
"Waktu itu.."
Flasback Onn..
Setelah Arjuna mengambil minum kedapur lantas kembali lagi keruang tengah, bingung sejujurnya entah mau ngapain lagi dia dirumah sebesar ini, tanpa siempunya rumah.
Sepertinya baru dia saja bertamu kerumah orang yang penghuni rumahnya malah meninggalkannya semua.
Karna tak tahu lagi yang mau dikerjakannya disana, dan Yudha yang tak kunjung datang serta Elgiza yang tak turun - turun, akhirnya dia mutusin buat kekamar sahabatnya itu.
Ya siapa tahu saja ada yang bisa dikerjakannya disana, saat akan menuju kamar Yudha, Arjuna tak sengaja melihat pintu kamar Elfiza terbuka, tidak bisa dikatakan terbuka hanya sedikit celah saja, namun itu berhasil membuat rasa penasaran dalam benak Arjuna.
Entah keinginan dari mana, membuat Arjuna berani melangkahkan kakinya kearah kamar itu, padahal selama disini, walaupun dengan Yudha sekalipun dia tak berani untuk melangkah mendekat kearah kamar Elfiza.
Salah satu batas yang amat sangat dilarang keras, bukan dari siapapun tapi dari dalam dirinya, makanya sepenting apapun jika Elfiza sedang ada dikamarnya Arjuna lebih memilih memberinya pesan singkat, untuk berbicara.
Baru kali ini dia benar - benar sedekat ini dikamar Elfiza, diketuknya kamar itu entah apa yang ada difikirannya saat ini, jangankan untuk mengetuk melangkah kearah kamarnya saja tak pernah, tapi ini dengan berani dia mengetuk kamar itu.
'Ohhh Juna apa yang loe lakuin?'' Tanya batinnya kesal.
"Kalau El sampe keluar apa yang gue mau omongin?" Monolog Arjuna.
"Pasti dia bakal aneh banget tahu ge yang ga perna ngetuk kamarnya, gue ketuk" tambahnya lagi masih dengan gumaman.
"Kalau dia mikir macem - macem gimana Juna bodoh?" Tanya kesal pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya Arjuna bisa bernafas lega karna siempunya kamar tidak keluar dan membukakan pintu yang bercelah itu.
__ADS_1
'Mungin dia belum selesai mandi' batin Arjuna.
Setelahnya Arjuna kembali melangkahkan kakinya kearah kamar Yudha, belum sepenuhnya pemuda itu memasukan badannya kedalam kamar Yudha, dia mendengar suara benda jatuh dari arah kamar Elfiza.
Karna penasaran, akhirnya dia kembali kesana, dan kembali mengetuk pintu kamar adik dari sahabatnya itu, mungkin kali ini dia akan membukakan pintu untuknya. Walau dalam hatinya merutuki apa yang diperbuatnya.
'Loe ngapain sih Arjuna, bisa ajakan dia ga senganja nyenggol' bantin Arjuna kesal, gerget sendiri dia dengan tingkah lakunya.
5 menit menunggu tak ada jawaban dari dalam, yang ada suara seseorang yang terdengar sedang merintih, namun hanya beberapa detik saja setelahnya tak terdengar lagi.
Kembali Arjuna mengetuk pintu "El" kali ini dia memanggil nama adik dari sahabatnya itu, entah mengapa alarem kecemasan dalam tubuhnya berbunyi.
"El, buka pintunya ini kak Juna" ucapnya kembali sedikit lebih keras, siapa tau memang tidak terdengar dari dalam.
Sebenarnya tanpa berteriakpun harusnya terdengar karna kamarnya tak dilengkapi dengan alat kedap suara, sayang siempunya nama saat ini tak mendengarnya.
"Geu cuman mau ngecek aja, ga niat bua apa - apa" Arjuna menggumamkan kata - kata itu.
Kriettt...
Pintu dibuka dengan perlahan membuat timbul suara gesekan antara lantai dan kayu dari pintu itu, "El" kembali Arjuna memanggil Elfiza, setelah pintu sedikit terbuka.
Masih tetap sama tak ada jawaban dari dalam, 'mungkin gue kurang kenceng kali ya panggilnya' bantin Arjuna "Elfiza" sedikit berteriak Arjuna memanggil nama adik dari sahabatnya itu.
Jangankan batang hidungnya suaranyapun tak terdengar, semakin penasaran saja Arjuna dibuatnya, sebenarnya apa yang dilakuna Elfiza didalam sana mengapa ribut sekali tadi hingga terdengar dua kali benda yang terjatuh.
Rasa penasaran mengalahkan akal sehat Arjuna, akhirnya anak itu membuka kembali pintu kamar Elfiza.
__ADS_1
Krieeettt....
Kembali terdengar gesekan antara lantai dan kayu pintu, dan pintu kembali terbukali, kini cukup untuk membuat Arjuna melot dengan jelas.
"Astagfirullah Elfiza" ucap Arjuna, sambil bergegas memasuki kamar gadis itu.
"El.. El.... Elfiza" ucap Arjuna berusaha membangunkan Elfiza, yang kini sudah berada dalam pangkuannya.
Sayang tak ada pergerakan dari siempunya badan, terlihat wajah yang begitu pucat, ada beberapa benda yang terjatu disamping Elfiza salah satunya parfumnya, sepertinya anak itu akan sedikit memoles wajahnya, karna Arjuna menemukannya didekat meja rias.
Ahh rupanyadia baru selesai membersihkan dirinya, lihatlah handuk yang masih setia membungkus rambutnya, untungnya dia sudah memakai piama, kalau tidakkan bisa repot.
"El" kembali Arjuna mencoba membangunakan gadis itu kali ini dengan menepuk pelan pipi Elfiza, tapi sayang mata sayu itu sudah setia menutup.
Flasback Off..
"Dan karna gue ga bisa bangunin El, pada akhirnya gue mutusin buat bawa dia ke Rs" ucap Arjuna
"Apa lagi pas gue liat mukanya yang pucet banget udah kaya mayat tau ga, makin takutlah gue, makanya tanpa mikir dua kali lagi gue langsung cus ke rumah sakit, bahkan loe aja gue kabarin pas nyampe sini" jelas Arjuna menutup ceritanya.
Membuat kedua kakak beradik itu meng angguk - anggukan kepalanya tanda mereka faham dan mengerti akan cerita Arjuna.
'Jadi kak Juna yang bawa gue kesini. Hisss, kesel deh tapi ko ya seneng' bati Elfiza.
'Gimana rasanya ya pas digendong kak Juna, kok gue jadi dek .. dek ser gini ya jadi pengen rasain' monolog batin Elfiza .
'Tunggu dulu ngapa loe jadi mikir yang aneh - aneh sih El, aduh kaga beres ni otak gue' kembali batin Elfiza berperang dengan perdebatan yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
TBC..