
Untung saja Elfiza membawa baju olah raga, karna jam pelajaran yang saat ini berlangsung adalah olah raga.
Sedangkan Alif, dia juga sama memakai pakaian olah raganya sebelum waktunya, karna olah raga adalah jam terakhir untuk kelasnya.
***
Setelah berpisah dipersimpangan antara lorong, Alif naik ke lantai dua untuk terus melanjutkan langkahnya kekelas, dan melanjutkan pelajaran, sedang Elfiza menuju kelapangan untuk mengikuti jam pelajaran olah raga.
Sepertinya paket lengkap yang saat ini Elfiza rasakan, rasa lelahnya kian bertambah saja, roti yang tadi dibelikan pak Adam tak dimakannya, rasanya roti itu tak bisa sampai ketenggorokannya karna dia masih membayangkan bagai mana kedua tangannya membersihkan toilet yang sangat bau dan kotor.
Tiba - tiba saja rasa mual menghinggapinya, yaampun ternyata nasib sial tengah menghampirinya. Dia hanya bisa menghela nafasnya pasrah karna tubuhnya tak mendapatkan asupan makanan.
Sepertinya kesialan yang dialami Elfiza belum usai semua, ternyata masih saja ada kesialan lainnya, bagai mana tidak sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Sudah sial semakin sial saja dengan dirinya malah tergelincir lantas jatu, sakitnya sih tidak seberapa malunya itu loh, sampai ke ubun - ubun, belum lagi teman - teman sekelasnya pada menyoraki dirinya.
Entah kenapa hari ini semua serba tak mendukung dirinya, astaga rasanya benar - benar mantap fikir Elfiza.
"Mangkaya larinya itu pake mata" ucap Fahri.
"Mana ada lari pake mata, lari itu ya pake kaki dodol" tukas Elfiza kesal karna ditertawakan.
"Sudah - sudah, are you ok El?" Tanya Kezia, yang dijawab anggukan oleh Elfiza.
***
Hari itu disekolah bener - benar menguras tenaga yang dipunya Elfiza.
Tokk... Tokkk... Tokkk.
"Assalamualaikum" ketukan pinti disusul suara salam dari mulut lemah Elfiza, rupanya anak ini benar - benar kehabisan tenaga, karna seharian merasa dikerjai oleh pak Adam.
'Awas aja tu nanti guru kiler itu, gue kerjain balik' batin Elfiza, rupa - ruanya telah ada dendam membara dihati Elfiza karna kelakuan gurunya tadi disekolah, wah kalau seperti ini ceritanya sih bisa setiap hari kena hukuman.
"Waalaikumsallam" jawab dari dalam rumah "ehhhh, si enon" ucap mbok Sum, ternyata yang membukakan pintu rumah mbok Sum.
"Non el sakit? Kok lemes gitu!" Tanya mbo Sum.
"Engga kok mbok, cuman cape aja banyak kegiatan tadi disekolah" jawab Elfiza. 'Kegiatan dihukum' lanjut dalam hatinya. Tiba - tiba saja senyum terkembang dari bibirnya.
"Kok non El senyum - senyum gituh, kenapa hayo?" Tanya mbok Sum kepo.
__ADS_1
Alah kan ketauan otak Elfiza sedikit geser, "Ahhh, engga ada apa - apa ko mbok, tadi cuman kepikiran hal lucu aja pas disekolah" kilah Elfiza.
"Ohhh... Gitu" jawab si mbok, sebenarnya sih tak sepenuhnya bohong, karna Elfiza memang mengingat bagai mana kejadian kejar - kejaran tadi yang mengakibatkan dirinya berakhir membersihkan toilet bersama Alif.
Kalau difikir lagi ternyata kejadian kejar - kejaran itu lucu juga bahkan kepsek serta pak Danu yang tak tahu menahu jadi kena imbasnya untuk mengejar, sedangkan Alif harus rela dikejar - kejar dan berakhir sama seperti Elfiza.
"Hahahaha" tiba - tiba saja tawanya memecahkan kesunyian ruang keluarga itu, mbok Sumi yang berada disebelah nonanya sampai kaget karna mendengar tawa Elfiza.
"Astagfirullah, ya Allah non, non kesambet apa sih kok ketawa sampe segininya, emang ngetawain apa?" Tanya mbok Sumi tambah tak mengerti, bahkan tiba - tiba saja bulu kuduknya meremang.
Sepertinya nona mudanya benar - benar kerasukan karna tiba - tiba saja tertawa tidak jelas, bukan merasa bersalah karna telah menakuti mbok Sum, Elfiza malah semakin kencang tertawa karna melihat raut wajah si mbok Sumi.
"Wuahahahaha, duh mbok Sum, mbok Sum aku tu ga apa - apa ga lagi kesurupan juga, mbok Sum ni kebanyakan nonton film horor kayanya, udah aku ga kenapa- kenapa aku ke kamar dulu ya" ucap Elfiza.
"Eh iya non" jawab mbok Sumi.
'Si enon ini gimana sih, siapa yang ga ngiria dia kesurupan coba kalau tiba - tiba dia ketawa ampe ngakak begitu' batin mbok Sumi.
Jangan salahkan mbok Sum yang suka nonton film horor, siapa yang tak akan kaget dan merinding jika seseorang tiba - tiba saja tertawa tanpa sebab yang jelas.
Semua juga pasti merasa aneh, tak terkecuali si mbok Sumi, hanya ada dua kesimpulan untuk nona mudanya ini, kalau bukan kesurupan ya gila.
"Ohhh iya bi, tolong buatin aku es kopi ya" pinta Elfiza sebelum langkah kakinya menapakan keanak tangga pertama dirumah itu.
"Emmmm, ayah sudah pulang atau belum mbok?" Tanya Elfiza.
"Tuan belum pulang non" jawab Si mbok Sum
"Kalau ibu?" Tanya Elfiza
"Kalau nyonya sih, baru 15 menit yang lalu pergi non, katanya sih arisan" jawab mbok Sumi.
"Ka Yudha sama ka Yudis?" Kembali Elfiz bertanya.
"Den Yudha sudah pulang sama temennya non, kalau den Yudis mbok belum lihat tuh non" jawab mbok Sum.
"Temen kak Yudha siapa?" Gumam Elfiza.
"Itu loh non yang sering kesini itu" ucap mbok Sum mencoba mengingatkan.
"Ohhhhh, ok deh mbok aku ke kamar dulu, jangan lupa ya es kopi ku" pinta Elfiza.
__ADS_1
"Siap non" jawab mbok Sum yang dibalas kekehan Elfiza. Setelahnya mbok Sumi benar - benar berlalu dari hadapan Elfiza.
"Temen ka Yudha yang suka main kesini itu artinya kak Juna dong" ucap Elfiza, tanpa terasa bibirnya melengkung mampakan senyum manis, entah kenapa hatinya menjadi senang dan berbunga - bunga.
'Ahhhh... Loe mikir apa sih El' batin Elfiza.
****
Malam mulai menyapa penduduk bumi, rembulan malam ini bersinar begitu indah, langit malam ini begitu cerah bertahtakan bintang, yang bertebaran menemani sang rembulan.
Indahnya bulan ternyata tak membuat seseorang dalam kamar menik mati malamnya, sepertinya gadis manis itu sedang meraskan sesuatu yang tak biasa dalam tubuhnya.
Rasanya tubuhnya tak karuan semenjak pulang sekolah tadi, Elfiza sedang menggigil dibalik selimutnya, rupanya kejadian tadi disekolah malah membuatnya sakit sepertinya.
Awalnya dia merasa bahwa rasa lelah yang tak berkesudahan itu karna hukuman yang dijalaninya saja, tapi ternyata rasa lelah itu merambat kemana - mana, hingga membuat badannya menjadi demam seperti ini.
Gigilan dalam tubuhnya begitu hebat, hingga giginya pun ikut bergemelutuk karna rasa dingin yang ditimbulkannya, bahkan penghangat dalam ruangan sepertinya tak mempan.
Belum lagi rasa perih menyerang perutnya, Elfiza baru sadar bahwa dirinya belum memakan apapun kecuali sarapannya tadi pagi dan satu bakwan bu Imah dikantin tadi.
Pantas saja perutnya melilit minta diisi, tapi sayangnya tubuhnya tak bisa diajak kerja sama karna rasa pusing dikepalanya membuat Elfiza tidak jadi untuk turun kebawah untuk mengisi perutnya yang meronta.
Biarlah malam ini dia tak makan, toh tidak akan terjadi sesuatu padanya ini, ketimbang dia memaksa turun, dia sangat yakin dia tak akan selamat saat menapaki anak tangga rumahnya itu, jika sampai memaksakan dirinya.
"Akkkkhhh... pusing banget" rintihnya.
***
Sudah satu minggu ini badan Elfiza tak karu - karuan rasanya, setiap menjelang sore dan malam maka dia akan merasakan demam hebat dan menggigil, selama seminggu itu pula tak ada satupun orang rumah yang tau kondisi kesehatan anak itu.
Entah mengapa dia senang banget menyembunyikan sesuatu dari keluarganya, berpura - bura kuat seakan tidak pernah terjadi apapun terhadap dirinya.
Ternyata Elfiza adalah aktris hebat dirumah itu, hari ini weekend untuknya, sayangnya dia tak bisa menikmati waktu weekendnya, karna tubuhnya yang sepertinya tidak bisa diajak kerja sama ini.
Ajakan Alif ditolaknya begitu saja, begitu juga ajakan Fahri cs, mereka merasa aneh karna tak biasanya dia menolak ajakan mereka. Bukan cuman mereka yang ditolak ajakan jalan - jalannya, Kezia saja ditolak olehnya.
Bagai mana dia mau main jika badanya saja seperti ini, dan secara kebetulan orang rumah memiliki kesibukan masing - masing.
Ayah dan ibu rupanya sudah dari 2 hari yang lalu berada diSurabaya untuk menghadiri acara bisnis sang suami. Jika Yudha dan Yudis mereka memiliki kegiatan masing - masing entah kemana karna tidak ada dirumah.
Jadilah Elfiza seorang diseorang diri dirumah besar ini.
__ADS_1
TBC.. .