
Keempat bakso berperisa daging sapi itu telah terhidang dihadapan keempat sekawan itu, seaat mereka menyimpan rasa lelah mereka untuk menikmati bakso dihadapan mereka yang menggugah selera.
Cacing - cacing diperut mereka sudah berdemo sedari tadi untuk minta dipuaskan, rasa lapar itu menuntuk mereka, setelah membaca doa keempatnya langsung menyantap hidangan didepan mereka.
Hening tercipta.
Elfiza begitu menikmati makanan berkuah itu degan lahap, rasa laparnya telah menggerogoti perutnya itu, hingga matanya tertuju pada buku catatan yang dibawanya.
Ada sebuah kertas yang terselip didalamnya menyambul keluar. Karna penasaran Elfiza meraih kertas itu dan dia melotot seketikan setelah membaca apa yang tertulia dikertas itu.
"What" sedikit berteriak Elfiza berucap membuat satu meja dengan Elfiza tersentak kaget, bahkan bakso yang harusnya masuk kedalam mulut Siska malah jatuh kelantai kantin.
"Ya ampun beb loe kesambet apa sih?" Tanya Fahri tegas, sambil mengelus dadanya, rasanya jantungnya sempat melayang tadi, karna kaget.
Bagai mana tidak terkejut jika sedang khusuk menikmati makanannya, dia dikagetkan dengan teriakan cantik dari sahabat sablengnya.
"Tau nih liat tuh bakso gue ampe lompat gitu" keluh Siska matanya tertuju pada pentol bakso yang sudah dijilati kucing kantin.
"Masih banyak bakso loe, iklasin aja buat si manis tu" ucap Kezia pada Siska. "Lagi loe kenapa sih?" Tambahnya.
"Sory, kaget aja liat ini" ucap Elfiza sambil menunjukan kertas yang masih dipegangnya.
"Apa nih?" Tanya Fahri sambil mengambil kertas itu dari tangan Elfiza.
"Dari jauh pohon rangdu, dari dekat putri malu" ucap Fahri membacakan apa yang tertulis dikertas itu.
"Dari jauh hati rindu, dari dekat rasanya malu" lanjut Fahri membacakan tulisan itu yang ternyata sebuah pantun itu.
"Loe yang buat?" Tanya Fahri kembali yang mendapatkan anggukan dari Elfiza.
"Buat apaan?" Tanya Siska bingung.
"Tugas gue" jawab Elfiza singkat.
"WHAT!!" Pekik Kezia dan Fahri yang sukse membuat bakso siska kembali menggelinding karna terkejut, dan kali ini bukan hanya Siska dan Elfiza saja yang terjejut melainkan beberapa penghuni kantin pun sama terkejut.
"Bisakah kalian kecilkan suara kalian, kita jadi pusat perhatian" cicit Elfiza geram karna menjadi pusat perhatian.
"Bakso gue" gumam Siska lirih saat melihat kembali simanis memakan pentol baksonya yang sudah tergeletak tak berdaya dilantai.
"Sory" ucap Kezia dan Fahri berbarengan sambil mengendarkan padangannya, ternyata ucapan Elfiza benar karna beberapa penghuni kantin kini memperhatikan meja mereka yang berisik.
"Tapi bukannya tadi loe udah kasih tugas loe" ucap Kezia bingung.
"Itu yang gue bingungin apa yang gue kasih tadi" ucap Elfiza.
"Loe inget - inget deh mungkin loe bikin salinannya" timpal Siska.
__ADS_1
"Gue yakin banget engga, gue cuman bikin itu, lagian gue juga udah tulis dibawahnya bahkan pake tulisan NB yang gede" ucap Elfiza menggebu.
Siska lantas megambil kertas yang masih dipegang oleh Fahri, dia menelisik tulisan Elfiza itu dan benar saja disanan tertulis dengan hurup kapital besar nots yang Elfiza tulis.
NB. MAAF TIDAK BISA BIKIN PUISI OR SURAT CINTA TAPI SEBAGAI GANTINYA AKU BUAT PANTUN MUDAH - MUDAHAN SUKA. ELFIZA.
Begitulah isi pesan dari Elfiza yang tertara dalam kertas itu, Siska menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tapi kenapa buat pantun kan disuruhnya buat surat cinta atau puisi cintakan" bingung Fahri berucap.
"Ya karna gue ga bisa nulis kaya gitu" ucap Elfiza santai.
"Astaga kelamaan jomblo ya gini ini" ungkap Fahri. "Makanya kalau gue ajakin pacaran tu ya terima beb" tambah Fahri.
"Sialan loe" ketus Elfiza.
"Tapi kok gue kaya ga asing ya sama ni pantun"
Ucap Siska "Kaya pernah denger tapi dimana ya?" Tambahnya mengingat - ingat.
Kezia hanya mengangkat bahunya saja tanda tak perduli dengan itu semua, sedangkan Fahri kembali fokus dengan makanannya, dan Elfiza tengah sibuk melamun karna masih penasaran apa yang diberikannya tadi saat pengumpulan tugas, jika tulisannya ada disini.
Brakkkk...
"Iya itu pantun dari sistalker loe kan" ucap Siska menggebu setelah dirinya berhasil mengingat pantun yang Elfiza tulis.
Plukk....
"Bakso gue" keluh Fahri
"Ehhhh... mak lampir kalao ngomong ya kaga usah pake gebrak meja juga, kan bakso gue jadi mental kaga tau kemana tuh rimbanya" tukas Fahri kesal.
"Loe kira - kira dong kalau mau ngagetin orang, keselek ni gue lagi minum" sungut Kezia, setelah meredakan batuknya.
"Hehehehe.. sory" ucap Siska cengengesan, Elfiza hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan ketiga sahabatnya itu.
Sedangkan penghuni kantin yang lain tengah menggunjingkan meja mereka yang sedari tadi paling ramai menjadi tontonan untuk mereka yang tengah penat.
'Ada hiburan geratisan nih'
'Ahhh... kurang kerjaan sekali mereka itu'
'Berisik banget sih mereka itu'
'Pengen ikut gabung deh, kayanya seru disana'
'Kaga punya etika makan banget sih mereka'
__ADS_1
'Kayanya bakalan seru kalau bisa ikut duduk sama mereka'
'Seru nih kalau bisa kenal mereka dan gabung sama merek'
Itulah segelintir ucapan yang dapat didengar oleh telinga Elfiza, ada yang membuat kesal ada yang membuatnya geleng - geleng kepala, tapi biarlah itu urusan mereka bukan dia.
"Itu bakso terakhir gue tau kaga mak" kesal Fahri mendumal.
"Eh grandong, baru sebiji aja yang ngegelinding loe udah kesel aja lah apa kabar tu dua biji bakso gue yang melayang gegara loe pade" kesal Siska yang terus disalahkan Fahri.
"Tapi yang loe masih ada lah punya gue udah tinggal akhir mak" sungut Fahri.
"Tinggal pesan lagi susah amat si, loe ribet sendiri dah tutup toples" kesal Kezia.
"Hisss... mbak kunti loe diem deh mana ngerti soal kelezatan gigitan terakhir loe mah" ucap pedas Fahri.
"Mbak kunti.. loe tu anak tuyul" ucap Kezia tak terima disamakan dengan mbak kunti.
"Haiss... udah - udah lanjutkan makannya lagi aja, bentar lagi masuk nih" titah Elfiza melerai kekoplakan para sahabatnya itu.
"Tuh sikunyuk satu itu tuh ngeselin" tukas Kezia masih saja kesal karna panggilan dari temannya itu tak pernah benar untuknya.
"Loe duluan yang ngeselin" ucap Fahri tak kalah sewot.
"Oh loe ngajak berantem" tuduh Kezia.
"Ohh.. ayo siapa takut" ajak Fahri.
"Wah nantangin.. sini loe biar gue beri" tantang Kezia.
"Cukup!" Tegas Elfiza, membuat kedua orang itu langsung menutup rapan mulutnya, kalau sudah begitu baru mereka diam. Takut juga ternyata diamuk sama anak macan.
'Anak macan ngamok' batin Fahri.
'Wah masalah nih' batin Kezia.
'Nah biar mampus. Tau rasakan kalau udah anak macan ngamok' kali ini batin Siska bersorak melihat kedua sahabatnya kicep dihadapan Elfiza.
"Habiskan makan kalian setelah itu kita kembali keaula" titah Elfiza seperti titah ratu yang tak bisa dibantah, dengan patuh mereka menghabiskan makanan mereka dengan hening kembali.
Siska yang mau menanyakan kebenaran tentang pantun yang dibuat Elfiza saja sampai tidak jadi menanyakannya takut kena semprot juga sama ratu lampirnya mereka. Bisa gawat kan kalau titisan macan itu ngamuk.
'Nanti saja dah, dari pada gue diamuk juga bahaya' batin Siska.
Dan merekapun melanjutkan makan dengan hikmat kembali, sampai selesai setelahnya kembali keaula.
TBC.
__ADS_1