
Fahri menegakan badannya seketika sesaat setelah mendengar bagaimana cerita dari Vidio yang sempat diputar pas acara makrab mereka yang mengakibatkan masalah untuk Elfiza, "ini gila, loe ga sepenuhnya salah, gue paham posisi loe disana" ungkap Fahri setelah hampir satu jam dia hanya menjadi pendengar yang baik tanpa memotong sedikitpun cerita dari Elfiza.
"Ada cara agar loe bisa terbebas dari tuduhan? dan memperbaiki nama baik loe?" tanya Fahri, yang dijawab gelengan oleh Elfiza, terkulai sudah bahu pria itu melihat gelengan dari sang sahabat itu, dirinya mengacak rambutnya tanda dirinya sedang tertekan karena melihat jawaban Elfiza.
"Pasti ada El, gue yakin ada El" ucap Fahri, setelah beberapa detik yang lalu ia bungkam, sebenarnya bukan tidak ada sama sekali jalan keluarnya, ada dua jalan keluar dari masalah ini, yang pertama adalah membongkar kebohongan Tania yang memotong Vidio dirinya dengan Tania yang sedang berkelahi di toilet wanita waktu itu, dan tentang Vidio itu dia bisa saja minta bantuan sang ayah untuk membersihkan namanya agar seperti semula, hanya saja dia sudah menyerah.
Dia masih memikirkan bagaimana hancurnya kedua sang abang jika kenyataanya terbalik, Elfiza yakin dua abangnya itu akan menyalahkan diri mereka sendiri apa lagi mereka menutup rapat mata dan telinga mereka saat melihat atau mendengar Elfiza tengah dibully.
Dia tidak munafik jika dirinya merasakan hatinya hancur sampai berkeping akibat perilaku kedua abangnya saat ini kepada dirinya, tapi dirinya malah lebih tidak siapa melihat kehancuran kedua Abang kesayangannya itu, nyatanya sehancur apapun hatinya, rasa sayangnya melebih rasa sesak yang ditimbulkan oleh kedua abangnya.
Elfiza lebih membiarkan masalah ini begitu saja, toh gosip akan cepat mereda dengan berjalannya waktu tergantikan dengan berita baru, dirinya hanya harus bersabar menunggu semuanya mereda.
"Kita harus selesaikan satu persatu dulu masalah ini, kita harus buktikan jika bukan loe yang memulai perkelahian bersama Tania itu, jika mereka memiliki Vidio itu, artinya mereka merekam kejadian itu sepanjang kalian berdebat tentunya, bukan saat perkelahian dimulai" rentetan kalimat dari Fahri menyadarkan Elfiza dari lamunannya, untuk yang satu ini Elfiza setuju, karena dirinya pun sudah sangat muak melihat bagaimana tingkah Tania yang seenaknya terhadap dirinya.
Namun bila masalah itu terkuak kemungkinan besar kedua kakaknya akan mencari tahu tentang kejadian lima tahun silam itu, itu tidak baik untuknya, dia tak akan sanggup jika harus mengingat kejadian terpahit dalam hidupnya saat itu, selain dari masalahnya dengan sang mantan kekasih.
"Sebaiknya tidak Ri" perkataan Elfiza membuat bola mata Fahri membulat sangat lebar, jika saja itu mata ditempel dengan lem mungkin bola mata Fahri sudah keluar menggelinding dari tempatnya bertengger.
"Apa maksud loe El? loe ga mau nama baik loe kembali? loe ga mau kebenaran tentang loe diketahui mereka begitu?" tanya Fahri memburu, Elfiza hanya diam tanpa menjawab semua perkataan Fahri.
"Jangan gila Elfiza" sentak Fahri, diamnya Elfiza sudah memberi jawaban atas semua yang ditanyakan nya tadi.
"Ada atau tidaknya izin loe, gue akan tetap mencari bukti itu!" tandas Fahri.
"Mereka semua harus tahu kebenarannya, terutama kedua Abang brengsek loe itu!" pungkas Fahri sambil berdiri hendak meninggal kan Elfiza, yang langsung ditahan oleh Elfiza.
"Gue mohon jangan Ri, kalau loe sampai dapetin tu buktinya, kak Yudha sama kak Yudis bakalan cari tahu lebih lanjut tentang masalah lima tahun lalu gue -" Elfiza menjeda kalimatnya untuk menarik nafasnya yang mulai menipis.
"Pencarian mereka sudah menemui titik buntu dengan masalah itu, jika sampe loe dapet bukti permasalahan gue dengan Tania, gue yakin dua Abang gue akan lanjutkan pencarian mereka" ungkap Elfiza kepada Fahri.
__ADS_1
"Jangan bilang loe yang sabotase pencarian mereka El!" tegas Fahri, yang hanya mendapatkan diam dari Elfiza.
"Astaga!!!" Fahri benar - benar tak percaya dengan apa yang terjadi, kenapa sahabatnya ini malah berkeinginan menyembunyikan kebenaran dari Abang - abangnya sehingga membuat gadis ini menyabotase pencarian bukti kedua abangnya, benar - benar tak habis pikir Fahri dibuat anak itu.
"Loe gila lakuin ini El, loe tahu apa akibat yang bakalan loe terima?" tanya Fahri setengah berteriak karena kesal atas kebodohan yang dilakukan sahabatnya itu.
"Gue cuman ga mau Abang gue ngerasa bersalah Ri itu aja" jawab Elfiza.
"Loe masih bisa mikirin perasaan dua manusia itu, sedang mereka, apa pernah mikirin perasaan loe? jangan jadi to*ol cuman buat orang kaya mereka" sentak Fahri.
"Tapi mereka Abang gue, gue ga bisa nutup mata hati gue gitu aja buat mereka" ungkap Elfiza.
"Dasar bo*oh, loe bisa ngomong kaya gitu, pernah mikir ga Abang loe bisa mikir gitu juga ga ke loe?" tanya Fahri masih dengan emosi, karena kebodohan sang sahabat yang masih membela kedua abangnya yang jelas - jelas tidak pernah membelanya sama sekali, jangankan membela disaat Elfiza diperlakukan tidak adil pun, mereka hanya diam saja seperti menutup mata dan telinga mereka untuk hak itu, berbanding terbalik jika sahabat Elfiza yang terkena bullyan pasti Yudha sanga Abang langsung turun tangan sendiri, bagi Fahri itu tidak adil namanya.
"Lupakan semua itu, tinggalkan kebodohan loe itu, kita cari sama - sama buktinya agar nama baik loe pulih kembali, masalah Abang loe bakal cari tahu atau engga masalah Vidio itu urusan belakangan El" tandas Fahri akhirnya.
"Mengertilah Ri, ini ga mudah buat gue, gue ga mau sampai mereka menanggung rasa bersalah, jadi gue mohon sama loe jangan lakuin apapun juga" pinta Elfiza.
***
"Lantas apa yang bakal loe lakuin?" tanya Fahri pada akhirnya setelah cukup lama dia terdiam karena tak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menunjukan rasa frustasinya itu, oleh ulah sang sahabat, sedang Elfiza yang ditanya seperti itu hanya menggeleng pasrah, dia sendri tidak tahu harus berbuat apa.
"Astaga!" Fahri benar - benar merasa tertekan saat ini, dia tak bisa membantu sahabatnya keluar dari masalahnya itu, Fahri seperti gagal menjadi sahabat untuk Elfiza, yang selalu ada disaat tersulit nya.
"Kalau loe mau bungkam akan sampe kapan?" tanya Fahri.
"Mungkin sampai gosip baru menyebar" jawab Elfiza enteng.
"Astaga El, masalah loe itu bukan sekedar tidak mengerjakan tugas dari dosen atau bermasalah dengan dosen, yang akan selesai seiring berjalannya waktu, mereka akan terus inget kejadian itu, di otak mereka" kesal Fahri berbicara karena sahabatnya satu ini masih saja tidak mengerti akan situasi yang dihadapinya saat ini.
__ADS_1
Sedang Elfiza cukup tahu bagaimana posisinya saat ini, akan lebih baik untuknya tidak membuang tenaga dan waktu hanya untuk meladeni mereka, toh baginya ia ke kampus untuk mengerjakan materi perkuliahan saja bukan untuk bergosip.
"Gue yakin bisa untuk bertahan Ri" yakin Elfiza.
"Loe yakin bisa bertahan? dengan kondisi loe yang hampir setiap saat dibully sama mereka? inget El fisik loe bisa tumbang apa apa lagi psikis loe" tandas Fahri, yang hanya dijawab tundukan oleh Elfiza, sejujurnya jika boleh jujur Elfiza juga tidak tahu akan sampai kapan dirinya bertahan dengan apa yang dilakukan anak kampus kepadanya, sedangkan para dosen seperti menutup mata dan telinga mereka, bukan sekali dua kali Fahri melaporkan pembullyan terhadap Elfiza, tapi kenyataannya tak ada kelanjutan tindakan untuk hal itu dari para dosennya itu, membuat Fahri heran sendiri.
Melihat bagaimana respon Elfiza yang hanya menunduk itu membuat Fahri menghela nafasnya dalam, tak seberapa lama dia mengelus sayang puncak kepala Elfiza setelahnya mengacak begitu saja kepala anak itu.
"Ayo gue antar loe pulang" ucap anak itu setelahnya dia benar - benar berdiri dari duduknya dan melangkah menuju arah keluar cafe yang buka dua puluh empat jam itu, mau tak mau akhirnya Elfiza mengekori langkah Fahri.
****
"Gih masuk" titah Fahri setelah Fahri menghentikan motornya tepat didepan gerbang villa kediaman Elfiza, Elfiza tak lantas masuk mendengar perintah dari Fahri.
Merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu, kenapa belum juga masuk, padahal sudah sejak 10 menit yang lalu mereka sampai, Elfiza tak bergeming dari hadapannya, tampak jika dirinya tengah memikirkan sesuatu, sepertinya beban dipundaknya semakin mendalam.
"Loe baik - baik aja kan?" tanya Fahri hati - hati, pertanyaan yang salah Fahri, bagaimana dirinya bisa baik - baik saja, dengan masalah yang saat ini dihadapinya, Elfiza mengangguk lemah.
"Loe balik duluan, baru gue masuk" ungkap Elfiza
"Loe yakin?" Tanya Fahri menginginkan kepastian yang dijawab anggukan mantap oleh Elfiza.
"Baiklah, kalau gitu gue pulang ok " pamit Fahri
"Hati - hati" ucap Elfiza sambil menganggukkan kepalanya.
***
Setelah motor yang dikendarai Fahri melaju dan tak terlihat mata, Elfiza kembali berjalan lurus kedepan bukan menuju ke kekediaman keluarga Atmaja melainkan, kembali kejalan besar entah tujuannya akan kemana saat ini, yang ia rasa saat ini dirinya tidak ingin pulang kerumah yang bak neraka itu, tak ada ketenangan disana hanya menambah beban untuknya saja, saat ini dirinya butuh ketenangan entah dimana pun itu, dia hanya ingin tenang dan sendiri berteman dengan senyap.
__ADS_1
TBC.