My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
Berlari


__ADS_3

20 menit berkendara akhirnya Elfiza sampai ketempat yang dituju, setelah membayar ongkos taksi dirinya berbalik menatap kosong kearah sebuah rumah minimalis.


Krettt....


Suara gerbang kecil menuju rumah itu terbuka karena didorong oleh Elfiza, sebelum dirinya benar - benar melangkah maju ia menghela nafas beratnya untuk kesekian kalinya.


***


Jam didinding kamar yang ditempati Elfiza saat ini sudah menunjukan angka 13.00, dan sampai detik itu Elfiza belum memejamkan matanya dari semalam, kantung matanya sudah menghitam, bahkan kini matanya tak bisa terbuka sepenuhnya karena bengkak, ya sepanjang sisa malam tadi Elfiza habiskan dengan menangis.


Ia baru bisa meredakan tangisnya selepas subuh tadi, perutnya yang sedari tadi berbunyi nyaring dibiarkannya begitu jasa, dirinya masih asik dengan lamunannya, pandangan matanya mengarah ke jendela kamar yang menghadap kearah hamparan teh, melihatnya dari atas sedikit membuatnya tenang.


Dering ponsel tak dihiraukannya sama sekali, sejak jam 06.00 wib tadi ponselnya tak pernah diam, selalu saja berisik, walau demikian tak mengganggu kegiatan dari si empunya kamar tersebut, seakan dirinya sudah tak memiliki kontak dengan dunia nyata, ia sandarkan tubuh lelahnya di lengan sofa yang didudukinya, mata bengkaknya terus tertuju kearah hamparan teh yang berada dibawahnya cukup jauh, tralis yang ada di jendela seolah tak membuat pandangannya terhalang.


Ponselnya kembali berdenging tak karuan, kali ini benda pipih itu bisa mengambil atensi raga Elfiza dari lamunannya yang jauh, Elfiza beranjak dari sofa untuk mengambil benda pipih yang selalu dibawanya kemana - mana akhir - akhir ini, hanya untuk menghubungi Fahri.


Ia mengambil ponsel yang berada disamping lampu tidur, tanpa berniat melihatnya sama sekali, setelah mendapatkan benda pipih tersebut Elfiza kembali ke tempatnya semula duduk seperti semula dengan tenang, ia biarkan ponsel itu dalam genggamannya, berharap meredakan ponsel itu dari kebisingannya, namun nyatanya benda itu seperti tak membiarkan Elfiza tenang barang sejenak.


Tanpa melihat siapa penerima telpon tersebut Elfiza mengangkatnya begitu saja.


"Hallo" ucap si penelpon, sedetik kemudian air mata Elfiza kembali mengalir di kelopak matanya yang sudah membengkak itu, ia benci dirinya yang saat ini.


Berusaha agar terdengar biasa saja dia menjawab sapaan dari si penelpon yang ternyata adalah sang ibu, cukup lama Elfiza berbicara ditelpon dengan sang ibu, sebelum menutup telponnya sang ibu mengutarakan kecemasannya kepada sang anak karena beberapa hari terakhir ini sang ibu memimpikan putri kecilnya itu selalu menangis sendirian disudut ruangan, tanpa ada yang merengkuhnya.


Mendengar cerita sang ibu Elfiza kembali menangis walau sebisa mungkin dirinya menahan isak yang menderanya, mencoba menenangkan sang ibu menyakinkan sang ibu jika dirinya disini baik - baik saja, setelahnya sang ibu mengabari jika ibu dan ayah akan menunda kepulangan mereka ke tanah air, karena satu dan lain hal ayah terpaksa mengurus pekerjaannya disana.

__ADS_1


Itulah salah satu tujuan ibu menelpon sang anak, bukan hanya untuk mengeluhkan tentang mimpinya semata, setelah panggilan berakhir tak ada pergerakan apapun dari Elfiza selain air matanya yang terus keluar, bahunya naik dan turun menandakan jika gadis itu tengah menahan isak nya, padahal disini dia sendirian entah mengapa gadis itu selalu menahan tangisnya membuat tangis itu tidak bisa pecah.


Seandainya dia bisa bebas menangis mungkin hatinya akan sedikit lega, namun entah apa pasalnya Elfiza tak bisa melakukan hal itu walau dia berada dalam kesendiriannya.


"Aku lelah Bu.." gumam Elfiza, matanya terus tertuju kearah hamparan dauh hijau yang berada jauh dibawah kamarnya itu.


****


Satu jam berlalu Elfiza masih belum beranjak dari tempatnya duduk, matanya kini terarah ke arah benda yang sedari tadi berada dalam genggamannya, buku tangannya memutih karena tanpa sadar dirinya menggenggam benda itu terlalu kuat, sampai - sampai keringat ditangannya menempel dilayar ponsel itu.


Ia melihat banyaknya notifikasi dari para sahabatnya, yang entah apa isinya tak Elfiza hiraukan, banyak panggilan tak terjawab dari ketiga sahabatnya, dan yang paling banyak adalah Fahri, hampir mencapai angka 1000 mungkin.


Karena tak ingin membuat pria itu mencemaskan nya lebih lanjut, dan membuatnya mencari keberadaannya saat ini pada akhirnya ia mendial nomor sahabatnya satu itu, iya Elfiza tengah kabur dari keadaan yang sudah menghimpit sukmanya, ia tahu melarikan diri bukanlah cara untuk menyelesaikan masalahnya.


Setelah panggilan tersambung di dering pertama pria di sebrang sana sudah mengangkatnya dan menanyakan keberadaannya dimana.


"Loe dimana El? kenapa ngilang ga ada kabarnya?" Tanya Fahri mencecar, belum juga Elfiza mengucapkan kata salam, dia sudah disambut dengan teriakan, membuatnya terkekeh pelan.


"Gue ada kok" jawab Elfiza setelah kekehannya terhenti.


"Bukan dirumah kan? Tadi Kezia bilang ke gue kalau loe ga ada dirumah, hari ini dia kerumah loe" ucap pria di sebrang sana.


"Loe dimana gue jemput loe sekarang?" belum juga Elfiza menanggapi ucapan Fahri, anak satu itu kembali bertanya seakan tak sabar ingin tahu keberadaan Elfiza, segaris senyum terkembang di bibirnya, walau tampak samar.


Itu adalah senyum pertamanya setelah hampir tiga Minggu dirinya tak pernah lagi tersenyum, "Gue ada ko, loe tenang aja gue ditempat yang aman, dan gue baik - baik saja, jadi jangan coba - coba untuk cari gue" tandas Elfiza menjawab pertanyaan Fahri dan mengeluarkan ultimatum, dirinya tahu betul bagaimana Fahri dengan kekehan kecil oleh Elfiza.

__ADS_1


"Gue lagi butuh sendiri Ri, gue butuh tenang saat ini, loe tenang aja gue ga mungkin ngelakuin hal - hal yang bakal ngebuat gue bahaya dan nyesel sendiri juga kok loe tenang aja" tambahnya kembali.


"Tapi El" protes Fahri.


"Hanya beberapa hari aja ko Ri, gue harap loe ngertiin" pinta Elfiza, helaan nafas disebrang telpon menandakan jika pria itu sedang merasa sesak sekarang.


"Baiklah, hanya untuk, beberapa hari saja, janji akan kembali’‘ ucap Fahri pada akhirnya mengiayan permintaan dari sang sahabat.


"promise" ucap Elfiza.


"Ya udah gue tutup dulu loe hati - hati disana" lanjut Fahri.


"Iya" jawab Elfiza.


Setelahnya Fahri mengakhiri panggilannya dengan salam menutup panggilan itu, setelah telpon dari Fahri, Elfiza mematikan poselnya total agar tak ada yang mengganggunya.


Elfiza tahu kabur dari masalah itu tidaklah dibenarkan, tapi Elfiza hanya ingin sedikit saja berlari, merasakan ketengannya kembali, setelah ketenangan itu lama pergi darinya, ini satu - satunya cara agar dirinya bisa kembali tenang ia sudah berjanji hanya akan beberapa hari disini, setelahnya dia akan pulang dan kembali beraktifitas seperti sedia kala.


Saat ini dirinya tengah berada disalah satu villa dipuncak, villa milik keluarga dari sang sahabat yang ada di Pangandaran, dulu sewaktu masih SMA dirinya bersama ketiga sahabatnya pernah kesini, dan karena hal itu pulalah mengakibatkan keempat dara itu memegang kunci villa itu.


villa itu memang milik Yunia seorang, karena sang ayah memang menghadiahkan villa itu kepadanya sewaktu ulang tahunnya dulu, dan dirinya memberikan hak kepada teman - temannya untuk menggunakan villa tersebut.


Dan villa itu lah yang menjadi tempat pelariannya agar tidak diketahui siapapun, termasuk sang abang, karena hanya tempat itu yang belum diketahui orang terdekatnya kecuali tiga sahabatnya di Pangandaran, mereka sepakat untuk menyembunyikan villa itu dari yang lainnya, hanya ingin membuat tempat persembunyian saja, tapi nyatanya itu benar - benar membantu Elfiza saat ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2