
Jika Elfiza tengah menenangkan hatinya, lain halnya dengan Fahri yang tengah sibuk mencari bukti agar nama baik sahabatnya kembali lagi, melihat kasus Elfiza saat ini, dirinya seperti kembali ke masa lalunya, tidak dipercaya oleh orang yang disayang itu menyakitkan, dengan dirinya yang tidak dipercaya oleh mantan kekasihnya dan keluarga mantan sahabatnya saja sudah membuatnya merasa sesak, apa lagi yang Elfiza hadapi ini, hampir seluruh orang menghakiminya bersalah, bahkan keluarganya sendiripun melakukan hal yang sama.
Dia tak pernah bisa membayangkan sehancur apa hati anak itu saat ini, sahabatnya itu menderita bukan hanya hati, tapi juga pisik dan psikisnya, dia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis baik itu, bagaimanapun caranya ia ingin membantu Elfiza, maka dari itu disinilah ia saat ini.
Pangandaran...
"Gue harus cari bukti - bukti itu agar nama bagi El kembali, mumpung anaknya lagi menghilang, kalau ada pasti dia bakalan sabotase semuanya" gumam Fahri, sembari menyusuri jalan setapak.
Fahri saat ini berada di Pangandaran, dia ingin mencari bukti itu sendiri, karena Elfiza mengatakan jika kejadian itu bukanlah saat dirinya berada di Lembang, menurut informasi yang diterimanya salah satu korban dari teman Elfiza itu ada di daerah sini, maka dari itu Fahri secara langsung menemui orang tersebut.
Dia tidak sendiri melainkan berdua dengan informan yang sudah mengabarinya, jangan tanyakan bagaimana dirinya mengetahui semua hal itu, Fahri sama dengan kedua kakak Elfiza, untuk mencari informasi sama - sama bisa diandalkan bahkan lebih baik dari kedua kakak Elfiza yang masih bisa dikelabui oleh sang adik.
"Gimana?" tanya Fahri setelah bertemu dengan informannya.
"Ada kang, tinggal jalan sebentar lagi, kita sampai dirumahnya, rumahnya paling ujung di desa ini" jawab orang tersebut memberikan informasi yang dia terima kepada Fahri.
"Ok, ayo kita kesana" ajaknya yang diangguki oleh pria disebelah Fahri, umurnya mungkin berbeda dua atau tiga tahun diatasnya.
Mereka berjalan beriringan menuju kearah rumah yang dikatakan adalah korban dari kebiadaban teman Elfiza itu.
***
Berbeda dengan Fahri berbeda pula dengan Yudha dan Yudis yang saat ini tengah mendengarkan Soleh bercerita, keempat pemuda itu tengah serius memperhatikan Vidio dari hp Soleh, sesekali helaan nafas kedua kakak beradik itu terhembus dengan berat.
Arjuna yang mendengarkan sedari tadi sudah mengepalkan tanganya sekuat mungkin agar dirinya tak terbawa emosi mendengar dan melihat bagaimana orang yang dicintainya menderita tentu saja membuatnya merasakan sesak yang mendalam, apa lagi luka itu yang ditorehkan oleh kedua kakaknya sendri, ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi Elfiza saat ini, entah berada dimana pula anak itu saat ini.
Ya Arjuna memang tidak mengetahui bagaimana kejadian itu terjadi, dia memang tidak datang ke acara makrab yang diadakan waktu itu, karena dirinya harus terbang secepatnya ke Jepang bersama sang ibu, ia mendapat kabar jika sang ayah mengalami kecelakaan pada saat bekerja, dan baru hari ini dirinya kembali, dan langsung mendapatkan kabar seperti ini, rasanya bila dia tak mengingat Yudha adalah sahabatnya sudah dipastikan dia akan menghabisi Yudha dan Yudis saat ini.
"Loe berdua itu keterlaluan" bentak Arjuna yang hanya mendapat tundukan dari kedua kakak beradik itu.
Walau Arjuna tidak tahu bagaimana perlakuan mereka terhadap adik kesayangan mereka itu, tapi sudah bisa ditebak kelakuan mereka terhadap Elfiza tidak bisa dikatakan baik, setelah ia melihat bagaimana Vidio tadi.
__ADS_1
Ya sewaktu Elfiza dan Fahri berada di cafe tengah malam waktu itu, ternyata Soleh pun ada disana, Soleh lah satu - satunya mahasiswa yang tak pernah ikut campur dengan kejadian itu, bukan tanpa alasan dia melihat Fahri begitu membela gadis itu, itu artinya Elfiza tak sepenuhnya salah.
Soleh tahu betul sifat sepupunya satu itu, dia akan membela mati - matian jika orang itu benar, apa lagi kasus yang dialami Elfiza ini hampir mirip dengan masalahnya dulu, Soleh yakin ada yang disembunyikan oleh Elfiza, dan malam itu terjawab sudah semua rahasia yang Elfiza pendam, dan dia tidak menyia - nyiakan hal itu, ada yang harus diluruskan disini, kejadian itu membuat ketiga kakak beradik itu renggang.
Mungkin saja dengan pengakuan Elfiza itu bisa membuat kakak - kakak mereka kembali percaya pada gadis itu pikir Soleh, dan benar saja apa yang ada dalam otaknya saat itu, kenyataannya saat ini mereka berdua seakan terpuruk menyesali bagaimana kelakuan mereka kepada sang adik.
Bahkan dibentak dan diceramahi oleh Arjuna saja mereka hanya bisa menunduk dan terlihat pasrah, "sudah seperti ini harus bagaimana menghadapinya? El saja tidak tahu ada dimana sekarang" geram Arjuna.
"Pasti itu ulah kalian kan" sergahnya kembali, tak ada yang bersuara selain Arjuna disini, Yudha dan Yudis membenarkan ucapan dari Arjuna adiknya mungkin tidak kuat tinggal bersama mereka, makanya memilih pergi.
"Kenapa kalian keterlaluan seperti ini, bahkan Fahri yang orang lain masih bisa percaya pada El, tapi kalian kakaknya tak percaya terhadap adik kalian sendiri" ucap Arjuna kembali, Arjuna benar - benar tak habis pikir dengan cara berpikir kedua adik kakak itu, bagaimana bisa mereka tak mempercayai adik kecil mereka.
Apa yang dikatakan Arjuna memang benar, baru hari ini Yudha dan Yudis sadar akan kesalahan terbesar mereka, mereka lebih mempercayai Vidio yang mereka tonton ketimbang sang adik, bahkan tanpa menyelidiki bagaimana Vidio itu sampai ada di aula kampus saja mereka tidak sampai menyelidikinya, terlanjur kecewa dengan pengakuan sang adik tentang Vidio tersebut, membuat keduanya mengira bahwa Elfiza benarlah pelakunya, kekecewaan dan emosi menguasai mereka berdua rupanya.
"Kita harus mencari El" gumam Yudis
"Kenapa mau mencari El? jika kalian sudah mengusirnya?" sinis Arjuna bertanya
"Bukankah secara tidak langsung perilaku kalian terhadap El, membuatnya merasa terusir" sindir Arjuna membantah jawaban dari Yudha, mulut yang tadinya terbuka kini terkatup kembali, Yudha tak bisa menyanggah ucapan Arjuna, walau dirinya bilang bahwa dia tak Setega itu sampai mengusir adik kesayangannya sendiri, namun kembali ia ditampar kenyataan jika sikapnya selama hampir 3 Minggu ini sangatlah buruk terhadap adik kecilnya itu.
"Tapi benar apa kata Yudis Ar, kita harus tetap mencarinya" ucap Yudha
"Mau cari dimana? jika semua sahabatnya saja tidak ada yang tahu keberadaan El?" tanya Arjuna.
"Inilah jika mulut lebih dulu bertindak, tanpa mau mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya seperti apa" ungkap Arjuna masih mempertahankan kekesalannya.
Setelah perkataan terakhir Arjuna, tak ada suara lagi, keempat pemuda itu bungkam untuk beberapa saat ruangan itu dilanda keheningan, hanya terdengar helaan nafas berat yang sesekali terhembus dari Yudha dan Yudis.
"Dari pada itu lebih baik kita cari bukti kongkritnya untuk masalah ini bang" usul Soleh.
"Lantas bagaimana dengan adik ku? keberadaannya saja tidak diketahui saat ini, gue takut terjadi sesuatu sama dia" ucap Yudis
__ADS_1
"Kalau emang khawatir, kenapa malah bikin adik loe pergi dari rumah?" Tanya Arjuna, sekali Arjuna berbicara kedua adik kakak itu tak lagi bisa menjawabnya, hanya diam lah yang mereka berikan untuk sebuah jawaban yang ingin didengar Arjuna.
"Kalau soal El, gue benar ga tahu dia ada dimana, Fahri sendiripun mencari keberadaan anak itu, dan gue belum sempet tanya lagi apa dia udah tau apa belum lokasi El saat ini, karena anak itu keburu menghilang entah kemana" imbuh Soleh.
"Terus mesti gimana sekarang, entah ada dimana adik gue sekarang" keluh Yudha.
'Dek, pulang sayang' batin kedua kakak beradik.
"Saran gue sih bang dari pada cari El, lebih baik cari bukti - bukti yang bisa membersihkan nama baik adik loe bang, gue yakin El baik - baik aja ko bang" ucap Soleh memberikan sarannya.
"Apa yang dibilang Soleh bener Dha, gue yakin El ga akan ngelakuin hal yang diluar batas ko" timpal Arjuna
"Lagi pula, gue yakin adek sepupu gue itu udah tau keberadaan adik loe bang" Soleh.
"Ya, loe berdua bener jadi kalau El balik nama dia udah bersih" ucap Yudha yang diangguki Yudis.
"Sekarang apa dulu yang mesti kita cari?" tanya Yudis.
"Kita mulai dari Tania dulu, gue yakin anak itu ikut terlibat dalam masalah ini" Yudha.
"Kita cari Vidio yang ada di toilet itu berarti" Yudis
"Yap, tapi gimana caranya?" Soleh
"Buat itu biar gue sendiri yang turun tangan" pungkas Yudha, tangannya sudah mengepal keras, menandakan si empunya raga tengah emosi.
'Kau emang loe dalangnya, jangan harap bisa lari dari gue Tan' batin Yudha.
Dan hari itu keempat pemuda itu memutuskan membagi tugas mereka mencari bukti - bukti untuk memperbaiki nama baik sang adik, keempat pemuda itu langsung bergerak sore itu juga, tak ada banyak waktu lagi, mereka ingin segera menemukan bukti - bukti itu agar Elfiza terlepas dari masalahnya.
Terutama Yudha dan Yudis yang merasa bersalah atas kejadian ini, membuat mereka mempercepat gerak mereka.
__ADS_1
TBC.