My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
RENCANA


__ADS_3

Sejak kejadian itu Tania selalu mencari gara - gara dengan Elfiza, kebenciannya terhadap anak macan itu semakin menjadi apa lagi saat Elfiza terang - terangan memisahkannya dengan Yudha, kekesalannya semakin menjadi saja terhadap anak itu.


"Kita lihat saja nanti apa yang bisa gue lakuin ke bocah seperti loe" kesal Tania karna lagi - lagi rencananya gagal, ternyata dia tak bisa meremehkan Elfiza begitu saja.


"Tan, bukannya sebaiknya loe berbaik - baik ya sama tu anak, biar dapet simpatik dari Yudha" ucap Seli


"Itu tak akan berhasil Sel, karna anak macan itu susah dijinakkan" ucap Mela yang mendapat anggukan dari Seli.


"Macan masih sejenis dengan singa bukan?" Tanya Tania yang diangguki oleh kedua sahabatnya, yang mereka tahu kedua hewan yang disebutkan Tania barusan memang satu jenis dengan kucing, walau mereka besar.


"Seganas - ganasnya singa dan macan, tidak seseram serigala biakan" ungkap Tania


"Maksudnya?" Tanya Mela dan Seli yang tak mengerti.


"Maksud gue tak ada yang membuat serigala menjadi tontonan sirkus bukan" jika Mela sudah mengerti maksud dari perkataan Tania, berbeda dengan otak seons Seli yang tak bisa sampai kesana pemikirannya


"Loh, emang ada ya serigala dalam sirkus, kalau ada gue bakal nonton soalnya kan ga pernah liat serigala ditempat sirkus" Mela hanya bisa menepuk keningnya saja saat perkataan itu terucap dari mulut Seli


"Sel, oonnya tu simpen dulu bisa ga?" Tanya Mela.


"Lah apanya yang salah?" Tanya Seli bingung.


"Serigala ga ada disirkus Sel" jawab Mela


"Lah, tadi kata Tania ada" ucap Seli


"Maksud Tania itu, tidak ada yang bisa memawangi serigala berbeda daengan singa dan macan yang bisa diajak main sirkus" ucap Mela mencoba menjelaskan kepada temannya itu


"Terus apa hubungannya sama El?" Tanya Seli bingung

__ADS_1


"Udahlah, dari pada otak loe berasap gegara mikirin apa hubungannya singa, macan dan serigala sama tu anak curut, mending kita kekantin" akhirnya Mela memilih tak meneruskan penjelasannya pada sang kawan dari pada Seli nambah nanya yang aneh - aneh yang tidak bisa dia jelaskan nantinya.


Sedangkan Tania berdecak lirih, jika saja bukan sahabat sudah Tania rendam didalam bensin si Seli ini, sayang dia menyayangi si otak setengah ini, walau otaknya setengah ons tetap saja dia masih membutuhkan anak satu itu.


****


"Loe ada rencana?" Tanya Tania yang buntu, harus mengerjai apa lagi untuk anak itu, semua yang dia lakukan selama satu bulan ini nihil, karna bukan Elfiza yang malu malah dirinya yang selalu malu, karna termakan jebakannya sendiri.


"Gimana kalau ini" Seli membisikan sesuatu ditelinga Tania, membuat senyum diwajah Tania mengembang, Mela yang melihatnya hanya bengong saja karena tidak mengetahui apa yang Seli bisikan.


"Apa sih?" Tanya Mela penasaran akhirnya Tania membisikan juga apa rencana Seli pada Mela, Mela tersenyum semirik mendengarkan bisikan Tania.


"Otak loe kadang encer ya Sel", ucap Mela yang mendapat manyunan dari Seli.


"Emang dipikir es kirim otak Seli ini" keluh Seli yang mendapat kekehan dari kedua gadis itu, membuat Seli semakin memajukan bibirnya mengerucut karna kesal.


"Bagaimana kalau saat makrab ( malam akrab) nanti" usul Mela.


"Ah iya, bener tu pasti seru ngerjain tu anak didepan banyak orang" tambah Seli.


"Kalian benar, walau tak semua anak kampus kumpul, tapi cukuplah buat mempermalukan anak macan itu, lagi pula gosip cepat menyebarnya bukan" ungkap Tania yang disambut anggukan oleh kedua sahabatnya.


Tak sengaja Tania melihat Elfiza dkk memasuki kantin kampus sambil tertawa bersama, "Puas - puasin loe ketawa anak curut, tapi gue pastiin loe ga akan bisa ketawa lagi setelah makrab nanti, akan lebih baik jika loe ga ada dikampus ini sekalian" ucap Tania sambil membidik targetnya


Elfiza yang cuek walau diperhatikan malah terkesan acuh dan masa bodo dengan tatapan tak bersahabat Tania, baginya itu sudah biasa untuknya menerima tatapan seperti itu, biarkan saja dia mau menatapnya seperti apa itu urusannya bukan urusan Elfiza, dia terlalu malas untuk meladeninya.


"Tu si muka tembok ngapa dah ngeliatin loe kaya gitu banget?", Tanya Siska yang mendapat angkatan bahu saja dari Elfiza.


"Gue jadi curiga deh" ucap Siska

__ADS_1


"Curiga aja loe mah bawaannya, udahlah ga usah urusin tu anak kenapa! bikin ga napsu makan tau ga" keluh Elfiza.


"Ya elah kan gue takut aja gituh tu anak ngerencanain sesuatu lagi" ujar Siska


"Siska benar El, perasaan gue juga ga enak ngeliat tu mukanya" tambah Kezia


"Kapan sih kita enak kalau ngeliat tu muka mereka bertiga?" tanya Elfiza sambil mengayunkan dagunya menunjuk Tania dkk dengan dagu.


"Hahaha, abis mukannya minta ditampol sih" Kezia tiba - tiba saja tertawa karena ucapan Elfiza.


"Lagi loe mah, tahu aja kalu kita itu kaga pernah suka liat wajah tu cabe" jawab Siska


"Kitakan sehati plen" jawab Elfiza singkat sambil menyeruput es tehnya.


"Tapi gue saranin sama loe pada, mending hati - hati, bisa aja tu anak emang lagi ngerencanain sesuatu" saran Fahri.


"Ya, waspada itu perlukan" tambahnya yang diangguki Kezia dan Siska, Elfiza hanya melirik saja, baginya itu terserah Tania, dia tak ingin terlalu pusing dengan memikirkan tentang Tania, hidupnya sudah susah dengan berbagai macam tugas dari dari dosen - dosennya, tak ada waktu untuknya memikirkan apa rencana yang akan Tania pikirkan untuknya.


Dia hanya berharap Dewi Fortuna tetap berpihak padanya seperti yang lalu - lalu saat Tania melakuan apa yang dia rencanakan untuknya.


'Ahhhh.. gue hanya ingin hidup tenang tanpa diusik', keluh batin Elfiza.


"Gue selesai, gue pergi dulu" ucap Elfiza, tiba - tiba saja moodnya jadi jelek.


"Mau kemana loe?" Tanya Siska


"Balik ada urusan" jawab Elfiza sambil lalu.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2