
Setelah ulang tahunya kelakuan Kezia semakin nampak aneh, keanehan itu menggelitiki relung hati Fahri yang merasa terusik karna sifat baru orang yang dicintainya.
"Loe makin hari makin aneh deh Kez" ucapan prontal dari Siska membuat Elfiza tersedak kuah bakso yang sedang diseruputnya, kenikmatan itu buyar seketika dengan rasa perih ditenggorokannya karna rasa pedas kuah bakso itu.
Uhukkk... huhukkkk...
Inginnya sih tidak mau batuk tapi apalah dayanya yang tak bisa lagi menahannya, malah air mata ikut keluar disela batuknya.
"Pelan - pelan makannya beb" ucap Fahri yang memcoba membantu sahabatnya itu dengan menepuk pelan bahu sang sahabat lantas memberinya minum.
"Loe kenapa?" Tanya Siska polos
"Loe tuh kalau nanya ya kira - kira kenpa" kesal Elfiza
"Lah gue nanyanya ke Kezia kenapa loe yang kaget gituh" ungkap Siska.
"Kenapa emang loe tahu seauatu?" Selidik Siska, Elfiza hanya mengangkat bahunya acuh, menghindari pertanyaan yang sudah jelas dia tahu jawabannya, hanya saja Elfiza tak ingin mereka membahas ini didepan Fahri, dia masih menghargai perasaan anak itu.
"Cerita sama gue, gue curiga ni anak satu juga udah tahu kan" tuduh Siska sambil menunjuk Elfiza, jika benar itu artinya hanya dia sendiri yang belum tahu dan dia siap untuk meledakan larvanya saat ini juga.
"Kenapa jadi bawa - bawa gue? Gue kaga tahu apa - apa ya" ucap Elfiza sesantai mungkin
"Ya udah kalau gitu ngomonglah Kez loe lagi kenapa coba?" Todong Siska.
"Emangnya gue kenapa?" Bingung Kezia.
"Alah jangan pura - pura bloon deh loe, orang kalau baik - baik aja ga mungkin senyum - senyum sendiri udah kaya orang gila Kez, ngelamun sendirian" kesal Siska.
"Emangnya ngelamun harus berjamaah?" Tanya Fahri heran.
Pletakkk..
Pertanyaan Fahri sukses membuat sendok bakso milik Siska melayang ke kelpalanya, "Udah otak stenga on's mah kaga usah ikut ngomong diem aja" sentak Siska.
"Ye kan gue cuman nanya Nek, ngapai loe sewot sih" kesal Fahri menekan kata neknya.
"Diem" tandas Siska.
"Jawab loe!" Perintah Siska ke Kezia
"Udah ga usah dipaksa, mungkin kita ga penting buat dia" pancin Elfiza akhirnya.
"Engga gitu loh, gue bukannya ga mau cerita tapi nunggu waktu yang tepat aja" Kezia berusaha menjelaskan agar kedua sahabatnya itu tidak marah padanya.
"Nah terus kapan?" Todong Siska
"Nanti ya" pinta Kezia memelas.
"Sekarang!" Tegas Siska memaksa.
"Pleach" mohon Kezia
"Biarlah Sis, kan tadi juga si Kez, udah bilang bakal cerita jangan dipaksa" ucap Elfiza menengahi.
"Tapi loe harua tepati ucapan loe tadi ya Kez" tambah Elfiza.
"Janji secepatnya gue cerita" janji Kezia.
"Hemmm" Elfiza hanya berdhem saja untuk menjawab ucapan sahabatnya itu, sesaat Elfiza melirik Kezia, dia tertarik dengan sesuatu yang menggantung indah dileher sahabatnta itu.
"Kalung baru?" 'Sumpah rasanya gue pengen nabok mulut yang kaga ada remnya ini' lanjut batin Elfiza, Elfiza tanpa sadar bertanya demikian.
Kezia memegang kalung yang melingkar indah dilehernya itu lantas meganguk tanda menjawab pertanyaan Elfiza.
"Dari siapa? Bagus banget" kali ini Siskalah yang bertanya.
"Kado" jawab singkat Kezia
"Iya dari siapa?" Fahripun ternyata ikut penasaran.
"Seseorang" singkatnya menjawab.
Elfiza dan Siska saling lirik karna jawaban yang dirasa singkat itu, malah membuat temannya tersipu - sipu seperti itu, semakin membuat kecurigan mereka menjadi semakin meningkat jika sahabatnya ini tengah menjalin hubunga dengan seseorang dan berusaha disembunyikan oleh mereka.
"Siapa?" Todong Siska
"Nanti gue ceritainnya" jawab Kezia
"Kez" peringat Siska.
"Siska biarkan" Elfiza berkata tegas setelahnya melirik Siska mencoba memeberi kode lewat tatapan matanya.
__ADS_1
"Kalau dia sudah mau cerita juga bakalan cerita ga usah dipaksa" tandas Elfiza lantas pergi dari kantin, yang membuat Kezia merasa bersalah dengan sahabatnya satu itu.
'Pasti dia marah, gimana kalau gue cerita sama dia yang sebenernya, pasti dia bakalan ngamuk deh' batin Kezia, wajah cerianya menjadi muram.
'Ternyata loe udah tahu siapa orangnya' batin Fahri.
'Ternyata benar dugaan gue selama ini, kak Yudha gercep, entah gue harus senang atau sedih kali ini' batin Elfiza.
"El tunggu" teriak Siska, berusaha megejar Elfiza yang mulai menjauh.
"Tu anak kenapa sih?" Kesal Siska.
"Urusan kita belum selesai ya Kez" teriak Siska yang pergi menjauh dari kantin, Kezia hanya mengkat bahunya acuh. Dia masih terlihat murung karna ulah Elfiza yang meninggalkannya.
Rasa bersalah muncul begitu saja dari dalam hatinya, ini yang ditakutkan olehnya jika Elfiza marah padanya, belum dia cerita saja Elfiza sudah marah bagai mana jadinya kalau dia cerita. 'El mungkin ga bakalan setuju, pasti dia menginginkan perempuan yang paling baik buat kakaknya bukan kaya gue' batin Kezia.
"Loe tenang aja, El ga sepicik itu dia pasti bisa terima ko, asal loe mau cerita sama dia" Kezia mendongakan wajahnya yang sedari tadi tertunduk.
Kezia sempat kaget Fahri yang masih ada disini, dan ucapan Fahrilah yang membuatnya semakin kaget. "Ga usah kaget gitu mak, gue cuman nebak aja ko" jelas Fahri.
"Loe yakin?" Tanya Kezia dia bukan menanyakan jika Fahri hanya menebak saja tapi menanyakan apa yang dibilang Fahri tadi.
"Gue kenal El sama seperti loe gue yakin dia bisa terima loe, apa lagi loe sahabatnya" ucap Fahri menyemangati pujaannya, mendengar ucapan Fahri, Kezia kembali tersenyum.
"Loe bener" ujarnya.
"Nah gitu senyum, mak lampir kaya loe ga pantes buat murung" ujar Fahri.
"Sialan loe, tutup toples, btw thanks ya" tulus Kezia berucap.
"Santai mak" jawab Fahri.
"Andai loe kaya gini terus Fah, mungkin kita cocok" tanpa sadar Kezia berucap demikian, ambigu sekali ucapnya.
"Maksud loe?" Tanya Fahri.
"Ya kalau loe ga stres gegara ngejar - ngejar El, dan ga buat tensi gue naik mungkin kita cocok buat jadi teman" ucap Kezia.
"Jadi selama ini kita apa?" Heran Fahri
"Musuh" santai saja dia berucap demikian dasar si Kezia.
"Saran gue jangan ganggu El, bukannya gue ga seneng loe deket sama dia, gue seneng aja kalau Elnya seneng tapi sepertinya dia risih, cukup lah pengejaran loe, loe harus tahu dimana saatnya loe berhenti agar loe juga ga ngerasai sakit terus Fah" Kezia mencoba untuk menengahi permasalahan antara Elfiza dan Fahri yang menurutnya sudah harus diselesaikan.
"Loe orang baik Fah, walau gesrek tapi gue tahu loe orang baik, hanya saja memang kenyataan yang tak berpihak bareng loe" ucap Kezia.
"Loe bener, gue harus bisa relain dia bahagia, bukankah itu yang dinamakan cinta" ucap Fahri.
"Masih banyak cewe yang mau ama loe ko" Kezia mencoba menyemanati Fahri yang terlihat patah hati itu, etah kenapa dia melakukan itu, tapi terlihat jelas dari pancaran matanya jika dirinya tengah terluka.
'Aneh, biasanya dia selalu bisa membantah apa yang gue biang kalau disuruh mundur ngejar El, apa dia sudah lelah ya' batin Kezia.
'Andai loe tahu yang gue mau itu loe Kez' batin Fahri mengeluh.
"Mana ada yang mau sama gue, El saja yang geu kejar selama ini kaga pernah melirik gue" keluh Fahri mencoba menghibur dirinya dengan cara lain.
"Masih bisa ko Fah, asal loe ubah sifat gesrek loe yang kelewat batas, dan sedikit menjauh dari El, loe hanya tidak sadar ada yang memperhatikan loe, karna loe selalu memperhatikan orang yang salah" ucap Kezia.
"Loe bener, gue memang udah ga punya kesempatan buat memperjuangkan dia" ucap Fahri.
"Ga usah melow, ga pastes buat tutup toples modelan loe gitu, gue balik kemereka dulu ya" ucap Kezia pamit, yang hanya mendapat anggukan dari Fahri.
"Ternyata gue memang udah kalah Kez, El bener gue udah sangat terlambat, buat memperjuangkan loe, semoga loe bahagia dengan pilihan loe Kez, gue akan berusaha bahagia dengan melihat loe bahagia Kez" gumam Fahri, setelahnya dia benar - benar pergi dari kantin dengan perasaan yang kacau balau.
Rasa saki itu pasti ada, walau Fahri tahu Kezia hanya seseorang yang baru singgah karna seringnya dia memperhatikan Kezia, dia fikir tak akan sesakin itu jika nanti Kezia tak memilihnya.
Tapi nyatanya semua itu terasa sakit juga, selama ini yang dia tahu Kezia adalah sebuah pelariannya karna ingin melupakan Rachel, yang dia tidak tahu adalah serinya dia memperhatikan Kezia, dan dekat dengan cara yang aneh malah menimbulkan rasa cinta itu, tanpa dia tahu ternyata nama Rachel sudah tak ada lagi didalam hatinya tergantikan dengan Kezia yang mengusik setiap harinya dengan perdebatan - perdebatan mereka yang begitu dinikmati oleh Fahri.
'Nyatanya rasanya sangat sakit Kez' batin Fahri.
***
Kezia tak berhasil menyusul para sahabatnya yang entah kemana menghilangnya. Pada akhirnya Kezia mengirim pesan kepada keduanya untuk berkumpul ditempat biasa.
"Mau ngomong apa?" Tanya Siska ketus, sepertinya dia masih kesal karna Kezia menyembunyikan sesuatu darinya.
"Gue jadian ama kak Yudha"
Burrrrr.....
Semburan dari vakun cleaner itu tak dapat Kezia hindari, wajah dan bajunya menjadi hijau, karna green tea yang diminum oleh Siska.
__ADS_1
"Loe mah" kesel Kezia
"Ehhh Bambang, loe kalau ngasih berita ya pake acara pembukaan ke, pake opening gitu sih Kez, ga usah langsung main embat aja" tukas Siska malah dia yang kesal.
"Lah ngapa jadi loe yang kesel sih Sis, kan gue yang kena sembur ini" tak kalah kesal pula Kezia berucap.
"Udah diem" titah Elfiza seperti titah ratu bagi keduanya, kedua gadis itu langsung diam begitu saja tanpa diperintah dua kali.
Sepertinya kondisi Elfiza kurang baik, melihat mimik wajahnya yang tidak bisa dibaca oleh mereka, 'Apa El ga suka ya kalau Kezia ada hubungan sama abangnya?' Pertanyaan itu lolos begitu saja dari batin Siska.
'Tuhkan El emang ga suka gue deket ama abangnya, ucapan Fahri nyatanya salah' keluh batin Kezia.
"Dari kapan?" Tanya Elfiza
"Emmmm... gue deket ama kakak loe udah lama, tapi kalau jadian baru satu minggu yang lalu, tepat pas hari ultah gue El, selepas kalian kasih kejutan ke gue" jujur Kezia, Elfiza bukan tidak nampak kemurungan didiri sahabatnya itu, hanya saja Elfiza ingin melihat seberapa jujur sahabatnya, dia tidak marah ko yang dia fikirkan saat ini adalah keadaan Fahri itu saja.
Bagai manapun Fahri adalah sahabat baginya, kondisinya juga penting untuk Elfiza saat ini, walau dia senang tapi disaat bersamaan dia juga sedih.
"Jadi kalung itu bener dari kak Yudha?" Tanya Elfiza.
"Kok loe tahu?" Tanya Kezia bingung, Elfiza hanya tersenyum saja tanpa mau menjawab pertanyaan Kezia, dia kembali meminum, minumannya.
'Jelas kalau El emang ga suka Kezia jadian ama abangnya, aduh gimana ini, masa ia persabatan kita jadi pecah hanya karna masalah ini, rumit banget dah' keluh batin Siska.
"El.." panggil Kezia lirirh, Elfiza hanya melirik saja, saat ini hatinya benar - benar sedang resah, memikirkan salah satu sahabatnya itu.
"Loe marah ya ama gue?" Kezia memberanikan diri bertanya demikian.
Elfiza mengangat alisnya, bingung dengan pertanyaan Kezia barusan, marah untuk apa? Bingungnya. "Marah kenapa?" Tanyanya bingung.
"Karna gue jadian ama abang loe" jawab Kezia takut - takut.
"Hahhh" bingung Elfiza
"Maaf, kalau loe ga setuju sama hubungan gue sama kak Yudha, gue mau ko putus sama kakak loe asal oe ga marah sama gue" ucap Kezia.
'Kan apa gue bilang runyam urusannya' batin Siska.
"Nanti dulu, siapa yang bilang gue ga setuju?" Tanya Elfiza bingung.
"Lah loe dari tadi sikapnya aneh, keliatan baget kalau loe ga setuju sama hubungan mereka" ucap Siska.
"Hah... ngarang geu seneng ko, itu artinya abang gue normal" jawabnya.
"Maksud loe?" Tanya Siska heran mengapa Elfiza bicara seperti itu tentang abangnya sendiri.
"Gue sempet ngira dia maho" bisik Elfiza kepada kedua temannya itu.
"APA!!!" Bukan main Siska dan Kezia terkejut akan ucapan sahabatnya itu.
"Atas dasar apa loe bilang abang loe maho?" Tanya Kezia sambil menggerakan keempat jari tangannya seperti membuat tanda kutip.
"Ya karna dia kemana - mana bareng sama kak Juna mulu" tanpa dosa dia menjawabnya.
"Astaga tega banget loe bilang abang loe sendiri maho El" kelu Kezia.
"Ya sorry, siapa yang ga nyangka dia belok coba kalau setiap hari barengnya ama kak Juna, udah kaya kembar dempet tau ga sih, gue aja yang adeknya jarang banget bareng ama dia" tutur Elfiza.
"Loe cemburu ya" tuduh Siska dan Kezia.
"Maksudnya?" Tanya Elfiza tak mengerti
"Loe cemburu sama kak Juna karna terlalu dekat dengan kak Yudha" terang Siska
"Apa ya engga lah, ya kali gue cemburu cuman karna hal itu doang, gue cuman heran aja gitu segitu lengketnya mereka" jujur Elfiza, Elfiza memang tidak pernah cemburu kakaknya dekat dengan siapapun, karna dia tahu diantara mereka semua yang paling disanyangi kakak - kakaknya ya kelurganya termasuk dirinya.
"Atau loe malah cemburu kak Yudha deket sama kak Juna lagi ya" serga Kezia semakin membuat Elfiza tercengang karna pemikiran kedua sahabatnya itu.
"Apa? Ngarang" Elfiza
"Ya bisa ajakan, loe yang pengen deket - deketan sama pangeran wayang loe itu jadi ga bisa" ledek Siska.
"Ngarang banget deh, lagian buat apa gue cemburu kan kak Juna bukan siapa - siapa gue" jawab Elfiza.
"Bukannya loe selalu bilang dia pangera wayangnya loe ya?" Bingung Kezia
"Hanya sebatas mengagumi untuk suka dalam hal lainnya tentu tidak Kez" jujur Elfiza, memang Elfiza belum memiliki rasa itu selain suka karna kagum akan sosoknya yang bukan hanya tampan dimatanya.
"Ohhh seperti itu toh" jawab keduanya.
Dan begitulah hari itu berjalan tanpa terasa satu lagi kisa yang Elfiza dapat hari ini, dan kebahagian untuknya dan Kezia, sedangkan disuatu tempat yang lainnya ada hati yang patah karna kebahagian yang dirasa Kezia.
__ADS_1
Ya itulah cinta datang tanpa pertanda pergi tanpa diminta lantas menghancurkan tanpa diperitah, sagat rumit mengartikannya padahal hanya satu kata lima huruf.
🍁🍁🍂