
Malam yang ditunggu - tunggu ketiga gadis itu akhirnya tiba juga, acara makrab untuk para Maba akhirnya datang juga, tidak semua Maba ikut serta karena ini bukanlah hal wajib untuk dikit sertakan yang ingin saja yang ikut, tapi bukan berarti makrab akan sepi peminat, malah cukup banyak mahasiswa baru yang datang untuk mengakrabkan diri satu sama lain, entah itu dengan teman satu angkatan nya ataupun dengan para seniornya.
Elfiza dan dua sahabatnya sudah datang dari satu jam yang lalu dan sudah berjalan dua jam yang lalu, mereka tidak terlalu tertarik dengan acara yang saat ini tengah berlangsung, karena mereka asik malah asik sendiri dengan kelompok mereka, terkesan masa bodo dengan acara yang saat ini tengah dilangsungkan oleh para panitia, sudah hal biasa ada yang serius mengikuti jalannya acara dan ada yang ogah -, ogah - ogahan seperti kelompok Elfiza ini, namun acara tetap menyenangkan ko.
Disisi lain aula ada yang tengah berbisik - bisik, entah membisikan apa? "gimana? sudah sesuai dengan rencana kan?" Tanya Mela pada Tania.
"Beres, kali ini pasti berhasil" tukas Tania, yang diangguki kedua orang disamping kanan dan kiri Tania, " ga sabar liat tu bocah sengsara malam ini" ungkap Mela, jujur saja dirinya pun merasa kesal terhadap anak itu karena bukan hanya Tania saja yang dipermalukan setiap kali rencana Tania gagal untuk mempermalukan anak itu, dia dan Seli pun kena imbas malu juga, maka tak heran jika dirinya berharap rencana malam ini akan berhasil.
"Kita liat saja Elfiza sayang, siapa yang menang kali, ini gue berharap Dewi Fortuna ga ada di pihak loe lagi" ungkap Tania.
"Cabut yu" ajak Tania..
***
Semakin malam semakin mendekati acara puncak makrab, semakin seru pula, semuanya larut dalam acara makrab yang diadakan oleh panitia, semua panitia tampak puas melihat acara mereka berjalan dengan lancar tinggal acara terakhir yaitu acara puncak, namun ternyata malah membuat suasana menjadi kacau, karena sebuah pesan suara yang disiarkan entah oleh siapa.
Kezia dan Siska menegang manakala mendengar pembicaraan didalam rekaman itu, entah siapa yang merekam dan memperdengarkannya pada mereka semua yang ada disana, Kezia dan Siska serta Fahri kompak melihat kearah Elfiza yang malah tampak santai walau ada sedikit perubahan ekspresi dalam wajahnya tapi hanya sebentar setelahnya dia malah terkesan cuek dan acuh, terlihat masa bodo padahal semua yang ada disana tengah mendengarkan suara Elfiza yang terkesan sedang membully seseorang yang entah siapa.
Tak lama berselang satu buah Vidio mengejutkan semuanya untuk kali ini Elfiza tidak bisa tidak menganga akan Vidio itu, entah lah siapa orang yang melakukan itu, Elfiza akui Vidio itu adalah dirinya, dan kejadian itu, bukan berada disini melainkan saat Elfiza masih berada di Pangandaran.
Jelas Elfiza tahu Vidio itu kejadiannya sudah bertahun - tahun silam, itu Vidio aib untuknya vidio yang membuat ke salah pahaman, yang berujung dengan pertikaian hingga mengakibatkan trauma mendalam pada seseorang dimasa lalu.
Jelas sudah rahang Elfiza mengeras, Fahri melihat hal itu begitupun dengan kedua sahabatnya, 'sial entah siapa yang mau main - main sama gue' batin Elfiza.
Bisikan -, bisikan mulai terdengar dari seluruh orang yang ada di aula kampus, semua orang menatap kearahnya, tentu saja Elfiza merasa risi, tapi bukan berarti dirinya takut, Elfiza balas menatap mereka, menunjukan jika dirinya di dalam Vidio itu tidak bersalah, bahkan Yudha dan Yudis berdiri kaku, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, mengapa adiknya begitu sebrutal itu.
"Ga nyangka orang seimut itu bisa sesadis itu"
"Dia yang dibilang baik ternyata aslinya seburuk itu"
"Ya ampun, itu sih udah tindakan kriminal namanya"
"Harusnya sih dia dipenjara, bukan ada disini"
"Ko bisa bebas ya?"
__ADS_1
"bisalah namanya juga kekuasaan"
Kasak - kusuk terdengar begitu ketara ditelinga Yudha dan Yudis membicarakan adik kesayangan mereka, tapi tak ada reaksi apapun dari keduanya mereka masi setia menatap Vido yang tengah diputar entah oleh siapa, hingga tiba - tiba, Vidio itu berganti begitu saja dengan kejadian dikamar mandi dua hari yang lalu, Elfiza mengeratkan giginya, sekarang dia baru sadar siapa dalang dari semua ini.
"Astaga, itukan Tania, ya ampun pantas aja kemarin dia pake pakaian tertutup ternyata"
"Ya Tuhan"
Semua melihat kerah Elfiza tak terkecuali Yudha dan Yudis serta para sahabatnya yang tak menyangka Elfiza bisa seperti itu, jujur saja saat ini dirnya merasa dihakimi oleh orang - orang disekitarnya saat ini, hatinya tergores mana kala kedua abangnya menatap tidak percaya dengan kelakuannya itu, sorot kedua mata Abang - abangnya menandakan jika mereka kecewa, disini titik kesabaran Elfiza diuji.
Sekali lagi dia harus bisa melewati fase dimana dirinya harus menjadi tersangka padahal dia adalah korban, hembusan pasrah terdengar dari mulutnya, perlahan tapi pasti dirinya melangkah keluar aula tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia enggan memberikan pembelaan apapun untuk orang - orang yang sudah menganggapnya salah, akan sangat percuma membela diri tapi tak ada yang mempercayai hal itu, itu akan sangat amat percuma.
Seharusnya dia sudah keluar dari aula jika saja tangannya tidak dicekal oleh seseorang "bisa kamu jelaskan apa ini?" Tanya suara yang terdengar bergetar, Elfiza sudah tahu siapa orangnya tanpa dia harus repot - repot membalikan tubuhnya, getaran dalam suaranya menandakan jika seseorang yang ada dibelakangnya saat ini sedang menahan sesuatu, yang Elfiza tidak tahu itu apa. Entah itu emosi atau kekecewaan atau apapun Elfiza tak ingin menebaknya, yang saat ini Elfiza butuhkan adalah ketenangan.
Jujur saja melihat Vidio itu membuatnya mengingat masa lalu yang sampai saat ini dikuburnya dalam - dalam kejadian yang lima tahun silam itu terjadi seakan kembali kepermukaan, menimbulkan amarah dalam dirinya, dia aku saat itu memang dirinya sangat brutal, jika saja saat itu dirinya sudah menginjak masa kuliah bisa dipastikan dirinya sudah merasakan bagaimana dinginnya sel tahanan.
Kenangan buruk yang amat sangat rapih disimpannya bahkan dari kedua kakaknya serta keluarga besarnya, yang tahu kejadian itu hanya sang ayah, bahkan ibunyapun tidak mengetahui kejadian hari itu, yang mengakibatkan dirinya berurusan bukan lagi dengan kepala sekolah melainkan kepolisan, dan dirinya mendapat sangsi walau tidak dipidana karena masih dibawah umur.
"Apa yang harus aku jelaskan?" pertanyaan itu terucap begitu saja, sejujurnya Elfiza sudah tidak tahan dengan tatapan menusuk para mahasiswa yang ada di aula ini, hanya saja sepertinya Yudha tak ingin melepaskannya begitu saja.
"Bukankah sudah jelas bila adik mu itu monster Dha!" tukas Tania, yang merasa kesal karena Yudha masih saja peduli pada adiknya padahal dirinya sudah melihat bagaimana berutalnya gadis itu.
"Diam kau, gue ga lagi ngomong sama loe" sentak Yudha, tak ada lagi yang berbicara, bahkan kasak - kusuk yang tadi masih sempat terdengar ditelinga Arjunapun sudah menghilang diganti keheningan dan ketegangan.
Tak ada yang berani berkomentar ataupun mendekat, mereka semua takut, bila sang adik bisa sampai sebrutal itu bagaimana dengan kedua kakaknya, tentu ada kemungkinan mereka memiliki sipat yang sama karena mereka memiliki darah yang sama.
Antara percaya dan tidak Kezia dan Siska pun tak berani mendekat, hal wajar jika mereka berdua memiliki rasa takut manusiawi bagi Elfiza, dan Elfiza memaklumi itu, karena setiap kali dirinya melihat mengingat kejadian itu dirinyapun merasa takut dengan dirinya sendiri.
Dia selalu bertanya - tanya ada apa dengannya apakah dia monster atau apa sehingga ia bisa melakukan hal sekejam itu, pada temannya sendiri.
Walau demikian dia tak sepenuhnya salah hanya itu yang tak diketahui siapapun yang ada di aula itu, kejadian itu sudah berlalu, seharusnya semua bukti itu sudah musnah tapi kenapa masih ada Vidio itu, Vidio yang mengakibatkan dirinya terlibat dengan aparat keamanan negara itu.
Cukup sudah Elfiza tidak bisa lagi berada ditempat ini, tatapan semuanya begitu menusuk sukmanya, sekuat apapun dirinya ia tetap seorang perempuan yang hanya bisa menangis jika perasaan sakitnya sudah amat sangat tersayat.
Elfiza tak bisa berada disini dan menangis didepan semua yang tengah menyudutkannya dengan tatapan itu, tidak itu akan semakin membuat mereka menerka jika dia lah yang bersalah, padahal disini dia adalah korban.
__ADS_1
Sekuat tenaga ia mencoba menghempas cekalan tangan sang kakak, namun usahanya terlihat sia - sia, dia tak berhasil lepas dari cekalan kakaknya itu, malah kini tangannya terasa panas dan sedikit perih, mungkin nanti baru akan terlihat kemerahan dipergelangan tangannya setelah cekalan itu terlepas, tapi dia tetap tak perduli ia memberontak dari cekalan itu.
"Jika kamu pergi tanpa penjelasan apapun itu akan membuat semua orang mengira itu kamu dek" kali ini Yudha berucap sedikit lembut walau masih terkesan tegas dan datar.
"Katakan yang sebenarnya jika di vidio itu bukan kamu kan" pinta Yudha setengah memohon karena di relung hatinya masih ada ketidak percayaan atas apa yang dilihatnya tadi.
Elfiza hanya bisa diam tanpa bisa menjawab perkataan Yudha. "Katakan jika itu bukan kamu Elfiza Anestasia" bentak Yudha membuat Elfiza dan beberapa orang yang ada disana tersentak kaget, baru kali ini mereka melihat bagaimana Yudha marah, dan itu adalah bentakan pertama yang Elfiza dapatkan dari kakak sulungnya, sungguh rasanya jika saja dia tidak sedang menyeting dirinya sebagai perempuan kuat, maka sudah luruh semua persendiannya karena mendengar bentakan dari sang kakak.
Ini adalah kali pertama dirinya dibentak oleh sang kakak dan itu menjadi dampak buruk baginya, dia melihat kearah Yudis berharap dapat bantuan dari kakak keduanya namun apa yang didapatnya, justru hatinya malah semakin tercabik karena penolakan yang diterimanya dari Yudis. Dunianya kembali hancur setelah ia susah payah menata dunianya yang sempat hancur oleh sang mantan kekasih, kini kembali dihancurkan oleh keluarganya sendiri.
Orang yang paling disayanginya setelah ibu dan ayahnya, bisa dibayangkan seberapa besar rasa sakit yang saat ini dirasakan olehnya, tentu saja tidak bisa dijabarkan dengan perkataan. Karena sakitnya tak terlihat oleh mata namun terasa oleh sukmanya.
"Tatap mata kakak dan jawab pertanyaan kakak tadi" pinta Yudha tegas, sambil mengambil dagu gadis itu lantas didongakan secara paksa olehnya agar bisa melihat kearahnya.
Deg...
Jantung Yudha seakan berhenti untuk beberapa saat, memang tak ada setetes pun air mata yang mengalir dimatanya namun mata itu begitu sayu menampakan betapa dirinya menderita karena tuduhan itu, ingin rasanya ia merengkuh tubuh mungil itu namun keegoisan tengah melanda dirinya, memaksanya untuk terus menanyakan kebenaran tengang Vidio itu dengan cara yang salah.
"A-pa yang mau kak Yudha tahu?" susah amat sangat susah untuknya berbicara sebisa mungkin karena desakan air yang sudah ingin mengalir itu semakin terdorong, getaran dalam nada suaranya sudah cukup jelas membuktikan bahwa gadis itu amat sangat tersiksa tengah berusaha mendorong keinginannya untuk menangis.
"Katakan jika itu bukan kamu" pinta Yudha sangat lirih, Elfiza memejamkan matanya sesaat meresapi kepedihan yang teramat menyiksa jiwanya, ternyata tidak dipercaya oleh orang yang paling disayang lebih menyakitkan dari sebuah penghianatan, setetes air mata meluncur begitu saja berbarengan dengan kedipan dimatanya yang menutup.
Rasanya seperti tersayat melihat sang adik sampai seperti ini bahkan dihadapannya dan dia tak bisa melakukan apapun jika kebenarannya saja masih tidak ia ketahui, setelah menghela nafasnya sedalam mungkin akhirnya dia bisa mengeluarkan suaranya kembali "I- tu a - ku" lirihnya dengan bisikan yang hanya didengar oleh Yudha.
Bagai disengat jutaan volt listrik tubuh Yudha lemas tak bertulang bahkan cekalan tangannya terlepas begitu saja, Yudha tak menyangka apa yang ingin diketahuinya ternyata menimbulkan perasaan sesak.
"Ya Tuhan" gumamnya, Elfiza hanya mampu tersenyum miris, senyum yang sangat amat kecil bahkan Yudha sendri tak mampu melihatnya.
prakkkkk
Semua orang yang ada disana bukan main terkejutnya Yudha yang mereka kenal begitu menyayangi adiknya bisa sampai menampar adiknya dihadapan mereka semua yang ada disana, sebagian orang mengatakan tidaklah heran Yudha melakukan hal itu karena kelakuan sang adik yang pantas mendapatkan tamparan itu.
Elfiza hanya mematung ditempatnya, tak menyangka kakaknya bisa sampai menamparnya didepan umum, semakin terpuruk saja mentalnya, sudah jatuh tertimpa tangga mungkin kiasan itu saat ini yang sedang dirasakan olehnya.
Hanya ada satu orang yang berani mendekat kearah Elfiza dan sang abang, "setidaknya jika loe tak bisa memperbaiki keadaan, loe jangan buat keadaan semakin runyam" tegas orang itu, sambil meraih tangan Elfiza, bahkan Elfiza sendiri tak menyangka jika masih ada yang mempercayai dirinya, ia menatap dalam pria disampingnya yang saat ini tengah menyeretnya keluar dari aula terkutuk itu, beberapa kali dia mengutuk dirinya karena air mata sialannya yang malah keluar tanpa diminta.
__ADS_1
TBC.