My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
MASUK RS


__ADS_3

"Uuuhhhh" denyutan dikepala membuat Elfiza terpaksa membuka matanya, rasanya seperti ada yang menindih kepalanya berat dan berdenyut, membuatnya sakit.


"Sayang" ucapan itulah yang pertama kali didengar Elfiza, suara yang sangat familir ditelinganya.


Matanya masih mengerjap - ngerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya, entah dimana ini sebenarnya Elfiza tak tahu. Dia belum bisa mengenali ruangan serba putih ini, ini jelas bukan kamarnya.


"Uuhhh" kembali Elfiza mengerang kepalanya masih tersa sakit.


"Ada yang sakit sayang?" Tanya ibu dengan membelai surai milik Elfiza.


"Kepala ku" jawabnya dengan suara lemah.


"Panggil dokter Dis" titah Yudha yang dituruti Yudis dan langsung keluar dari ruangan itu, mata Elfiza tertuju kearah Yudis, mengikuti pergerakan Yudis hingga Yudis hilang dibalik pintu.


"I..bu ini dimana?" Tanya Elfiza akhirnya dia menanyakan keberadaannya dimana.


"Akhhhhh" baru saja ibu akan menjawab jika saja tak mendapati sang anak yang kembali berteriak.


"Ada apa?" Tanya kedua orang disana siapa lagi kalau bukan ibu dan anak itu maksudnya Yudha yang bertanya secara berbarengan dengan sang ibu cemas mendengar teriakan kesakitan Elfiza.


"Kenapa dinfus, aku ga mau, El mau pulang" pungkasnya lantas terisak karna melihat tangannya diinfus.


Yudha yang mendengar keluhan adiknya, segera kembali keposisinya lagi, nafasnya menghembus dengan lega.


Ternyata Elnya sudah sadar keberadaannya dimana, dan pasti itu yang akan terjadi dengan anak itu kalau tahu dirinya ada dirumah sakit, terlebih menjadi seorang pasien, heboh sudah dirinya itu.


"Dek.. kakak kira kenapa?" Ungkap Yudha sambil menyenderkan bahunya disofa kembali.


"Kamu ini bikin ibu kaget saja" tukas ibu .


"Ibu... aku mau pulang ga mau disini!" Pinta Elfiza.


"Iya nanti, itu kak Yudisnya lagi panggil dokter" bukan ibu yang menjawab tapi Yudhalah yang menjawab.


***


Selang 5 menit dokter yang dipanggil Yudis datang berbarengan dengan sang ayah.


"Bagai mana keadaan putri saya dok?" Tanya ayah


"Sudah lebih baik dari dua hari yang lalu pak, de-"


"APA DUA HARI" ucap Elfiza memotong ucapan dokter pria dihadapannya yang mencoba menjelaskan perkembangan keadaannya kepada sang ayah.

__ADS_1


Karna ucapan tiba - tiba Elfiza membuat semua yang tadinya fokus kedokter pria itu menoleh kearah Elfiza, beserta dokter itu pula.


"Iya, sudah dua hari nona ada dirumah sakit" jawab suster yang ada disamping Elfiza, dia yang menjawab ucapan Elfiza setelah memeriksa infus yang terpasang dilengan Elfiza berjalan dengan baik.


"Emangnya El sakit apa?" Tanya anak itu tak sabaran.


"Nona sakit Typus" jawab dokter pria itu


"Tapi alhamdullilah keadaan anak bapak sudah lebih baik dari dua hari sebelumnya, seperti yang saya bilang tadi, panas nona juga sudah mulai turun" jelas dokter itu.


"Itu artinya El sudah bisa pulangkan dok?" Tanya Elfiza antusias.


"Maaf belum bisa nona" mendengar jawaban dokter pria itu membuat Elfiza merenggut kesal.


Yudha dan Yudia hanya bisa terkekeh secara diam - diam, semua orang tau Elfiza paling tidak suka berurusana dengan rumah sakit atau dokter, apa lagi ada didalam rumah sakit.


"Sabar sayang" ucap ibu mencoba menenangkan anak gadis satu - satunya.


"Tapi bu, kan tadi om dokter yang bilang kalau El sudah baik - baik saja" jawab Elfiza dengan nada kesal.


"Itu artinyakan El bisa pulangkan sudah tidak apa - apa" tambahnya.


"Iya nona memang sudah membaik dari dua hari yang lalu, tapi nona belum dikatakan sembuh, nona masih harus dirawat disini minimal 3 hari lagi, karna trombosit nona masih rendah, jika memaksakan untuk pulang saat ini bisa dipastikan nona akan kembali kesini kurang dari dua jaman" jelas dokter pria itu.


"Tapi El pengen pulang yah, El udah kuat ko ga apa ya, kita pulang sekarang ya ayah" pinta Elfiza memelas sudah dirinya, biasanya jika sudah seperti ini ayahnya akan menuruti semuanya.


"Maaf sayang kali ini kamu harus ikuti apa yang om dokter ucapkan".


"Memangnya harus selama itu ya om, tidak bisakah El pulang sekarang?" Tanyanya bernego kepada dokternya.


"Maaf nona, yang tadi saya katakan jika nona memaksakan maka nona akan kembali kesini" jelas sang dokter.


"Ayahhhh" rengek Elfiza.


"Turuti apa yang dibilang dokter sayang demi kebaikan El juga nak, mau cepet sembuh tidak?" Kali ini ibu yang berkata demikian membuat sang anak kembali merenggut kesal.


Sedangkan kedua kakanya sudah tertawa tak bisa menahan rasa geli mereka melihat adik kecilnya tawar - menawar kepada dokternya, Elfiza hanya bisa diam dan menurut kali ini, meminta bantuan kedua kakaknyapun percuma, karna sedari tadi mereka malah mentertawakan dirinya. Menyebalkan sekali.


***


Dan pada akhirnya Elfiza harus mau dirawat dirumah sakit hampir satu minggu, setiap harinya dirumah sakit dihiasi dengan rengekan Elfiza yang ingin pulang saja.


Ini hari keempat dirinya dirawat diruang VVIV salah satu rumah sakit swasta yang ada diLembang, "Ibu kapan pulang?" Dan pertanyaan itu entah untuk keberapakalinya dalam satu hari ini dilontarkan oleh Elfiza.

__ADS_1


"Setelah dokter bilang boleh" untuk kesekian kalinya, jawaban yang sama yang terucap dari mulut ibu, kali ini tanpa embel - embel sayang diakhir jawaban mungkin sudah kesal menjawab pertanyaan yang sama terus sedari tadi.


Dan untuk kesekian kalinya pula jawaban itu membuat Elfiza kesal, tak ada kepastian sama sekali atas jawaban itu menurut Elfiza, sebab dirinya merasa ia sudah sembuh, tapi dokter melarangnya untuk pulang.


'Ini mah dokternya memang pengen duit nih, masa pasien sudah sembuh tidak boleh pulang mulu' kesal hati Elfiza.


Tak beraelang lama pintu ruang rawat Elfiza diketuk dari luar dan setelah dipersilahkan masuk, beberapa teman sekolah Elfiza berebutan untuk masuk.


Rusuh suda ruangan yang sedari tadi damai itu, semua biang masalah ada diruangan itu, membuat ruangan itu seketika ramai.


Untung ruangannya kelas VVIV hanya satu kamar yang tersedia, tidak seperti klas 2 atau 3 yang dihuni beberapa kamar dalam satu ruangan, jika itu yang terjadi maka sudah dipastikan teman - teman Elfiza akan diusir dari ruangan itu. Ahh salah bukan lagi dari ruangan itu tapi dari rumah sakit itu.


Beruntungnya ini kamar VVIV yang ditempati Elfiza, "Bisa tidak kalian tidak berisik?" Tanya Siska sedikit mengencankan suaranya kesal.


"Loe juga berisik teriak - teriak ini kan rumah sakit" tukas Indra tak terima jika mereka dibilang berisik sedangkan cewe cempreng disebelah Kezia itu pun sama berisiknya.


"Apa" ucap Siska yang tak terima.


"Sudah - sudah" ucap Kezia menengahi mereka semua, memang dia salah besar membawa temannya ketempat ini.


'Harusnya gue bukan bawa mereka kesini tapi kekebun binatang, kehabitat mereka masing - masing' keluh batin Kezia.


"Maaf ya tan" ucap Kezia meringis, menahan malunya.


"Tidak apa - apa Kez, tante mala seneng kalian jenguk El, jadi El ga jenuh disini, soalnya dari tadi dia minta pulang mulu, pusing tante dengernya" ucap ibu, mendapat kekehan dari Kezia.


Kezia dan Siska memang tau betul sahabatnya itu tidak suka rumah sakit, akan sangat jawar kalau mendengar tante mengeluhkan keluhan Elfiza yang ingin pulang.


"Siapa tau aja dengan kalian disini dia tidak minta pulang mulu, soalnya dokter masih melarangnya pulang" jelas ibu kembali.


"Memangnya El sakit apa tan?" Kali ini Alif yang bertanya, ya Alif juga ikut menengok Elfiza, walau dari kelasnya hanya ada dirinya, Nanda, dan Kelfin saja, cukuplah kalau hanya untuk perwakilan.


"Typus Al" jawab ibu, ibu memang sudah kenal dengan Alif, karna Alif adalah salah satu sahabat Elfiza saat dipangandaran dulu.


"Wahhh, kebanyakan begadang ya loe?" Tanya Kelfin, yang dihadiahi pelototan oleh Elfiza.


"Bisa dari semua faktor nak, salah satunya ya begadang itu" ucap ibu.


"Terus kapan aku pulangnya bu?" Tanya Elfiza kembali.


Ibu kira sudah lupa sama pulang karna ada teman - teman yang menjenguk, nyatanya masih inget saja dasar anak gadisnya itu tak sabaran.


"Kan ibu sudah bilang kalau dokternya sudah bolehin El pulang, nanti El bisa pulang sayang" jawab ibu sesabar mungkin.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2