia menyukai Elfiza sebagai teman wanitanya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2