
15 Mei 2015, adalah hari dimana tak akan bisa Elfiza dan semua pelajar Menengah Atas lainnya lupakan.
Hari itu adalah hari kelulusan untuk semua pelajar SMA/SMK seluruh Indonesia, dan seperti anak SMA pada umum lainnya, acara coret - mencoret baju tanda telah lulusnya para pelajar itu dilakukan hari itu.
Siapa yang tidak mengenal tradisi itu dinegara ini, semua pelajar bahkan menantikan saat - saat seperti ini, momen dimana begitu melekat diingatan masing - masing.
"El, boleh minta ttd (Tada tangan maksudnya š) ga?" Tanya seseorang pada Elfiza, teman satu kelasnya kalau tidak salah mengingat namanya Alexis dia pindahan dari Turki.
Dia tidak terlalu dekat dengan bule satu ini, bukannya tidak ingin hanya saja auranya lebih mirip seseorang yang dia kenal dimasa lalu, ahhh bukanya ingin menghindar hanya saja dia tak tahau harus bagai mana berinteraksi dengan orang sedingin kutub antar tika satu ini.
Wajah tampannya sangatlah menjual, untuk menjadi seorang play boy, dalam satu tahun dirinya disini, fans grilsnya hampir setara dengan Alif dan Kelfin yang sudah berada disini selama dua tahun.
Ahhhh para cogan yang digandrungi kaum hawa entah mengapa Elfiza malas dekat - dekat dengan mereka, bukannya takut hanya saja malas cari ribut.
Karna sudah berulang kali kejadian dirinya dilabrak kakak kelasnya waktu itu hanya karna dekat dengan Alif, tidak ada ikatan apapun dia sudah sering dapat cibiran dan makian dibelakangnya apa lagi sampai dia punya hubungan spesial entah apa jadinya dirinya.
Sekali lagi bukan karna takut hanya malas cari ribut itu saja, ya kalau diladenin bukankah dirinya tidak ada bedanya seperti mereka, jadi ya lebih baik menghindar, biarlah dikatai pengecut yang terpenting ketenangannya tidak diganggu.
Tapi bukan berarti dia tidak bisa melawan, anak macan itu sudah langagana keluar masuk ruang BK hanya karna ribut dengan kakak kelasnya waktu itu.
Bukankah sudah dikatakan jika tak diusik dia tak akan mengusik orang lain dan itu pula yang diucapkan Elfiza saat itu kepada pak Dimas selaku guru BKnya saat itu, sebelum dirinya tak bisa berkutik ditangan pak Adam, karna pak Adam pula lah dirinya jarang masuk ruang BK lagi.
Berjasa sekali ternyata pak Adam ini ya bagi orang tua Elfiza, tentunya menurut Elfiza tidak karna keasikannya selalu dapat digagalkan oleh pak Adam.
Dan karna itu pula Elfiza tidak ingin berurusan dengan cogan sekolah ahhh bikin ribet saja itu menurutnya, sayangnya beberapa cogan disekolahnya adalah sahabatnya sendri.
Jadi mau tak mau dia terus berpusat dengan mereka, untungnya pada saat kelas XII tak ada lagi labrak - melabrak, karna dirinya adalah kakak kelas mana ada yang berani, yang ada nyali mereka ciut kali.
Mungkin banyak juga yang masih mengalami hal tersebut, tapi tidak dengan Elfiza, hidupnya kembali tebangĀ disekolah itu sama persis seperti saat masih ada Yudis disana.
Ok balik lagi ke saat ini dimana Elfiza tengah menandatangani sebuah kemeja puti berlogokan sekolahnya itu, yang rupanya sudah hampir selurhnya terisi nama teman - temannya itu.
"Dimana gue harus ttdnya?" Tanya Elfiza kikuk, pasalnya dia memang benar - benar tidak akrab dengan bule satu ini, yang bahkan belum terlalu fasih berbahasa Indonesia.
Salah satu yang membuat Elfiza menghindar ya ini, dia mines di bahasa asing, tapi bukan berarti tidak bisa.
Alexis menunjuk sebelah kiri bagian dada bawah kemejanya, disana masih tersedia tempat kosong, Alexis memberikan spidol marker warna kuningnya.
"Gue pake ini boleh?" Tanya Elfiza hati - hati entahlah kenapa dia seperti itu berbicara dengan Alexis, ini sih bukan gugup karna suka lebih tetapnya karna takut, takut salah saja, entah kenapa wajah tampanya itu malah terlihat seram saja saat ini.
"Tidak masalah pake apapun itu" jawab Alexis, sambil tersenyum membuat Elfiza meremang saja, berbeda dengan yang dirasakan kedua sahabatnya yang malah terlihat meleleh bak es krim yang ada konnya.
Ahhhh dasar anak kemarin sore diberikan senyum manis saja sudah meleleh begitu (aku juga samaš).
Elfiza mulai menggoreskan spidol marker warna favoritnya itu diatas kemeja puti Alexis.
"Trimakasih" ucap Alexis.
"Sama - sama" jawab Elfiza kaku.
Setelahnya Alexis berbalik "Lex cuman El aja nih yang loe mintai ttd kita berdua engga kan kita juga satu kelas sama loe" ucap Kezia. Membuat Alexis terkekeh geli.
"Tentu saja, mau pakai marker ku atau?" Tanya Alexis.
"Masing - masing saja" jawab Siska.
"Ok" ucap Alexis singkat, setelahnya dia pergi begitu saja.
Elfiza masih keheranan dengan tingkah si bule satu itu, padahal dia itu dingin terhadap perempuan, tapi dia bisa juga ternyata terkekeh bareng dua sahabatnya tadi, dan tidak terlihat risih seperti biasanya bila didekati oleh perempuan.
"Wah El, sepertinya si bule tertarik sama loe deh" ucapan Siska menarik Elfiza kembali kedunia nyata, setelah tadi dia sempat nyasar didunia lamunannya.
"Maksudnya?" Tanya Elfiza gagal faham, maksudnya tertarik itu ya kaya gimana? Orang dia cuek terhadap perempuan secantik apapun apa lagi dirinya yang amburadul, itu sih sangat amat tidak mungkin, pemikiran Elfiza seperti itu.
"Ya ampun masa loe ga ngerti sih! Kalau dia itu suka sama loe!" Kali ini yang berucap Kezia
"Sama gue?" Tanya Elfiza yang diangguki kedua temannya itu.
"Ya ga mungkinlah, apa coba yang dilihat dari gue, modis kaga, manis kaya cewe kaga, rapi juga kaga, aburadul sih iya, cantik apa lagi kaga gue. Terus tu anak bule suka apanya dari gue?" Tanya Elfiza heran jika sampai bener bocah bule itu suka sama Elfiza.
"Lagian si bulemah disuguhin yang bening macam Talita aja dia kaga tertarik apa lagi modelan kaya gue, jangan ngadi - ngadi kalian tu" tambahnya.
"Ya bisa aja emang dia sukanya sama elo gimana?" Tanya Siska
__ADS_1
"Nah kalau itu namanya halu Maemun" jawab Elfiza
"Tapi kalau bener gimana?" Kembali Siska bertanya.
"Dipikir sampe otak gue berasep jawabannya tetep sama ga mungkin" jawab Elfiza tak percaya.
"Lagian ya kalau semisal dia suka beneran sama gue loe emang ga cemburu Sis?" Tanya Elfiza.
"Bener juga tuh Sis, secarakan loe juga salah satu penggila sibule" sambar Kezia.
"Kaya loe kaga aja kutu" dengus Sisika.
"Gue sih kaga separah loe, yang stalking Fb atau Ignya dia ya, secara sembunyi - sembunyi pula dah ke penguntit aja" sergah Kezia menjawab, yang dapet cengengesan dari Siska.
"Kalau soal cemburu kayanya kaga deh buat gue, lagian kenapa gue mesti cembur?" Tanya Siska bingung.
"Loe yakin? Secarakan loe fans garis besar Alexis" ucap Kezia yang diangguki oleh Elfiza.
"Ngapain juga, fans itu harusnya dukung bintangnya bukan melarangnya atau mengikat dengan kata - kata hak milik, lagi pula tugas fans itu ya mendung bintanya, baru itu namanya fens tanpa ikut campur keranah pribadi sayang" jelas Siska.
"Lagian ni yah, kalau ampe bener tu bule suka sama loe, apa lagi jadian kan gue juga bisa ikut pandangin tu bule juga" tambahnya.
"Gila ya loe?" Tanya Elfiza tak mengerti jalan pikiran sahabatnya satu ini.
"Yang dibilang Siska itu bener lagi El bukan gila" ucap Kezia .
"BEBEPNYA AYANG AYI" baru juga akan menjawab ucapan Kezia, ketiga gadis itu sudah tersentak kaget dengan teriakan seseorang, apa lagi Elfiza, siomai yang harusnya sampai dimulutnya lenyap sudah entah menggelinding kemana, karna tak sengaja dilemparnya.
Sedangkan siempunya suara tadi dengan santainya berjalan kearah tiga gadis itu.
"Heh kutu. Bisa ga sih kalau dateng tu kaga usah teriak, ngagetin tau ga!" Bentak Elfiza.
"Isss, beb loe mah jahat" ucap Fahri mengerucutkan bibirnya membuat Siska dan Kezia yang melihatnya kompak merasa enek, sedangkan Elfiza sudah kembali fokus dengan siomainya. Masa bodo dengan kehadiran sibiang rusuh satu itu.
"Bapbeb bapbeb, eh cacing kermi sebelum berangkat tu ya ngaca dulu, pantes ga loe itu sama sahabat gue" tukas Kezia dongkol.
"Enek gue liat kelakuan loe makin hari" ujar Siska mencibir.
"Ehhh duo lampir, diem deh loe pade berisik, sakit kuping gue dengernya, suka - suka gue lah, lagian bebep gue juga kaga nolak" jawab ketus Fahri.
"Gimana mau malu Sis, orang urat malunya udah putus" jelas Kezia yang langsung disambut tawa teman - temannya yang lain yang ada dimeja itu.
"Sirik aja loe berdua, kangen gue baru tau rasa loe berdua" ketus Fahri.
Dan kedua gadis itu kompak brigidig ngeri "Ngimpi woy" ucap keduanya serentak yang membuat Fahri kaget, kembali teman - temannya terbahak melihat ekspresi wajah Fahri.
"Udah ahh, kaga kelar - kelar ni kalau ngeladenin tu anak mulu, loe bertiga mau pada ikut ga?" Tanya Kelfin.
"Kemana?" Tanya Elfiza.
"Mau mantai" jawab Dito.
"Sekarang?" Tanya Siska.
"Ya iyalah masa tahun depan, dasar Anabel" rutuk Fahri.
"Diem deh loe boneka Caki" ketus Siska.
"Kita konfoi, pake motor aja gimana?" Tanya Dito menghiraukan perdebatan Siska dan Fahri.
"Siapa aja,?" Tanya Elfiza
"Hampir semua anak kelas kita ikut, ditambah beberapa anak kelas si Alif" jawab Dito yang diangguki Kelfin.
"Lah terus si Alifnya mana?" Tanya Elfiza
"Loe kaya kaga tau tu anak aja" jawab Kelfin, yang diangguki Elfiza.
"Seneng ya punya fans gitu" ucap salah satu teman Elfiza.
"Apanya yang seneng ribet sih iya, kemana - mana diekorin tuh kaya si bule mau lepas dari mereka aja gue yang tarik ya ga Le" jawab Fahri meminta penbenaran dari Alexis.
"Bener banget" jawab Alexis.
__ADS_1
"Tumben kali ini omongan loe bener" ucap Kezia.
"Elonya aja yang ga pernah nyadar sikatĀ WC" jawab Fahri ketus.
"Dasar kloset mangpet" ucap Kezia tak kalah ketus.
"Banyak banget dah sebutan loe Fah" ujar Nasya.
"Biasalah orang populer" bangga Fahri
"Iya populer dikalangan orang gila" ujar Elfiza menimpali yang membuat meja kantin tempat kumpulnya Elfiza dkk itu riuh kembali dengan tawa.
Bahkan dari meja sebelah kanan dan kiri merekapun ikut terkekeh mendengarhal itu, ahhh dimanapun mereka berada memang rame.
"Loe mah gitula beb" dengus Fahri.
"Lupakan itu mending kita cus aja sekarang" pungkas Ridwan si ketua kelas.
"Ok gasken" timpal Digar dari kelasnya Kelfin.
"Biar nanti Dito yang pimpin konfoi gimana?" Tanya Elfiza memberi saran
"Boleh juga" jawab Alif, yang baru datang
"Udah kelar pak?" Sindir Elfiza yang malah dibalas dengan dengusan oleh Alif.
"Gimana?" Tanya Alif mengalihkan
"Gue sih setuju aja yang lain gimana?" Tanya Kezia.
"Setuju" serempak para komplotan Elfiza itu menjawab.
'Ko gue ngerasa lagi ngeliat anak TK ya' batin Elfiza.
"Ngerasa ngeliat anak TK deh liat mereka" cicit Kezia ditelinga Elfiza yang mendapat anggukan serta kekehan dari Elfiza, rupanya sahabatnya ini sehati dengannya.
"Ok deh biar nanti loe bareng gue ya El" pinta Dito.
"Enak aja, engga ada bebep gue kan pastinya bareng gue ya kan beb?" Tanya Fahri meminta kejelasan.
"Kaga bakal mau tu anak ama cacing kermi modelan loe mah" jawab Kezia.
"Sirik aja loe mak lampir" dengus Fahri
"El bareng gue" kali ini Aliflah yang bicar.
"Loe kemana - mana pengennya bareng bebep gue mulu" kesel Fahri.
"Iya lah gue kan sahabatnya" jawab Alif.
"Tau nih si kutu repot bed dah, emang Loe apanya si El sih?" Tanya Siska.
"Pacarnya lah" PD Fahri
"Ngarep" kompak semuanya membuat Alexis terkekeh.
"Sabar Fah" ujarnya.
"PD loe selangit nyuk!" Jawab Elfiza berdiri lantas melangkah meninggalkan kawanan lebah itu.
"Terus ini jadinya gimana beb?" Tanya Fahri.
"Iya loe bareng gue kan?" Tanya Alif.
"Gue bareng Dito, kalau ada yang ga bawa kendaraan loe orang bisa bawa si denok" jawab Elfiza tanpa berbalik lantas meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
"Sudah jelaskan yang dipilih El bukan sahabat atau si sableng yang ngaku - ngaku pacarnya tapi gue" ujar Dito sambil berdiri, masih sempat saja nyelipin ejekan buat si Fahri.
****
Dan hari itu Elfiza dkk berangkat kepantai untuk merayakan kelulusan mereka dengan berkonfoi.
Dengan seragam yang masih melekat ditubuh masing - masing para siwa siswi itu berangkat dari sekolah merka dengan tujuan pantai, dipimpin oleh Dito dan Elfiza mereka selamat sampai tujuan mereka.
__ADS_1
TBC.