
Untuk kesekian kalinya Fahri mencoba untuk mempercayai orang yang amat dicintainya itu, dia berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya, kembali memulai memperbaiki masalahnya dengan Tangguh, menjalin pertemanan kembali dengan seseorang yang telah menghianatinya teryata tak semudah itu.
Namun lambat laun semuanya mulai kembali keawal, sampai pada akhirnya hal yang sama terukang kembali, entah Fahri tidak tahu ataukah dia hanya berpura - bura menjadi orang bodoh untuk menutup mata dan telinganya agar tak melihat dan mendengar kenyataan yang ada sampai suatu ketika.
"Loe mengulangi kesalahan yang sama? Gue memberikan kepercayaan kembali tapi ternyata loe mengulangi kesalahan yang sama" menggelegar ucaan itu diruangan yang hanya terisi dua manusia itu.
"Kenapa loe lakuin ini ke gue? Apa salah gue ke loe?" Tanyanya, ya Fahri bertanya - tanya akan hal itu kenapa mereka seakan dendam kepadanya mebuatnya merasakan sakit untuk kedua kalinya.
"Loe salah memberikan kesempatan kepada seorang penghianat Fah" jawab suara bariton itu.
"Seorang penghianat akan tetap menjadi penghianat dan tak akan berubah sama sekali itu lah jawaban sederhananya Fah" jelas orang tersebut.
"Maaf gue hanya mengambil kembali apa yang menjadi milik gue, bukankah loe yang bilang semua orang tak suka miliknya dibagi bukan, jadi karna itu gue kembali untuk mengambil milik gue yang loe ambil" tegasnya, santai saja Tanggu berbicara seakan dirinya tak salah akan semua yang terjadi antara dirinya Fahri dan juga Rachel.
Sungguh saat itu Fahri hanya ingin menghajar Tangguh sampai babak belur, namun logikanya memaksanya untuk tidak melakukan hal seburuk itu, otaknya ternyata masi waras untuk memikirkan hal terburuk yang akan terjadi padanya nanti.
"Siapa yang loe maksud milik loe? Jelas - jelas dia sendiri yang menangis kembali kegue" tanya Fahri.
"Rachel milik gue Fah dan akan selamanya seperti itu, mungkin untuk sekarang dia masih mengelabui hatinya dengan menamkan rasa nyamannya diloe, tapi lambat laun gue pasti bisa rebut dia dari loe, bukan hanya raganya tapi hatinya juga" Tangguh menjeda kalimatnya yang panjang itu.
"Karna hatinya hanya untuk gue, dihatinya tak pernah ada nama loe Fah, da loe harusnya sadar akan hal itu" ucapnya kembali.
"Loe bilang lambat lau akan merebutnya, jangan bermimpi loe memiliki kesempatan setelah ini Tang, karna gue percaya lambat lau gue juga bisa mengambil hatinya menjadi milik gue selamanya" tegas Fahri.
"Hari itu ga akan pernah terjadi Fah, jikapun hari itu terjadi, loe ga akan punya kesempatan buat miliki dia, gue bisa menghalalkan segala cara agar Rachel kembali pada gue walau harus mengorbankan kehormatannya" karna ucapan terakhirnyalah yang membuat Fahri akhirnya lepas kendali dan menghajar Tangguh.
"Loe ga punyahak atas itu semua, gue ga akan pernah biarin loe nyakitin Rachel seujung kukupun, gue ga akan pernah biarin itu" tukas Fahri setelahnya dia melangkah menjauh.
Tapi sayang sepertinya Tangguh sudah mempersiapkan semuanya sedikit saja Fahri lengah pisau itu sudah menacap dipunggungnya, namun refleknya begitu kuat, untuk sebagian orang mungkin tak akan mengira orang seselengehannya memiliki bakat dalam bidang bela diri.
Walau tak pernah mengasahnya dengan baik namanya bakat dari lahir membuatnya bisa menguasai gerakan - gerakan beladiri walau hanya dengan melihatnya saja, sejujurnya dia tidak terlalu suka yang namanya perkelahian.
Tapi jika kepepet apa boleh buat, karna kenekatan Tangguh yang mencoba untuk melukai Fahri dengan sejata tajam, alhasil pembicaraan itu berakhir dengan adu jotos alias berkelahi.
Sejujurnya Fahri tak ingin melawan, masih ada rasa dimana dia masih menghargai pertemanan mereka yang dulu, tapi dia lebih memilih melawan saat ini karna mempertahankan dirinya.
__ADS_1
Dia juga tak ingin mati konyol hanya karna tak melawan, ada saatnya dia mepertahankan dirinya dengan menghindari semua yang berbau dengan perusuhan ada saatnya dia melawan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Jika bole memilih seandainya jadi seperti ini dia tak ingin menyetujui pertemuanya dengan Tanggu, salah jika memang boleh memilih mungkin akan lebih baik saat itu Fahri tak mengenalkan Rachel kepada Tangguh atau sebaliknya.
Sayang seribu sayang Fahri pun tak bisa kembali kemasa lalu, mana ada yang namanya mesin waktu, yang ada hanya kain waktu itupun hanya milik Dora Emon tak pernah nyata, sekalinya ada mesin waktu hanya bisa dipakai siZidan dan pak haji saja, tidak bisa dipakai untuknya karna mesin itu memang dirancang husus untuk memuluskan filemnya.
Ahhh sudahlah yang pasti Fahri memang tak pernah bisa kembali kemasa lalu, yang Fahri bisa adalah menuju masa depan, itu sudah pasti akan terjadi padanya, 'Gue ga pernah ingin jadi seperti ini Tang' disela dirinya mempertahankan diri, sepertinya Tangguh bernafsu sekali ingin membunuhnya saat ini.
"Jika loe m*ti tak ada lagi saingan untuk gue memiliki Rachel, ga ada yang berhak miliki Rachel selain gue" karna ucapan Tanggulah, Fahri baru sadar satuhal yang Tangguh rasa untuk Rachel bukanlah cinta lagi melainkan obsesinya yang ingin memiliki Rachel.
"Loe gila hanya karna Rachel loe mau bunuh gue Tang, gue itu sahabat loe ingat itu" Fahri mencoba menyadarkan Tangguh yang seperti kesetanan ingin membunuhnya, sebisa apapun dirinya dalam beladiri, tetap saja rasa merinding menghampirinya saat tahu jika sahabatnya mungkin saja seorang pisikopat.
'Sadarkan dia Fahri sebelum terjadi sesuatu' batin Fahri.
"Rachel milik gue dan akan selamanya milik gue, siapapun orangnya pasti gue singkirin jika dia menghalangi jalan gue" ucapan Tangguh semakin memperjelas asumsi Fahri jika sahabatnya itu memang pisikopat.
'Ya tuhan kasian sekali Rachel mencintai seseorang seperti anak ini, tak menyangka gue kalau si curut satu ini pisiko' celoteh batin Fahri, ya ampun Fahri - Fahri dalam keadaan kaya gini saja kau masih sempat - sempatnya memikirkan orang yang jelas - jelas tak pernah cinta padanya.
Yang ditakutkan Fahri adalah salah satu dari mereka yang akan terluka karna benda tajam itu tak kunjung dapat ia rebut, 'Entah belajar dari mana si kunyuk ini tentang beladiri hingga gue kewalahan kaya gini' batinnya.
Darah mulai mengotori baju putihnya, warna merah menghias dikemeja sekolahnya itu dengan indah, sepertinya cukup panjang sayatan yang tak sengaja Fahri lakukan itu, terlihat dari banyaknya darah yang keluar dari bagian tubuh Tanggu yang terkena sayatan itu.
"Fahri, Tangguh" teriak suara seseorang yang sangat dikenal Mereka, secara bersamaan dua orang pria remaja itu menoleh kesumber suara.
Alangkah terkejutnya Rachel saat melihat Fahri memegang pisau dan Tangguh yang sudah berdarah - darah, tangguh lelaki itu masih sempat - sempatnya tersenyum disaat kesadarannya mulai menghilang.
"Loe akan benar - benar kehilangan dia sekarang" ucapnya sebelum kesadarannya menghilang.
"Apa yang udah kamu lakuin keTangguh?" Tanya Rachel setelah mendekat bergetar sudah Rachel berucap dia sudah duduk bersimpuh sambil memangku kepala lelaki yang masih dicintainya itu, iya dia memang tak bisa memungkirinya lagi.
Maka dari itu dirinya kemari, karna tadi sebelumnya dia sempat menanyakan keberadaan Tangguh dimana, niat hati ingin jujur soal perasaannya terhadap Tangguh dan ingin mengakhiri hubungannya dengan Fahri setelah berbicara dengan Tangguh terlebih dahulu, tapi apa nyatanya dia malah dikejutkan akan kejadian ini.
"Loe mau ngebunuh dia iya Fah?" Bentak Rachel kepada Fahri, Fahri sudah bisa menebaknya jika Rachel akan menyalahkanya tanpa mau mendengar apa yang terjadi, karna dia tahu siapa yang Rachel cintai tapi tetap saja rasanya begitu sakit.
'Ya tuhan kenapa harus sesakit ini' batinya.
__ADS_1
"Nanti gue jelasin, tapi saat ini kita harus bawa Tanggu kerumah sakit dulu" ingin rasanya Rachel meraung dan menghajar Fahri karna telah tega melukai belahan jiwanya, tapi benar apa kata Fahri saat ini kondisi Tangguh lah yang paling penting, maka mau tak mau Rachel menerima bantuan dari Fahri.
Saat ini yang Fahri lakukan terhadap Tangguh hanya semata - mata karna kemanusiaan saja, dan dirinya juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada mantan sahabatnya itu, ya mulai saat dimana Tangguh ingin menancapkan pisau kepadanya disaat itu pula dia telah mengukuhkan jika Tangguh hanya sekedar kenangan yang harus dimusnahkan dalam memorynya walau banyak masa - masa yang dilewatinya dengan menyenangkan dengahnya.
Karna bukan hanya satu bulan, dua bulan dia bersahabat dengah Tangguh tapi sudah hampir dia bisa merekam memorynya itu artinya hampir selama ini dia hidup, karna Tangguh dan Fahri tumbuh bersama, bahkan rumah merekapun berhadap - hadapan.
Seperti yang tadi Fahri fikirkan dia hanya tak ingin terjadi sesuatu kepada Tangguh karna dia juga tak ingin berurusan dengan pihak yang berwajib, karna dia sadar jika dirinyalah yang melakukan hal itu walau dia melakukannya atas dasar membela dirinya, tapi tetap saja tak ada saksi yang melihat kejadian itu siapa yang akan percaya.
***
"Loe ngebunuh dia, loe pembunuh Fahri" teriak Rachel dilorong rumah sakit itu, semua mencoba menenangkan Rachel.
Disebut pembunuh oleh orang yang dicintainya sangat amat menyakiti hatinya, sedangkan apa yang dituduhkan tidaklah benar adanya.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak kepada ku, yang jelas aku tak sengaja melakukannya, itu semua karna aku membela diriku" ucap Fahri mencoba menjelaskan apa yang terjadi karna semua mata tertuju padanya.
Mata siapa lagi jika bukan mata kedua orang tua Tangguh dan juga orang tuanya "Mana ada penjahat yang akan mengakui kesalahannya, penjara penuh kalau seperti itu" tukas Rachel yang masih saja meraung dengan isak tangisnya.
"Asal loe tahu kejadian ini tak akan terjadi seandainya saja loe tak pernah ada dalam kehidupan gue dan Tangguh, secara tak langsung loe penyebab semua ini" tukas Fahri marah, entah setan dari mana dirinya bisa selantang itu mengucapkan kata yang menyakitkan itu, mungkin karna dia sangat amat marah terhadap orang yang dicintainya itu karna terus saja menyudutkannya, menyalahkannya tanpa mengetahui kronologinya.
"Asal loe tahu karna loe Tangguh jadi seorang pisiko, hanya karna terobsesi sama loe dia melakukan hal ini" ucap Fahri kembali masih dengan nada tingginya.
"Engga semua itu ga benar loe yang udah rusak semuanya loe yang selama ini yang udah ngerusak hidup gue dan Tangguh" teriak histeris Rachel.
"Siapa yang menangis - nangis kehadapan gue bicara bahwa dia sudah tidak kuat lagi bersama tangguh, dan loe bilang gue perusak" sarkas Fahri, jujur saja hatinya semakin sakit dan kecewa saat ini.
"Sekarang terserah kalian saja, yang pasti sekalipun om dan tante mau memperkarakan kejadian ini kepihak yang berwajib, Fahri akan tetap berkata jika ini bukanlah salah Fahri, karna Fahri hanya mencoba membela diri Fahri saja" kekehnya berucap.
Abdul dan Sifa tahu betul siapa sahabat anaknya itu, Fahri tak akan berucap demikian jika dirinya memang bersalah, dia tak akan berkelit dia akan mengakui kesalahannya sepatal apapun kesalahannya dia tak pernah takut untuk mengakuinya dan meminta maaf, itu sebabnya Abdul dan Sifa percaya walau demikian anaknya sekarang terluka dan mereka masih belum tahu kondisi sang anak bagai mana.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Tanggu loe akan dapatkan akibatnya" bentak Rachel masih saja menyalahkan Fahri padahal dari keempat orang tua disana saja tak ada yang berasumsi demikian sebelum mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Itu kalau samapai terjadi kalau tidak?" Tantang Fahri setelahnya dia pergi tanpa pamit kesemuanya.
🍁🍁🍁
__ADS_1