My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
TAK TERDUGA


__ADS_3

Malam kian larut, senyapnya malam kian mencekam bumi, sunyi merajai sang malam menandakan bahwa dibumi sudah tak lagi ada tanda - tanda kehidupan, semua yang hidup telah terbuai dan bermain dalam mimpi mereka, agar bisa menyambut pagi dengan harapan berbeda.


Ternyata perhitungan sunyi salah, masih ada satu insan yang terjaga sampai saat ini, sunyi yang melanda sang malam tak membuatnya takut untuk menikmati pemandang yang telah alam perlihatkan malam ini.


Gadis itu meneggadahkan kepalanya melihat betapa indah hiasa langit gelap itu, rembulan dan geminta rupanya masih setia menemani malam diatas cakrawala.


Ahh betapa indah ciptaan - Nya, sayang dia tak pernah bisa menjangkaunya, dipandanya hiasan sang malam itu dengan senyum yang mengembang dibibir gadis itu.


Entahlah apa penyebanya sehingga dirinya masih terjaga diwaktu seseorang harusnya terlelap.


"Indah bukan, hiasan malam itu luar biasa tak kalah indah dengan hiasan siang yang menyengat" tiba - tiba saja suara itu terdengar begitu jelas ditelinganya, gadis itu tampak menoleh kekanan dan ke kiri, memastikan siapa yang tadi berbicara, namun nihil hasilnya tak ada siapapun disana selain dirinya.


"Lihatlah, aku suka cara kerja rembulan" kembali suara itu terdengar lagi, gadis itu kembali menoleh memastikan jika memang tidak ada orang lain selain dirinya disana, dan hasilnya tetap sama dia memang sendiri malam ini dihalaman samping rumahnya.


"Dia yang paling benderang diantara hiasan malam yang lainnya, sama seperti mentari sinarnya paling terang"


"Kenapa sesuka itu?" Kali ini gadis itu terlonjak kaget saat dirinya sendiri mendengar suara itu, suara yang tak asing lagi untuknya, bagai mana tak asing, dia tentu hafal suaranya sendiri.


"Bukankah sudah ku katakan jika keduanya indah"


"Tapi sayang tidak bisa bersatu"


"Bisa ko"


"Tapi malah jadi gerhana"


"Bukan kah itu lebih indah"


"Seperti aku dan kamu"


"Maksudnya?"


"Jika mentari dan bulan bersatu jadilah gerhana, kalau aku dan kamu bersatu ya jadi kita"


Sebersit semum terukir dibibir mungil Elfiza, ya gadis yang sedari tadi sedang kebingungan dengan suara - suara yang terdengar olehnya, kini ia faham betul apa yang tengah terjadi saat ini.


Tanpa rasa bersalah dan berdosanya sebuah kenangan masa lalu melintas begitu saja, meluncur bak roda lolerkoster yang tak berrem itu.


Tak dapat dihentikan oleh otaknya, padahal waktu sudah lama jauh berputar kedepan tapi mengapa Elfiza tetap jalan ditempat, seakan enggan untuk meninggalkan masa lalu yang penuh kenangan.


Ingat bukan hanya kenangan indah saja yang kau dapatkan, tapi juga kenangan pahit yang kau terima denga baik, dan masih tercetak manis disudut hati terdalam mu, apa kau tak ingin meninggalkan hal itu?.


Hemmmmmm....


Tanpa sadar hembusan nafas berat itu terhembus begitu saja dari dalam lubang hidungnya, sepertinya paru - parunya membengkak, entah terlalu banyak oksigen yang didapat, atau malah kurang sehingga rasanya sesak.


Tiba - tiba saja lengannya memukul - mukul dadanya berusaha mengusir sesak yang menghimpit jiwa, sadarlah itu bukan penyakit yang dapat dokter umum atau spesialis jantung atau paru - paru yang dapat menyembukannya.


Kau sendiri yang harus berjuang utuk menghilangkan sesak itu, cobalah untuk berdamai dengan masa lalu, siapa bilang dia tak ingin berdamai dengan masa lalunya? Sudah banyak cara dicobanya tapi hasilnya? Sama sekali belum terlihat!.


Manusia memang hanya bisa sabar sajakan setelah berusaha 'Pasti ada saatnya dimana gue bisa tertawa lepas saat mengenang peristiwa menyedihkan itu' batin Elfiza.


*****


Ya semua mengatakan cobalah untuk melupakan, semuanya mengatakan demikian, hal gampang utuk seseorang memerintahkan demikian.


Dirinyapun bisa hanya sekedar ucapan tanpa harus membelinya, mengapa sulit, bukan ucapannya yang sulit melainkan menjalaninya yang sulit.


Karna selama ini dia belajar untuk mengingat bukan melupakan, itu yang selalu diterapkan dalam kehidupannya sehari - hari, jadi jangan salahkan dia jika dirinya masih butuh waktu untuk bisa berdamai dengan masa lalu.


Mungkin waktunya akan lebih lama lagi untuk bisa berdamai dengam masa lalu, setela ini, entah mengapa kenangan - kenangan bersamanya terbayang kembali seperti baru saja terjadi.


Walau meneriakan kata cukup sekalipun kenangan itu tak bisa dicegah untuk berputar diotaknya yang sudah lelah memutar memory itu terus, entah kapan semuanya usai bagi Elfiza.


Bayangan tadi siang tiba - bita saja muncul tumpang tindih dengan bayangan masa lalunya, akhirnya dia mengerti mengapa memory yang selama ini dicoba untuk ditekannya agar tidak muncul kepermukaan otaknya.


Malah kembali muncul ternyata masalahnya ada pada kejadian tadi sore.

__ADS_1


Flasback On...


Selepas Siska, Kezia dan Elfiza merasa cukup untuk dirinya membolang hari ini, mereka berpisah disalah satu perkebunan strowberi didaerah lembang.


Seharusnya sih Elfiza sudah pulang jika saja dua abangnya itu tak menelponnya tadi, 'Kalau ga bikin adiknya repot bukan kak Yudha sama kak Yudis namanya' keluh batin Elfiza.


Elfiza terpaksa putar balik, untuk menuruti keinginan kedua kakaknya itu, untuk membelikan makanan kesukaan kedua kakaknya.


Dia masih menggerutuh setelah sampai ditempatpun, Elfiza semakin mendumel manakala martabak tempat biasa langganannya itu ramai sekali.


"Sial, kenapa sepanjang ini antriannya" kesal Elfiza bergumam, karna tak ingin menunggu lama akhirnya Elfiza memutuskan untuk mengabari kedua kakaknya.


^^^Si Raja Jahil😈^^^


...📨 Antrinya panjang ditempat lain aja ya...📨. To the point isi pesan dari Elfiza....


Tak kalah cepat Yudha membalas pesan dari sang adik.


^^^Si Raja Jahil😈^^^


^^^📩Ga mau pengen martabak mang Amin saja 📩.^^^


Elfiza mendengus kesal saat membaca deretan kata yang tertera dipesan singkat kakaknya itu.


^^^Si Raja Jahil😈^^^


^^^📨 Tapi panjang banget  📨^^^


Kali ini Elfiza mengeluh ria dalam pesannya, tak lupa dia mengirim foto jejeran orang yang tengah mengantri itu, sekedar bukti agar kakaknya itu mau mengerti.


^^^Si Raja Jahil😈^^^


^^^📩Ga mau tau pokonya yang disitu 📩^^^


^^^📨 Ga tau diri, sudah nyuruh pake merintah pula 📨^^^


^^^Si Raja Jahil😈^^^


^^^📩 Merintah ama nyuruhkan ga ada bedanya adik abang sayang, udah kakak pengennya yang itu, kamu aja sering minta sesuatu dari kakak, masa kakak minta tolong sekali ini aja ga bisa 📩^^^


Rasanya kalau tidak malu Elfiza ingin ngamok saja ditempat itu, kesal sekali terhadap kakaknya satu ini. 'Masih aja nyuruh nunggu, benebenar kebangetan, awas aja nanti' batin Elfiza.


^^^📨😠😡📨^^^


Hanya emot kesal itu yang Elfiza balas dipesannya untuk Yudha, kesal sudah ia dibuat kakaknya itu. Tak lama menunggu Elfiza kembali mendapatkan pesan dari kakaknya, kali ini ...


Bepp... bepp.. bepp...


^^^Moster Makcoblang😧^^^


^^^📩Dek sudah sampai mana? Kok ga nyampe - nyampe rumah sih? 📩^^^


Senang kali rasanya mendapat pesan yang isinya seperti ini, perhatiannya Yudis ini 'Abang gue yang satu ini the basdt banget deh, jadi makin sayang' batin Elfiza.


Bepp... beppp... beppp...


Kembali pesan masuk datang, sebelum Elfiza sempat balas pesan dari Yudis.


^^^Moster Makcoblang😧^^^


^^^📩Jangan lupa ya pesanan kakak, terus jangan kelamaan😄📩^^^


Rasanya Elfiza ingin menenggelamkan kakak - kakaknya saja kalau bisa, baru saja dipuji malah jatohnya Elfiza ingin mencakar Yudis sampe berdarah - darah saja setelah melihat isi pesan tersebut.


Tak ingin emosinya semakin meluap Elfiza memilih pergi kesebrang, Elfiza lebih memlih berkeliling dirumah lindung itu, untuk menunggu antrian dari pada berdesak - desakan ria dikedai martabak itu.


Sudah dikatan jika Elfiza tak suka keramaian bukan, jadi biarkan saja ular naga itu meliuk - liuk mengikuti antriannya. Elfiza berharap sih martabak itu habis biar saja, biar sekalian kakaknya itu tak mendapatkan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


Lembang memang selalu menyegarkan menurut Elfiza, apa lagi sekarang dirinya berada dirumah lindung, dia memang suka dengan bunga walau bukan pecinta bunga sejati seperti Yunia dan Siska.


Dia hanya sekdar suka saja, karna ada beberapa bunga yang membuatnya terkesan dan suka.


"Hai, boleh kita bicara?" Hampir saja jantung anak macan itu copot saking terkejutnya.


"Loe, ngapain loe ada disini?" Tanya Elfiza, dia benar - benar terlonjak kaget saat mengetahui siapa yang megajaknya bicara.


"Ngikutin loe" jawabnya enteng tanpa rasa bersalah, tidak tahuka jika dirinya bisa saja menjadi seorang pembunuh karna telah membuat jantung Elfiza terancam.


 "Apa mau loe?" Tanya Elfiza to the point, dia tak punya banyak waktu, setidaknya untuk orang yang berada dihadapannya saat ini, tidak sampai dia bisa menguasai hatinya itu.


"Simpel, mau gue cuman satu kita balik kaya dulu" jawabnya, bisa ditebak sendiri bukan siapa orang yang saat ini berada disamping Elfiza.


Mendengar ucapan dari Nano membuat Elfiza mangkal, tidak tahukah jika dirnya sudah membenci hal itu, tapi mengapa diinginkan lelaki dihadapannya itu.


"Sory gue ga bisa" jawab Elfiza santai, lebih tepatnya mencoba merilekskan diriya agar tidak terlihat tegang.


"El kasih aku kesempatan, aku mohon" pinta Nano, tanpa rasa malunya, dimanakah urat malu mu Nan?.


"Maaf gue tetep ga bisa" ucap Elfiza.


"Aku tahu aku pernah berbuat salah, tapi tidak bisakah kesempatan kedua itu ada untuk ku?" Pinta Nano. Dasar lelaki tidak punya urat malu.


"Ga ada yang harus diberi kesempatan, karna semua berakhir juga gara - gara loe" jelas Elfiza menekankan.


Ingin rasanya Elfiza menampar pria dihadapanya yang degan beraninya mencekal pergelangan tangan Elfiza, menahannya untuk pergi dari sana.


"Loe ga bisa lari El, perasaan ga bisa dibohongi" cegah Nano berucap.


"Apa maksud loe?" Tanya Elfiza, bukannya dia tidak tahu hanya saja lebih baik berpura - pura tidak tahu saja.


"Jangan mengelaknya El kalau loe masih punya rasa itu untuk gue" ungkap Nano


"Mana buktinya kalau gue masih ada rasa sama loe? Mana buktinya?" Sedikit berteriak Elfiza bertanya, seprtinya dia terbawa Emosi.


"Kenapa diam? Loe ga punya buktinya? Itu artinya semua yang loe bilang tadi ga ada satupun yang benar" tandas Elfiza berucap, nafasnya sedikit memburu karna emosinya yang tak stabil.


"Gue ga perlu buktiin apapun El, karna perasaan kita terhubung" jelas Nano mencoba memperdekat jarak diantara mereka, sayang saat jaraknya semakin dekat, Elfiza malah memberi jarak kembali dengan melangkah mundur.


"Stop bicara omong kosong Nan, gue harap ini pertemuan terakhir kita membahas masalah ini" ucap Elfiza.


"Itu artinya gue masih bisa bertemu sama loe?" Sergah Nano senang.


"Gue harap loe ngerti, saat nanti kita ketemu secara tak sengaja seperti ini, tolong jangan pernah tegur gue lagi anggap saja kita ga penrnah kenal" pinta Elfiza.


"Cobalah menerima semua yang telah terjadi Nan, itu semua yang dulu loe inginkan bukan jadi jalani lah sesuai yang loe inginkan walau bukan seperti yang loe harapkan" ungkap Elfiza lantas berlalu.


"Itu artinya apa yang gue bilang tadi benarkan El, rasa itu masih ada untuk gue iya kan El?" Teriak Nano bertanya karna Elfiza sudah menjauh dari hadapannya dengah langkah seribunya.


"Gue harus pergi dari sini secepatnya" gumam Elfiza.


"Kenapa mesti ketemu ama tu anak sih" kesal Elfiza.


Elfiza kembali menyebrang tapi bukan untuk kekedai martabak yang memang antriannya bukan kurang malah semakin betambah, Elfiza kembali kesana untuk mengambil motornya lantas melesat pergi dari tempat itu.


Dia tak ingin lagi berurusan dengan pemuda itu, cukup sudah dia berurusan dengan lelaki itu, bahkan masalah melupakan saja dia belum bisa tapi dengan santainya pria itu malah hadir kembali dalam hidupnya.


Ohhh rencana tuhan macam apa ini sebenarnya, mengapa Elfiza tidak bisa tenang barang sebentar saja atas masa lalunya itu.


Elfiza memacu kuda besi itu tanpa ampun, kecepatannya diatas rata - rata, entahlah dia tidak memikirkan kemungkinan yang akan terjadi padanya, dia hanya berfikir bagai mana caranya terlepas dari pengejaran Nano.


Karna sedari tadi motor yang dikendarai Nano terus saja mengikutinya, Elfiza benci ini mengapa dirinya seperti sedang bermain filem saja. Kali ini dia seperti seorang penjahat yang kabur dari kejaran polisi.


🐼🐼🐼


TBC..

__ADS_1


__ADS_2