
#Hati-hati banyak typo bertebaran . maafkan 🙏🙏🙏🙏🙏
🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜🌜
"Masih ada lagi ga?" Tanya Sri yang sedang membereskan beberapa aksesoris Elfiza.
"Udah ga ada loe bantu gue dah bentar" pinta Elfiza.
"Ok".
Saat Sri dan Elfiza tengah sibuk membereskan semua barang Elfiza untuk dipakingnya, Yunia dan Zia membuat mereka tersentak kaget karna kedatangan merek secara diam - diam tak bersuara dan tiba - tiba saja sudah berada disamping mereka.
"Mana yang harus gue bantu beresin?" Tanya Zia berbisik pada Elfiza.
"Akkkkhhhhh..." teriak Elfiza dan disusul teriakan mereka berempat yang sampai mengundang Yudis datang menghampiri kamar adiknya itu.
"Ada apa?" Tanya Yudis kaget
"Nih, mereka berdua kelakuannya bikin kaget aja" dengus Elfiza.
"Sory Dis" ucap Zia pada Yudis
"Hais.... kalian tu bikin kaget aja gimana kalau ibu atau ayah denger" tegur Yudis
"Maaf deh .... " ucap Yunia.
"Ya udah lanjut lagi gue tinggal, mana sini dek yang mau kakak bawa turun?" tanya Yudis, Elfiza memberikan dua kardus yang sudah rampung ia paking tadi hanya tinggal sisa beberapa barang saja yang belum dia paking.
"El, loe beneran jadi ikut pindah ?" tanya Yunia disela aktivitasnya memasukan barang dalam kardus.
"Iya jadi dong ini kan gue lagi paking ka" jawab Elfiza santai.
"Yah berarti kita susah buat ketemu dong" kini giliran Zia yang berbicara.
"Kalian kan masih bisa main kesana dan gue juga masih bisa main kesini" ucap Elfiza kembali.
"Emangnya loe ga bisa ya tinggal disini aja jangangan ikut pindah?" tanya Sri.
"Kalau loe bisa bujuk bokap atau abang gue mungkin gue stay disini" jawab Elfiza sambil menaik turunkan alisnya menggoda Sri.
"Ya kali gue berani " ucap Sri tak berkutik Elfiza mengulum senyumnya.
"El, apa keinginan loe untuk pindah semua karna dia?" Tanya Yunia, pasalnya semua sahabatnya tau jika memang keluarga Wira Atmaja akan pinda tapi mereka tau jika Elfiza takan ikut karna awalnya dia sudah membujuk ayah dan ibu serta kakaknya untuk ia tetap stay disini karna ia ingin menamatkan sekolah menengah atasnya bersama teman - temanya.
Tapi entah kenapa Elfiza malah membatalkan itu semua dan ikut bersama keluarganya pindah, karna tidak mungkin ayahnya bulak balik lembang pangandaran karna perusahaan pusat berada disana.
__ADS_1
Dan jadilah ia bersibuk ria hari ini bersama ketiga sahabatnya untuk keberangkatan sore nanti.
"Mungkin gue bisa dibilang pecundang ka, tapi sungguh gue ga bisa tinggal ditempat yang banyak kenangan manis bersama dia" jujur Elfiza pada akhirnya, pada akhirnya semua sahabatnya tau jika Elfiza tak lagi bersama dengan Nano dan bahkan Yudispun tau tanpa sepengetahuan Elfiza, Yudis mendatangi Nano dan perkelahian itu pun terjadi.
Flasback on....
"Udah gue bilang berulang kali sama loe, jangan sampe buat sakit tapi loe malah buat dia nangis hahhh" bentak seseorang kepada Nano sembari meraih kerah kemejanya siapa lagi orang itu kalau bukan Yudis.
"Dan loe sahabat macam apa loe yang nusuk sahabatnya dari belakang?" Tanya Yudis penuh emosi pada Nadin, Nadin hanya tertunduk dan tak mampu berkata apapun karna semua ucapan Yudis benar adanya.
"Dis gue minta maaf gue ga bermaksud buat nyakitin El sama sekali, gue juga ga tau kenapa gue bisa sampe kejebak cinta, loe jangan salahin Nadin semua salah gue" ucap Nano lirih karna ia tau kesalahannya jadi Nano tak mengelak akan hal itu.
"Alahhh ... B***t .. loe".
Buugghhh...
Bugghhh...
Buughhh..
Beberapa pukulan melayang megenai wajah Nano, kala itu Nano hanya diam dia tau kesalahannya dan dia aka terima konsekuensi atas perbuatannya dan itu pula sebagai bentuk permintan maafnya untuk Yudis bagai manapun Elfiza adalah adik dari sahabatnya.
"Gue udah pernah bilang kalau cuman untuk mainin persaannya loe jangan deketin dia, tapi apa loe ga pernah dengerin gue dan bodoh nya gue percaya sama manusia macam loe" bentak Yudis...
Bugggg ..
"Cukup ka gue mohon cukup bukan cuma ka Nano yang salah gue juga salah" ucap Nadin diiringi dengan tangisan.
"Jauhin adik gue kalau loe sampe berani deketin dia lagi loe tanggung sendiri akibatnya" ucap Yudis berlalu pergi begitu saja meninggalkan Nano yang penuh dengan luka bekas tonjokan.
Yudis menghentikan laju motornya dia memarkir motornya disebuah jembatan Yudis tak berani berkendara dalam keadaan emosi yang masih meluap dalam dirinya ia takut seauatu akan terjadi dia masih menyayangi nyawanya, tangannya ia kepalkan dan beberapa kali terdengar hembusan nafas beratnya.
'Kenapa mesti kamu si de yang harus ngerasain hal itu, gue juga g*b*k, kenapa gue ga cegah kedekatan mereka' batin Yudis merutuki kebodohannya.
Tangannya tersa sakit dan ngilu setelah beberapakali meninju Nano tapi lebih sakit hatinya kala ia melihat dengan jelas air mata yang mengalir yang berusaha Elfiza tutupi darinya saat ia mempregoki adik kecilnya menangis, Ia merasa sudah gagal menjadi seorang kakak tak bisa melindungi adiknya.
Yudis benar - benar kalut hari itu dan ia benar - benar berjanji untuk menjaga adiknya lagi dan menjauhkannya dari sahabat kurangajarnya yang dengan tega menghancurkan hati adiknya.
Flasback off....
"Tapi dengan ini gue setidanya bisa mencoba untuk melupakannya ka" ucap Elfiza kembali setelah keheningan melanda mereka berempat saat ucapan pertama Elfiza keluar.
"Kita semua faham ko El, jika emang itu keputusan loe kita semua ikut jika loe bahagia kita semua pasti seneng dan bahagia" Sri paham betul appa yang saat ini dirasakan sahabatnya itu.
"Thanks kalia udah mau ngertiin gue dan selalu ada disaat masa tersulit gue" ucap Elfiza lirih berterimakasih.
__ADS_1
"Itulah gunanya sahabat El, bukan macan cewe sok polos itu" Geram Sri diakhir kalimat menggebu.
"Iya ular berkepala dua " tambah Zia
"Medusa kali ah" canda Elfiza.
"Musuh dalam selimut" timpal Yunia tak mau kalah berkontribusi menjelekan mantan sahabat mereka, bagi ketiga sahabat Elfiza, Nadin sudah dianggap mantan, dan posisinya beralih dari sahabat menjadi musuh.
"Hus... ga boleh ke gitu bagai manapun dia tetep sahabat kita" ucap Elfiza mengingatkan.
"Dihhhh... ogah banget gue ngakuin dia sahabat masih remaja aja udah nikung apa lagi dewasanya jadi pelakor tu anak pastinya" ucap Sri emosi menggebu, sri memang yang paling emosian dari keempat gadis itu jadi tak heran saat dia tau Elfiza putus karna orang ketiga dan orang itu sahabat Elfiza sendiri. Jika tidak dicegah saat itu mungkin Sri mendatangi Nadin dan Nano.
***
"Hati - hati ya El, kita - kita bakal kangen loe" ucap Zia sembari memeluk Elfiza disusul degan kedua sahabatnya yang lain.
"Udah kan kalian masih bisa main kelembangkan nanti juga El bisa main kesini" jawab ibu membuyarkan pelukan keempat gadis itu.
"Udah yu ke buru sore kasian ayah nyetir sendiri kan ka Yudis belum bisa mengendarai mobi" ajak ibu pada Elfiza untuk segera masuk kedalam mobil.
"Thank ya udah bantuin gue paking tadi" ucap Elfiza berterimakasih pada ketiga sahabatnya itu.
"No more sayang" jawab Uunia, mereka kembali berpelukan.
"Satuhal lagi tolong jangan kasih tau Nadin ataupun Nano gue pindah keman ok, gue ga mau mereka sampe tau" pinta Elfiza .
"Loe tenang aja ga akan gue kasih tau" ucap Zia meyakinkan.
"Serahin semua sama kita." tambah Yunia
"Loe pasti membaik disana jaga diri loe baik - baik kita bakalan main kesana kapan - kapan" sambung Sri.
"Thank guys, kalian bener - bener sahabat gue, gue berangkat ya bay" ucap Elfiza.
"Kita berangkat ya kalian kapan - kapan main ya ke lembang " titah ibu
"Baik bu, ibu, ayah sama bang Yudis juga loe El hati - hati ya " ucap Sri
"Ok... makasih ya semuanya udah bantuin El buat paking barang tadi" kali ini ayah lah yang berbicara.
"Sama - sama ayah" ucap ketiga gadis itu.
Sore itu Elfiza ikut pindah bersama keluarganya, berharap agar luka hatinya membaik atau malah sembuh dan tak berbekas sama sekali. Sepanjang perjalanan yang ia lewati tergambar jelas bagaimana kisahnya dimulai dengan nano.
Seakan menjadikan semuanya jelas bahwa itu semua hanyalah kenangan manis yang harus segera dilupakan agar ia bisa bangkit kembali.
__ADS_1
TBC .