
Sudah dikatakan bukan jika semua orang tak menginginkan adanya perpisahan dan itu pula yang diinginkan oleh Elfiza dalam hubungannya dengan Nano tapi itu hanya sebuah keingina belaka saja tak bisa menjadi kenyataan.
Dan penghianatan siapa yang ingin dihianati semua akan menjawab tidak menginginkannya begitu pun dengan Elfiza tapi lagi dan lagi semuanya seakan mempermainkan dirinya, penghianatan itu terjadi semua yang tak diharapakannya malah menimpa dirinya seakan dunia senang sekali mempermainkan dirinya.
****
...❄Angin yang berhembus tak pernah tau arah tujuannya pergi, namun saat dirinya datang semua yang tersentuh olehnya akan merasakan sejuknya sayangnya angin tak pernah diam disuatu tempat bahkan tak pernah mau untuk menetap❄...
...❄Air mungkin bisa menghapus dehaga tapi apa bisa air menghapus luka yang tertoreh amat dalam❄...
...❄Mungkin tisu bisa meghapus air yang mengalir dari mata ini tapi bisakah menghapus jejak yang tertinggal❄...
...❄Tak pernah ku menginginkan yang lebih yang tak bisa kau tepati seperti janji mu yang bak angin lalu, satu yang ku ingin bukti cinta tulus mu untuk ku yang tak bisa kudapat❄...
...❄Aku ingin kau menjadi oksigen dalam hidup ku bukan parasit dalam dunia ku,...
...karna disetiap nafas ku akan selalu ada dirimu❄...
...❄Aku butuh teman dihidip ku bukan duri dalam daging yang kau tanam❄...
Goresan tinta dikertas itu menunjukan bahwa sipenulis begitu memaknai rasa yang saat ini dirasakan olehnya, rasa terpukul, kebencian dan ketidak percayaan itu berkumpul menjadi satu luka terdalam yang tercetak manis dalam hidup Elfiza.
Kenyataan yang harus ia terima membuatnya semakin terperosok kedalam kegelapan yang nyata, membuatnya sulit untuk bangkit tapi ia berjanji pasti akan bangkit agar ia tak hancur lebih dari ini.
'Mengapa? Mengapa harus bersamanya?
Mengapa mengapa setega itu?' Itulah yang selalu dikatakan batin Elfiza.
Dua bulan berlalu setelah Nano mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Elfiza ternyata itu hanya omongan belaka, kala Elfiza mengetahui kenyataan yang membuat pedih hatinya sangatlah teriris.
"Gue ga pernah nyangka ternya loe setega ini" ucap Elfiza kala ia mempergoki Nano dan Nadin tengah memadu kasih dengan mesranya dipantai pangandaran.
"El ini ga seperti yang loe liat, loe percaya sama gue" pinta Nadin
"Gimana bisa gue percaya sama loe yang udah nusuk gue dari belakang?" tanya Elfiza lirih.
"El pleach, dengeri penjelasan gue dulu" kembali Nadin meminta setengah memohon.
"Apa yang harus gue denger?" Tanya Elfiza dingin.
"Biar Nad, biar aja El tau yang sebenarnya kita ga bakal bisa nyembunyiin ini selamanya" ucap Nano santai.
"Apa si loe Nan" bentak Nadin.
"Ohh seperti itu " ucap Elfiza datar.
"Ga nyangka gue orang yang selama ini gue angep saudara ternyata musuh dalam selimut, tega loe tusuk gue dari belakang Din loe sahabat gue Din, bahkan loe gue anggep saudara gue Din, bahkan loe gur perlakukan lebih dari yang lain Din" sarkas Elfiza panjang menumpahkan rasa kesal dan kecewanya.
"Kenapa mesti dia Din kenapa?" bentak Elfiza seraya menunjuk lelaki yang ada disamping Nadin, sakit hatinya sangat sakit melihat penghianatan yang dilakukan oleh kekasih dan sahbatnya itu.
"El gue tau gue salah, ga seharusnya gue punya rasa itu buat pacar sahabat gue sendiri gue minta maaf El" ucap Nadin mulai berderai air matanya.
__ADS_1
"Cukup Nad ... gue tau yang terbaik buat kita" ucap Elfiza.
"A..a..apa maksud loe terbaik buat kita ?" tanya Naadin terbata.
"Gue pergi" ucap Elfiza datar sembari melangkah menjauh.
"El tunggu pleach jangan kaya gini"cegah Nadin.
"Nad, gue berusaha mencoba untuk ikhlasin semuanya jadi jangan ngebuat luka gue semakin dalam" pinta Elfiza berlalu.
***
Seminggu setelah kejadian itu ritme hidupnya seakan berubah semuanya seakan membeku begitu saja semua terlihat bersemu kelabu untuknya walau langit sangat cerah, namun Elfiza aktor yang sangat pandai bahkan hampir semua tertipu olehnya.
Karna sikap cerianya yang tak pernah hilang jika sedang berinteraksi dengannya diluar atau dirumah, sahabat serta keluarganya bisa ia bohongi tapi tidak untuk hatinya.
Hanya kamarlah menjadi saksi bisu bagai mana luka itu menghias indah bukan hanya relung hatinya saja tapi dunianyapun tersayat.
Beruntungnya elfiza seluruh keluarga tak pernah menggagunya saat dia berada dikamarnya, bagi mereka kamar adalah privasi terbesar dan tak boleh sembarang orang memasuki kamarnya tanpa persetujuan dari sipemilik kamar itu sendri.
Yudis bukan tak menyadari perubahan adik kecilnya itu hanya saja yudis ingin memberikan ruang tersendri untuk gadis manisnya, begitu juga kedua orang tuanya, karna sepandai apa pun Elfiza menyembunyikannya orang - orang terdekatnya yang menyayanginya pasti tau dengan sendrinya.
Mungkin Elfiza bisa dilbilang beruntung karna saat hatinya hancur itu saat tersibuk dirinya akan menghadapi ujian nasional jadi ia bisa sedikit melupakan masalah hatinya, karna terfokus pada kehidupan pendidikannya yang sangat banyak dan padat menguras tenaga, dan juga otaknya maka dari itu tak ada waktu untuk memberinya kesempatan bergalau ria lebih dari satu minggu.
Elfiza memang mengakui bahwa mugkin cintanya bersama Nano adalah cinta monyet anak smp karna dirinya berpacaran dengan Nano saat ia duduk dibangku SMP kelas IX dan menjelang ujian nasional mereka harus putus seperti telah direncanakan saja sebelumnya padahal ini hanya sebuah kebetulan semata.
****
...❄Biar air dilautan mengering karang itu takan pernah berbunga,...
...walau air hujan membanjiri kolam tapi ikan itu tetap tak mampu untuk bernafas jika yang menjadi nafasnya telah hilang❄...
...❄Adakah yang bisa membasuh kerinduan ini jika yang dirindukan tak mampu untuk menghapus rasa rindu itu❄...
...❄Bukan .. bukan salah karang jika tidak bisa bertahan hanya saja ombak itu yang terlalu ganas menerjang....
...Biarlah usaikan saja perjalanannya untuk berhenti bertahan jika sudah tak ada penguat❄...
"El" Elfiza menghentikan aktivitas menulisnya saat suara seseorang memanggilnya, suara yang amat sangat ia kenali dan sebisa mungkin selama dua minggu ini berusaha Elfiza hindari.
"Mau apa lagi ?" Tanyanya datar sembari terus menghadap kelaut dan sesekali kembali berkutat dibukunya.
"Gue hanya ingin loe_"
"Oh ... iya sory gue lupa Nad" ucap Elfiza memotong ucapan Nadin.
"Nano Budiman mulan detik ini hubungan kita berakhir, anggap aja kita ga pernah menjalin hubungan itu dan loe bisa anggep kalau kita ga pernah ketemu aja sekalian agar loe ga ngerasa bersalah" ucap Elfiza dengan seulas senyum yang dipaksakan.
"El bukan itu yang mau gue_"
"Tapi apa Nad? apa lagi yang loe mau dari gue?" Tanya Elfiza dingin kembali ia memotong ucapan Nadin.
__ADS_1
"El pleach, gue ga mau itu" kali ini Nano yang berucap.
"Apa maksud loe?" tanya Elfiza sinis
"El dengerin gue dulu, gue ga pernah ingin hubungan kita berakhir" jelas Nano.
"Oh .. jadi loe ga pengen hubunga kita berakhir, terus kenapa loe bawa sahabat gue dalam hubungan ini?" tanya Elfiza yang mulai emosi.
"El, degerin gue, kita masih bisa perbaikin ini semua" pinta Nano.
"Apa yang mau loe perbaiki ha?" Tanya Elfiza membentak
"El, tapi gue ga mau putus dari loe gue ga mau hubungan ini berakhir" ucap Nano.
"Ok kalau itu mau loe .. gue ikutin tapi apa loe sanggup jauh dari Nadin?" Tanya Elfiza yang membuat Nano terdiam.
"Dia akan lakuin itu El, Nano akan lakuin halitu, kita akan pisah asal loe tetep jadi sahabat gue" pinta nadin diakhir kalimat
Walau hatinya pun teriris tak bisa ia pungkiri jika ia memang mencintai sosok disampingnya itu, tapi sayangnya dia telah menjadi kekasih sahabatnya jauh sebelum ia mengenaal Nano.
"Gue ga nanya sama loe tapi gue tanya sama Nano " jawab Elfiza dingin.
"Nan ayo ngomong, kalau kita akan pisah jelasin sama El" pinta Nadin walaupun hatinya sakit tapi nadin juga tak ingin kehilangan sahabat sebaik Elfiza yang selalu ada disaat ia terpuruk.
"Kenapa loe diam ? loe ga bisakan jauh dari Nadin? jadi lepasin gue biar gue yang pergi" tandas Elfiza.
"El gue mohon jangan minta itu dari gue, loe boleh minta apa pun tapi jangan minta putus dari gue gue mohon" pinta Nano, Nano tau kesalahannya fatal dia bermain api dengan sahabat pacarnya sendiri, tapi Nano memang tak bisa pugkiri jika Nadinpun ada dalam hidupnya.
Dan ia juga mencintai sahabat dari pacarnya itu namun jika harus meninggalkan Elfiza dia takan pernah bisa meninggalkan Elfiza, dia sudah terlalu bergantung akan cintanya yang diberikan Elfiza untuknya. Yang membuat dirinya tak bisa hidup berjauhan dari Elfiza selama dua minggu kemarin Elfiza tak mau menemuinya saja dia sudah kalut.
"Loe ga mau ninggalin Nadin tapi loe juga ga mau putus dari gue gitu! Nan dalam memilih loe hanya bisa milih satu ga bisa keduanya, walau pilihan itu akan menyakiti seseorang" tutur Elfiza mrnjelaskan, siapa tahu saja jika mantan pacarnya ini tak mengerti.
Mantan pacar? Itu berarti dirinya sudah mengukuhkan diri sebagai seotang singgel kembali,
Tak ada nada emosi dalam ucapannya kali ini, bukan tak marah, hanya saja ia sedang menekan egonya, dia ingin masaalah ini cepat selesai, dengan emosi tidak akan membuat masalahnya selesai yang ada malah makin runyam.
"Walaupun loe tetap milih gue sekalipun gue yang akan tetep pergi dari loe apa lagi dengan bimbangnya loe saat ini, maaf Nan hubungan kita berakhir sampai sini" jelas Elfiza mengambil keputusa sembari tersenyum melagkah kan kakinya untuk pergi dari tempat yang membuat nafasnya sesak itu.
"El pleach, dengerin apa yang mau kita omongin dulu" cegah Nadin, Nadin masih tetus berusah untuk mencegahnya jika tidak hari ini maka persahabatannya dengan Elfiza akan berakhir dan hal itu tak ingin dialami olehnya.
"Denger gue Nad, tolong jangan paksa gue buat jadi pecundang yang rela ngehalalin segala cara demi orang yang gue cintai Nad, gue ga mau jadi penjahat untuk sahabat gue sendiri ok" ucap Elfiza sambil menepuk sayang pipi Nadin lantas tersenyum.
"Bahagia lah loe sama Nano gue ikhlas" tambahnya.
"Tapi gue ga bisa bahagia diatas penderitaan loe El" jujur Nadin.
"Lantas apa yang loe mau dari gue?" tanya Elfiza
"Guue ga siap buat berbagi Nad, apa lagi orang yang paling gue cintai gue ga akan pernah siap Nad, buat bagi cinta gue walau status kita hanya pacar gue ga siap gue bukan loe Nad. Jadi gue harap loe ngerti keputusan gue" Lanjut Elfiza panjang lebar masih dengan senyum yang tercipta dibibirnya.
Lantas pergi meninggalkan mereka berdua yang terdiam mematung dan kali ini Elfiza benar - benar pergi tanpa pencegahan itu membuat hati Elfiza sedikit lega karna tidak lagi berada diposisi menyesakan itu.
__ADS_1
TBC.