My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
HBD KEZIA


__ADS_3

****


"Ampun deh Kezia, teledor banget dah, bukan masalah uang dua ribunya, tapi malunya itu loh, lagian tu dompet pake acara ilang segala macem" grutuh Kezia sepanjang perjalanan.


"Sumpah ga tahu deh ini hari gue lagi kenapa coba" kesel Kezia.


Setelah sampai rumah pun Kezia masih dibuat kesal karna dia tak bisa menemukan kunci rumah yang biasa dirinya pakai untuk membuka rumah, jika mamahnya sedang keluar.


"Ini pasti si bibi salah nyimpen kunci cadangannya deh, dimana sih nyimpennya" kesal Kezia nyerocos.


Karna sudah lelah dan merasa gerah ingin sekali mandi, akhirnya Kezia mengeluarkan keahliannya yang memang banyak diketahui orang - orang terdekatnya.


"Mau ga mau manjat" guamam Kezia.


Akhirnya dia memanjat pohon mangga untuk bisa sampai kebalkon kamarnya, 'Mudah - mudahan ga ada yang ngira gue maling deh' batin Kezia.


Setelah perjuangannya usai hanya untuk memasuki rumahnya sendiri, akhirnya Kezia bisa masuk juga kedalam kamarnya, dia segera melakukan apa yang menjadi keinginannya tadi.


Jam sudah menunjukan 20.30 wib saat Kezia tiba dikamarnya, dia benar - benar lelah ingin membaringkan tubuhnya yang lelah, tapi apalah dayanya tubuhnya begitu lengket, memaksa gadis itu untuk membersihkan dirinya dulu sebelum merebahkan tubuhnya dikasur tercinta.


Dan ternyata dewi kesialan tengah menguji kesabarannya hari ini dengan membuat dirinya sial terus, Kezia punya kebiasaan yang sedikit unik saat mandi sambil kramas, dia akan mengkramasi rambutnya terlebih dahulu setelah bersih baru lah dia merendam tubuhnya dalam bathtub, Kezia asik memberi shampo pada rambutnya sambil sesekali memijat kepalanya yang terasa berat itu.


Sambil bersenandung yang tidak jelas Kezia menyalakan shower, beberapa kali dia memencet tombol showernya tapi tak setetes airpun keluar dari sana, Kezia beralih ke wastafel yang terletak disebelahnya, hasilnya sama nihil tak ada air sama sekali.


"Hais ada apa lagi ini, mata gue udah perih gini" keluh Kezia, dia berusaha berjalan dengan meraba - raba, untuk bisa mencapai pintu keluar kamar mandi.


Beruntung dia masih menggunakan baju handuknya, jadi dia tak usah susah - susah meraba baju handuk itu untuk dikenakannya lagi, Kezia berusaha keluar dari kamarnya, dan melagkah hati - hati untuk ke lantai satu, tujuannya adalah dapur, siapa tahu ada air disana, untuk membilas rambut dan wajahnya itu.


"Loh neng Kezia" suara seseorang mengagetkan Kezia seketika itu langkahnya terhenti.


"Kenapa rambutnya berbusah begitu?" Tanya polos si bibi.


"Bibi dari mana? Kok tadi Kezia pulang bibi engga ada?" Kezia malah balik nanya.


"Bibi ada ko lagi setrika baju" jawab si bibi.


"Terus kenapa Kezia pencet bel ga dibukain pintunya?" Tanya Kezia lagi


"Maaf neng tidak terdengar" jawab si bibi.


"Gara - gara bibi Kezia sampai manjat pohon tahu, masa mau masuk rumah sendiri aja udah kaya maling pake manjat - manjat segala" kesal Kezia, yang tak memperdulikan matanya yang semakin perih, dia ingin meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Setelah sadar dia baru merasakan kembali pedih dimatanya "aduhhh, bibi emangnya listrik mati ya?" Tanya Kezia


"Tidak ko neng" jawab bibi


"Lah terus kenapa ko air tidak ada?" Tanya Kezia


"Maaf neng bibi lupa belum bayar air pam jadi ya mati" jawab bibi.


"Ahhh si bibi mah ada - ada saja, terus ini gimana nasib ku, mana pedih lagi" keluh Kezia.


"Sini bibi bantu, pakai air dari dispenser aja ya" ucap sibibi karna tak ada pilihan lain akhirnya Kezia menurut.


Dengan mata yang tertutup Kezia mengikuti langkah si bibi yang menuntunnya, yang ada dalam fikirannya saat ini adalah cepat - cepat sampai dapur dan membasuh mukanya karna matanya benar - benar pedih.


Tanpa Kezia tahu ternyata sibibi membawa Kezia bukan kedapur melaikan ke kolam renang, disana sudah banyak orang yang tengah menungu mereka berdua terutama sang bintang malam ini.


Ada beberapa teman kampusnya juga disana yang setia dengan memegang confetty mereka, siap kapanpun untuk meletupkan confetty itu. "Bi sudah sampai atau belum sih?" Tanya Kezia yang sudah tidak sabar ingin segera membilas wajahnya.


"Sebentar lagi neng" jawab sibibi.


Setelah sampai disamping kolam, sibibi melepaskan genggaman tanganya dari anak majikannya itu, "loh bi mau kemana?" Tanya Kezia.


"Mau ambil airnya dulu neng" jawab si bibi yang lantas menjauh dari Kezia dan digantikan oleh Elfiza dan Siska.


Byurrrrr.....


Begitulah suara tubuh yang didorong kedalam kolam renang membuat suara tercubur yang nyaring lantas air menjadi briak dengan berglombang macam ombak yang sangat kecil hantamannya.


Kezia sedikit kesusahan tapi untungnya dia jago berenang, sedikit linglung dia membuka matanya mengosok - gosokan kedua telapak tangannya kewajah agar menghalau air dan sisa busah shampo dirambutnya.


Entah siapa yang berani - benraninya mendorong dirinya kekolam renang, Kezia nampak kebingungan setelah dia tersadar seharusnya dia ada didapur bukan kolam renang, perasaannya sedari ditinggal sibibi dia tak berpindah posisi sedikitpun, tapi kenapa dirinya ada dikolam renang.


Duar.... duarr...


Mungkin serti itu suara confetty yang diletupkan beriringan suara ledakan yang memekakan telinga dari kembang api yang dinyalakan oleh Fahri, diatas langit bertuliskan kata happy brithay itu yang sama sekali tak dilihat oleh Kezia.


Dia masih shok dengan apa yang terjadi, kalau saja lagu dari jambrud tak mengalun dari salon yang sengaja dipasang oleh orang tua Kezia, mungkin Kezia tak akan faham situasi saat ini.


Sumpah inginnya sih dia marah - marah menumpahkan kekesalannya, setelah dia tahu ternyata kesialannya itu adalah ulah dari teman - temannya, namun rasa bahagia dalam hatinya mampu menghilangkan rasa kesalnya terhadap harinya yang kacau ini.


"Selamat ulang tahun anak mamah, jadi anak yang solehah ya nak" doa mamah Diani untuk anak semata wayangnya

__ADS_1


"Gadis kecil papah sudah dewasa, selamat ulang tahun ya sayang, selalu jadi Kezia yang papah sayang ya nak" harapan papah Siswanto.


"Trimakasih mah, pah" ucap Kezia lantas mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan mencium pipi kedua orang tuanya, walaupun tak bisa memeluknya karna kondisinya yang basah kuyup karna dijeburkan kedalam kolam, beruntung baju handuk yang dikenakannya tetap menempel dengan sempurna kalau tidak entah bagai mana jadinya dia menahan malu, karna dia tak memakai sehelai benagpun terkecuali baju handuk itu yang menutupi area tubuhnya.


"Selamat ya sayang sahabat gue udah tuir" ucap kedua gadis itu berbarengan.


Kezia mendengus karna bisa dipastikan ide gila ini tercipta dari salah satu kedua gadis itu.


"Loe ngucapin selamat tanpa mau meluk gue gitu" ketus Kezia.


"Sorry sayang gue ga bawa baju ganti" dibuat - buat sendulah itu ucapan oleh Siska agar Kezia mau memahaminya.


"Maaf sayang gue baru aja ganti baju" Elfiza memelas agar Kezia juga bisa memahaminya.


"Oh begitu kah? Ok deh" ucap Kezia


"Thanks ya" lanjut Kezia, karna merasa aman Elfiza dan Siska mulai mendekat kearah Kezia, mereka lengah karna Kezia memang masih berada dipinggir kolam.


Tak mau basah sendirian akhirnya Kezia menarik lengan kudua sahabatnya, satu tangan satu lengan sahabatnya. Dan ketiganya kembali tercebur kekolam renang, ya mau bagai manapun Elfiza dan Siska basah kuyup jadinya.


Semua orang mentertawakan kelakuan mereka, "loe mah tega kan gue udah bilang, gue ga bawa baju" kesal Siska


"Tahu nih, gue baru aja mandi masa mandi lagi" keluh Elfiza


"Sekali - kali ikut ngerasain gimana rasanya dijahilin kawan" ucap Kezia santai sambil berenang kepinggir kolam.


"Dasarrrrr" grutuh kedua gadis itu.


"Lagi pula baju dilemari gue ada banyak jadi kalau alasannya baju ya tinggal pilih aja" santai saja Kezia berbicara demikian sambil melangkah kearah temannya yang lain yang sedari tadi membawa kue tart yang sudah dinyalakan lilinnya.


"Tiup dulu Kez" titah Deka teman satu fakultasnya.


"Selamat ya cewe kurang peka" ucap Deka.


"Thanks Dek" jawab Kezia.


Sambil mencomot krim yang ada dikue tart itu lantas membubuhkannya diwaja Deka, tak terima dibegitukan Deka berusaha mengejar Kezia yang berlari kearah Fahri, karna gesit menghindar akhirnya kue yang seharusnya nemplok diwajah kezia malah tercetak manis diwajah Fahri yang tampan menurutnya.


Tak terima dengan itu akhirnya Fahri ikut membalasnya dengan mengejar Deka dan kejadian serupapun terjadi, dan pada akhirnya mereka semua pesta melempar kue tart yang sudah tak berbentuk rupanya itu.


Papah dan mamah Kezia hanya bisa menggeleng saja melihat tingkah anak dan teman - teman anaknya itu tenga bersenang - senang dengan makanan, untuk kali ini mereka membiarkannya tapi lain kali tentu tidak, sayang karna makanan itu untuk dimakan bukan dilepar sana sini.

__ADS_1


🎉🎉🎉🎉


__ADS_2