My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
HUKUMAN1


__ADS_3

Sudah hampir 2 jam Elfiza merasakan sengatan matahari ditubuhnya, tapi sayang pak Adam tak kunjung menampakan batang hidungnya itu.


Elfiza ingat betul perkatannya sebelum meninggalnya dilapangan, untuk memberikan hukuman untuknya, hormat menghadap bendera karna tidak mengerjakan tugasnya.


"Hormat kepada bendera, sampai bapak kembali lagi baru kamu bebas dari hukuman mu!" Perintah pak Adam, tanpa banyak tanya lagi Elfizha hanya mengangguk lantas melaksanakan hukumannya dari sang guru.


"Ingat jangan kemana - mana sebelum bapak kembali lagi, tetap seperti ini, bapak tidak akan lama." Tambah pak Adam sebelum dirinya pergi.


"Baik" jawab Elfiza sedikit ketus, membuat gelengan dikepala gurunya yang melangkah menjauh dari sampinya.


Dan disinilah dia saat ini, "Ternyata kata sebentarnya si kiler itu ga main - main" gerutuh Elfiza, saat dirinya masih setia menunggu guru kilernya datang untuk membebaskan hukumannya.


Tapi yang ditunggu tak kunjung datang entah kemana perginya sang guru yang mengatakan kalau dirinya pamit hanya sebentar, karna urusan mendesaknya.


"Loh kamu masih disini?" Pertanyaan macam apa itu, ingin rasanya Elfiza berucap demikian, namun sepertinya tenaganya sudah terkuras habis karna menahan pegal dikaki, dan panas matahari yang menyengat tubuhnya.


"Bapak kira sudah dikelas" ucap pak Adam tados (tanpa dosa), membuat dirinya semakin mangkal saja karna kesal.


Karna tak mendapatkan jawaban dari Elfiza membuat guru kiler itu kikuk sendiri. "Ya sudah kamu balik kekelas, inget jangan ulangi lagi. Kalau sampai terulang jangan harap nilai kamu bagus dimata pelajaran bapak, kali ini bapak maafkan" ucap pak Adam.


Entah karna kesal atau apa tanpa permisi lagi Elfiza melangkahkan kakinya pergi begitu saja dari hadapan pak Adam. "Enak sekali dia berucap begitu tanpa rasa bersalah" gertuh Elfiza menahan kesal.


Seharusnya Elfiza melangkahkan kalinya kearah kelas bukan kantin, karna pelajaran pak Adam masih belum usai masih tersisa satu jam lagi, tapi karna rasa kesalnya terhadap guru itu malah membuat sifat barbarnya muncul.


Baru dirinyalah yang berani bolos dimata pelajarannya pak Adam, entah ada atau tidak adanya gulu kiler itu didalam kelas saat jam pelajarannya tidak ada yang berani berulah, tapi untuk kali pertama seorang Elfiza mencetak rekor itu.


Padahal dengan jelas dia mendengar perintah pak Adam untuk masuk kelelasnya lagi tapi malah berbelok kelantin.


Dia berfikir ahh, hanya sekitar satu jam lagi ini, mana mungkin guru kiler itu masuk, begitulah pemikirannya tapi sayang pemikirannya ternyata salah.


"ELFIZA ANESTASIA" panggilan yang menggelegar dari arah punggunnya, lebih tepatnya dari arah pintu masuk kantin membuat bakwan yang tengah diangkat bu Imah loncat kembali kepenggorengan, saking kagetnya bu Imah mendengar teriakan dari arah pintu masuk kantin, untung saja dia tak terkena cipratan minyak panas dari wajan.


Jika buk Imah dan penjual jajanan dikantin lainnya tengah mengelus dadanya karna terkejut beda lagi dengan Elfiza yang menyemburkan semua minuman yang ada dimulutnya tepat ke muka pak Asep satpam penjaga sekolah.


"Masaallah neng El, ga kira - kira" ucap pak Asep, kesal karna mukanya habis basa terkena air es yang diminum Elfiza.


"Maaf pak, minta bikini baksok aja nanti bilang yang bayar aku, tapi kali ini aku harus kabur dulu ok, bay" ucap Elfiza sambil berlari, dengan menyambar bakwan bu Imah.


"Bu, uangnya nanti ya sekalian sama yang tadi" teriak Elfiza sambil berlari menghindari amukan pak Adam yang mulai mendekat kearahnya.

__ADS_1


"Elfiza MAU KEMANA KAMU?" Bentak pak Adam sambil mengejar Elfiza.


"Kaburlah pak cape kena hukuman mulu" jawabnya sambil kocar - kacir menyelamatkan diri dari amukan gurunya.


"Kamu ga akan bisa kabur dari saya" ucap pak Adam sambil terus mengejar Elfiza.


Alhasil kejar - kejaran antara guru dan murid itu tak lagi bisa dihindari, geram rasanya menjadi pak Adam baru kali ini dia mengalami yang manya menjadi bahan usilan anak didiknya sendiri.


'Awas saja bila sampai tertangkap' itulah ucap batin pak Adam.


Sumpah ini kali pertamanya Elfiza merasa takut akan satuhal, bukan apa masalahnya dia merasa sangat cape, mending saja kalau tertangkap dirinya tak diapa - apakan pak Adam.


Tapi kalau sampai pak Adam kembali menghukumnya bagai manalah jadinya tubuh lelah seorang Elfiza itu. Ahhh dasar Elfiza jika sudah seperti ini baru dia merasa takut, lantas tadi mengapa kabur.


"Lari kemana lagi ini gue?" Gumamnya dengan nada ngos - ngosan, dia menoleh kearah belakang rupanya tak terlihat batang hidung guru kilir yang tengah mengejarnya itu.


"Loh El, kenapa disini bukannya ini masih jam pelajaran?" Tanya seseorang hampir saja membuat jantungnya lepas dari sarangnya.


Sumpah rasanya semenjak pindah dirinya merasa akan mati karna jantungan, dia megangi area dadanya, mengelus pelan menetralkan keter kejutannya.


"Kok kaget gitu kenapa?" Tanya suara super besar itu.


"Kenapa kamu ada disini bukannya dikelas, kan masih 35 menit lagi ke jam istirahat" tanya gurunya itu.


"Hehe, abis dari toilet pak" jawab Elfiza dengan cengiriannya.


"Ohh.. Ya sudah sana cepat balik lagi kekelas" titah pak Danu, selaku guru Kimia.


"Siap pak" jawab Elfiza, sambil melangkahkan kakinya kembali.


"Pak Danu tangkap bocah itu" belum juga Elfiza menjauh dari sana ternyata pelariannya sudah ketahuan.


"Ehhhhh" pak Danu nampak sekali terkejut karna mendengar teriakan dari pak Adam.


Tampa pikir panjang Elfiza kembali berlari " by pak" teriaknya dan kali ini dia harus lebih gesit berlari karna bukan hanya pak Adam yang mengejarnya namun entah kenapa guru kimia itupun ikut - ikutan mengejarnya.


'Ohhhh tuhan, sebenernya salah gue apa coba, ngapa tu guru kimia pake acara ikutan ngejar gue segala' membatin sudah Elfiza dalam pelariannya.


Sampai pelariannya terhenti karna dirinya menabrak tubuh seseorang. "Adawwww" teriak Alif dan Elfiza berbarengan karna tubuh mereka saling bertubrukan.

__ADS_1


Ingin rasana Alif memaki sipenabrak, dan saat melihat siapa yang menabraknya, semakin ingin lah ia memaki anak itu, "Heh kutu, kalau jalan tu ya pake mata jangan lari kaga jelas gini, sakit ni pantat gue" tukas Alif kesal.


"Hehhh..." baru akan mengucapkan makiannya Elfiza segera melotot karna melihat pak Danu dan pak Adam sudah semakin dekat saja.


'Waduh, gawat' batin Elfiza, tanpa fikir dua kali dia memaksa badannya bangun dan entah setan mana yang nempel ditubuhnya dia menyambar pergelangan tangan Alif, lantas menyeretnya ikut untuk berlari.


Alif yang tanpa persiapan tersentak kaget saat dirinya dipaksa berlari dan diseret oleh Elfiza, dengan rasa bingungnya dia ikut berlari mensejajarkan lari Elfiza.


'Ada apa sih ini' itulah batinnya yang bicara.


***


Alif masih diseret oleh Elfiza berlari entah arah tujuannya kemana, yang terpenting saat ini bisa bersembunyi dari kedua guru tak warasnya itu.


'Kenapa ni anak malah ngajak gue lomba lari sih? Terus ngapa gue juga mau aja lagi' batin Alif bertanya - tanya.


"Bentar ... bentar" paksa Alif menghentikan laju lari Elfiza dan dirinya.


"Isss... kaga ada bentar - bentar ayo kabur" titah Elfiza akan melangkah kembali, tapi kembali ditarik oleh Alif.


"Nanti dulu!" Ucap Alif tegas


"Ngapain loe bawa gue lari?" Tanya Alif bingung, kalau ditanya gitu juga Elfiza bingung mau jawab apa karna dia juga tidak tau kenapa.


"Kaga tau kenapa emangnya?" Tanya Elfiza polos.


"Sumpah rasanya gue pengen nampol loe dah El" ucap Alif tak percaya akan ucapan sahabatnya itu.


"Ahhh, banyak ngomong udah ayo lanjut" ajak Elfiza.


"Ogah, jelasin dulu kenpa loe ajak gue lari!" Pinta Alif.


"Ahhhh, lama loe mah terserah loe kalau loe ga mau ketangkap gue duluan by" ucap Elfiza berlari, membuat Alif semakin bingung karna tingkahnya.


Belum reda rasa bingung Alif, kini Alif dikejutkan oleh teriakan dua guru dari arah belakangnya yang mulai mendekat. "Hai kalian berhenti" teriak kedua guru itu berbarengan.


Melihat hal itu membuat kaki Alif bergerak tanpa dikomando lagi, berlari mengejar Elfiza, "El tungguin" teriak Alif.


"Ayo cepetan" tak kalah berteriaknya Elfiza.

__ADS_1


TBC..


__ADS_2