
Elfiza menganga tak percaya jika benar dirinya ada dalam berita pencarian orang hilang, bukan kah terakhir dia menghubungi Fahri jika dirinya masih ingin menghabiskan waktu sendirinya untuk beberapa saat lagi, sebelum Elfiza benar - benar mematikan total kembali hpnya itu, lantas mengapa belum ada genap seminggu dari pembicaraan dirinya dengan Fahri lewat jaringan telpon itu sudah ada pemberitaan seperti ini.
"Sumpah si Fahri beneran kebangetan" kesal Elfiza seraya mematikan televisi dihadapannya, kesal sudah dirinya melihat apa yang diberitakan barusan.
"Tapi kalau itu si tutup toples, kenapa yang diminta menghubungi kak Yudha ya, ini aneh" gumam Elfiza, memorinya mengingat satu nama yang sempat tadi disebutkan oleh si pembawa berita selain nama dirinya yang disebut tadi.
"Itu artinya bukan Fahri yang melakukan hal ini" gumam Elfiza kembali, "ya Allah abang" keluh Elfiza setelah otaknya bisa mencerna semuanya.
***
Elfiza tengah menimang benda pipih yang hampir selalu mati itu ditangannya, berpikir sejenak untuk menghidupkan atau membiarkan benda itu tetap mati seperti biasanya, terakhir kali dirinya menghidupkan alat komunikasinya itu seminggu yang lalu, pada saat dirinya menghubungi Fahri, dan gawainya itu terus menerus berdering tanpa henti membuatnya pening, padahal dirinya hanya ingin menghubungi Fahri, sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk menonaktifkan kembali ponselnya dan memilih meminjam handphone buk Rusti buruh petik daun teh, untuk menelpon Fahri.
Dan saat ini dirinya tengah bimbang untuk menyalakan kembali alat komunikasi itu, setelah lama dinonaktifkan, entah akan seberisik apa nanti kamarnya jika dirinya mengaktifkan gawai tersebut, lelah berfikir tanpa menemukan jawaban, akhirnya Elfiza memilih membiarkan handphone itu tetap seperti awal mati, dirinya lantas berdiri dari duduknya, meninggalkan gawainya dimeja nakas samping tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk melaksanakan ibadah isa.
Selepas shalat Isa, Elfiza kembali menekuri handphonenya yang masih setia dia timang, masih dalam kebingungan, entah apa yang membuatnya bingung untuk mengaktifkan benda tersebut.
"Arrrrrrrggggghhhhhh... bodo amat lah, pusing mending cari makan" kesal Elfiza karena dirinya masih tak juga berani menghidupkan ponselnya tersebut, rasa kesal dan lapar menjadi satu kesatuan membuat perutnya berdendang tak karuan, tak ingin menambah beban dalam tubuhnya dia putuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu, mungkin saja selepas dirinya mengisi daya, dia bisa lebih berani untuk mengaktifkan kembali ponselnya itu.
****
__ADS_1
Walau berjalan kaki itu memakan waktu tapi tak membuat Elfiza merasa cape atau takut padahal susana malam di daerah perkebunan cukup sepi, Elfiza malah selalu menikmati saat - saat seperti ini, sendiri dalam senyap sudah menjadi temannya untuk beberapa bulan ini, dan tanpa sadar Elfiza mulai merasa nyaman dengan hal ini.
Terbukti dia begitu menikmati suasana malam yang berkabut semakin tebal itu, jalan setapak yang hanya diterangi lampu jalan yang tak seberapa itu mengiringi langkahnya, menuju tempat dirinya mencari makan malam ini.
Tujuannya satu perutnya harus kenyang malam ini karena dirinya merasa sangat kelaparan, ditengah asiknya berjalan menuju tempat dirinya biasa makan Elfiza kembali mengingat kejadian tadi sore saat dirinya berjalan - jalan diperkebunan.
"Apa mungkin para pekerja kebun teh itu berbisik - bisik mengenai hal ini ya" gumam Elfiza, merasa tak ada jawaban dia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena berpikir itu.
"Ahh sudah lah, biarkan saja itu, tak penting, sekarang yang lebih penting adalah makan" ucapnya berseru sambil mempercepat langkahnya, dirinya tak mau kelamaan dijalan jika tak mau kemalaman pulang.
Seberani - berani dirinya Elfiza tetaplah hanya manusia biasa yang memiliki rasa takut, jika terlalu malam otomatis dirinya lebih memilih menghubungi ojeg untuk mengantarkan dirinya pulang, capek juga pulang jalan kaki, yang ada sampai villa dirinya bisa kembali terserang lapar, karena cukup jauh perjalanan.
***
01.00 wib Elfiza baru bisa merebahkan tubuhnya dikasur tercinta selama hampir dua bulan ini, benar saja apa yang Elfiza pikir tentang hujan yang akan turun, sayangnya harapannya tidak terkabul, baru dirinya menghabiskan 4 tusuk sate hujan sudah mengguyur dengan deras, alhasil Elfiza terjebak di tenda penjual sate.
Empat jam lamanya Elfiza menunggu hujan reda, dua gelas susu jahe sudah habis tak bersisa, dan satu setengah porsi sate ludes dimakan barulah hujan mulai menampakan tanda - tanda akan berhenti, tak menyia - nyiakan waktu akhirnya Elfiza langsung ke pangkalan ojek, setelahnya barulah Elfiza bisa pulang.
Elfiza rasa dirinya baru merebahkan diri tidak ada 10 menit bahkan matanya belum benar - benar terpejam dan jiwanya belum mencapai alam mimpi, gangguan itu malah datang tanpa diminta.
__ADS_1
Ketukan di pintu depan villa terus menuntut untuk dibukakan membuat elfiza geram sendiri, dengan perasaan mangkal dirinya menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dengan kasar, menyempatkan menghentakkan kakinya kelantai setelah menapaki lantai.
Dengan perasaan gondok dan mulut berkomat - kamit tidak jelas Elfiza berjalan menuju arah suara berisik yang menuntut itu, entah siapa yang ada dibalik pintu itu, mengapa tidak sabaran sekali ingin dibukakan pintu olehnya.
"Iya ... iya sebentar, ini lagi jalan" kesalnya karena pintu tak berhenti diketuk, kasian sekali pintunya pasti sakit itu diketuk seperti gedoran begitu pikirnya.
Elfiza meraih kunci yang masih menggantung lubangnya, perlahan membuka kunci sampai terdengar bunyi ctakkkk... sebanyak dua kali, baru lah dirinya menarik tuas pintu.
Yang tak Elfiza sadari sedari tadi adalah selama hampir dua bulan ini tak pernah ada tamu yang berkunjung ke villa itu, apa lagi dengan posisi selarut ini.
Kesadaran itu Elfiza rasakan amat sangat terlambat, karena pintu sudah terbuka dengan lebar dan betapa terkejut dirinya saat mendapati siapa yang menemuinya.
"Akhirnya ketemu juga.."
Deg
Elfiza hanya bisa mematung ditempatnya, semua ini terlalu tiba - tiba sehingga membuat kesadarannya melayang entah kemana hanya ada raga tanpa jiwa yang saat ini tengah berdiri dihadapan sang tamu tak diundang itu.
TBC ..
__ADS_1