
Beberapa bulan telah berlalu, kehidupuan terus berjalan kedepan meninggalkan yang lalu dibelakang, tapi entah mengapa perasaannya terhadap Nano masih sama seperti dirinya pertama kali merasakan yang namanya cinta.
Entah kapan dia bisa mengatasi masalah move onnya itu yang sampai saat ini tak bisa ia urus, semua teman - temannya sudah memiliki pasangannya masing - masing, tapi Elfiza masih terpuruk antar dimensi ruang dan waktu itu yang dinamakan masalalu, dimana dia tak bisa berkutik atas rasa cintanya terhadap pria pertama yang mengenalkan cinta kepadanya.
'Dia yang mengenalkan cinta itu dia pula yang menghancurkan cinta itu' batin Elfiza berucap demikian jika memory masa lalunya tiba - tiba saja muncul tanpa diminta olehnya, terbayang tanpa bisa dicegah oleh hatinya, bekerja tanpa perintah otaknya itu sangat membuatnya pruatasi akhir - akhir ini karna tak bisa melupakan masa lalunya.
"Entah sampai kapan ini akan berlanjut" gumam Elfiza.
"Dek jalan - jalan yu" Ajak Yudha tiba - tiba saja mengagetkan Elfiza yang sedang melamun.
"Astagfirullah" Elfiza sampai menyebut saking kagetnya, entah datang dari mana abangnya itu sampai tidak terlihat olehnya.
"Nonton apa ngelamun?" Ejek Yudha, Elfiza hanya mendengus saja, karna jujur saja dia benar - benar merasa jika jantungnya copot kebawah sesaat tadi.
"Datang dari mana sih?" Ketus Elfiza bertanya.
"Makanya jangan ngelamun aja ada yang dateng kan ga tahu jadinya" tegur Yudha, Elfiza hanya mengangguk acuh, dia masih heran kakaknya itu datang dari mana coba, padahal jika datang dari arah depan dia pasti tahu apa lagi kalau dari belakang sofa tapi ini apa dia benar - benar tak melihat atau mendengar kedatangan abangnya.
Elfiza tak semelamun itu dia masih bisa merasakan kehadiran orang lain disampingnya jika ada pergerakan, entah itu suara atau sebuah wujud, dia yakin dia tak melamun sedalam itu sampai dia tak menyadari kehadiran kakaknya.
Padahal dia menonton saja tidak fokuk ke tontonan yang ditinton, bahkan dia sendiri tidak tahu acara apa yang sedang berlangsung, bagai mana akan tahu kehadiran kakaknya itu, tapi kekeh bahwa dia harusnya tahu kehadirian kakaknya itu, 'Kak Yudha jelmaan jelangkung apa ya' sembarang saja batin Elfiza berucap demikian, seandainya Yudha tahu entah apa yang akan terjadi dengan dua kakak beradik itu.
"Yeh diajakin jalan malah bengong, ngelamun terus nih" keluh Yudha membuyarkan lamunannya.
"Tumben?" Apa yang dikatakan Yudha malah dibalas pertanyaan oleh Elfiza tanpa memberikan jawaban atas ajakan dari kakaknya itu.
"Kakak lagi bt ni diruh terus" jawab Yudha.
"Kemana emangnya kak Juna? Biasanyakan udah kaya kembar dempet kemana - mana berdua aja" tanya Elfiza.
"Dia lagi dibandara, emangna cau gancet (emangnya pisang dempet) apa?" Ketus Yudha.
"Hahaha... kali aja gitu, ya secara kakak kemana - mana berdua aja, orang yang kembar aja kaga segitunya kak, atau jangan - jangan kalian belok lagi ya" tuduh Elfiza, membuat jidatnya pedas karna sentilan dari sang abang.
Platk.....
"Awwww sakit! Ga kira - kira ishhh" kesal Elfiza mengusap - usap keningnya yang terkena sentilan sang abang, warna keningnya berubah merah dalam sekejap begitu pedas rasanya. "Penganiayaan" ketus Elfiza.
"Ya lagi kamu bilangnya gitu, ehh kakak mu ini cowo maco ya! Tulen nih masih suka yang bening sama yang licin dan kinclong" ketus Yudha menjawab.
"Dipikir lagi cuci piring kali bening, licin dan kinclong" gerutuh Elfiza.
"Udah jadinya mau engga ini?" Tanya Yudha akhirnya lebih mengalah dari pada mendebat adiknya lagi.
"5 menit ok" ucap Elfiza lantas berlari menaiki anak tangga untuk segera sampai kekamarnya.
"Jangan lari - lari El" teriak berbarengan Yudha dan Yudis memperingatkan, Elfiza hanya nyengir saja saat diperingatkan, dia selalu lupa akan hal itu.
Yudis yang baru akan turun kebawah menggeleng saja atas kelakuan adiknya satu itu, "Haisass" ucap Yudha.
"Ga ada kapoknya" gumam Yudis, ya Elfiza pernah jatuh dari tangga yang mengakibatkan pergelagan kakinya bergeser, sewaktu masih menempati rumah dipangandaran hampir dua minggu dia tidak bisa berjalan, beruntung saja tidak patah kakinya saat itu tapi masih saja dia tidak kapok jika turun atau menaiki tangga dia selalu saja berlari.
Pecicilan sekali anak satu itu, sepertinya dia memang tidak bisa kalem seperti cewe pada umumnya, membuat kedua abangnya menghembuskan nafasnya berat mereka.
"Bagai mana?" Tanya Yudha setelah Yudis duduk disampinya.
"Sudah beres" jawab Yudis singkat tangannya asik memindahkan cenel tv, mencari acara yang menurutnya asik untuk menjadi tontonan siang menjelang sore itu.
"Apa kau kasih pelajaran padanya?" Tanya Yudha kembali yang diangguki mantap Yudis.
"Ga ada yang boleh nyakitin El" ucap Yudis, tangannya menggenggam erat remot tv yang masih dipegangnya tanpa tarasa, entah mengapa jika mengingat itu dia masih merasa kesal.
"Bagus" ucap Yudha.
"Dia harus diberi pelajaran agar dia tahu sedang berhadapan dengan siapa dia sebenarnnya" tambah Yudha yang kembali membuat anggukan dikepala Yudis.
"Awas saja anak itu jika masih berani temuin Elfiza lagi" ucap Yudha.
"Abang tenang dia udah janji kok ga bakalan temuin El lagi" ucap Yudis mencoba meyakinkan sang abang.
"Bagus" ucap Yudha.
"Siapa yang ga mau temuin aku lagi?" Pertanyaan dari gadis manis dibelakang Yudha dan Yudis sontak membuat kedua adik kakak itu terlonjak kaget, tak menyaka adiknya telah kembali.
"Siapa lagi kalau bukan teman - tema kamu yang mau jauhin kamu karna penampilan kamu yang aut - autan mulu itu" jawab Yudha sambil menunjuk pakaian yang dikenakan Elfiza.
__ADS_1
Elfiza segera memandang dirinya dipantulan pintu kaca yang mengarah kedapur itu, tidak ada yang acak - acakan menurutnya ini pakaian yang bagus menurutnya, jins yang entah lah warnanya dasarnya seperti apa? Terpasang sempurna dikakinya yang mungil itu, ada beberapa sobekan diare paha dan lutut entah memang modelnya seperti itu atau memang dia yang tak sengaja merobeknya atau malah dia sendiri yang melubanginya.
Kaus belel yang menutupi lekuk tubuh area atasnya entah memang kaus itu bentukannya seperti itu atau memang Elfiza salah memilih saizenya karna begitu kebesaran menurut Yudha, sesekali Elfiza membenarkan lengan kausnya bagian bahu karna sesekali turun dan mengekspos bahu mulusnya yang mengenakan tanktop warna navy itu.
Rambut yang digelung asal sedikit acak - acakan karna beberapa rambut menjuntai tak beraturan malah terkesan seksi karna menampilkan leher mulusnya.
"Astga" Yudis menepuk jidatnya.
"Kamu mau mempermalukan kakak mu ini?" Tanya Yudha kesal karna melihat penampilan sang adik.
"Lah kenapa? Ada yang salah?" Tanya polos Elfiza.
"Kakak tahu kamu itu amburadul tapi seengganya tolong jangan buat kakak kamu ini malu dong El" keluh Yudha.
"Apaan sih, emang ada yang salah dengan penampilan aku?" Ketus Elfiza bertanya.
"Banget" ucap kedua kakak Elfiza membuat Elfiza mendengus karna kesal.
"Apanya yang salah sih? Orang pakai baju juga ga malu - maluin ko, terkecuali ga pakai baju" tukas Elfiza kesal.
"Iya pakai baju tapi ga gitu juga El, seengganya pakai dress ke, buat apa kita - kita kasih kamu dress kalau ga ernah kamu pakai kasian juga ayah sama ibu yang juga beliin buat kamu" ucap Yudis.
"Tapi aku nyamannya gini gimana dong?" Keluh Elfiza yang memang tak pernah nyaman menggunakan dress - dress pemberian kedua kakaknya itu yang terkesan manis itu, menurutnya malah mengerikan.
"Tidak ada bantahan ganti baju sekarang! Atau..." Perintah Yudha.
"Atau apa?" Tantang Elfiza.
"Atau kakak kasih tahu kelakuan kamu dikampus sama ayah, bagai mana kamu sering membolos dan kesiangan bahkan ikut demo yang berakhir ricuh" ucap Yudha yang membuat Elfiza memelototkan matanya, dari mana abangnya itu tahu jika dia masih saja membuat masalah walau sudah kuliah itu.
"Isss mainnya aduan" kesal Elfiza.
"Udah sana cepat ganti baju, kalau masih mau selamat" ancam Yudha, dengan menggerutu Elfiza kembali kekamarnya untuk mengganti bajunya, dia tidak bisa berkutik jika kartu asnya dipegang sang abang yang paling menyebalkan itu.
Kalau semua yang diucapkan kakaknya itu sampai terdegar ditelinga ayahnya, sudah dapat dipastikan dia tidak akan selamat dari sang ayah, yang pasti akan mengamuk itu, ahhh abangnya satu itu memang sungguh sangat menyebalkan.
***
"Ayo jalan" ajak Elfiza setelah sepuluh menit berlalu akhirnya Elfiza kembali kebawah, dia telah siap dengan penampilannya yang terkesan sangat manis itu.
"Isss nyebelin" tukas Elfiza mendahului Yudha, Yudis hanya terekekeh melihat adiknya misuh - misuh itu karna kesal.
"Manis kaya permen karet, hanya sesaat, haisss" gumam Yudis sambil fokus
kembali ketontonanya.
"Coba kalau penampilannya kaya gini terus dek, pasti cepet dapet pacar" ucap Yudha yang masih saja meledek Elfiza yang suda duduk nyaman disampingnya, karn tak mau lebih kesal lagi akhirnya dia memilih diam dari pada meladenin kakaknya itu.
Tak butuh waktu lama hanya sekitar 15 menit akhirnya mobil itu terparkir manis dibasmem salah satu mall, Elfiza turun diikuti oleh Yudha.
"Senyum dikit kenapa sih" pinta Yudha karna sedari tadi adiknya itu mukanya ditekuk mulu, Elfiza hanya memutar bola matanya malas.
"Senyum atau kita pulang sekarang" gratakan Yudha berhasil membuat Elfiza tersenyum.
'Sial' batin Elfiza kesal karna ulahnya sendiri.
"Nahkan jadi lebih manis" ucap Yudha tulus, sambil menggandeng lengan sang adik.
Apa yang dikatakan Yudha memang benar Elfiza sangetlah manis dengan dress berwarna baby blue yang dikenakannya, dengan sepatu platshos putihnya, rambut yang dibiarkan tergerai dibubuhi dengan bandu rawna senada dengan dress yang dikenakanya membuat Elfiza sangat manis sore ini.
Yudha tersenyum puas menatap penampilan adiknya itu, 'seandainya tiap hari kaya gini, mata gue lebih fress dirumah' batin Yudha.
****
"Ehh iya kak , kak Juna ngapain kebandara?" Tanya Elfiza, sekalinya memulai pembicaraan malah menanyakan temannya membuat Yudha mendengus saja.
"Jemput bapaknya" jawab Yudha singkat yang diangguki Elfiza.
"Mau kemana dulu kita?" Tanya Elfiza.
"Terserah kamu" jawab Yudha membiarkan adiknya memilih mau kemana dulu.
"Temzoone boleh?" Tanya Elfiza memastikan.
"Ok, cus lah" ucap Yudha sambil menyeret sang adik.
__ADS_1
"Hais ga ada lembutnya sama adik sendiri" kesal Elfiza.
***
Sore itu dua kakak beradik itu menghabiskan sore dengan menyenangkan, kebtan Yudha sirnah sudah terganti dengan keseruan yang mereka buat, dari mulai bermain ditemzoon, sampai esketing mereka lakukan dan berakhir mereka berada dibioskop menonton salah satu filem komedi yang berhasil mengocok perut mereka karna terus saja tertawa.
Benar - benar hiburan tersendiri untuk mereka berdua, ternyata menghabiskan waktu luang bersama Yudha tidak seburuk yang dia bayangkan, abangnya itu sukses membuat dia terhibur karna keseruan yang dirasakan mereka.
"Mau kemana lagi kita?" Tanya Elfiza setelah keluar dari area bioskop itu.
"Emmmm sebelum makan mampir dulu ya ada barang yang mau kakak ambil" ucap Yudha, Elfiza mengangguk saja menuruti apa yang diinginkan kakaknya itu.
Mereka memasuki toko perhiasan dimall itu, Elfiza dibuat bingung mau apa abangnya itu kotoko persiasan.
"Mau apa kesini?" Tanyanya, kekeponya sudau diubun - ubun akhirnya Elfiza tanyakan juga apa tujuan mereka ketoko persiasan itu.
"Sudah dibilangkan tadi mau ambil barang" jelas Yudha, Elfiza tak ingin ambil pusing lagi soal itu dia hanya mengekor kemana Yudha pergi.
"Selamat sore mas dan adiknya" sapa seorang pramuniaga toko perhiasan itu.
"Sore mba, apa pesanan saya sudah jadi ya mba?" Tanya Yudha tanpa basa - basi lagi.
"Atas nama siapa ya mas?" Tanya pramuniaga itu sopan
"Prayudha" jawab Yudha singkat.
"Baik, ditunggu sebentar ya mas" pinta pramuniaga itu ramah, yang diagguki Yudha.
"Kakak beli apa sih?" Tanya Elfiza setelah pramuniaga itu menghilang entah kemana, rasa penasarannya terlalu tinggi hanya untuk didiamkan saja olehnya.
"Nanti juga kamu tahu" jawab Yudha
"Hiss dasar" gumam Elfiza.
"Ini mas, maaf menunggu lama" pramuniaga itu kembali dengan membawa kantung berukuran kecil, yang entah isinya apa yang jelas itu pasti persiasan ditoko ini, Elfiza tidak bisa menebak isi dalam kantung kencil itu.
"Saya cek dulu ya mba" ucap Yudha.
"Silahkan mas" ramah si pramuniaga itu.
Yudha mengeluarkan isi dalam kantung itu sebentuk kalung yang begitu idah menurut Elfiza, kalung sederhana dengan liontin galaksi berukuran sedang itu tergantung manis menujuntai karna tengah diamati oleh Yudha.
"Perpack, seperti yang saya mau, trimakasih ya mbak" jawab Yudha sambil memberikan salah satu kartunya dari dompetnya itu untuk pembayaran.
"Baik mas trimakasih kembali dan ini kartunya" ucap pramuniaga ramah itu mengembalikan kartu yang tadi diberikan Yudha.
"Buat siapa sih kak?" Tanya Elfiza setelah keluar dari toko perhiasan itu.
"Nanti juga kamu tahu" sudah dua kali Yudha menjawab pertanyaan Elfiza dengan jawaban yang sama.
"Dasar sok misterius" kesal Elfiza sambil mendahului sang kakak.
"Sok - sokan mau main rahasia - rahasiaan" grutuh Elfiza.
'Mau dikasih kesiapa ya kalung seindah itu?' Tanya bantin Elfiza masih saja penasaran.
"Ayo kita makan" ajak Yudha setelah berhasil mensejajarkan jalannya dengan sang adik, Elfiza cepat sekali jalannya tadi membuat Yudha sedikit tersengal karna sedikit mempercepat laju kakinya.
Elfiza mengekori kemana abangnya itu pergi masih dengan rasa penasaran yang belum terobati tentang kalung itu, entah akan diberikan kepada siapa kalung itu. 'Kak Yudha sudah pasti tidak akan memakainya, dari bentuknya saja sudah terlihat jika itu untuk perempuan' batin Elfiza.
'Tapi siapa yang akan memakai kalung itu, mau dikasih kesiapa kalung itu sama kakak, ga mungkin ke si medusa itu kan' batin Elfiza tengah berperang mempertanyakan kalung sang kakak yang membuat penasaran Elfiza.
'Ahhh sudah lah Elfiza jangan mikirin yang aneh - aneh mulu mending makan' cicit hatinya.
****
Dan sore itu berakhir dengan rasa penasaran Elfiza terhada kalung yang kakaknya beli itu, entah siapa yang beruntuk memiliki kalung semanis nan cantik itu nanti.
Sampai pada akhirnya Elfiza terlelap dia masih saja memikirkan untuk siapa kalung itu, hanya saja dia tak memiliki jawabannya, walau Yudha banyak yang menyukai tapi Yudha tidak seperti Yudis yang gampang dekat dengan perempuan dan mendapatkan pasangan.
Yudha terlalu dingin untuk didekati para wanita yang hangat kasih sayang itu, maka dari itu mereka haya mengagumi dari jauh saja, Yudha memang terkesan cuek terhadap lawan jenis, tapi dia akan super posesif dan memperlakukan orang spesialnya dengan sangat manis menurut orang disekitarnya.
Elfiza saksinya jika Yudha memiliki hubungan dengan lawan jenis dia akan sangat manis, bahkan Elfiza sendiri bilang wanita itu beruntung karna menjadi orang spesialnya Yudha, karna kelakuan manisnya membuat siapa saja iri melihatnya termasuk Elfiza.
'Lupakan itu El, dan tidurlah' sentak batinnya.
__ADS_1
🌳🌳🌳🌳