My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
KESEMPATAN HANYA UNTUK PENDOSA


__ADS_3

Masih Flasback...


Karna rasa lelah yang mendera pisik serta hatinya, Elfiza akhirnya memutuskan mengambil jalan ekstrim, dia memperlambat laju kendaraannya, setelahnya berbelok, dan melawan arah.


Dia kembali memacu motornya dengan kecepatan yang lumayan kencang, entah apa yang ada difikirannya saat ini, yang pasti Elfiza hanya ingin masalah ini kelar sampai sini bagai manapun caranya.


Cittttttt.....


Decitan ban yang yaring terdengar karna rem yang sekuat tenaga Nano dan Elfiza lakukan, hingga membut motor keduanya menukik kedepan.


"Loe gila ya El? Loe mau buat kita celaka?" Maki Nano saat dirinya sudah turun dari motor.


Elfiza turun dari tungganganya, rasanya jika dia tak sedang berekting tegar dihadapan pria pujaannya ini, ingin rasanya dia meleburkan kakinya yang gemetar itu.


Siapa yang tak kaget dan tak takut, melihat saja membuatnya merasa tegang apa lagi mengalaminya seperti saat ini, hanya saja tubuhnya harus bertahan agar tak terlihat lemah dihadapan Nano.


Dia memaksakan kakinya untuk berjalan, walau rasanya dia sedang melayang saat ini, bukan berjalan. Pijakannya terasa mengapung.


"Apa yang loe mau dari gue, stop ngikutin gue terus, loe udah kaya polisi tau ga sih" ketus Elfiza kesal.


"Bukanya loe udah tau mau gue apa!" Ucap Nano.


"Ok gue kasih waktu untuk loe bicara, kita selesaikan masalah ini disini" ungkap Elfiza akhirnya.


"Gue cuman ingin kita balik kaya dulu, gue sayang sama loe" ucap Nano.


"Tapi gue engga" jawab Elfiza.


"Tanya hati loe apa itu jawaban sebenarnya" pinta Nano.


"Tanya otak loe, masih bisa loe bilang sayang sama orang yang udah loe sakiti!" Tandas Elfiza.


"El, buat apa ada kesempatan kedua kalau loe ga bisa kasih itu buat gue?" Tanya Nano.


"Kesempatan datang untuk seorang pendosa, dan loe bukan termasuk didalamnya" ucap Elfiza.


"Apa maksud loe?" Heran Nano tak mengerti ucapan Elfiza.


"Loe bukan seorang pendosa Nan, tapi hanya seseorang yang tidak setia" jawaban Elfiza semakin membuat Nano bingung.


"Tidak ada kesempatan untuk orang yang memperjual belikan kesetiaannya, sekali dia melakukannya akan terulang dikemudian hari dan gue ga mau itu sampai gue alami lagi" tandas Elfiza.


"Gue janji" ucap Nano.


"Apa kabar sama janji loe yang dulu?" Tanya Elfiza membuat Nano terdiam.


Seorang Nano dibuat terdiam hanya dengan seorang perempuan yang berada dihadapannya, banyak para gadis yang ingin menjadi pacarnya bahkan tak jarang mantan - mantannya pun inigin balikan lagi dengannya.


Tapi dia kalah dengan gadis yang berada dihadapanya, entah megapa ucapan demi ucapan Elfiza menusuk hati terdalamnya.


"Sudahlah Nan, pulanglah dari pada loe memperbaiki cermin yang sudah retak, lebih baik loe menjaga kaca yang masih utuh, jangan biarkan kembali hancur" saran Elfiza.

__ADS_1


"Tapi gue masih cinta sama loe" ungkap Nano.


"Kubur rasa cita loe buat gue, loe pasti bisa sama seperti gue" ucap Elfiza 'walau butuh waktu lama sangat amat lama' lanjut hatinya.


"Engga gue ga bisa, loe milik gue sampai kapanpun loe milik gue" kekeh Nano.


"Milik loe? Ada hak apa loe bicara demikian tentang diri gue? Yang menentukan gue milik siapa dan mencintai siapa hanya gue yang memutuskan bukan loe" pada akhirnya Emosi Elfiza tak terkontrol menghadapi pria dihadapannya saat ini.


"Loe ga bisa menyangkalnya El, jika cinta loe cuman buat gue!" Tegas Nano.


"PD sekali anda" ketus Elfiza, masih berusaha menurunkan kadar Emosi dalam dirinya.


"Coba berikan alasan yang logis kenapa sampai sekarang loe masih sendiri? Jika bukan karna gue!" Pinta Nano.


Ucapan Nano membuat Elfiza tersentak kagat, baru kali ini dirinya sadar dia memang belum memiliki hubungan lagi, semenjak putus dengan Nano.


Nano bukan hanya sekedar pacar pertama untuknya dia juga cinta pertama untuknya, apa itu yang membuat Elfiza tak bisa memiliki kekasih sampai saat ini.


"Jawab El, agar gue tak berasumsi sendiri" pinta Nano.


"Apa sesulit itu mencari jawaban yang mudah?" Tanya Nano masih tak ada jawaban dari Elfiza, rupanya gadis ini tengah meresapi pertanyaan dari mantan kekasihnya ini.


"Gue bantu jawab" nano.


"Simpel El, loe hanya ga ingin merusak kesetiaan loe sam gue, itu artinya rasa itu ga pernah hilang El, loe ga mau ngehianati cinta loe buat gue, itu jawabannya El" ucap Nano kembali.


"Hahaha" tiba - tiba saja Elfiza tertawa, sepertinya kelenjar tertawanya sudah rusak karna tertawa disaat yang menurut siapapun yang melihat kejadian ini, saat ini bukan waktunya untuk tertawa.


"Jika itu yang loe fikir tentang gue, gue jelasin sama loe, bukan berarti gue ga punya pacar rasa gue masih sama seperti dulu, itu jelas salah, gue sama sekali tak memiliki perasaan cinta lagi sama loe, pacaran atau tidaknya gue itu karna pilihan gue sendiri" tegasnya.


"Terserah apa yang loe fikirkan Nan, waktu loe sudah habis" ucap Elfiza


"Gue udah kasih kesempatan loe buat bicara, dan jawaban gue tetep sama gue ga bisa balik lagi sama loe, jadi tolong hargai keputusan gue, dan jangan ganggu hidup gue lagi" pinta Elfiza.


"Tapi gue belum selesai bicara El" ucap Nano.


"Sudahlah Nan, pulanglah semua sudah berakhir" ucap Elfiza seraya berbalik dan akan kembali menaiki motornya jika saja ucapan manusia dibelkangnya itu tak didengar oleh telinganya.


"Nadin ga akan pernah bahagia hidup dengan gue El, bukan dia yang gue cintai tapi loe, Nadin ga akan pernah bisa bahagia" ucap Nano


Plakkkkkk.....


Cukup sudah kesabarannya sudah diuji sampai titik terendah oleh pria dihadapannya saat ini, tangannya bergerak sendiri menampar mantan kekasih yang masih memiliki tempat dihatinya itu.


"Terserah apapun yang loe omongin gue ga perduli, gue hanya perduli sama sahabat gue" tegas Elfiza.


"Bukankah gue pernah berucap seujung kuku loe sakiti dia loe akan dapat balsanya apa lagi loe bermain dengan kebahagiaannya" teriak Elfiza emosi, nafasnya sudah tak beraturan karna Emosi yang meledak.


"Pantaskah dia disebut sahabat loe El?" Tanya Nano, membuat Elfiza kembali terdiam.


"Apa dia seperduli itu terhadap loe, disaat dia hianatin loe?" Kembali Nano bertanya.

__ADS_1


"Apa itu yang dinamakan sahabat nusuk dari belakang?" Untuk kesekian kalinya Nano bertanya yang tak mampu dijawab Elfiza, karna Elfiza tak memiliki jawabannya.


"Tanya hati loe masih pantaskan dia menjadi sahabat loe? Sedangkan dia menusuk jantung loe sendiri" ucap Nano.


"Tidak kah loe ingin membalas apa yang diperbuatnya? Gue siap jadi boneka loe" ucap Nano lirih, entahlah lelaki playboy itu tak berkutik dihadapan Elfiza.


Entah karna apa rasa bersalah itu terus - terusan hadir dalam dirinya, memaknya mengatakan itu, dia rela menjadi boneka untuk gadis itu, padahal dirinya selalu jadi pemain dalam permainan, bukan bidak.


"Nano, pemikiran loe ternyata sempit, gue ga sepicik itu, kalau gue lakuin hal itu, itu sama saja ga ada bedanya gue sama kalian berdua" tegas Elfiza.


"Terseh apa kata loe yang jelas gue cinta sama loe bukan sama Nadin" tegas Nano.


"Persetan dengan semua itu, cinta akan datang dengan sendirinya, lupain gue dan belajar buat cinta dia" bentak Elfiza, setelahnya dia benar - bebar menyalakan mesin motornya.


"Gue akan terus kejar loe El sampai loe tak memiliki alasan selain hidup sama gue" teriakan Nano masih bisa didengar Elfiza, membuat gadis itu mengumpat dalam - dalam.


'Sejak kapan dia ngikutin gue?'


'Kenapa gue sampe ga tau'


'Apa dia tau rumah gue?'


Semua kalimat - kalimat itu muncul dalam otaknya karna hal barusan, Elfiza merasa taktut sendiri, bagai mana jika memang Nano tahu dimana dirinya berada.


****


Karna kejadian itu pula membuat Elfiza pulang dengan tangan kosong, Yudha dan Yudis yang ingin menagih pesanan mereka seketika urung karna melihat adiknya berlari dengan keadaan menangis, sudah dapat dipastikan bukan betapa kalang kabutnya mereka berdua panik dan bertanya - tanya ada apa dengan gadis kecil mereka.


Bukankah pamit pada ayah dan ibu serta mereka berdua Elfiza dalam keadaan baik - baik saja latas mengapa dia pulang malah dalam keadaan menangis. Apa yang sebenarnya terjadi.


Bukankah baru tadi mereka berdua berkirim pesan dengan adiknya itu, dan masih terlihat wajar.


Lantas mengapa mereka kini melihat adiknya sekacau itu, tak ingin menduga - duga, Yudha dan Yudis memilih menghampiri kamar Elfiza.


"Dek, are you ok?" Tanya Yudha, tak ada jawaban dari sebrang sana tepatnya dikamar Elfiza.


Kembali pintu diketuk oleh kedua manusia diluar kamar "Buka dek, kalau ada masalah omongin baik - baik, sini cerita sama kakak" kali ini Yudis yang bicara, masih bertahan tak ada jawaban.


"Dek" ucap Yudha dan Yudis berbarengan.


"Pleach kak jangan sekarang, aku ingin sendiri" memohon sudah Elfiza dengan isak tangis yang melandanya, membuat dua orang disebrang sana mengepalkan tangannya.


Sakit rasanya mendengar adik kecil mereka menangis sampai seperti itu tapi tak bisa membantu banyak.


'Sebenarnya apa yang terjadi, kenap El sampai seperti itu' bati Yudha.


'Jangan sampai El begini gara - gara loe lagi Nano, jika sampai itu terjadi awas saja kau' panas sudah hati Yudis, dia akan mencari tahu apa penyebab dari ini semua.


Dia tak ingin melihat dan mendengar adik kesayangannya seperti ini.


Flasback Off...

__ADS_1


🍃🍃🍃


TBC.


__ADS_2