My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
TRUTH OR DARE1


__ADS_3

Lagu Balon ku menjadi lagu pilihan Siska, Siska mulai menyanyikan lagu itu dan botolpun terus bergulir dari tangan berpindah tangan, Alif dan Kelfin sempat protes karna lagu yang dipilih Siska, tapi percuma protesnya tak didengarkan karna lagu sudah dinyanyikan dan botol sudah berpindah tangan keteman - temannya.


"Merah, kuning, kelabu" sorak Alif dan Kelfin yang tadinya protes malah menyanyi paling kencang dari yang lainnya, hingga membuat Denim yang terkantuk kembali terjaga saking terkejutnya mendengar nyanyian dua bocah yang sama rusuhnya seperti Fahri.


"Meletus balan hijau" lagu terus berlanjut dengan botol yang terus digulirkan.


"Dorrrr.." serempak Fahri dkkΒ  besorak, membuat bebrapa orang yang tengah tertidur pulas membuka mata mereka secara paksa saking kagetnya.


"Kamvirettt.. siapa yang teriak tuh" tukas Nandang, 'Wah singa jantan bangun, alamat ngamok ini mah' batin Dara.


Dan begitu saja lagu balon ku itu berhenti ditengah jalan karna ulah teman - teman gesrek Elfiza itu, beberapa saat hening tercipta karna merekapun sama terkejut mendengar teriakan dari Nandang tadi.


"Siapa yang teriak tadi woy?" Kali ini Nandang benar - benar sudah terduduk, karna tak ada yang memjawab ucannya tadi kembali Nandang bertanya.


Semua serempak menunjuk kearah Fahri dan Alif serta Kelfin, Nandang melirik karah ketiga lelaki itu dengan kesalnya, lantas berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja kearah dapur.


Sedangkan Alif, Kelfin juga Fahri memelototkan mata mereka kearah yang lainnya, "Kalian mah aduan" kesal Kelfin.


"Tanggung jawab sono anak orang ampe bangun" tukas Siska kesal.


"Ngapa jadi suruh tanggung jawab, emangnya dia hamil apa?" Ucapan yang bodoh seperti biasa keluarnya dari mulut Fahri, hingga jitakan didapatnya dari Mia yang memang duduk dekat dengannya.


"Makanya kalau nyanyi tu yang bener" ketus Elfiza.


"Itu juga nyanyinya bener ko ya ga Al" ucap Kelfin yang diangguki oleh Alif dan Fahri berbarengan.


"Iya emang bener tapi engga ngagetin orang juga kloni plangton" ketus Kezia.


"Kuman dong gue, kalau plangton" ujar Fahri.


"Sejenisnyalah" jawab Siska santai.


"Sia lan" ketus Fahri.


"Iya, maafkan ga maksud" jawab Alif.


Semua serempak mendengus karna kesal, sedangkan kedua pemuda yang sedari tadi memperhatikan interaksi ajaib para teman - teman Elfiza, hanya bisa geleng - geleng kepala, melihat keabsrudan kelakuan teman - teman Elfiza.


'Hiburan disaat mumet nih' batin Yudha tanpa sadar bibirnya tertarik membuat segaris senyum tipis dibibirnya itu.


'Yaampun pen gue kantongin rasanya' batin Kezia yang melihat senyum samar dari kakak sahabatnya itu.


"Gantengnya abang loe El" bisik Kezia pelan.


"Percuma ganteng kalau usil" tak kalah berbisik Elfiza mencicit.


***


"Sebenarnya kalian itu lagi ngapain sih kok ampe teriak - teriak gituh?" Tanya Danang, yang sudah lebih fress dari yang tadi, sepertinya dia tadi kemar mandi untuk membasuh wajahnya yang kucel karna bangun tidur.


Walau menurut Elfiza ganteng, ahhh memang aneh entah kenapa setiap melihat kaum adam itu bangun tidur selalu dibilang tampan.


"Main truth or dare" jawab singkat Elfiza.


"Wah ikutan juga dong, kenapa ga dibangunkan dari tadi?" Tanya Nandang, membuat Dara melongo saja, bukankah tadi sempat marah karna tidurnya terganggu tapi lihatlah sekarang semangat sekali anak satu ini untuk ikutan truth or dare ini.


"Ya udah cepet duduk" titah Elfiza yang dituruti Nandang, dan lagu pun kembali dilanjutkan, dan botol kembali bergulir.


"Ku pegang erat - erat" lirik terakhir berhasil dinyanyikan segerombolan anak TK super jumbo itu, walau banyak sekali drama dalam lagu Balon ku ini, tapi lagu itu akhirnya kelar dinyanyikan.


Dan botolpun berakhir bergulir ditangan Melan, Melan tersenyum sumringah sebelum memutar botol itu ia bersuara.


"Ada aturan lain ga nih dalam permainan ini El? Atau seperti biasa?" Tanya Melan yang memang sudah sering ikut bermain truth or dare dengan Elfiza itu.


Elfiza tersenyum devil, 'jika seperti biasa akan sangat membosankan' batin Elfiza.


Melihat senyum yang ditampilkan Elfiza, membuat beberapa orang disana merasa merinding, "Kok gue ga enak perasaan ya" bisik Kelfin yang diangguki Denim.


"Setiap yang diberi pertanyaan jika tidak bisa menjawab harus mendapatkan hukuman, terserah hukumannya itu apa sesuai kesepakatan yang lain, begitu juga dengan tantangan yang diberikan bagai mana?" Tanya Elfiza.


"Loh ko loe baru bilang sekarang, kan biasanya itu mah buat tantangan doang kenapa jadi ada hukuman segala" sanggah Dara tak mau.


"Ya kan biar seru Ra" ucap Elfiza.

__ADS_1


"Ya tapikan tadi ga bilang" kembali tolakan itu terlontar kali ini dari Siska dia juga menolak adanya hukuman, tidak ingin menjadi bahan usilan teman - temannya yang lain.


"Gue setuju" jawab Fahri lantang, yang diangguki beberapa teman Elfiza yang lain, begitu juga dengan Yudha yang menyetujui hal itu, si raja jahil itu sudah pasti memiliki banyak cara untuk menjahili adiknya itu.


Elfiza mendengus kesal melihat Yudha yang tersenyum cerah seperti itu, 'Bisa kutebak kakak ku sayang' degus batin Elfiza.


"Karna lebih banyak yang setuju dari pada yang tidak setuju, maka mau tidak mau yang tidak setuju harus ikut setuju" ucap Arjuna.


"Tapi apa boleh aku tambahkan satu lagi?" Tanya Arjuna.


"Apa?" Tanya mereka serempak.


"Biar adil janga cuma yang dikasih pertanyaan atau tantangan saja yang dikasih hukuman kalau tidak bisa menjawab atau menerima tantangan" Arjuna menjeda kalimatnya, untuk menarik nafas sebentar, rupa - rupanya dia tidak kuat berbicara panjang lebar seperti presenter.


"Gimana kalau yang memberi pertanyaan atau tantanganpun diberi hukuman jika yang menerimanya bisa menjawab gimana?, biar adil" usul Arjuna.


"Gimana?" Tanya Elfiza.


"Aku sih Yes" ucap Alif ala - ala juri the voiceh


"Cihhhh... Berperan jadi siapa loe?" Tanya Kelfin jijik.


"Geleh aing nelena (Jiji liatnya gue)" ungkap Siska.


"Ok aja lah yang ga?" Tanya Dara mengalihkan, membuat Alif menarik senyumnya, usul dari Arjunapun disetujui oleh yang lain.


"Ok kalau gitu putar Mel" titah Siska yang diangguki oleh Melan.


'Mau main truth or dare aja rempongnya uda ke apa aja' kesal batin Kezia, ya kalau tidak ada drama disetiap langkah permainan jadul itu seharusnya sudah dimulai setengah jam yang lalu, karna drama - drama tak penting bagi Kezia malah mengulur waktu permainan.


***


Botol mulai berputar sesaat setepah Melan memutarnya, sedikit lama mereka menunggu putaran botol itu, karna Melan memutarnya terlalu kencang,(Saking semangatya ya MelπŸ˜†).


Botol itu berhenti dan moncong botolnya tertuju kearah Kelfin, sunggu beruntung nasib mu saat ini Kelfin, menjadi permulaan permainan ini.


"Truth or dare?" Ucap Melan memberi pilihan. Terlihat Kelfin tengah merenung sebelum menjawab, memilih yang mana yang paling aman untuknya.


"Karna gue suka tantang jadi gue pilih Truth" jawab Kelfin.


"Lahkan terserah gue" jawab santai Kelfin.


"Ya udah kumaha sia wae (*y**a udah gimana kamu aja*)" ucap Denim.


"Loe pilih truthkan, jadi aib yang paling memalukan yang pernah loe buat apa?" Tanya Melan santai, yang tak santai kini malah orang yang memilih truth itu sendiri.


"Loe mah gitu Mel" kesal Kelfin.


"Apanya?" Tanya Melan pura - pura tak mengerti.


"Yang lain ke pertanyaannya" nego Kelfin.


"Ya udah yang lain, kesalahan apa yang paling bikin loe malu sampe sekarang?" Tanya Melan.


"Sama aja kunyuk" sentak Kelfin kesal.


"Lah kan udah gue ganti nyet" tak kalah kesal pula Melan pada temannya satu ini.


"Udah tinggal jawab doang apa susahnya" kesal Siska.


"Ini aib woy" kesel Kelfin.


"Loe sendiri yang pilih truth buluk, jadi ya jawablah" timpal Kezia.


"Ya udah ganti - ganti ga jadi truth gue pilih dare aja" pinta Kelfin.


"Ga bisa gitu" sergah yang lain.


"Bisalah, kan gue belum jawab, bisakan El?" Tanya Kelfin meminta pembelaan.


Elfiza hanya tersenyum lantas mengangguk saja, masa bodolah mereka mau berbuat apa, yang jelas dia hanya ingin abangnya itu mendapat kejahilan malam ini.


"Loh ga bisa gitu dong beb" protes Fahri.

__ADS_1


"Diem deh loe masih mau ikutan apa kaga?" Tanya Elfiza membuat Fahri diem.


"Ok gue ganti, telpon mamah loe akuin kesalahan loe sebulan lalu" pinta Melan yang membuat Kelfin kembali menganga.


"Sama aja itu mah namanya gue bunuh diri nyuk" keluh Kelfin, Kelfin tahu betul sahabatnya satu ini ingin dirinya susah malam ini.


'Awas aja loe nanti nyuk' kesal batin Kelfin.


"Yeh katanya tadi bilang dare sekarang ngeluh lagi, sebenernya loe maunya apa sih Luk?" Tanya Nandang kesal dari tadi permainan berjalan ditempat aja.


"Ya semuanya kaga ada yang mengutungkan gue" keluhnya.


"Ya elah namanya juga permainan Nyet" ucap Melan.


"Udah terserah loe aja, pilihannya loe terima tantangan dari Melan atau loe nyebur kolam tuh" tunjuk Kezia pada kolam ikan yang ada disamping halaman samping rumah Elfiza.


Memang posisi mereka saat bermain, berada tepat diantara pintu masuk antara halaman samping dan ruang tengah rumah Elfiza, kebetulan pintu tidak ditutup oleh Elfiza, sengaja agar tidak terlalu bergema suara mereka, kasian yang sedang tidur terganggu.


Kelfin brigidig ngeri juga, malem - malem berendem sudah dipastikan dia akan kedinginan mana dia tidak bawa baju ganti, 'Kalau gue nyebur, udah bisa dipastikan besok gue meriang, tapi kalau terima tantangan, pulang nanti bisa digantung mamah' batin Kelfin meradang.


"Udah cepetan masa gitu aja kaga bisa mutusin payah loe" ucap Elfiza memanas - manasi.


"Benar - benar kompor meledug kalian" bisik Yudha pada Kezia yang membuat Kezia terkekeh, dan itu semua tak luput dari penglihatan Fahri.


'Perih hati abang ini dek' keluh batin Fahri.


"Ya udah gue terima tantangan aja, dari pada balik sakit" jawab Kelfin lesu.


"Akhirnya, ya udah gih telpon mamah" titah Melan.


"Tapi mamah pasti udah bobo" kilah Kelfin.


"Jangan bohong loe, emak loe itu baru bisa tidur diatas jam 3 dini hari" ketus Melan.


Hemmm...


Kelfin menghembuskan nafas beratnya , nasib punya tentangga yang tahu segalanya itu ya gini, sialnya tentangganya itu bukan hanya tentangga biasa, dia tentangga sedari orok. Mana mungkin tidak tahu kesehariannya serta keluarga.


Kelfin mendengus tapi tetap menuruti apa mau sahabat sedari oroknya itu, dia menelpon mamahnya, dengan debaran jantung yang mulai menggila.


Saat telpon sudah tersambung, Kelfin baru mengaktifkan lonspekernya, agar yang lainnya bisa mendengar suara mamah dari teman mereka itu.


Tutt.. tuuuu.... tuuuuuuttttt...


Kelfin berharap kalau mamahnya sedang didapur, kamar mandi atau dimana sajalah, agar tidak mengangkat telponnya, lebih baik lagi kalau mamahnya sudah tidur, itulah keinginan Kelfin saat ini.


Tapi ternyata keberuntungan malam ini tak berpihak kepadanya, didering ketiga mamah Kelfin megangkat telpon dari anaknya itu.


"Assalamualaikum, kenapa Fin?" Salam sekaligus pertanyaan terucap dari sebrang telpon.


Dan Kelfin sudah menegang saat suara seseorang disebrang sana yang sudah dipastikan itu adalah mamahnya, wajah tegangnya begitu ketara hingga Melan menutup mulutnya supaya tidak terdengar suara kekehannya.


"Hallo Fin" kembali suara dari sebrang telpon itu terdengar karna tak mendapkan jawaban dari sipenelpon.


"Fin jangan buat mamah khawatir" keluar sudah teriakan sang mamah, membuat yang mendengar tersentak kaget apa lagi Kelfin.


"Jangan jadi pengecut Luk ayo ngomong" bisik Dara.


"Eng...Hallo mah" akhirnya suara Kelfin terdengar juga kemamahnya.


"Kenapa Fin, ko tumben kamu telpon! Ada masalah?" Tanya sang mamah to the point.


"Engga ko mah" jawab Kelfin


"Ohhh... terus kenapa?" Tanya mamah kembali.


"Hehehe. Kelfin kangen mamah" ucapnya malu - malu.


"Dasar anak ini ada - ada saja, sana tidur sudah malam, ga baik mengganggu dirumah orang tegah malam Fin" ucap sang mamah.


"Iya.. mah" jawab Kelfin.


"Ya sudah kalau gitu"

__ADS_1


"Mah" sebelum sempat mamah Kelfin menutup telponnya Kelfin bersuara kembali, ingin rasanya ia membiarkan mamahnya menutup telpon itu, tapi dia masih sayang sama nyawanya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


__ADS_2