
"Sepi" keluh Elfiza setelah para perusuh itu sudah tak ada diruangan rawat Elfiza, Elfiza merasa sepi kembali.
"Sudah makan dek?" Tanya Yudha sambil mengelus surai sang adik.
"Sudah tadi" jawan Elfiza datar.
"Ya udah minum obatnya dulu yuk" ucap Yudha kembali, menghiraukan wajah datar adiknya itu, karna kalau ditanya panjang urusannya.
Awalnya Arjuna ingin bertanya kenapa wajah adik sahabatnya itu flet begitu tapi langsung diberi kode gelengan oleh Yudis, sebelum pertanyaan keluar dari Arjuna. Jadilah dirinya tak bertanya hal itu.
"Bosan! Kapan pulang?" Keluh Elfiza.
"Nanti juga pulang ko dek" jawab Yudha.
"Kapan nantinnya?" Tanya Elfiza
"Sabar atu, sebentar lagi juga pulang" jawab Yudha
"Sebentarnya itu lama tau ga sih kak, El udah bosen disini" ketus Elfiza.
"Makanya jangan sakit kalau ga mau kesini" ucap Yudis kesal juga sudah dari pertama membuka matanya pertanyaan itu terus yang ditanyakan adiknya sampai empat hari dirumah sakit, pun itu terus yang ditanyakannya.
'Seperti tidak ada pertanyaan lain saja' batin Yudis.
"Aku mau pulang.. mau pulang" rengek Elfiza kepada kedua abangnya, masa bodo dengan rasa malunya karna dilihatin oleh Arjuna, yang terpenting dirinya bisa pulang itu akan lebih bagus untuknya.
"Iya nanti kita pulang ya, adik kakak yang manis" mencoba untuk sabar yang bisa Yudha lakukan saat ini, menghadapi adik terkecilnya itu.
"Kapan? Aku maunya sekarang kak!" Kekeh Elfiza, dia benar - benar sudah tidak tahan diruangan ini, walau terkesan nyaman karna ruangan VVIV, tetap saja tidak seperti dikamarnya sendiri.
"Iya sebentar lagi, adeknya sabar dong" jawab Yudha.
'Sepertinya El tidak suka rumah sakit' kali ini batin Arjunalah yang berbicara.
"Sabar teru tapi ga pulang - pulang" keluh Elfiza.
"Kapan kali pulangnya" tambahnya.
Hufhhhh..
Yudis hanya bisa menghela nafas tanda dirinya sudah tak tahu harus berucap bagai mana, untuk membantu sang abang menenangkan adik kecilnya itu.
__ADS_1
"El" panggil Arjuna
"Hemmm" hanya deheman saja jawabannya.
"Kenapa sih kok manyun terus gitu?" Tanya Arjuna mencoba untuk menghibur dari keBTan anak satu ini.
"Pen pulang" ketus Elfiza.
"Yaampun ketusnya, jangan gitu ahh, nanti cantiknya ilang" ucap Arjuna, masih terus mencoba untuk menghibur dan mengalihkan.
"Bomat" ketuanya lagi, ada rasa terkejut disini yang dirasakan Arjuna, biasanya Elfiza akan cerewet kalau Arjuna menjahilinya, atau mengganggu kesenangannya, tapi hanya sesaat dan masih mau membalas ucapannya dengan kalimat panjang, tidak seperti sekarang.
"Shokkan bang diketusin adek gue, biasanya kaga pernahkan" bisik Yudis, yang diangguki Arjuna.
"Adek loe serem kalau marah jutek abis, biasanya dia cerewet" tak kalah berbisiknya Arjuna ditelinga Yudis.
"Ga boleh gitu loh sama kak Juna, biar gimanapun dia temen kakak dan lebih tua dari adek" peringar Yudha.
Cukup sudah kesabaran Elfiza diuji disini, dia hanya ingin pulang dan keinginannya tidak dituruti, saat melakukan perotes bukannya protesnya diterima, ini malah diceramahi seperti tadi oleh kakaknya Yudha, mangkal sudah hatinya.
Elfiza menidurkan kembali badannya yang setengah duduk itu yang bersandar dikepala brankar, dimiringkannya tubuhnya kesamping kanan, dimana tidak ada infus yang bertengger manis dipunggung tangannya, menyelimuti seluruh area tubuhnya, bentuk rasa kesalnya, kali ini dia akan dian saja.
Sudah cukup dirinya berbicara, sampai kuningan dipuncak Monas berubah warna jadi perakpun, tak akan ada yang mau mendengarkan ucapannya dan tak akan ada yang mau mengabulkan keinginannya, jadi lebih baik dia diam, dia akan melakukan protes dengan diamnya.
"Dek" panggil Yudha.
Tetap tak ada jawaban dari siempunya nama. "Dek, bagun yu kasian kak Junanya" kali ini Yudis yang mencoba membujuk Elfiza, tapi Elfiza seakan menulikan telingannya.
"El, ga mau dijenguk sama kakak ya?" Tanya Arjuna, masih sama tak ada jawaban dari Elfiza, malah sepertinya dia terkesan asik dengan tidurnya.
'Sepertinya dia juga marah sama gue' batin Arjuna, dan entah mengapa dia tak suka jika adik dari sahabatnya itu marah terhadapnya entah mengapa.
"Ya sudahlah Yudh, sepertinya El memang tak ingin diganggu, gue balik aja deh kalau gitu, sepertinya dia tak ingin dijenguk gue" ucap Juna pamit, sebelah matanya mengedip tanda memberikan kode kepada Yudha, mungkin saja dengan begitu Elfiza mau keluar dari persembunyiannya.
Tapi sayang hasilnya tetap saja sama, Arjuna sampai menghela nafasnya, ternyata tak mudah membujuk seorang Elfiza kalau sudah marah.
"Susah kalau sudah marah" gumam Yudis pelan takut didengar anak macan satu itu.
"Dek, beneran ga mau temuin kak Juna?" Tanya Yudha kembali membujuk adik kesayangannya itu, masih saja tak ada jawaban.
"Ga mau ketemu kakak juga sama kak Yudis?" Kembali Yudha bertanya, masih sama tak ada jawaban dari siempunya tubuh yang ada didepan Yudha, malah Elfiza kembali merapatkan selimutnya semakin tinggi hingga menutupi seluruh area tubuhnya.
__ADS_1
Hufhhhh...
Yudha menghela nafasnya, lelah sudah dia membujuk adiknya itu, tapi dia tak ingin menyerah juga, karna kalau menyerah saat ini bisa dipastikan, dia dan Yudis akan meradang karna akan didiamkan lebih lama oleh sang adik.
"Kita kesini bawain adek coklat loh biar adek semangat lagi dan cepet sembuh, biar bisa cepet pulang" kali ini Yudis yang bersuara.
"Tapi sepertinya El lagi ga mau diganggu" tambah Arjuna.
"Ya sudah kalau begitu kita makan saja coklatnya bertiga" ujar Yudha.
'Alah palingan juga cuman mau bujuk, bodo amat gue mau jual mahal' batin Elfiza ketus berbicara.
"Tumben?" Tanya Arnjuna pelan
Yudha hanya menggeleng sedangkan Yudis mengangkat bahunya, lantas duduk disofa, sudah tak ada yang bisa membujuk anak macan itu jika sudah ngamuk seperti ini.
Hanya satu yang akan membuatnya menurut kalau sudah seperti ini, siapa lagi kalau bukan sang ayah, ayahnya pandai membujuk sang adik kala mengamuk.
Maklum lah pawang emaknya macan, dia akan punya 1001 macam cara untuk menjinakan anak macan, yang tentunya pasti sianak macan langsung menurut, bagai mana bisa? Itukan pertanyaannya, mudah saja jawabanya.
Seorang pawang, yang sudah menjinakkan emaknya macan ya sudah pasti bisa membuat anaknya menurut, simpelkan. Lantas bagai mana dengan dua asistennya, mereka masih harus banyak belajar darinya bagai mana cara menjinakan ema dan anak macan satu ini.
***
Dua jam lebih tiga pemuda itu menunggu Elfiza yang sedang merajuk, Elfiza yang tadinya hanya pura - pura tidur malah bablas tidur beneran.
"Eh iya Jun, bagai mana ceritanya loe bisa tahu kalau El waktu itu pingsan?" Tanya Yudha memulain pembahasan mengusir rasa bosan dalam menunggu.
Sedangkan yang ditunggu malah asik dengan dunia bawah sadarnya, mungkin tengah merajut mimpi yang mereka tahu seperti itu, tapi sebenarnya sudah dari 5 menit yang lalu Elfiza terbangun karna suara berisik dari henpon Yudis yang tengah bermain game, dan sepertinya dia sudah cukup banyak istirahat, dan hal itu tak diketahui oleh ketiga pemuda tersebut yang saat ini tengah asik mengobrol.
Yudis yang mendengar pertanyaan dari abangnya mengalihkan perhatiannya dari game, kearah dua pria itu, akan menyimak obrolan mereka saja, sepertinya sesuatu yang seru.
"Ya gue angkatlah emang gimana lagi?" Jawaban dan pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Arjuna.
"Si kambing, itu mah namanya cara yang gue tanya ceritanya kambing!" Tegas Yudha.
"Ohhh... ceritanya" gumam Arjuna.
"Iya udah cepet ceritain" pinta Yudha yang disetujui oleh Yudis.
"Waktu itu.."
__ADS_1
TBC...