My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
HARI TERAKHIR OSPEK (SEBUAH DRAMA)


__ADS_3

"Kalau emang kak Tania ingin sekali memeriksa tas kami semua silahkan saja, tapi kami minta tas panitia pun diperiksa adil bukan" jelas Elfiza.


Tania saling melirik dengan dua sahabatnya itu, ternyata untuk membuat mereka malu susah juga fikir Seli karna mereka memiliki mental baja rupanya.


"Kenapa tidak, silahkan saja ini tas gue" jawab Soleh yang meletakan tasnya disamping keempat tas juniornya itu.


Melihat Soleh meletakan tasnya semuanya mengikuti apa yang Soleh lakukan tak terkecuali, dengan dua sahabat tania serta para maba.


Harapan para maba ini hanya satu tidak ada lagi drama setelah ini, mudah - mudahan saja setelah diperksa semua kelar, dan mereka bisa pulang.


"Priksa semuanya sampai tuntas Jendra, Yudhis dan Soleh juga Juna" pinta Yudha yang diangguki oleh keempat orang tersebut.


"It's show time" gumam Tania lirih kekedua sahabatnya yang ditanggapi dengan senyum dari kedua orang itu.


"Gue yakin Yudha dan Yudis akan kaget kalau tau adeknya yang ngambil kalung itu" cicit Mela.


Dan percakapan itu terlihat oleh Elfiza, Elfiza hanya tersenyum saja melihat interaksi dari ketiga wanita disebrangnya itu.


Hampir semua tas sudah disisir untuk diperiksa, tapi belum ada tanda - tanda kalung itu ditemukan, Tania mulai cemas ia takut rencananya gagal.


"Ini tas siapa?" Tanya Arjuna.


"Punya saya kak" jawab Elfiza santai.


'Loe masih bisa santai, tapi kita liat saja setelah Arjuna menemukan apa isinya' batin Tania.


"Ini, bersih" jawab Arjuna.


"Apa?" Ucap Tania tak percaya.


"Loe ga salah cek apa Ar?" Tanya Tania


"Engga ko, memang tas El clear ga ada kalung itu disana" jawab Arjuna.


"Loe yakin?" Kali ini yang bertanya Seli.


"Ada apa dengan kalian kenapa kalian meragukan apa yang gue kerjakan?" Tanya Arjuna.


"Loe mau nuduh adik gue sebagai pencuri gitu Tan?" Tanya Yudha sarkas tak terima dengan apayang didengarnya tadi.


"Engga gitu ko Dha, gue cuman-"


"Cuman apa? Apa lagi yang jadi alesan loe kali ini, udah sih loe tinggal tunggu aja semuanya kelar, gue udah turutin apa mau loe jadi jangan banyak tingkah lagi" tegas Yudha memerintah membuat Tania diam seribu basah.


"Ini, kalau memang masih penasaran" santai saja Elfiza memberikan tasnya pada Tania.


"Apa punya gue juga mau sekalian loe periksa kak?" Tanya Kezia sarkas, membuat Yudha kaget, teman adiknya satu ini yang dia tahu orangnya tak pernah mau ikut campur dan ambil pusing walaupun itu masalah sahabatnya sendiri, dia terkesan cuek.


Tapi apa yang ada dihadapannya saat ini dia benar - benar melihat sisi lain dari sahabat Elfiza itu, membuat segaris senyum melengkung dibibirnya.


Kepalang tanggung Tania akhirnya memeriksa kembali tas ketiga gadis yang membuatnya kesal itu.


Dia benar - benar terkejut mendapati kenyataan bahwa ditas Elfiza dia tak menemukan apa yang dicarinya, dia melirik Mela dan Seli merekapun menggeleng. Lemas sudah Tania dibuatnya.


'Entah berpindah kemana kalung itu' gumam batin Seli.

__ADS_1


'Gue yakin kalau gue masukin kalungnya ketas adiknya Yudha, tapi kenapa kalungnya ga ada?' Tanya batin Mela.


"Ini tas siapa?" Tanya Yudis menggema sambil mengacungkan tas warna hitam itu, membuyarkan lamunan ketiga gadis itu.


"Itu tas gue" jawab Mela tanpa rasa curiga, saat akan mengambilnya Yudis menahanya.


"Apa?" Tanya Mela heran.


"Kak Tan, apa ini yang loe cari?" Tanya Yudis sambil memperlihatkan kalung yang sudah menjuntai kebawah itu.


Tania membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya itu, "Iya bener itu kalung gue, ta.. tapi kenapa ada ditasnya" Tania tak lagi bisa melanjutkan kata - katanya.


Melapun merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya, 'Kenapa bisa begini' fikirnya.


"Sudah jelaskan sekarang kak siapa yang ambil kalung loe, jadi jangan asal tuduh" ucap Fahri kesal.


"Ternyata pagar makan tanaman" ucap salah satu maba.


"Nuduh orang lain ternyata sahabatnya sendiri yang ambil" kembali ucapan itu terlontar dari mulut maba itu.


"Apa ga malu itu ya"


"Ahhh .. mana punya malu orang kaya gitu mah"


"Dih kalau gue mah malu itu"


"Urat malunya udah putus"


"Ternyata yang ngebela yang ngambil"


"Ternyata karna itu toh"


"Ihhh gue mah ogah tuh temenan ama orang kaya gitu"


Itulah perkataan - perkataan yang Elfiza bisa dengar dari banyaknya kata - kata kasar yang menjatuhkan Tania dan kedua sahabatnya dari teman - teman barunya itu.


Sejujurnya kasihan juga melihat hal itu, siapa yang punya rencana siapa yang dipermalukan, ya tapi itu utuk pelajaran merekalah ya.


"Semua sudah bereskan kak? Masalah sudah selesaikan kan kak kalau begitu boleh kami pulang?" Tanya santai Elfiza, tanpa memperdulikan suasana yang tak mengenakan ini.


"Iya udah cape nih" balas Siska.


"Pengen mandi gerah rasanya" tambah Fahri.


"Tan loe itu bener - bener" tukas Yudha kesal karna kelakuan temannya itu. Ketua Ospek itu merasa malu karna acaranya jadi seperti ini, entah mau ditaruh dimana mukanya itu dihadapan para maba.


Tania masih merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat dan alaminya saat ini, kesal sudah pasti itu dirasakannya karna dirinya sangat malu dengan ucapan - ucapan yang didengarnya.


"Khemmmm" Yudha berdhem untuk menetralkan rasa kesalnya menekan emosinya yang tiba - tiba saja melonjak meluap keatas permukaan ingin dikeluarkan.


"Maafkan ketidak nyamanan teman - teman semua atas peristiwa ini, ini semua diluar harapan kami, kami benar - benar minta maaf atas apa yang terjadi, kalian boleh pulang.. hati - hati dijalan" benar - benar tidak punya muka rasanya Yudha saat berucap saking malunya karna tingkah salah satu temannya itu.


Huuuuuhhhh...


Sorak para maba semakin membuat Yudha merasa malu saja wajahnya sudah memerah menahan marahnya yang ingin segera ia luapkan, entah pada siapa.

__ADS_1


Para maba itupun bubar dari aula itu dengan langkah tergesa ingin segera pulang dan beristirahat, sungguh ini hari yang benar - benar melelahkan penuh denga drama yang tak penting untuk para maba itu.


"Lain kali cari lawan yang seimbang ya kak" ucap Kezia berbisik saat melewati Tania, membuat Tania mengumpat kesal.


"Gimana rasanya dipermalukan? Enak?" Tanya Elfiza berbisik.


"Ini pelajaran agar kakak berfikir ulang untuk mempermalukan orang lain" bisiknya kembali lantas melenggang pergi dari hadapan Tania yang sudah mengepalkan tangannya yang dengan marah.


'Awas aja loe gue bakal balas semuanya' batin Tania.


'Loe mau coba - coba buat gue jelek dihadapan kakak - kakak gue mimpi aja loe' batin Elfiza sambil berjalan menjauhi aula.


****


"Kalian bener - bener bikin gue malu" bentak Yudha meninggalkan aula itu setelah berucap demikian membuat yang lainnya kaget.


"Dasar ratu drama" tukas Yudis tak kalah kesal.


"Udah bubar balik aja, ga ada kumpul rapat lagi ketuanya aja udah balik duluan" ucap Arjuna mengajak yang lainnya pergi.


****


"Gue bener - bener puas liat muka tu kunti kesel karna dipermalukan kaya tadi" ucap Fahri sambil menyesap es tehnya.


"Untuk kali ini gue sependapat sama loe nyet" jawab Kezia.


"Iya dong"


"Eh tapi, emang bener ya kalau temennya itu yang ambil tu kalung kok gue ngerasa sangsi sih?" Tanya Siska tak percaya.


"Mata loe katarak ya Sis? Udah jelas - jelas tadi pas digeledah adanya ditasnya si Mela" ucapan Fahri sukses membuat tempat tisu melayang kekepalanya.


Pltakkkk....


"Sakit ogeb" kesal Fahri yang diacuhkan Siska.


"Loe tahu sesuatu?" Selidik Kezia melihat Elfiza yang sedari tadi santai saja.


"Yaps" jawabnya santai.


"Apa?" Tanya ketiganya penasaran.


"Mereka mau mempermalukan gue" jawab Elfiza enteng.


"APA!" Ucap ketiganya tak percaya, suaranya sedikit meninggi membuat Elfiza merasa malu karna ditatap beberapa orang dimeja lain.


"Bisa kecilkan suara kalian" pinta Elfiza kesal, karna mereka saat ini tengah berada dicafe sebrang kampus.


"Ya maaf" jawab Siska.


"Terus gimana ceritanya?" Tanya Siska kembali.


🍭🍭🍭


TBC.

__ADS_1


__ADS_2