My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
MASIH SOAL PUISI DAN SURAT CINTA


__ADS_3

 "Baiklah selanjutnya kita beralih kepanitia yang mendapatkan surat cinta dan puisi terbanyak dulu ya" ucap Tasya semangat.


Saking serunya dengan dunia obrolan mereka, tanpa sadar yang dibicarakan sudah kembali keposisi awalnya.


"Baiklah tanpa berlama - lama lagi kita akan sebutkan siapa yang mendapatkan surat terbanyak kedua" ucap Yudis.


"Ada yang tahu siapa?" Tanya Tasya.


"Kak Yudha"


"Kak Yudha"


"Kak Yudha"


"Kak Juna"


"Kak Soleh"


"Kak Yudis"


Dan masih banyak lagi seruan seruan yang dilontarkan oleh para maba, terutama kaum hawa, begitu antusias.


"Cih... alay sekali" cibir Elfiza pelan, Elfiza memang bukan tipe kebanyakan cewe lainnya. Jadi wajar saja jika menurut perempuan itu hal biasa menurut Elfiza itu tidak biasa dan memalukan.


"Oke yang mendapatkan surat terbanyak kedua ialah... jeng ... jeng... jeng" ucap Yudis membuat para kaum hawa berdebar saja karna ingin tahu siapa pemenangnya.


"Yaitu... Kazuhiko Arjuna Masumokho" ucap Yudis menggema. Lantas sorakan dari para kaum hawa terdengar semakin riuh ditelinga Elfiza.


"Harap tenang ya teman - teman, agar acaranya kondusif" Tasya mulai kembali memperingat para kawanan lebahnya agar tetap kondusif.


Dan beberapa panitiapun mulai kembali mengawasi agar tak terlalu berisik oleh suara - suara tawanan itu, dan acara mulai terkendali kembali walau masih banyak yang berbisik - bisik, mencuri mengobrol dalam waktu belajar.


Efiza dibuat bingung dengan nama itu pasalnya dia baru pertama kali mendengar nama itu, walau nama Arjuna familiar ditelinganya.


"Siapa" gumamnya kecil yang tidak didengar kedua sahabatnya yang kembali fokus kedepan.


Seseorang yang Elfiza kenal maju kedepan untuk mendapatkan hadiahnya, "Kak Juna" gumam Elfiza.


"Trimakasih" jawab Arjuna setelah meneriama pengalungan sebuah medali sank itu.


'Nama yang bagus, pantesan gue ga tahu ternyata itu nama panjangnya kak Juna.' Batin Elfiza.


****


"Untuk kedua pemenang ada kata sambutan kah?" Tanya Tasya, yang dijawab gelengan oleh Yudha.

__ADS_1


"Kalau bang Juna?" Tanya Yudis


Arjuna sedikit berfikir, lantas menganggukan kepalanya, Yudis memberikan pengeras suara itu kepada Arjuna setelah mendapatkan anggukan dari Arjuna.


"Saya cuman mau tanya, yang bikin surat dikertas biru ini siapa?" Tanya Arjuna to the point.


"Disini tidak tertulis nama sipembuatnya makanya saya tidak tahu" ucap Arjuna kembali.


"Ayo siapa yang merasa menulis dikertas biru tersebut angkat tangannya" pinta Tasya membantu kakak angkatanya itu.


Satu detik ....


Dua detik...


Tiga detik...


Hingga detik ke sepuluh tak ada yang mau mengangkat tangannya karna memang tak merasa menulis dikertas biru itu.


"Tidak ada yang mau ngaku?" Tanya Yudis..


Kembali hening yang didapatkan mereka, semua maba saling lirik dan berbisik sambil sesekali melirik kertas yang diangkat tinggi - tinggi oleh Arjuna itu.


"Siapa si?"


"Loe kali"


"Punya Elo kali"


"Siapa tahu lupa"


"Emang apa sih?"


"Penasaran isinya!"


Begitulah bisikan - bisikan yang terdengar oleh beberapa panitia, dan terjadilah kasak kusuk itu, walau satu menit kemudian hening kembali tercipta, saat kakak panitia melotot galak.


"Sepertinya harus dikasih bocoran isinya dulu kak" usul Tasya.


"Baiklah kalau gitu akan saya bacakan" ucap Arjuna santai, matanya mulai melihat kembali huruf demi huruf yang sudah terangkai dalam kertas biru itu.


"Kemmmmhh" Arjuna berdemem sebentar untuk memulai membaca kalimat yang tertera dikertas itu.


"Dia tak pernah tahu jika hidup tengah mengajaknya bercanda, selalu menggelitik hatinya dengan keindahan yang berakhir dengan lelah yang mendera hati karna dituntut untuk kuat" kalimat itu melucur dengan begitu indah dari mulut Arjuna yang tengah membaca surat biru itu.


Deg....

__ADS_1


Jantung Elfiza serasa ditarik keluar dari tempatnya bertengger saat ini, mendangar kata demi kata itu terucap dari mulut Arjuna, 'Itu kata - kata yang pernah gue tulis dari mana dia dapat' batin Elfiza.


"Masih tidak ada yang mau mengaku?" Tanya Yudis setelah Arjuna menghentikan ucapannya, Yudis mengerti kode yang diberikan oleh Arjuna.


'Ayolah keluar dari persembunyian mu' batin Arjuna.


Semua maba saling tatap tak ada seorangpun yang mau mengakuai surat siapa itu, karna merasa tidak menulisnya, entah kenapa seniornya begitu mempermasalahkan tentang surat yang tak berpengirum itu.


"Baiklah jika tak ada yang mau mengaku, kalin semua akan mendapat hukuman dari saya" putus Arjuna akhirnya.


"Dam it!!" Umpat Elfiza tertahan, akhirnya Elfiza mengangkat tangannya, tidak lucu bukan jika semua teman barunya itu dihukum hanya karna Elfiza tak ingin mengakui kesalahannya, itu namanya Egois.


Dengan berat hati ia mengakui apa yang saat ini dipegang oleh Arjuna adalah tulisannya.


"Ok.. kamu silahkan maju" pinta Tasya, Arjuna melengkungkan sudut bibirnya, segaris senyum terkembang disana, bangga sekai sepertinya karna tebakannya itu benar.


'El' batin Yudha dan Yudis berbarengan.


'Jadi dia suka bang Juna' batin Yudis.


'Sejak kapan tu anak suka Juna?' Tanya batin Yudha, matanya terus fokus memperhatikan adik terkecilnya itu, yang terua melangkah mendekat kearah Yudis, Arjuna dan juga Tsya.


"Kenapa tidak dinamai?" Tanya Arjuna setelah Elfiza tepat berada dihadapan Arjuna.


"Maaf kak, bukan itu yang seharusnya saya kasih" ucap Elfiza pelan.


"Lantas mengapa ini yang kami terima?" Tanya Arjuna.


"Saya juga ga ngerti ka, yang seharusnya itu yang ini" ucap Elfiza sambil memberikan kertas berwarna putih kepada Arjuna.


Kertas yang berisikan pantu itu diambil oleh Arjuna, matanya melihat rangkaian kata yang tertulis dikertas itu.


"Sepertinya saya salah memberikan kertas" jujur Elfiza.


"Tertukar tak sengaja" lanjutnya.


"Hah..." Arjuna terbengong mendengar jawaban dari adik sahabatnya itu.


"Bagai mana ceritanya kertas yang putih tertukar dengan kertas biru?" Tanya Arjuna heran, dia benar - benar tak habis fikir dengan adik sahabatnya satu ini, ada aja ngelesnya.


Elfiza mengangkat pundaknya acuh, menjawab pertanyaan dari Arjuna. "Haihhh kamu mah benar - benar, saya jadi bingung mesti ngapain, sudah duduk sana" titah Arjuna.


"Suratnya" pinta Elfiza.


"Duduk jika tak ingin diberi hukuman" tegas Arjuna membuat Elfiza mendengus, tapi tak urung mengikuti titah dari Arjuna.

__ADS_1


"Kak Juna nyebelin" cicit Elfiza sebelum berbalik, dan melangkah kembali ketempat duduk, Arjuna sempat melongo, karna tak menyangka jika Elfiza berani berucap demikian bukannya apa dia hanya takut dua mahluk yang berada disampinya mendengar bisa - bisa kenahukuman lagi anak satu itu, karna dianggap tak menghirnagi dia sebagai seniornya.


🍂🍂🍂


__ADS_2