
Sedari tadi Elfiza tak henti - hentinya dia menerbitkan senyumnya, senang sekali rupanya anak macan satu ini, bagai mana tidak senang jika hari ini dia dibolehkan pulang.
"Ibu ayo cepetan kita pulang" ajak Elfiza tak sabaran sekali, padahal infusnya saja belum dilepas.
"Sabar sayang, tunggu dokter Arman dulu ya" ucap ibu.
"Kok masih tunggu om dokter sih bu" keluh Elfiza.
"Kan infus kamu belum dilepas, dan lagi om dokter bilang nanti dia akan kesini lagi buat visit yang terakhir" jelas ibu.
"Hisss... terus kapan om dokternya datang bu?" Tanya Elfiza tak sabar.
"Sebentar lagi sayang, anak pelawan ibu ini kenapa jadi tidak sabaran hemm?" Tanya ibu sambil geleng - geleng kepala.
"Ihhh ibu, adekkan kangen rumah" jawab Elfiza.
"Cuman kangen rumah doang nih?" Tiba tiba saja sebuah suara yang ikut menyela dalam obrolan ibu dan anak itu.
"Ehhh... kangen kak Yudha juga dong" jawab Elfiza girang, melihat kakaknya itu, ya mana bisa dia lama - lama marah terhadap kakak - kakaknya itu.
"Cuma bang Yudha aja ni?" Tanya Yudis yang ada disebelah Yudha terlihat kesal karna yang disebut hanya abangnya saja.
"Hehehe.. engga kangen sama tukang jahil" ucap Elfiza sambil terkekeh.
"Jahilan juga bang Yudha ketimbang aku dek" ketus Yudis tak terima dibilang jahil, walau itu kenyataannya.
"Iya.. iya El juga kangen kak Yudis ko, pokonya El kangen semuanya" jawab Elfiza.
"Sweetnya adik kakak ni" ucap Yudha.
Tak berselang lama dokter Arman dan satu orang suster datang, untuk pemeriksaan terakhir.
"Alhamdullilah semuanya sudah normal, jadi El sudah boleh pulang, tapi ingat jangan makan yang asam dan pedas dulu, dan banyakin istirahatnya juga ya" ucap dokter Arman.
"Siap om" jawab anak macan itu memberi hormat, dokter Arman terkekeh geli melihat pasiennya satu ini.
"Kalau begitu El sudah bisa pulangkan?" Tanya Elfiza
"Sudah ko, suster santi tolong lepas infusnnya, sudah habis juga" titah dokter Arman kepada seorang suster yang ikut bersamanya tadi.
"Baik dok" jawab suster Santi.
"Ibu" rengek Elfiza, membuat semua orang yang ada disana terkekeh geli, apa lagi dokter Arman dia sampai berusaha setengah mati menahan tawanya supaya tidak terlalu jelas kelihatan.
Rupanya pasiennya satu ini bukan hanya tidak suka rumah sakit, dan sepertinya juga takut sama jarum, wajah takutnya terlalu imut untuk dilewatkan, sayang dia tidak terlalu dekat dengan keluarga itu, jadi dia tidak bisa mengunyel pipi yang sedikit tirus itu, tangannya sampai mengepal berusaha menahan agar tidak mengangkat dan melaksanakan niatnya itu.
Ahhh, ternyata pasiennya kali ini begitu menggemaskan 'Adai saja aku punya anak perempuan sepertinya' batin dokter Arman, rupanya dokter Arman ingin memiliki anak seperti anak macan satu ini, belum tahu saja dia kalau dia anak macan.
__ADS_1
***
Setelah semuanya beres akhirnya Elfiza pulang sesuai yang ia inginkan, 'Ahhh.. Senanhnya bisa keluar dari sana' batin Elfiza.
"Seneng banget kayanya" sindir Yudha
"Seneng dong bebas dari penjara" jawab Elfiza santai.
"Apanya yang penjara, terlalu lebay deh" Yudis ikut menimpali.
"Ya penjaralah, orang aku ga bisa kemana - mana selama disana, apa lagi selalu disiksa disana" dramatis Elfiza
"Drama deh kamu dek, emang siapa yang nyiksa kamu hemm?" Tanya Yudha.
"Dihh, ga nyadar banget, adekkan pengen pulang tapi ga dibolehin, terus tangannya diinfus disuruh minum obat, ga boleh kenama - mana, kaya budak yang disuruh tidur dipenjara udah gitu dapet penyiksaan" grutu Elfiza.
"Itu kamunya aja yang lebay, orang biar sembuh malah bilang disiksa segala macem" ketus Yudis.
"Au ahhh" ucap Elfiza tak kalah ketus, lantas memalingkan wajahnya kesamping dimana jendela berada, dari pada berdebat dengan dua kakaknya lebih naik dia melihat pemandangan yang ada diluar.
Sedangkan sang ibu hanya bisa geleng - geleng kepala saja melihat ketiga anaknya itu, senang bercampur kesal, senang karna anak gadisnya sudah sembuh dan bisa kembali berkumpul bersama dengan yang lain.
Kesal karna membayangkan sebentar lagi kupingnya akan panas mendengar aduan dari sang anak hanya karna dijahili kedua putranya, ya mau bagai mana lagi dirumah tidak ada anak kecil.
Yang ada hanya Elfiza jadilah dia bahan yang bisa dibuat keusilan oleh kakak - kakaknya setiap dirumah, mengisi waktu kekosongan mereka. Yang membuat anak macan itu selalu berteriak mengadukan tingkah kakak - kakahnya.
Padahal jika sudah mengamuk mereka pula yang kewalahan menghadapi kekesalan dan juga keinginan yang mesti semuanya dituruti itu, tapi walau bagai manapun bentuk anak macan itu dengan segala tingkah laku aneh dan ngeselin jika kumat ngambeknya, tetap saja mereka sayang terhadap Elfiza.
Selama hampir seminggu dirumah sakit, selama itu pula rumah sepi, terkadang Yudha yang akhir - akhir ini betah dirumahpun, memilih lebih banyak diluar, sebelun jadwalnya menjaga sang adik.
Ahhhh... bagai manapun mereka sayang terhadap Elfiza, dia adik dan anak yang menggemaskan, dan teman yang asik, makanya tak jarang teman sekolahnya, terutama teman sekelasnya menanyakan kepulangan Elfiza.
Siska dan Kezia juga sering mengunjunginya dirumah sakit, katanya sih mengobati rasa rindu padahal mah gabut saja tidak ada yang dikerjakan dirumah mereka.
Para sahabatnya diPangandaranpun selalu menanyakan kabarnya, bahkan Sri dan Zia menyempatkan diri untuk menjenguknya, walau tak ada Yunia kala itu Yunia memang tidak bisa pulang, tapi bukan berarti dia tidak ikut dalam keseruan saat ketiga sahabatnya itu kumpul.
Sekarang jaman canggih, tinggal vido call semua beres, Yuniapun bisa ikut bergabung, walau hanya dalam bentuk firtual saja. Ahhh memang teman yang setia, menyenangkan sekali memiliki teman - teman yang dimiliki Elfiza.
***
Mobil memasuki pekarangan villa yang cukup luas itu, senyum Elfiza tidak luntur sedari dirumah sakit tadi, 'Ahhh rasanya kangen sekali dengan suasana rumah, aku bisa kembali tidur dikamar ku, ahhh rasanya tak sabar' batin Elfiza berceloteh riang.
"Ok sudah sampai, ayu Ratu dan tuan Putri silahkan turun" ucap Yudha dengan tersenyum melihat dari balik kaca yang tergantung dikap atas mobilnya.
Sedangkan Yudis sudah membuka pintu dan turun terlebih dahulu, "Silahkan, nyoya, nona" kali ini Yudislah yang berbicara mempersilahkan ibu dan anak itu untuk turun.
Yudis membukakan pintu mobil untuk ibu dan adiknya, tak lupa tangannya terulur agar bisa disambut oleh orang yang berada dibangku penumpang itu.
Ibu terkekeh pelan dengan tingkah kedua putranya itu yang benar - benar absrud, ada - ada saja mereka ini fikirnya.
__ADS_1
"Dasar, bisa sekali kalian ini" ucap sang ibu sambil meraih tangan Yudis lantas keluar dari dalam mobil.
"Alah paling juga kak Yudha sama kak Yudis lagi ada maunya bu" celetuk Elfiza, sambil beringsut menggeser tubuhnya untuk keluar.
"Kamu mah dek suuzon aja sama kita" ucap Yudha yang masih berada dikursi kemudi.
"Udah hafal betul kelakuan kakak - kakak aku ini mah" kembali Elfiza menjawab ucapan Yudha, tangannya menggapai tangan Yudis yang sudah terulur itu.
Yudis dan Yudha hanya bisa menghembuskan nafas mereka saja, melihat bagai mana tingkah adik kecil mereka. 'Yaampun El, segitu tak percayanya kah dia?' Batin Yudha dan Yudis bertanya.
Elfiza dan ibu beriringan berjalan menuju kearah pintu besar itu untuk memasuki rumah, diikuti Yudis dari belakang sedangkan Yudha memasukan mobil yang tadi dikendarainya untuk menjemput sang adik kedalam garasi.
***
Saat hendel pintu didorong untuk membuka pintu besar, suara confetti terdengar begitu nyaring diiringi teriakan ucapan selamat datang.
"El, welcome to the home" teriakan anak - anak SD itu menggelegar keseluruh ruangan yang ada dirumah ini, kertas warna - warni hasil semburan dari beberapa confetti tadi mengenai kepala Elfiza dan juga kepala ibu yang terbungkus kerudung.
"Loh kalian" ucap Elfiza tak menyangka jika taman - teman sekolah serta para sahabatnya dari Pangandaran ada dirumahnya.
"Iya kita disinikan mau nyambut kamu El" ucapa Sri.
"Alah laga laau padahal cuman mau numpang makan juga" sindir Alif, yang membuat Sri mencak - mencak ditempatnya.
"Engga ko bu beneran deh" ucap Sri pada ibu.
"Bener juga ga apa - apa ko Ri" jawab Yudha, baru juga sampai udah mau buat rusuh saja abang Elfiza satu ini.
"Apa sih bang Yudha ini, engga gitu loh bu beneran" ucap Sri menyakinkan ibu.
"Iya ibu percaya ko" balas ibu menenangkan anak dari sahabatnya ini.
Elfiza yang melihat hal itu hanya menggedigkan bahu saja, tanda tak perduli dengan kelakuan sahabatnya satu itu.
Sedang yang lain bergumam dalam hati mereka masing - masing 'Ternyata ke tiga cewe ini dekat dengan keluarga El'.
"Sudah ayo masuk, pasti kalian sudah nunggu lama disinikan?" Tanya ibu mengajak bocah - bocah rusuh itu untuk masuk.
"Behhh lama banget tan rasanya udah kaya seabad, engga sabar pengen ketemu sama bebeb cantiknya babang Ayi" jawab Fahri yang langsung mendapatkan sorakan dari semua orang yang ada disana, tak terkecuali kedua abang Elfiza.
Fahri sendiri tak merasa risi, yah bomatlah ya, masalahnya mulut lemesnya gagal direm, sepertinya remnya sudah blong, senjak dia berani mengombali Elfiza didepan abang - abangnya waktu dirumah sakit.
***
Dan pada akhirnya hari itu Elfiza tak bisa berhenti tertwa karna ulah teman - temannya, serta Yudha dan Yudis yang selalu mangkal mana kala mendengar gombalan dari teman sang adik untuk adik kesayangan mereka.
Berbeda lagi dengan Arjuna yang entah mengapa hatinya terasa panas membara, bak sedang kebakaran saja.
TBC.
__ADS_1