
Karna kejadian hari itu semuanya berubah keluarga Tanggu pindah rumah, hubungan antar keluarga itu merenggang karna kejadian itu, bahkan Karamelpun harus menelan pil pahit dari kejadian itu, bagai mana tidak sang kakak yang sudah menyiapkan tanggal pernihan saja harus merasakan sakitnya, udangan yang telah tersebar, baju pengantin yang sudah siap pakai itu batal dikenakannya karna pihak dari Laki - laki membatalkan secara sepihak, entah apa yang difikirkan Tangguh sehingga dia memberikan kesaksian yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi, membuat kedua keluarga itu jadi bersitegang dan berakhir dengan pemutusan pembatalan pernikahan anak tertua mereka.
Sejujurnya tak adil untuk kedua insan yang saling mencintai itu, tapi mau bagai mana lagi namanya orang tua lebih mempercayai anaknya bukan, begitupun juga dengan keluarga Herdian yang juga memihak kepada anak bungsunya itu.
Fahri benar - benar merasa bersalah karna masalah yang dibuatnya mengakibatkan sang kakak batal menikah, memper malukan nama baik keluarga beruntung Fahri masih dibawah umur jad dia dibebaskan dari hukuman penjara yang seharusnya menjeratnya, malah berakhir dengan surat peringatan dari polisi dan skorsing selama satu bulan dari sekolah, beruntung pihak sekolah mau menutupi kasusnya ini dengan dalih seringnya Fahri membuat masalah disekolah ya itu bolos membuatnya harus diam dirumah selama satu bulan.
Dengan catatan Fahri masih harus mengumpulkan tugas yang telah guru berikan, ungtungnya hanya kepala sekolah dan pak Adam saja yang tahu hal ini jika sampai terdengar guru yang lain mungkin saja Fahri akan dikucilkan denga menyandang status seorang pembunuh, walau bukan itu sebenarnya yang terjadi.
Namun mana orang mahu tahu kebenarannya yang mereka lihat itulah yang menurut mereka benar walau belum tentu apa yang mereka lihat itu benar adanya sama seperti pemikiran seorang Rachel.
Untungnya Karamel punya hati yang sangat besar dia menerima apa yang telah terjadi padanya, dia yakin adiknya punya alasan tersendri, tak mungkin adiknya berani menyakiti orang lain apa lagi yang disakitinya adalah sahabatnya itu sangat amat tidak mungkin, dia sama tahunya seperti orang tuanya karna dia mengenal Fahri tidak hanya satu hari tapi selama hidupnya sampai saat ini, karna dia kakaknya.
Malu tentu saja malu karna batalnya pernikahan dengan Tegar membuatnya mendapat gunjingan dari sana sini apa lagi tetangga yang lembe turah, sakit hati itu sudah pasti, tapi dia lebi sakit lagi karna ucapan sang kekasih "Bisa sajakan kau juga melakukan hal yang sama terhadapku sama seperti yang dilakukan adik mu itu" itulah kata - kata yang menyakitkan yang keluar dari mulut Tegar.
Dia tak pernah menyesal batalnya pernikahan itu karna dari sanalah dia tahu bagai mana sifat orang yang dicintainya itu "Tidak apak - apa ayah, tuhan lebih sayang Kara, karna batalnya pernikahan ini Kara jadi tahu siapa calon suami dan calon keluarga Kara itu, Kara bersyukur karna mereka membatalkannya" itulah ucapan Karamel manakala sang ayah meminta maaf terhadapnya.
Fahripun melakukan hal yang sama meminta maaf walau tidak bisa mengembalikan keadaan setidaknya maaf dengan tulus bisa sedikit meringankan rasa sakit hati sang kakak mungkin.
***
Kini tinggal masalah Fahri dengan Rachel dia memang tak berharap kembali kepada Rachel karna dia sadar memang tak pernah ada dirinya dihati sang pujaan hati itu, hanya saja dia ingin memperbaiki nama baiknya didepan gadis itu, bagai manapun rasa sakit tak dipercaya itu sunggu menyiksanya.
Katakanlah jika dirinya bodoh karna masih memiliki rasa utuk orang yang sudah membuat dirinya porak poranda bahkan keluarganyapun ikut merasakannya, secara tak langsung memang Rachellah yang menjadi sumber masalah itu terjadi.
Berulang kali ia mencoba untuk memberi tahukan yang sebenarnya dan berulang kali pula Rachel menolak penjelasan itu baginya apa yang dilihatnya itulah kebenarannya.
"Gue rasa dengan gue tak menyebarkan kelakuan bia*ab loe seharusnya loe bersyukur Fah, bukan malah mengganggu gue dengan meneror gue" bentak Rachel.
__ADS_1
"Tapi apa yang loe liat bukan lah kenyataannya" tegas Fahri
"Apa pisau yang berada ditangan loe tak cukup untuk menjadi bukti jika loe seorang pembunuh Fah?" Tanya Rachel ketus.
"Gue lebih percaya Tangguh, Fah, lebih baik loe pergi dari sini dan simpan semua omong kosong loe itu, karna gue ga akan pernah percaya loe lagi, gue harap kita ga pernah ketemu lagi" tandas Rachel berbicara.
"Ok jika itu mau loe, akan gue lakukan, gue cuman mau bilang peliharaan yang jinak sekalipun akan bisa menggigit tuannya, gue harap loe tak termasuk kedalamnya, karna gue udah berusaha membuat loe sadar siapa Tangguh" jelas Fahri.
"Ya dan peliharaan itu adalah loe, loe bahkan bukan hanya menggigit tapi menusuk, menusuk dengan dalam" sinis Rachel
"Seharusnya loe minta maaf bukan malah berkilah seperti ini, bahkan Tangguh yang menjadi korbanpun mau memaafkan loe padahal loe belum minta maaf entah terbuat dari apa hatinya itu" ucap Rachel.
"Hati semua manusia itu sama, yang tidak sama itu kelakuannya, jangan seolah loe mengetahui Fahri hanya degan melihatnya dari luar" kesal sudah Soleh mendengar ucapan gadis dihadapannya itu, ya memang Solehlah yang menjadi tempat untuknya berkeluh kesah saat itu.
"Tau apa loe tentang hubungan kami?" Tanya Rachel ketus
"Memang gue tak pantas bersanding dengan seorang pembunuh macam dia" tunjuk Rachel
"Dia bukan seorang pembunuh karna Tangguh sendripun tidak mati" tegas Soleh
"Lagian ya Fah kalau andai kata kejadiannya seperti ini gue lebih dukung loe ngebunuh tu cunguk atu, jadi gelar yang udah ni cewe berikan ga sia - sia biar sekalian loe juga bisa habisin ni cewe setelah loe pake" sadis sudah ucapan Soleh itu, memang Soleh seperti itu mulutnya asal sambar saja kalau dirinya sudah merasa kesal, tak pernah menyaring kata - katanya lagi, membuat Rachel meremang dan hal itu diketahui oleh Soleh membuat ide jahil tiba - tiba saja muncul.
"Gimana kalau loe bener lakuin apa yang dibilang ni cewe, sebelum itu loe pake dulu lah biar ga rugi" ucap Soleh.
Membuat Rachel benar - benar ketakutan, "loe tenang aja gue ga pernah ada niatan buat jadi pembunuh ko walau gue udah dapet sematannya dari loe" ujar Fahri.
"Inget satuhal, jangan sampai loe menyesal atas apa yang udah terjadi jika loe tahu yang sebenarnya suatu saat nanti" ucap Fahri lantas dia pergi dari hadapan Rachel namun setelah lima langkah dia kembali berbalik dan masih mendapati Rachel berdiri disan mematung.
__ADS_1
"Saat itu terjadi tolong jangan cari gue lagi, karna gue bukan rumah untuk loe, yang datang hanya untuk singgah, pintu maaf mungkin akan gue buka tapi tidak untuk kembali seperti dulu entah itu menjalin hubugan spesial atau hanya berteman" tandas Fahri setelahnya dia benar - benar meninggalkan Rachel yang mematung ditempatnya.
Ingin rasanya Rachel berteriak jika apa yang dikatakan Fahri tak akan pernah terjadi tapi entah kenapa suara itu tak mampu dikeluarkanya, kini dirnya merasa bimbang hanya saja dia langsung menepis itu semua.
***
"Pada akhirnya gue yang kalah El, gue udah ngancurin semuanya bukan lagi tentang persaan gue tapi juga tentang keluarga gue, untuk memulai kembali itu sulit El bagi gue, bukan karna tidak cinta hanya saja gue takut, gue tak cukup kuat untuk sakit lagi" keluh Fahri.
"Gue faham, walau gue tak ada dalam posisi loe saat ini, gue faham betul gimana rasanya, keputusan tetap ada pada diri loe Fah, gue akan tetap dukung loe apapun keputusannya, hanya saja gue tak ingin loe menyesal, loe juga berhak memiliki kebahagiaan loe Fah" jawab Elfiza.
"Thank El, akan gue fikirkan apa yang udah loe sarankan tadi, untuk saat ini gue masih ingin seperti ini, tidak sekarang tapi suatu saat gue pasti akan jujur sama dia El" ucap Fahri.
"Walau sudah terlambat sekalipun, pasti gue akan untarakan apa yang gue rasa El" tambahnya.
"Ok deh, gue tunggu keberanian loe itu, gue cabut duluan pasti mereka sudah nunggu lama" ucap Elfiza.
"Sippp"..
"Oh iya, ini buku catatan gue, kembalikan sore nanti karna besok pagi gue harus mengumpulkannya" setelah berucap demikian Elfiza benar - benar pergi.
"El" teriak Fahri membuat langkah Elfiza yang mulai menjauh itu terhenti setelshnya menoleh kembali kebelakang melihat kearah Fahri "Apa?" Tak kalah bertrriaknya Elfiza bertanya.
"Thanks buat semuanya" teriak Fahri menjawab sambil menggoyangkan buku yang dipinjamkan oleh Elfiza, tanpa menjawab Elfiza hanya mengulurkan dua ibu jarinya tanda sip, setelahnya dia kembali berbalik dan berjalan meninggalkan taman itu, menuju ketempat dua sahabatnya itu berada.
"Thanks El loe sahabat yang baik dan paling pengertian" gumam Fahri.
🍁🍁🍁
__ADS_1