
Kukuruyuuuk.... kukuruyuuukk...
06.00 wib Elfiza sudah siap dengan semua alat tempurnya, hari ini adalah hari terakhir ospeknya, batinya terus bersorak sorai gembira. Karna sebentar lagi akan terbebas dari yang namanya penjajahan.
Hiphip huray... hiphip huray seperti itulah mungkin sorak sorai kegambiraan batinya saat ini, bahkan hatinya dipenuhi dengan taburan kertas warna - wani yang berasal dari confetti yang diletupkan oleh otaknya.
Saking bahagianya dia hari ini hingga senyumnya selalu terbit membuat siapa saja yang melihatnya merasa senang melihat gadis itu menebar senyum.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia hari ini. Emang ada apa hemm?" Tanya ayah membuyarkan lamunan anak gadisnya.
"Palingan juga seneng karna engga kesiangan yah" celetuk Yudha membuat Elfiza mendengus tak terima.
"El udah bisa bangun pagi ko" ketusnya.
"Yayaya" balas Yudha sekenanya, malas ribut dengan adiknya satu ini, bisa panjang urusan dan bisa berakhir diceramahi ibunya nanti.
"Memang ada apa sayang?" Kali ini ibu yang bertanya pada Elfiza.
"Hari ini kan terakhir ospek" jawab Elfiza girang.
"Lah terus apa hubungannya?" Tanya Yudis tak mengerti.
"Ya senenglah itu artinya besok - besok aku sudah merdeka.. Yes" ucap Elfiza senang.
"Dih senengnya, belum tahu aja kalau hari terakir itu biasanya paling sulit dilewati" ujar Yudha.
"Bener tu bang" timpal Yudis.
"Biar aja yang penting ini hari terakhir ospek, itu yang terpenting" tegas Elfiza.
"Nya sakarep maneh wae dek (iya terserah kamu aja dek)" ucap Yudha.
"Sudah - sudah cepet makan keburu siang" titah ayah yang dituruti oleh ketiganya.
"Dek kamu bareng kakak aja ya hari ini" ucap Yudis kepada adiknya.
"Ngapain aku bareng kak Yudis?" Tanya Elfiza.
"Kok malah bilang ngapain sih" keluh Yudis.
"Ya engga tumben aja gitu kakak ngajak bareng aku, biasanya juga boro - boro ngajak bareng, selalu pergi duluan" cerocos Elfiza.
"Ye.. emang kamu mau sampai telat?" Tanya Yudis.
"Engga bakalan telat ko. Kan biasanya juga aku bareng si denok dan ga pernah telat tuh" ucap Elfiza.
"Kamu lupa ya kan si denok mu lagi diservis" Yudha mengingatkan Elfiza jika si denoknya masuk bengkel karna sudah masuk waktu servis dan kemarin dia kesana sudah waktunya tutup, dan baru saja pak Kardi jalan untuk bawa sidenok servis.
"Oh iya.. ya sudah aku bareng kak Yudis kalau gitu" ucap Elfiza semangat.
"Semangat sekali sih, biasanya juga paling males kalau berangkat bareng kakak - kakaknya" ucap ibu.
"Kan udah adek bilang ini hari terakhir ospek bu jadi harus semangat" ujar Elfiza berseru.
Membuat yang ada dimeja makan geleng - geleng kepala saja, karna melihat tingkah laku adik dan anak perempuan mereka satu - satunya itu.
****
Ternyata keceriaan Elfiza berakhir setelah dia memasuki lapangan kampus, ternyata benar yang diucapkan Yudha tadi pagi kalau hari terakhir itu hari yang paling berat.
Terbukti dengan raut wajah tiga serangkai itu yang masam, sepertinya sudah sangat muak menjalani kegiatan itu, dan sangat ingin cepat usai.
Bahkan kedua kakaknya pun seperti tak memiliki hati karna ikut menyuruh ini dan itu, membuat ketiganya ribet dengan hukuman dan suruhan - suruhan yang menurut mereka tak masuk diakal itu.
'Sial' umpat hati ketiga gadis itu berbarengan karna kesal.
Semuanya tampak sangat menyebalkan untuk mereka, semua senior tampak garang hari ini tak ada yang berbaik - baik pada mereka.
Untuk Tania dkk jangan ditanya lagi, setiap ada kesempatan disitu mereka bisa menjahili ketiganya yang memang tidak pernah tanggung saat menjahili ketiganya.
***
Elfiza tengah berada diroftof salah satu fakultas, entah fakultas apa Elfiza juga tidak tahu, hanya saja dirinya memilih roftof untuk mengistirahatkan dirinya yang terasa lelah.
Apa lagi dia butuh inspirasi saat ini, sebelum istirahat makan semua maba mendapatkan tugas untuk membuat surat cinta ataupun puisi yang bertemakan perasaan siempunya surat, ya pada intinya mengutarakan perasaan untuk seseorang.
Para panitia memberikan waktu 45 menit untuk mereka menulis dan membebaskan mereka mencari tempat, Untuk menulis surat atau puisi cinta itu, jadilah Elfiza berada diroftof salah satu fakultas.
"Bikin apa ya" fikirnya sambil mengetuk ujung penanya kebagian pelipisnya.
"Pasti Siska dan Kezia sudah selesai, sial para panitia itu mau istirahat saja bisa - bisanya buat mutet gini haisss" cerocos Elfiza kesal.
Elfiza kembali membuat goresan dalam bukunya, namun kembali dicoret kata - kata itu, ahh rasanya jika sedang dibutuhkan malah tak muncul kata - kata itu diotaknya.
__ADS_1
'Apa gue harus melow dulu baru bisa ya itu kata - kata menluncur' gumam hati Elfiza.
...🌺 Saat hati bekerja tak sesuai perintah otak, fikiran tak lagi sejalan dengan apa yang otak inginkan 🌺...
...🌺 Saat intuisi mengatakan untuk menyerah, namun raga ini memilih untuk tetap tinggal dan terus berjuang 🌺...
...🌺 Saat logika berkata tidak namun firasat mengatakan iya 🌺...
...🌺 Lantas apa itu hanya fata morgana dunianya yang tak ingin semua ini berakhir, atau kah memang hatinya masih terpenjara antar dimensi ruang dan waktu 🌺...
Goresan dalam kertas biru itu sudah terlipat dengan manis menjadi sebuah pesawat yang apik.
"Nah kenapa gue malah bikin pesawa ya" gumam Elfiza
"Memang sepertinya kau harus terbang" gumam Elfiza setelahnya dia benar - benar menerbangkan pesawat itu.
"Gue harus turun" lantas Elfiza bergegas turun, tanpa dia sadari pesawat itu kembali mendara diatas kepala seseorang.
"Pesawat kertas, datang dari mana?" Seorang pemuda celingukan kekanan dan kekiri serta mendongak keatas.
"Kenapa gue sering nemuin pesawat kertas yang isinya macem - macem gini ya tulisannya" gumamnya dan dia masih celingukan untuk mengetahui siapa yang menerbangkan pesawat itu.
"Tunggu dulu" gumamnya lagi.
"Sama, sama persis... tulisannya sama seperti dikertas - kertas ini, itu artinya penulisnya orang yang sama dengan tulisan dikertas biru ini" cerocos pemuda itu kembali.
"Ahhh jadi makin ingin ketemu sama orang itu, ko bisa nulis rangkaian kata seperti ini ya" gumamnya kembali lantas berjalan menuju aula.
****
"Sudah kumpul semua?" Tanya Yudha kepada Soleh salah satu panitia.
"Sudah bang" jawab Soleh singkat yang diangguki Yudha.
"Apa tugas yang kami suruh sudah kalian buat?" Tanya Yudha tanpa basa basi, seperti biasa orang satu ini selalu to the point saja, sepertinya tipikal orang yang tidak suka berbasa basi.
"Sudah kak" jawab segerombolan anak SMA yang akan berhibernasi itu.
Saat ini Elfiza dan seluruh mahasiswa baru itu sedang dikumpulkan diaula, "Gue benci keramaian" keluh Elfiza pelan yang masih bisa didengar kedua sahabatnya yang berada disamping kanan kirinya.
"Gue juga baru tahu kalau ramai kaya gini bikin pusing" jawab Kezia pelan.
"Nahkan kerasa loe" sergah Elfiza pelan ditengah keramaian penduduk bumi yang haus akan ilmu itu.
"Sepertinya bukan hanya penduduk bumi deh yang berkumpul disini, para alien dari pelanet lain juga kayanya ikut menyerobot antrian berkumpul disini" cicit Elfiza pelan semakin mengeluh.
"Ga seramai pasar juga kali El" tambah Kezia.
"Ok jika memang sudah, Tan, Mel, Jun tolong ambil dan kumpulkan didepan" ucapan Yudha kembali mengalihkan perhatian mereka.
"Abang loe coll" bisik Kezia
"Kulkas kali ah" ucap Elfiza santai.
"Haisss.. loe mah mana tau yang coll - coll kaya abang loe itu ya ga Sis" yang diberi jempol oleh Siska.
"Kenapa sih loe suka?" Tanya Elfiza yang dapet cengengesan dari Kezia, Elfiza hanya mendegus saja.
"Apa maksudnya itu?" Cicit Kezia.
"Engga cuman kayanya abang gue mikir dua kali deh buat jadian sama loe" ucap Elfiza.
"Sialan loe" tukas Kezia kesal walau masih dengan cicitan.
Elfiza terkekeh saja mendegar gerutuhan dari sahabatya itu. "Huss... berisik mau kena semprot ama tu moster lagi? Gue sih ogah ada drama - drama lagi cape gue dihukum mulu" ucap Siska membuat Kezia dan Elfiza langsung terdiam.
"Sudah semuakan? Harus ada namanya ya, dan satu lagi kalau surat cinta harua ditulis untuk siapanya, nanti diakhir acara akan diumumkan siapa pemenangnya" jelas Tania ramah.
"Kok gue geli ya denger dia ngomong gituh" ucap Siska.
"Sok ramah" tambah Kezia.
"Jadi ilfil" kembali kezia berucap, membuat kedua sahabatnya itu megangguk - anggukan kepala tanda setuju.
"Ok.. kalian bisa lanjutkan istirahat kalian, atau mencari teman baru, jangan lupa solat dan makan siang ya, setelah bel kalian kembali keaula" titah seorang panitia yang tadi Yudha sebut dengan Soleh.
****
Kantin kampus..
"Ayang embe gue kangen" ucap Fahri setelah mendudukan dirinya dikursi kantin tepat dihadapan tiga serangkai itu.
"Tumben baru keliatan tutup toples?" Tanya Siska.
__ADS_1
"Ehhh.. nenek sihir mulut loe" ketua Fahri pada Siska,Siska hanya memutar bola matanya malas.
"Gue tuh cape banget pengen rasanya ni hari selesai, udah rindu kasur gue.. gue juga lelah kaga bisa ketemu loe ayang mbeb" keluh Fahri.
"Loe pikir cuma loe doang yang cape plangton" tukas Kezia.
'Wadu sepertinya mak lampir lagi sensi' batin Fahri 'Mending ga usah cari perkara' kembali Fahri membatin.
"Udah mending pesen makan gih Ri, laper nih" titah Elfiza.
"Ok deh mbeb, mbeb mau pesen apa?" Tanya Fahri.
"Bakso sama es lemon tea" jawab Elfiza menyebutkan pesananya.
"Ok deh"
"Ehhh curut, cuman Elfiza aja yang loe tanya emang gue sama si Siska ga loe liat" tukas Kezia kesal.
"Eh ember bolong, ngegas aja loe kalau ngomong, belum juga gue cabut, nafas dulu ni baru gue ngomong" tukas Fahri tak kalah sengit, Elfiza hanya geleng - geleng kepala aja.
"Udah loe berdua mau pesen apa?" Tanya Fahri.
"Samain aja biar ga ribet" ucap Siska yang mendapat anggukan dari Fahri setelahnya Fahri menghilang dibalik kerumunan para maba yang kelaparan.
Sedangkan ditempat lain...
"Gimana kerja kalian beres?" Tanya Tania kepada kedua sahabatnya itu.
"Rebes pokonya" jawab Selly.
"Ini bakalan jadi bumm pokonya" tambah Mela.
"Bagus" senyum seringai diterbitkan oleh Tania.
"Kita liat anak curut, seberapa kuat loe ngadepin gue. Loe berani main - main sama gue dan rasakan apa yang akan gue lakukan ke loe" ucap Tania berseriangai.
"Gue yakin pasti kedua kakaknya itu bakalan murka" tambah Mela.
"Tapi kalau sampai ketahuan kita yang rencanain ini semua gimana Tan?" Tanya Selly.
"Gue ga mau ya pulang hanya tinggal nama doang, kayanya Yudha sama Yudis sayang banget sama tu anak" tambah Selly.
"Ya jangan sampai ketahuan lah dodol" tukas Mela.
"Awas aja kalau loe berdua lakuin kesalahan, kalian tanggung resikonya" kelekar Tania pada kedua sahabatnya itu.
Membuat Mela dan Selly merinding ngeri, pasalnya mereka tahu siapa Tania, setiap keinginannya haruslah menjadi kenyataan, dengan cara apapun tak masalah untuknya yang terpenti dirinya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Maka bisa dipastikan seberapa mengamuknya singa betina itu jika sampai rencananya itu gagal.
***
Dan ditempat yang lainnya...
"Ayo periksa semua tugas mereka" seru Jendra antusias, beberapa panitia yang bertugas memeriksa tugas yang dikumpulkan oleh maba tengah sibuk, memeriksa satu persatu.
"Gue penasaran deh apa yang dibuat El" gumam Yudha pada Yudis.
"Kenapa loe ga cek aja punya adik kesayangan kita itu bang" titah Yudis.
"Bukan gue yang pegang punya dia dek" keluh Yudha.
"Gue juga ga pegang" jawab Yudis, membuat keduanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Dieloe ada ga Jun?" Tanya Yudha.
"Gue juga sama penasaran tapi bukan di gue" jujur Arjuna.
Kembali helaan nafas itu terdengar, terlihat sekali ketiganya kecewa karna tak menemukan apa yang mereka inginkan.
"Pasti dipanitia lain" ucap Yudis, Arjuna memilih keluar dari ruangan itu sambil membawa sebuah kertas berwarna biru, lain dari pada kertas yang lainnya itu.
"Gue masih penasaran siapa yang nulis puisi ini kok ga ada namanya ya" gumam Arjuna.
"Untuk siapanya aja ga ada" tambahnya lagi.
"Tunggu" ucap Arjuna merogoh saku kemejanya, dan membuka kedua kertas itu satu berwarna kuning dan satu berwarna putih.
Lantas Arjuna menjejerkan ketiga kertas yang berbeda warna itu, sesekali Arjuna menelisik tiap kata dikertas - kertas lecek itu.
"Sama persis, itu artinya dia orang yang sama yang menulis ini" ucap Arjuna.
"Itu artinya dia maba disini, jika tebakan gue benar" senyum Arjuna mengembang, tanpa melanjutkan kata - katanya dia melenggang pergi dari sana dengan membawa kertas - kertas itu yang kembali dilipat olehnya.
__ADS_1
"Gue harus pastiin sendiri" gumamnya seraya berjalan menyusuri lorong koridor.
🌰🌰🌰