My Story Elfiza Anestasia

My Story Elfiza Anestasia
Senja DiTaman Pinus 2 (Refisi)


__ADS_3

Awasssss Banyak Typo 😲😲😲 bertebaran... Maafkan πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼🐼


Masih Flasback..


"Hai .. mau pada kemana ni?" Tanya Yudha saat melihat Elfiza dan kawan - kawan seperti tengah bersiap - siap hendak pergi.


"Eh .... kak Yudha " ucap Sri.


"Hai" sapa Yudha pada teman - teman Elfiza yang dibalas dengan lambayan tangan dari keempat anak remaja tanggung didepannya.


"Eh iya kak Yudha dapat salam dari bang Tigor, katanya kapan main lagi ke Pangandaran?" Ucap Sri memberitahukan ucapan abangnya kepada Yudha.


"Waalaikumssalam, salam kan balik ya ke Tugor, kalau masalah kelembang kakak belum tau Ri " jelas Yudha.


"Ok ... insaallah nanti sri sampaikan ke bang Tigor " balas Sri.


"Ohhh ... iya pertanyaan kakak belum ada yang jawab, emang kalian mau kemana?"


"Keliling lembang mau ikut?" ucap Elfiza menawarkan.


"Wah El.. tumben sekali mau jalan - jalan biasanya kalau weekend beginikan kamu paling males kalau diajakin " timpal Arjuna yang membuat wajah Elfiza bersemu.


"Apaan si kak Juna sirik aja" ucap Elfiza


"Hahaha... posisi loe bakalan tergantikan Jun kalau El sudah sama mereka, dia ga bakalan peduli soal males " jelas Yudha.


"Gue aja sering diabaikan" tambah Yudha.


"Apaan dah baper bener kakak ni " ucap Elfiza jutek.


"Isss juteknya adek kakak satu ini" ucap Yudha sembari mengacak rambut Elfiza yang membuat mata Elfiza melotot.


"Sudah lah tu kak.. jadinya kakak sama temen kakak ini mau ikut apa engga keburu sore ni" ucap Yunia mengingatkan.


"Ikut" jawab Arjuna sepontan yang membuat Yudha mau tak mau mengekori mereka..


Tak terasa hari sudah menjelang sore Elfiza dan kawan - kawan keliling lembang, trek terakhir mereka adalah taman pinus.


Elfiza mulai merapatkan sweeternya karna cuaca mulai berkabut dan hawa dingin mulai menyerang, tapi rasanya menyenangkan karna dapat berjalan - jalan bersama parasahabatnya sekaligus dengan kakaknya juga.


Langit yang mulai menjingga menambah kesan indah sore itu, rasa lelah mulai merayapi mereka namun mereka masih tetap menikmati pemandangan yang tersaji ditaman pinus.


Sesekali Elfiza menghirup udara sedalam yang ia bisa seakan ingin menik mati lebih dari itu, karna ini baru pertama kali lagi Elfiza merasakan senyaman ini.


Setelah beberapa tahun kebelalang dirinya disibukan dengan masalah hati dan juga sekolahnya.


"Eh Ri, loe jadinya gimana si? katanya mau kuliah disini " tanya Elfiza


"Awalnya gitu tapi gue harus tunda dulu soalnya bapak ga ada duit buat bayar daftar kuliah gue" jelas Sri yang membuat Elfiza memelototkan matanya.


"Perusahaan bokap lagi ada masalah, dan loe taukan perusahaan bokap gue ga segede punya bokap loe" jelas Sri.

__ADS_1


"Kenapa loe ga bilang sih .. kan kalau gitu gue minta ayah buat bantu" ujar Elfiza.


"Ga usah, bokap bilang tahun depat semua pasti beres jadi gue yang harus sahabar gitu aja .. dan gue harap loe ga kasih tau ke kak Zia dan kak Yunia ya, gue ga mau mereka sampe kepikiran juga" pinta Sri


"Loe yakin?" Tanya Elfiza yang diangguki oleh Sri.. " Iya gue yakin, udah ahhh gue kesana dulu" jawab Sri.


Selang lima menit dari kepergian Sri, ada yang menghampiri Elfiza seorang gadi, gadis yang sangat Elfiza kenali.


"El" sapa gadis itu.


"Eloe! Ngapain loe ada disini?" tanya Elfiza pada gadis itu.


"Gue... gue ... emmmm" gadis itu tampak bingung memberikan jawaban.


"Loe sendiri ngapain ada disini?" Gadis itu balas bertanya pada Elfiza tanpa menjawab pertanyaan dari Elfiza, mungkin pertanyaan Elfiza tak ada jawabannya.


"Sama seperti loe, ngabisin waktu weekend gue" jawab Elfiza


.


"Hehehe... gue kira gue ga bakal ketemu loe lagi El" ujar Nadin, ya gadis itu memang Nadin.


"Loe kesini sendiri?" Pertanyaan kedua yang Elfiza lontarkan untuk Nadin benar - benar tak bisa dijawab oleh gadis itu, bahkan mimik wakahnya berubah, seperti cemas dan takut.


'*Ba***gus**.' batin Elfiza 'Padahal dunia ini luas dah! Apa memang benar dunia ini sempit?. Kenapa mesti keLembang sih' cerocos bantin Elfiza bermonolog.


"Ok gue paham" akhirnya Elfiza menjawab sendiri pertanyaannya.


"El, bisa kita bicara ini tentang.."


Terpaan angin sore mulai mengganas, dan kabut mulai sedikit tebal dari setengah jam yang lalu dan Elfiza semakin merapatkan sweeter yang dikenakannya.


Karna rasa diningin yang menerpanya, sudah hampir 15 menit mereka berdiri disini namun tak ada satupun yang memulai percakapan duluan.


'Kalau sampai 5 menit lagi ga ngomong gue bisa disangka ilang ini' otak Elfiza berfikir karna dirinya tak memberitahukan kepergiannya tadi pada rombongan.


"Gimana kabar loe?" Tanya Elfiza memukai percakapan "Baik" jawab Nadin.


"El, sebenarnya... gu...gu..gue " ucap Nadin terbata untuk memulai kembali obrolan.


"Ngomong aja lagi Nad ga usah canggung gitu kaya kesiapa aja" akhirnya Elfiza berinisiatif bicara demikian, bukan karna apapun tapi karna dirinya tak ingin berlama - lama disini dengan dirinya yang tak memberitahukan keberadaanya kepada yang lainya.Takut mereka hawatir.


"Ada apa?" tanya Elfiza karna Nadin masih tetap bungkam.


"Ceritalah!Apa ini ada hubungannya dengan Nano?" tanya Elfiza kembali.


" El gue ga tau harus mulainya darimana" keluh Nadin.


"Mulailah dari apa yang ingin loe ceritain Nad" saran Elfiza.


"El, gue beneran minta maaf gara - gara gue hubungan loe sama dia jadi berakhir" saat ucapan itu meluncur dari bibirnya saat itu pula Elfiza kembali merasakan betapa pahitnya penghianatan.


"Gue sadar gue egois, tapi gue ga bisa mundur El, dan gue harap loe bisa jauhin Nano" ucapan kedua dari Nadin membuat Elfiza terperangah.

__ADS_1


Apa maksud ucapan Nadin memintanya untuk menjauhi Nano, sedangkan dirinya saja tak pernah bertemu kembali dengan Nano, Elfiza merasa bingung sendiri.


"Gue tau semuanya El, gue tau Nano minta loe buat balik lagi kediakan El, gue liat semuanya El, diPangandaran" jelas Nadin.


"El, gue tau... hiks... loe ga setega itu sama gue .. hiks ... hiks .... " ucap Nadin mulai terisak


"El, gue bener - bener ga bisa kehilangan Nano" tambah Nadin masih diselingi isaknya.


Elfiza tak bisa berbicara apapun entah mengapa Nadin bisa serapuh itu hanya karna satu cowo, Elfiza tau betul siapa Nadin, orang seperti apa Nadin.


"El, loe sama gue tau siapa Nano dan bagai mana sikapnya jika apa yang dia inginkan belum dia dapat dia akan menghalalkan seribucara" ucap Nadin panjang kali lebar kali tinggi masih dengan isakan (aduh mba. apa ga cape tu).


"Lantas gue harus apa?" tanya Elfiza lirih.


"Jauhin Nano!Sejauh - jauhnya, gue mohon ama loe El jangan muncul lagi dihadapannya" pinta Nadin dan tangisnya mulai menjadi.


Bagai tersambar petir disiang bolong, mendengar permintaan dari Nadin membuat hatinya sangat sakit rasanya namun Elfiza hanya diam membisu.


'Andai loe tau Nad, seberapa besarnya gue pengen menjauh dari lelaki itu sejauh mungkin dan melupakannya. Sayang gue masih gagal' teriak batin Elfiza meronta.


Elfiza memang tak bisa membohongi dirinya jika ia masih memiliki rasa itu sampai saat ini bahkan dirinya masih sering kepo terhadap sosmed mantannya itu.


"Dia masih mencari keberadaan loe, gue mohon El pergi dari hidup kami, anggaplah gue egois, tapi gue ga bisa hidup tanpa dia sekarang. Dan loepun dulu pernah punya kesempatan untuk miliki dia saat gue ingin mundur tapi loe yang memlilih pergi" jelas Nadin panjang kali lebar.


Tak percaya Elfiza mendengarnya sampai Nadin bisa berucap demikian, tapi ya memang benar yang dikatakan Nadin seandainya waktu itu Elfiza memilih Nano dan meminta Nadin menjauh dari Nano mungkin dia akan bersama dengan orang yang dicintainya itu.


Tapi perasaan kecewanya akan terus ada dan rasa takut akan terus menghiggapi harinya, maka dari itu ia memilih pergi.


Sakit rasanya saat ingin melupakan seseorang yang kita sayang namun orang itu beruang keras untuk mendekat dan kita mengetahuinya dari orang yang meminta kita untuk menjauh dari orang tersebut.


Itulah yang dirasakan Elfiza saat ini, yang membuatnya tak ada pilihan lain selain menyanggupi permintaan Nadin.


Lagipula Nano hanya masalalunya.


Flasback off.


"Melamun?" Teguran seseorang menyadarkan lamunan Elfiza.


Potongan kejadian ditaman pinus dua bulan lalu tergambar jelas diingatan Ellfiza, membuat Elfiza secara tak sadar melamu.


'Gue harus bener - bener lupain tu manusia satu, kalau gue mau terbebas dari ini semua, gue beneran udah cape!' teriak batin Elfiza.


"Melamun lagi" tegur Yudis, ya sedari tadi teguran itu datangnya dari Yudis sang kakak yang saat ini berada bersamanya digazebo halaman samping.


"Ada masalah?"Tanya Yudis akhirnya karna gemas melihat adiknya sama sekali tak fokus dengan obrolan mereka.


"Tidak ada ko kak" jawab Elfiza cepat.


"Kamu yakin ?Ga lagi bohongin kakakkan dek?" Kembali bertanya meminta kejelasan.


"Iya kakak ku, udah ahhh, aku mau kekamar mau bobo cantik bay" ucap Elfiza menyakinkan kakaknya itu seraya berlalu dari hadapannya.


'Gue yakin El, lagi sembunyiin sesuati tapi apa?' batin Yudis berbicara.

__ADS_1


TBC...


Mau tau kelanjutannya stay terus ya mentemen 😚


__ADS_2