My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
Semakin kacau


__ADS_3

Makrab yang seharusnya menyenangkan berakhir dengan sangat buruk, desas - desus tentang Elfiza sudah berseliweran diseluruh penjuru kampus, tak ada yang mau berdekatan dengannya, dia dikucilkan dikampus, sering menjadi bahan usilan mahasiswa entah itu senior atau pun teman satu angkatnya, tak ada yang membelanya malah terkesan bersyukur atas apa yang menimpanya, bahkan kedua kakaknya tak ingin mau tahu lagi tentangnya, jangankan memiliki teman sahabatnya pun direnggut secara paksa darinya, siapapun yang dekat dengannya akan dibully habis - habisan oleh mahasiswa lain, hingga pada akhirnya Siska dan Kezia lebih memilih mengalah menerima permintaan dari Elfiza untuk menjauhinya.


Yang tinggal kini hanya Fahri seorang saja, bukan tak ada yang berani mengganggunya hanya saja mereka lelah dengan anak satu itu, sudah berpuluh - puluh kali mereka menjahili anak itu memperingatkannya secara halus sampai kasar untuk tidak mendekati Elfiza malah diacuhkan oleh Fahri bahkan tak jarang Fahri melawan mereka juga, alhasil mereka lebih memilih mengabaikan Fahri.


Disaat kedua sahabatnya itu merasakan sakit bagaimana berada diposisi Elfiza saat ini, ada yang merasa bahagia karena semua usahanya untuk menjatuhkan Elfiza berhasil, siapa lagi kalau bukan Tania dkk, saking bahagianya Tania dia mengadakan pesta atas kemenangannya mengalahkan gadis imut itu.


"Siapa suruh dia berurusan dengan gue" pungkas Tania sambil tertawa bersama dengan kedua temannya yang lain yang tengah menikmati pesta mereka, saat ini mereka ada di apartemen milik Tania.


"Nikmati masa - masa kemenangan kita guys" ucapnya kepada kedua temannya yang diangguki serta sorakan dari kedua temannya.


***


Tak ada tempat yang membuatnya nyaman entah di kampus atau pun dirumah, semuanya sama saja bagi Elfiza, menyesakan dada apa lagi saat dirinya harus berpapasan secara tidak sengaja dengan kedua kakaknya, ingin rasanya ia menghindar untuk bertemu muka dengan kedua kakaknya, bukan karena dirinya menerima apa yang dituduhkan kepadanya, ia lebih tidak ingin melihat tatapan membenci kedua kakaknya kepada dirinya, sungguh itu membuat hatinya semakin sakit, andai saja dia bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini.


Ingin saja dia berteriak mengatakan itu jika semua itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya, tapi sayang sekeras apapun dirinya membela diri hasil akhirnya akan tetap sama tak akan ada yang percaya, sedangkan bukti terkuatnya tak mungkin lagi Elfiza tunjukan untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam Vidio itu.


Dirinya seperti mati langkah untuk membela diri saja sudah tidak bisa apa lagi untuk membuktikan kebenarannya, diam lebih baik dari pada berkoar tak ada yang mendengarkan sama sekali, malah memperkeruh keadaan yang sudah kacau, Elfiza hanya diam, diam bukan berarti dirinya lemah, tapi itu cara terbaik mempertahankan kekuatannya, memperlihatkan bahwa dirinya tahan banting dengan apa yang saat ini menimpanya.


Sayang sang ayah sedang tak berada rumah ini, seandainya sang ayah ada Elfiza mungkin bisa sedikit tertolong karena sang ayah merupakan salah satu saksi bagaimana kejadian itu terjadi walaupun tak menyaksikan secara langsung, sedang saksi kunci yang ada sudah tak mungkin Elfiza hadirkan untuk membelanya.


Ada sedikit syukur dalam sedikit rasa sesak dalam hatinya karena kedua orang tuanya tak ada dirumah, karena ayah dan ibu sedang berada dinegara tetangga untuk menyelesaikan pertemuan ayah dengan para kolega sang ayah, dan waktu untuk pulang tidak bisa ditentukan entah sampai kapan.


Seandainya kedua orang tua Elfiza ada disini, entah akan sesedih apa ibunya melihat bagaimana perlakuan kedua kakaknya terhadapnya sekarang, ahh masih ada yang perlu disyukuri tentang kejadian ini rupanya. Segaris senyum mirisnya terkembang begitu saja.


***


Elfiza melangkah perlahan seperti maling yang sedang mengendap - endap masuk kerumah targetnya itulah yang dilakukan Elfiza saat ini, dia ingin pergi barang sebentar untuk menghilangkan sesak didadanya, nyatanya kamarpun tak cukup nyaman untuk perasaannya saat ini.


Mungkin diluar Elfiza terlihat kuat itu hanya yang orang lihat kenyataan hatinya sudah tak berbentuk lagi, mungkin jika digambarkan dengan luka penuh darah, maka bisa dikatakan hatinya sudah sekarat saat ini, dan sebentar lagi akan mati karena terlalu banyak mengeluarkan darah.


"Mau kemana kamu?" pertanyaan yang begitu datar dan dingin menusuk gendang telinganya, sungguh ini kali pertama lagi Yudha berbicara dengan Elfiza setelah kejadian makrab dua Minggu yang lalu, tubuh Elfiza menegang kaku, sedetik kemudian dirinya mulai kembali stabil.

__ADS_1


"Keluar bentar" jawabnya seperti gumaman


"Tidak lihat ini jam berapa!" Tandas Yudha semakin dingin saja cara bicaranya.


"Hanya sebentar saja ko" ucap Elfiza sambil menunduk, kini dirinya lebih memilih menunduk ketimbang menatap sang kakak, sejak tatapan kedua kakaknya berubah kepadanya Elfiza lebih sering menunduk untuk menghindari tatapan kedua abangnya yang membuat remuk redam hatinya yang setiap hari ia forsir untuk kuat itu.


"Masuk kekamar, jangan membuat orang lain susah, kalau ada apa - apa sama kamu" titah Yudha, kata - kata yang menyakitkan kembali terucap dari bibir Yudha.


"Lagian mau ngapain sih keluar di jam segini kaya ga ada waktu lain aja, jangan mengganggu jam istirahat orang lain, hanya untuk membukakan pintu untuk mu" kali ini ucapan dari Yudis yang membuatnya semakin teriris sembilu.


"Jika memang kalian sudah tidak perduli terhadapku, maka tutup rapat - rapat telinga dan mata kalian, bersikaplah seperti biasanya anggap aku tak pernah terlihat ataupun terdengar oleh indra kalian, mengapa serepot itu hingga mengurusi aku dengan mencegah kepergian ku" teriak Elfiza, cukup sudah rasa sabarnya terbatas.


Rasa sakitnya sudah tak lagi bisa ditahannya ini terlalu menyesakan, nyatanya Elfiza tak sekuat yang ia pikirkan, ada sedikit perasaan sakit di hati Yudha dan Yudis mendengar ucapan dari sang adik, ini bukan keinginan mereka namun kebenaran yang Elfiza ungkapkan dimalam itulah yang membuat kedua kakaknya berbuat sampai sejauh ini, kedua kakaknya menghukum Elfiza dengan cara yang salah, lebih menerima kebenaran yang hanya setengahnya saja tanpa mau bertanya kepada sang adik tentang kebenarannya.


Membuat semuanya serba sulit, "cukup perankan, peran masing - masing saja, aku dengan diam ku dan kalian dengan ke acuhan kalian, jangan ikut campur dengan apa yang aku lakukan kembali, karena kalian sudah tidak berhak atas itu setelah kalian mengukuhkan jika semua yang kalian lihat itu benar" teriak Elfiza, bahunya hingga naik turun saking kencangnya dirinya berteriak diruang tamu rumah besar orang tuanya itu.


wajah cantiknya bak udang rebus sungguh merah menahan emosi yang bergejolak ingin keluar, "cukup sudah aku menyerah dengan semuanya, jadi aku mohon jangan campuri urusan ku sekalipun kalian Abang - Abang ku" sentak Elfiza, setelahnya Elfiza benar - benar meninggalkan rumah besar itu.


***


Bukan karena Elfiza senang melihat Fahri babak belur jika sudah dikerjai oleh anak - anak kampus, hanya saja jika tak ada Fahri Elfiza yakin dirinya akan hancur, Fahri yang setiap saat mendukungnya, menguatkannya untuk yang satu itu bolehkah dia egois mempertahankan Fahri didekatnya.


"Jadi?" pertanyaan Fahri kembali menarik Elfiza dunia nyata setelah dirinya terkurung entah berada dimana sesaat tadi.


"Apanya?" Elfiza balik bertanya karena tak mengerti, lebih tepatnya karena Elfiza tak menyimak pertanyaan sang sahabat.


"Ga akan mungkin selamanya loe bungkam kan El?" Tanya Fahri, tak ada jawaban dari Elfiza.


"Diam loe tidak akan menyelesaikan semuanya El" kembali Fahri berucap, masih sama tak ada jawaban dari Elfiza, Elfiza masih tetap fokus pada kaleng soda ditangannya.


Gemas sekali Fahri dengan sahabatnya satu ini, dicengkeramnya pundak sang sahabat tidak kencang namun sedikit bertenaga, diputarnya tubuh mungil itu agar menghadap kearahnya.

__ADS_1


"Loe mau cerita?" Tanya Fahri pada akhirnya menanyakan apa yang selama ini hanya dalam otaknya dia mempercayai sahabatnya ini akan bercerita, namun sampai detik ini sahabatnya itu tak mau membuka mulutnya untuk kebenaran dari masalah yang tengah dihadapi Elfiza.


Alhasil pertanyaan itu muncul kepermukaan juga, saking gemasnya Fahri pada gadis itu, entah apa yang membuat Elfiza menutup rapat mulutnya untuk bercerita itu, Fahri memang tidak tahu apa yang terjadi dimasa lalu Elfiza, setelah kejadian makrab sampai sekarang Fahri memang tidak pernah sekalipun menanyakan apa permasalahan sang sahabat, baru tadi dirinya berani bertanya hal demikian kepada sahabatnya itu.


Cukup lama Elfiza terdiam setelah helaan nafas beratnya, matanya sudah berembun siap untuk meneteskan air matanya, satu kali kedipan saja sudah bisa dipastikan air mata itu turun dengan derasnya mungkin.


Dan Fahri tentu saja melihat hal itu, helaan nafas Fahri menunjukan betapa frustasi dirinya saat ini, "sudahlah jika memang tidak ingin cerita tidak apa, lupakan ucapan gue tadi jangan biarkan ucapan gue menjadi beban buat loe, loe udah cukup capek El" ungkap Fahri.


"B - u - kan g - ue yang salah" lirih Elfiza, Fahri yang tadinya akan pergi mengurungkan niatnya setelah mendapatkan jawaban dari Elfiza, Fahri kembali duduk ditempatnya semula.


"Ceritakan lah El" pinta Fahri, Elfiza menghirup nafas nya dalam -, dalam sesak yang dirasanya semakin menyiksa saja setiap detiknya.


"Panjang ceritanya" ucap Elfiza masih dengan bisikan.


"Ceritakan lah, El gue siap menjadi pendengar yang baik, gue percaya loe ga salah disini" ucap Fahri


"Kejadian di toilet cewe tak sepenuhnya benar Ri" ucap Elfiza


"Maksud loe?" tanya Fahri


"Ada beberapa yang dipotong mereka, gue ga nyangka kalau mereka menjebak gue, mereka mancing emosi gue, bukan gue duluan yang cari keributan tapi mereka, gue hanya membela diri apa itu salah, tapi si picik itu malah memotong kejadian itu, seakan - akan gue tersangka dan mereka adalah korban" menggebu Elfiza berbicara dihadapan Fahri mengeluarkan rasa sesaknya dihadapan pemuda itu.


"Gue percaya apa yang loe bilang El, gue percaya, ga ada yang lebih faham posisi loe dari gue, posisi loe pernah gue alami El, walau dalam kasus yang berbeda El" ujar Fahri.


"Rasanya ga enak, saat kenyataan kita kita tidak bersalah tapi semua seperti menghakimi kita bahwa kita lah yang bersalah" ucap Fahri yang hanya mendapat anggukan lemah dari Elfiza.


"Lalu Vidio itu?" tanya Fahri untuk yang kesekian kalinya Elfiza menghela nafas beratnya, "panjang ceritanya" ucap Elfiza.


"Kalau loe siap untuk cerita gue siap menjadi pendengar yang baik El, kalau loe belum siapa gue ga akan maksa loe, tapi gue harap loe ga bungkam terlalu lama El" ungkap Fahri.


"Kalau gue ga salah hidung kejadian itu udah lima tahun yang lalu, saat itu gue masih duduk di bangku SMP..."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2