My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
KEMBALI KESEKOLAH


__ADS_3

Dikamar bernuansa biru itu sudah menampakan titik kehidupan didalamnya, siempunya kamar ternyata sudah bangun dari jam 05.00Wib, setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Elfiza membersihan dirinya, setelahnya bersiap untuk pergi kesekolah.


Hari ini menjadi hari pertama kembali bagi Elfiza untuk bersekolah, setelah seminggu yang lalu dirinya dirawat diRS.


Saking senangnya dia akan kembali kesekolah hingga yang biasanya tidak pernah bangun pagi kini bangun, rupanya dia rindu sekolahnya itu, juga teman - teman yang selalu rusuh dimanapun berada.


***


"Pagi" ucap Elfiza menyapa seluruh keluarganya yang ada dimeja makan.


"Pagi" jawab semuanya.


"Tumben anak ayah bisa bangun pagi?" Tanya ayah heran, karna biasanya, anak perawannya itu tidak bisa bangun pagi, bahkan setiap sarapanpun dirinya jarang bertemu dimeja makan, karna setiap Elfiza turun untuk sarapan, ayah sudah berangkat untuk kerja.


"Bisa dong yah" jawab Elfiza sedikit jutek.


"Idih juteknya" ucap Yudis, yang mendapat pelototan dari Elfiza, sedangkan yang dipelototi acuh saja melanjutkan sarapan nasi goreng buatan mbo Sum.


"Biasa lah yah lagi rajin, nanti juga pas dateng malesnya kembali bangun siang" sindir Yudha.


"Biar ajalah sirik aja" tukas Elfiza kesal.


"Dihhh ga penting sirik sama cewe barbar kaya kamu dek" ucap Yudha semakin dibuat meradang kesal saja Elfiza karna ulah kakaknya itu.


"Hisss, dasar si jorok" pungkas Elfiza.


"Lah ngapain jadi bahas kesitu" kesel Yudha.


"Bodo emang kenyataannya kakak jorok" tandas Elfiza


"Jorok - jorok begini juga banyak yang deketin emang kamu" ledek Yudha.


"Dihhh jorok aja bangga" grutu Elfiza.


"Banggalah, kakak jorok aja banyak yang suka apa lagi kalau kakak suka bersih - bersih makin ngantiri dong" sombong Yudha, malah makin ngebuat anak macan itu kesel.


"PD banget sih" tukas Elfiza


"Biar aja" jawab santai Yudha.


"Da-"


"Sudah - sudah selesaikan sarapannya Yudha, El" belum juga selesai Elfiza berbicara kanjeng ratu sudah memberi titah, maka terkatup sudahlah itu mulut Elfiza yang sudah terbuka ingin menyambar ucapan Yudha barusan tidak jadi.


Ibu benar - bebar pusing, pagi - pagi begini sudah medengar keributan saja dari kedua anaknya.


***


Sidenok yang dikendarai Elfiza sampai dengan selamat diarea parkir sekolahnya, pak Asep sempat terbengong, melihat siswi yang biasanya dibukakan gerbang pada saat bel masuk dibunyikan itu, pagi ini datang lebih awal 5 menit sebelum bel.


"Ada angin apa neng El dateng pagi?" Tanya pak Asep bermonolog, saking tidak pernahnya melihat Elfiza datang pagi jangankan pagi tepat waktu saja dia bisa dihitung, mungkin jika waktu kelas X dia sering datang tepat wantu, karna adanya Yudis sang abang.


Lah sekarang mah tidak ada yang mengomel jika dia bangun siang, dia juga tidak takut terlambat karna ada pak Asep yang setia membukakannya gerbang jika terlambat datang.


Ahhh masa sekolah yang menyenangkan karna bisa meloby pak Asep (jangan ditiru ya mentemen itu tidak baik namanya😄).


Sidenok sudah terparkir dengan manis diparkiran, kali ini Elfiza mendapat parkiran yang enak, ya biasanya juga enak, karna kang Ardi selaku pengawas lapangan parkir itu yang selalu membetulkan letak motor yang asal saja diparkir siempunyanya.


***


Elfiza berjalan dengan penuh rasa senang, senyumnya tak luntur tercetak manis dibibirnya, membuat lesung pipinya terlihat, ohhh manisnya, apa lagi pipi bakpaunya yang kembali mulai gembung itu, semakin ingin sajalah yang melihatnya ingin mencubitnya karna gemas.

__ADS_1


Ahhhh padahal umurnya bukan lagi umur bisa dikatakan imut - imut, sudah bisa dibilang umur yang bisa dikatakan remaja dewasa, harusnya sih memiliki paras keibuan seengganya karna ibunya sangat ayu dan keibuan.


Beda sekali dengan anak satu ini, dia malah terlihat manis dan imut, jangan tanyakan soal cantik karna memang sudah cantik dari dulu, sayang amburadul, tidak seperti kebanyakan gadis yang memperhatikan penampilannya.


Dia terkesan amburadul tapi entah mengapa bisa terlihat manis dan menggemaskan.


Itulah yang dinamakan aneh, ya tapi itu kenyataannya mau bagai mana lagi, Alif saja sampai aneh melihat kenyataan itu, pasalnya diapun merasakannya keimutan dan kemanisan anak itu, kalau soal menggemaskan dari dulu memang anak macan itu menggemaskan.


Menggemaskan pengen nab*k saking kesalnya karna dia seiring buat ulah yang berimbas kepadanya, sama seperti beberapa waktu lalu kejadian kejar - kejaran bareng guru kiler dan guru kimia serta kepseknya sampai pada akhirnya mereka berakhir ditoilet karna dihukum.


Itulah devinisi menggemaskan bagi Alif menggambarkan Elfiza si gadis beruknya, ya cinta dalam diamnya itu.


***


"Widihhh... anak macan udah balik sekolah woy, udah sembuh laau El?" Tanya Dito, sambil berteriak mengabari teman seisi kelasnya.


"Iya dong udah sembuh, kangen kelas" ucap Elfiza sambil nyelonong masuk dalam kelas yang diikutin Dito.


"Widihhh.. anak macan kita udah balik" teriak Ridwan siketua kelas heboh, membuat seisi kelas gaduh berhamburan mengerubungi meja Kezia.


"El sehat?" Tanya teman perempuan Elfiza.


"Bae loe?"


"Wahhh anak macan, bapak macan kangen nih"


"Inget sekolah juga loe, gimana sehat loe"


Dan masih banyak lagi yang bertanya kabarnya, yang Elfiza saja sampai cape buat jawab semua pertanyaan yang sama, namun Elfiza memaklumi hal itu karna teman - temannya perhatian padanya jadilah seperti itu.


"Ahhh... kangennya gue, akhirnya gue bisa duduk bareng loe lagi" ucap Kezia senang, memeluk anak macan itu.


"Senang kali kau" sindir Siska, namun juga memeluk tubuh mungil yang tengah dipeluk Kezia.


"Lah loe mau ditemenin sama si Fahri loenya nolak" ungkap Siska.


"Ditemenin sama dia mah gue berakhirnya dilapangan nanti" jawab santai Kezia, membuat senyum dibibir Elfiza terkembang.


Tak lama setelahnya..


"Ayang embeb gue kangen" sudah tahu lah pastinya siapa yang berteriak senyaring itu.


"Berisik loe" tukas Siska dan Kezia berbarengan setelah Fahri didekat mereka, anak sekelas menyoraki Fahri yang membuat keributan dalam kegaduhan dikelas.


Yang disoraki malah acuh saja berjalan menuju meja dimana Elfiza duduk, sudah biasa bagi Elfiza melihat tingkah Fahri itu.


"Sirik aja kalian berdua ini" semprot Fahri.


"Akhirnya bebep gue balik lagi gue dah kangen banget" ucap Fahri, niat hati ingin memeluk Elfiza, sayang seribu sayang Elfiza menghindar, dan jadilah dia memeluk Kezia yang duduk disamping Elfiza.


Sebenarnya sih bukan memeluk Kezia lebih tepatnya tersungkur karna ulah Elfiza itu. "Akhhhhhh" teriak Kezia sekenceng yang dia bisa sehingga bukan hanya anak didalma kelasnya saja yang beralih melihatnya, tapi juga yang tengah berjalan melewati kelasnya.


Dan beberapa anak kelas sebelahpun ikut mendengar, Kezia berhasil mengumpulkan grombolan siswa yang penasaran itu, ahhh kelas jadi semakin ramai saja karna penghuni kelas itu bertambah berkat teriakan Kezia.


"Ada apa?"


"Ada apa sih? Berisik bener dah!"


"Ngapa sih tu si Kezia teriak gitu"


"Pasti ulah si Fahri"

__ADS_1


Dan masih banyak lagi kasak kusuk lainnya yang membuat kepala Elfiza pening FYI Elfiza tak suka keramaian, dia akan merasa sumpek dan pusing dan saat ini bukan hanya ramai tapi berisik.


"Ngapa loe peluk gue kambing" tukas Kezia kesal.


Sedang Fahri masih menguasai dirinya karna ketidak sengajaan itu malah membuat dia memeluk gadis yang disukainya, membeku sudahlah ia ditempatnya, Elfiza yang melihat itu hanya nyengir lebar saja.


"Hehh... mau ampe kapan loe disini" sentak Kezia lagi, dan barulah membuat Fahri sadar, dan beringsut dari tempatnya.


'Yaampun deket banget tadi, cantiknya.. tolong jangan copot loe jantung' monolog batin Fahri sambil memegangi area dadanya, sungguh jantungnya bekerja kebat kebit sekarang ini.


"Udah main nyosor terus salah nyosor pula sekarang diem ke patung gitu, ngapa loe kesambet?" Tanya sarkas Siska.


"Hehh nenek sihir kalau ngomong suka sembarangan, gue kaya gini juga akibat tu ulah kembaran loe" jawab Fahri kesal.


"Heh, ngapa jadi nyalahin gue? Loe yang maen peluk gue" tukas Kezia kesal


"Ngapa loe jadi bilang Kezia kembaran gue?" Tak kalah kesal pula Siska dengan ucapan Fahri, mana mau dia disamakan dengan Kezia yang notbennya (notabene) sama beruknya macan Elfiza, sedangkan dirinya terlihat lebih rapih dari kedua sahabatnya yang lain.


"Gimana gue kaga, diem orang tu mak lampir satu teriak kenceng banget dikupin gue, ya kagetlah gue, budeg ni kuping" ketus Fahri, bisa sekali dia bersandiwara seperti itu, walau pada kenyataanya memang telinganya saat ini tengah berdengung tak karuan.


'Aktor handal... good job buat kebodohan loe Fah' batin Elfiza.


"Lagian loe sih beb, ngapa coba ngehindar?" Tanya Fahri kesal.


"Ya karna tubuh gue harus steril terus" jawab santai Elfiza.


"Emangnya gue kuman" sungut Fahri.


"Nah itu loe tau" jawab Elfiza membuat Fahri semakin meradang.


"Nahkan El saja bilang gitu, jadi nyadar diri aja kuman" tambah Siska.


"Kuman itu memang harusnya dibasmi ya engga Kez" timpal Dito.


"Terus loe pikir gue toksinnya gitu buat ngebunuh kuman" ketus Kezia.


"Lah ngapa jadi baper mba" ucap Ridwan.


Kezia mendengus melihat kelakuan teman - temannya itu, membuat Dito dan Ridwan nyengir lebar berlari membuat kawanan macan itu menatap tajam mereka.


"Ahhh gue kira ada apa"


"Hisss... ngabisin waktu gue aja"


"Dasar kelas sableng"


"Ya ampun ga bermutu banget sih"


"Udah ah balik kekelas yu"


Dan masih banyak lagi yang bicara secara terang - terangan itu "Lah ngapai Loe pada ngeliatin kalau gitu" ketus Elfiza sedikit berteriak, kesal juga mendengar ucapan para teman sekolahnya yang tanpa filter itu.


Kringgggggg......


Baru saja Fahri ingin meledek pujaan hatinta lagi, jika saja bel tidak berbunyi, sudah pasti kelas semakin gaduh, sejujurnya sih bisa saja dia membuatnya menjadinyata.


Tapi dia masih sayang nyawanya, tidak ingin main - main saat jam pelajarannya pak Adam kalau tak ingin berakhir ditoilet atau lapangan, sejujurnya lebay sih dibilang sayang nyawa hanya saja belajar dari kesalahan teman yang selalu digombalinya itu, berurusan dengan pak Adam itu menyeramkan.


Sangnya menurut Elfiza tidak semenyeramkan yang dibayangkan anak - anak lainnya.


Da akhirnya kelas dimulai dengan hikmat dan sunyi pada saat pak Adam masuk..

__ADS_1


TBC..


__ADS_2