My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
PESAWAT KERTAS KE 100


__ADS_3

Sudah banyak yang disembunyikan Elfiza, cukup sampai sini Yudha mengalah menuruti keinginan adiknya, tidak setelah ini setelah mendengar adiknya menangis sampai seperti itu.


Hati abang mana yang tak sakit mendengar isak tangis adiknya, Yudha dan Yudis memberikan waktu untuk adiknya sendiri, mereka sadar Elfiza butuh waktu untuk sendiri.


"Tenangkan dirimu, jangan terlalu banyak menangis dek nanti kamu sakit" ucap Yudha seraya meninggalkan pintu kamar itu.


"Jangan terlalu difikirkan dek, inget kamu masih punya kita, ceritalah kalau sudah tak mampu" kali ini ucapan dari Yudis yang Elfiza dengar setelahnya dia tak mendengar apapun dari luar pintu. Itu pertanda kedua abangnya sudah pergi.


"Trimakasih karna sudah mengerti keadaan ku" lirih Elfiza disela tangianya.


****


...🎢 πŸƒΒ  Didaun yang ikut mengalir lembut terbawa sungi keujung mata dan aku mulai takut terbawa cinta. Menghirup rindu yang sesakan dada..πŸƒπŸŽΆ...


Lantuna lagu ruang rindu dari Leto menggama diruangan itu, si pemilik tempat tengah bersandar diatas lantai yang dingin, bersandar ditiang tempat tidurnya.


Seolah pasrah dengan keadaannya saat ini, tangisnya sudah tak lagi terdengar hanya sesekali air matanya masih mengalir.


Yudha dan Yudis juga sudah tak lagi mengetuk pintu kamar adiknya itu, lelah sudah membujuk anak satu itu untuk keluar, mereka sadar Elfiza butuh waktu untuk sendiri menenangkan perasaannya yang kacau itu.


Keadaan kamar temaram, pencahayaan sangat kurang disanan, hanya cahaya bulan yang mulai timbul menerobos masuk pintu kaca penghubung antara kamar dan balkon, dengan tirai tipis yang sesekali menari tertiup angin malam, sepertinya pintu tak tertutup rapat.


Sudah berapa puluh tisu yang habis dipakai Elfiza untuk menghapus airmata yang tak berhenti mengalir, membuatnya mangkal karna tak dapat menghentikan tangis bodohnya itu.


Setelah cukup lama Elfiza bisa menguasai dirinya, dia menyibak lautan tisu yang tercecer yang berada didekatnya, berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan fikirannya dari segalahal yang membuat otaknya lelah untuk fikir.


Dia harus mengistirshatkan otak dan hatinya agar tidak rusak dan membuatnya gila, Elfiza melangkah dengan lesu menuju kamar mandi, menarik handuknya.


Air yang telah disesuaikan suhu kehangatanya mengaliri bathtub, Elfiza menaburi bathtub yang telah terisi air hangat itu dengan sabun cair.


Harum bunga lili menguar diseluruh kamar mandi, membuat siempunya nyawa disana merasa sedikit tenang karna menghirup aromanya, salah satu wangi favoritnya.

__ADS_1


Elfiza merendam tubuhnya yang lelah, berharap air dalam bathtub itu bisa memghilangkan rasa lelah yang mendera siang ini.


Fisiknya dan batinya diberi pekrjaan lebih hari ini setelah seminggu yang lalu dia beristirahat, Elfiza memejamkan matanya untuk meresapi air yang menutupi seluruh tubuhnya, dengan busah sabun yang sangat banyak itu.


****


Rembulan sudah bertengger dengan manis disinggah sananya, Elfiza sudah segar, fikiran dan hatinya juga sudah tak sekacau tadi, dia sudah lebih tenang saat ini.


Kini dirinya sudah duduk diayunan rotan yang ada dibalkon kamarnya itu, lantunan lagu masih menggema mengiringi kesahduan malam yang temaram ini, sengaja suara musiknya dikecilkan olehnya hanya agar terdengar olehnya saja dikamar yang lumayan cukup besar itu.


Elfiza melihat kebelakang mana kala lagu tiba - tiba saja berhenti, sepertinya akan berganti kelagu baru tapi mengapa lama, memaksa Elfiza untuk bangun dari tempat nyamanya saat ini.


Ia berjalan degah hati - hati tak ingin tersandung, memang kamarnya masi seperti tadi saat Elfiza masuk, gelap tanpa pencahayaan, sengaja tak ia hidupkan, pusing nanti yang ada karna penglihatanya tidak sebagus biasanya akibat menangis tadi.


Jadi hanya bermodalkan cahaya rembulan saja Elfiza berjalan menuju portable speaker bluetoothnya itu, mengutak atik hpnya yang berada disamping alat itu sedang dicas.


Setelah musik kembali melantunkan sairnya, Elfiza kembali berjalan perlahan, meraba meja belajarnya mengeluarkan buku saktinya, setelahnya kembali melangkahkan kebalkon.



Elfiza kembali bergulut dengan dunianya, kini dirinya tenggelam dalam tulisannya.


... 🍁 Saat dunia indah dengan hal kecil menurutnya, kau datang memperlihatkan bagai mana keindahan itu bisa dinikmati dengan dalih sebuah kata cinta 🍁...


...🍁 Saat dirinya terbuai dengan keindahan yang disuguhkan cinta, kau kembali memperkenalkan rasa sakit dalam dunianya 🍁...


...🍁 Mempertegas jika kekejaman dalam dunianya telah muncul dalam betuk yang manis, menghancurkan kebahagiaan yang selama ini direngkuhnya 🍁...


...🍁 Lantas meninggalkannya begitu saja dalam keterpurukan antar dimensi ruang dan waktu yang dinamakan masalalu 🍁...


...🍁 Memaksanya untuk tak melupakan mu, menguburnya dalam rengkuhan ingatan yang menyuguhkan kebahagiaan semu yang berakhir dengan rasa sakit yang semakin jelas 🍁...

__ADS_1


...🍁 Berusaha untuk terlepas dari semua  goresan terdalam luka hatinya, mencoba melepaskan agar tak lagi terkungkung dalam rasa sakit yang terus menghantuinya. Sayangnya dia tak berhasil melupakan seseorang yang sudah tertambat dihatinya cukup dalam 🍁...


...🍁  Nafasnya mulai sesak yang  dirasanya setelah dia menyadari jika oksigen dalam duianya tak lagi sama 🍁...


...🍁 Dia hanya seorang gadis kecil yang ingin bahagia setelah dirinya mengenal kata cinta, apa keinginannya itu salah? Ataukah berlebihan? 🍁...


...🍁  Lantas mengapa nafas dalam dunianya setega itu mengenalkan cinta untuknya jika keinginan sederhananya tak dapat dia dapatkan 🍁....


Goresan dalam kertas itu dilipat oleh Elfiza dijadikannya sebuah pesawat kertanya, lantas diterbangkannya pesawat kertas ke100nya itu.


Ya sudah 99 kali dia mengubah kertas - kertas itu menjadi sebua pesawat ditambah dengan satu pesawat lagi yang diterbangkannya genap sudah menjadi 100 buah pesawat.


"Terbanglah bawalah apa yang menjadi keluh kesah ku malam ini" bisik Elifza ditelisik gelapnya malam.


****


"Pesawat kertas dari mana datangnya?" Sedikit kaget sipemuda karna kepalanya menjadi tempat landasan pesawat itu.


"Perasaan sering banget dah gue dapet beginian dirumah Yudha, entah siapa yang bikin, mana isinya macem - macem pula" cerocos Arjuna, sambil berjalan kembali menuju arah teman - temannya yang lain.


Yudha dan Yudis memang tengah megadakan bbq dirumahnya malam ini, entah acara apa, Elfiza juga tidak tahu, karna sedari pulang tadi dirinya mengurung diri dikamar, beruntung ayah dan ibunya sedang tak ada dirumah.


'Ini orang puitis juga' batin Arjuna setelah selesai membaca tulisan dikertas itu, "Makin penasaran aja pengen ketemu orangnya" gumam Arjuna.


"Pengen ketemu siapa loe?" Tanya Yudha tiba - tiba.


"Nyokap gue udah lama ga ketemu" jawab santai Arjuna.


πŸŒ›πŸŒ›πŸŒ›


TBC.

__ADS_1


__ADS_2