
Satu minggu setelah acara ngemall bareng si raja jahil, Elfiza kembali menjalani aktivitas padatnya yang mulai terasa sangat melelahkan walau demikian masih mengasikan baginya.
Sudah tiga hari ini Elfiza mencurigai salah satu sahabatnya yang terlihat aneh itu, entah apa yang disembunyikannya sehingga sahabatnya berubah menjadi aneh seperti itu.
Awalnya Elfiza fikir Kezia bertingkah aneh karna merasa stres atau tertekan dengan banyaknya tumpukan tugas dari dosen mereka, tapi nyatanya ini sudah berbeda, entah kenapa anak satu itu akhir - akhir ini sering sekali senyum - senyum sendiri, terkadang malah suka misuh - misuh mendumel dengan gumaman yang tak jelas entah jengkel terhadap siapa.
Tapi kebanyakan dia seringnya ngelamun dan senyum - senyum sendri apa lagi kalau sedang natap hpnya, entah ada apa dalam hpnya itu yang membuat anak cuek satu ini bisa senyum - senyum tidak jelas begitu.
'Segitu ga mau ketahuannya sedang sembunyiin apa, hp yang ga pernah pasword jadi dipasword gini, mana pake pin lagi bukan pola, hais' batin Elfiza mendumel.
"Makin mencurigakan saja" gumam Elfiza.
"Apa yang mencurigakan?" Tanya Fahri polos, Elfiza hanya mengagkat bahu saja, tak ingin menjawab pertanyaan Fahri lebih jauh lagi.
"Loe lagi kesambet ya beb?" Tanya Fahri sambil menggeser duduknya sedikit menjauh dari Elfiza.
"Kalau ngomong tu disaring dulu tutup botol" kesal Elfiza karna ucapan Fahri, Fahri menampakan deretan giginya yang putih nyengir selebar yang dia bisa.
"Salah ya, sorry deh, lagi loe ngelamun terus gumam - gumam ga jelas sendiri gitu, siapa sih yang ga ngira loe lagi kesambet beb" jelas Fahri, padahal hanya berdua saja tapi karna sudah terbiasa memaggil Elfiza dengan sebutan alay seperti beb atau ayang beb pasti selalu keluar dari mulut anak absrud satu itu.
Elfiza mendengus saja karna penuturan Fahri barusan, "Eh beb, si mak lampir lagi kenapa sih? Kelakuannya aneh tahu ga sih kaga kaya biasanya sedikit horor tahu ga sih" keluh Fahri bertanya tentang keadaan yang dialami sipenghuni hatinya itu kepada sang sahabat.
"Loe juga nganggap dia aneh?" Elfiza balik bertanya yang dijawab anggukan oleh Fahri.
"Emang dia lagi aneh sih, gue juga ga tahu apa sebabnya"jawab Elfiza.
"Bukannya si Kezia memang aneh dari dulunya ya?" Polos saja Fahri berucap.
"Ga usah diperjelas tutup toples" ucap Elfiza santai.
"Tapi bener sih tu anak lagi kenapa sih? Makin hari bukan makin waras malah makin jadi anehnya, kemarin ya gue kan ga sengaja tumpahin minuman dia dikantin, biasanya kalau gua buat gara - gara sama dia pasti tanduknya langsung keluar, tapi kemarin dia malah tersenyum lantas pergi gitu aja, si Siska ampe melongo ngeliatnya" cerita Fahri.
Elfiza semakin mencurigai sahabatnya itu, 'sepertinya ada sesuatu yang disembunyiin Kezia dari gue dan Siska' batin Elfiza.
"Loe tahu sesuatu El?" Tanya Fahri yang mulai serius, ada rasa takut dalam diri Fahri, Fahri tahu betul semua yang dialami Kezia itu menyerempet kearah orang yang sedang kasmaran, hanya saja entah terhadap siapa anak tidak peka itu sedang kasmaran, dia takut apa yang menjadi presepsianya benar, jika itu sampai terjadi dan orang yang disukai Kezia bukan lah dirinya, siapkah dia menerima hal itu.
Selama ini dia masih bisa menahan rasa cemburu dan rasa sakit yang hanya bisa memendam rasa tanpa bisa mengutarakannya, tapi dia masih bisa menahannya karna Kezia tidak dimiliki siapapu, lantas jika Kezia sudah dimiliki orang lain bisakah dia menahan rasa yang lebih sakit dari ini, dia rasa itu tidak mungkin.
"Gue ga tahu Fah" jujur Elfiza.
Fahri menghela nafasnya yang tiba - tiba saja terasa sesak, "Dia kaya orang yang lagi jatuh cinta El" jika Fahri sudah memanggilnya El, itu pertanda Fahri sedang serius berbicara.
"Kalaupun iya juga tidak apa - apa Fah, gue malah seneng kalau sahabat gue bahagia walau semakin aneh" ucap Elfiza.
"Yang jadi pertanyaan gue siapa yang disuka sama tu anak?" Fari berfikir siapa kiranya yang berpotensi menjadi saingannya, dan otaknya langsung tertuju dengan satu nama 'Bang Yudha' batin Fahri.
"Mungkin aja loe" tebak Elfiza walau hatinya tak yakin jika Kezia menyukai Fahri, sejauh yang dia tahu Kezia selalu dibuat kesal oleh Fahri, bagai mana bisa anak itu suka dengan Fahri coba jika seperti itu. Fellingnya mengatakan jika Kezia menyukai abangnya.
'Ahhh entahlah' otak Elfiza mendesah pasrah karna tak bisa berfikir dengan benar.
"Kalau bukan gue gimana?" Tanya Fahri.
__ADS_1
"Loe mau tahu?" Elfiza malah balik bertanya yang mendapat aggukan antusias dari Fahri, tentu Fahri ingin tahu saingannya itu siapa lagi selain Yudha tentunya.
"Kenapa ga loe coba tembak Kezia" bukannya memberikan jawaban Elfiza malah menyuruh Fahri mengutarakan perasaannya terhadap Kezia.
"Itu ide yang buruk" jelas Fahri menolaknya.
"Lah kan tadi loe yang bilang pengen tahu siapa yang disukai Kezia" bingung Elfiza menjawab perkataan Fahri.
"Ya ga nembak si mak lampir juga kali El, yang bener aja" kesel Fahri, dia bukannya tak mau hanya saja belum siap.
"Ya loe yang bilang ingin tahu, ya cara yang ampuh agar loe tahu siapa yang disukai Kezia itu loe atau orang lain dengan cara itu Fah" terang Elfiza
"Gue belum siapa" lirih Fahri 'Dan mungkin ga akan pernah siapa' lanjut batinnya.
"Terus kapan siapanya?" Gemas sekali Elfiza dengan gerak lamban sahabat gesreknya satu ini.
"Mungkin nanti" sangsi Fahri
"Ditikung baru tahu rasa loe"
"Jangan doain gitu dong" kesal Fahri.
"Ya makanya gercep Fah" greget Elfiza
"Iya nanti" lesu Fahri berucap.
"Serah loe aja deh nyet!" Kesel Elfiza, jika sudah membahas masalah ini pasti nyali Fahri ciut.
"Gue usahain secepatnya El" dan selalu itu jawaban dari si Fahri, tapi hasilnya sampai sekarang anak beruk itu tidak bergerak juga, membuat Elfiza jengkel sendiri karna Fahri bertindak bak kura - kura berjalan, bukan seperti penyu saat berenang.
"Terserah loe aja, gue harap loe ga nyesel kalau loe keduluan orang lain Fah, loe terlalu kura - kura buat menyikapi ini" jelas Elfiza lantas pergi meninggalkan Fahri yang masih mematung mencerna setiap ucapan Elfiza.
'Loe bener El, semua ucapan loe itu bener tapi gue ga bisa bilang kalau gue suka sama dia, gimana kalau gue ditolak' batin Fahri.
"Gue bukan cuman takut ditolak El, tapi gue juga takut dia jauhin gue kalau sampai dia tahu kalau gue suka sama dia" gumam Fahri lirih.
***
Hari ini tepat 11 september, dan tepat hari dimana Kezia dilahirkan keduania ini, Elfiza dan juga Siska sudah merencanakan kejutan untuk sang sahabat itu, bukan hanya Elfiza saja yang merencanakan ini tapi beberapa teman sekelasnya sewaktu SMA dulu juga ikut berpartisipasi, termasuk si Fahri.
Seharusnya sih kemarin malam mereka merayakanya, namun Siska memilih pas hari hanya saja, tepatnya nanti malam sekitar jam 21.00 wib, baru mereka akan memberikan kejutan untuk sang sahabat.
Sengaja Elfiza menyuruh semuanya untuk tidak mengucapkan selamat terlebih dahulu kepada Kezia, bahkan Elfiza meminta secara langsung kepada mamah dan papah Kezia untuk tidak mengucapkan kata selamat kepada Kezia, dia ingin Kezia berfikiran bahwa semua orang terdekat termasuk orang tuanya melupakan hari pentingnya itu.
Ya namanya kejutan ulang tahun tidak seru jika tidak dibuat kesal atau dikerjai sampai menangis bukan, tapi Elfiza tidak yakin jika mereka bisa membuat Kezia menangis, anak itu jarang menangis lebih sering mencak - mencaknya dibanding meweknya, tapi itu malah terkesan imut untuk sebagian orang yang mengenal Kezia.
Malam yang ditunggupun tiba, hari ini Kezia benar - benar merasa sangat jengkel terhadap teman - temannya itu, bagai mana tidak dia merasa sudah dikerjai habis - habisan oleh teman - temannya.
Apa lagi dua sahabatnya itu entah mengapa hari ini tingkat jahil mereka diatas rata - rata, semakin membuat Kezia kesal.
Hampir satu jam setengah Kezia menunggu Siska dan Elfiza diperpustakan kampus, karna kata mereka janjian akan mengerjakan tugas kelompok bareng, walau sudah satu semester baru kali ini mereka memiliki kelas yang sama dan satu kelompok pula, biasanya tidak pernah, karna selalu dipecah oleh dosen entah kenapa, dosen mereka senang sekali membuat mereka terpecah.
__ADS_1
"Kemana mereka, katanya udah otw tapi ko kaga ada yang nongol satupun" kesal Kezia, dia sudah berkali - kali melirik jam dipergrlangan tangannya, mencoba menghubungi dua sahabatnya namun semuanya diluar jangkauan terus, entah pergi kemana para sahabatnya itu.
"Entah kemana mereka" gumam Kezia.
15 menit berikutnya kepala Kezia benar - benar berasap karna menungu dua sahabatnya yang tak kunjung datang, dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari perpustakaan.
Derrrttttt... derrttttt... derrrrtttt.
Getaran disaku celananya membuat Kezia sedikit kegelian, dai merogoh saku celananya, melihat siapa yang menghubunginya ternyata salah satu dari sahabat gesreknya.
"Ha-"
"Heh sahabat kaga ada akhlak loe dimana gue udah nungguin loe ya selama satu setengah jam diperpus tapi loe pada kaga ada yang dateng, kalau kaga bisa dateng kasih kabar ke jangan buat gue kaya orang bego nungguin kaga pasti" belum juga selesai mengucapkan kata hallo seseorang disebrang telpon langsung mendapatkan serangan nuklir dari sang sahabat.
"Lah loe ngapa jadi marah - marah ke gue? Gue yang harusnya kesel gue sama Siska ini dari tadi nungguin loe yang kaga dateng - dateng" kesal Elfiza dari sebrang telpon menyeprotkan plestisidanya.
"Loe nunggu dimana?" Tanya Kezia
"Diperpuslah" kesal Elfiza
"Gue baru keluar perpus" ketus Kezia
"Emang perpus yang mana yang loe kunjungi Kezia?" Tanya Elfiza.
"Fakultas kita" jawab Kezia.
"Makanya apa - apa itu dibacanya yang teliti Kez, kalau orang chat itu, udah gue bilang dichat pake tulisan kapital pula kalau kita kerjain tugas diperpus utama" kesal Elfiza.
Kezia buru - buru buka chat dari shabatnya yang panjang berderet itu, dia memang tadi hanya melihat kalau mereka kumpul diperpus tanpa tahu kalau bukan perpus dipakultasnya yang jadi tujuam mereka, salahnya juga yang tak teliti.
"Ahhh sudah lah gue balik aja, ga mood belajar lagi" kesal Kezia sambil mentup sambingan telponnya.
Sebenarnya sih Elfiza sudah tahu bakalan jadi seperti ini, Kezia paling tidak fokus jika pesan Chatnya terlalu banya yang dikirim Elfiza atau pun Siska dan yang lainnya, dia akan membaca intinya saja, maka dari itu dia memanfaatkannya, dan ternyata berhasil.
***
Kezia memilih pulang sore itu, dan bahkan disaat pulang pun dia masih saja terkena sial, entah kenapa hari ini sepertinya kesialana tegah melanda dirinya. "Kayanya gue salah langkahin kaki saat bangun tidur tadi pagi" keluh Kezia yang terpaksa harus mendorong motornya yang tiba - tiba saja kempes.
"Mana masih jauh pula, ahhhh sial ... siallllll" kesal Kezia setegah berteriak.
"Lagian loe kenapa mesti kempes ban sih Joko" keluh Kezia kepada motor kesayangannya siJoko, padahal tadi pagi motornya tidak apa - apa tapi kenapa sekarang malah jadi kempes bannya.
Yang tak pernah Kezia tahu adalah itu semua karna ulah teman - temannya, Fahri sendiri yang membuat kempes motor Kezia, sengaja membuang sebagian angin dalam bannya, walau demikian Fahri setia mengekori dari belakang, karna dia takut sang pujaan hati kenapa - kenapa.
Setelah sampai dibengkel kezia kembali mendapatkan kesialan, karna setelah beres dengan siJoko, saat pembayaran Kezia tak bisa menemukan dompetnya yang entah kemana menghilangnya, padahal tadi siang seingatnya masih ada ditempat biasanya ia simpan.
"Ya ampun neng - neng ketimbang 2000 aja ampe bilang berbelit - belit segala dompet ketinggalan lah ga ada uang recehlah, bilang aja minta gratis" tukas sipemilik bengkel.
"Engga gitu loh kang, ini beneran dompet saya itu hilang, mana kartu Atm, KTP saya ada sana pula" keluh Kezia.
"Ah alesan aja si neng ini, ya udah sana ga papah saya ikhlas ko, timbang uang 2000 ini, udah sana pulang" usir sipemilik tambal ban.
__ADS_1
🍂🍂🍂