
Dua minggu kembali berlalu, hari ini Elfiza dkk tengah bersibuk ria mempersiapkan segala sesuatu yang mesti dipakai untuk acara ospek dikampus mereka.
Elfiza akhirnya memutuskan untuk satu kampus dengan kedua kakaknya begitu juga dengan dua sahabatnya yang ikut bergabung dengan Elfiza.
Hari itu ia sempat bingung memilih kampus yang mana karna 5 dari 8 kampus yang Elfiza ikuti formulir pendaftarannya dan juga tesnya, kelimanya menerima Elfiza.
Sayang ketiga kampus lainnya tidak menerima Elfiza, entah kloter mahasiswanya sudah mencapai batas atau karna memang nilai Elfiza saat tes kemarin kurang, entahlah.
Walau demikian Elfiza merasa bingung disudutkan dengan 5 pilihan, yang pada akhirnya dia memilih masuk keUnipersitas yang sama dengan kedua abangnya.
Walau dengan jurusan yang berbeda, Elfiza mengambil ilmu sastra umum, dua sahabatnya pun memilih pilihan yang sama dengan Elfiza.
"Pita warna merah dan biru" ucap Elfiza
"Ada" jawab Siska sambil menunjukan 6 benda tersebut.
"Tali sepatu merah dan biru" kembali mengabsen apa yang Elfiza tulis dibukunya.
"Lengkap semua ada 3 pasang" jawab Kezia.
"Topi penyihir?" Tanya Elfiza.
"Belom dibuat tapi bahannya redy" jawab Siska.
"Sip" ujar Elfiza.
"Gunting, lem tembak, steples sama solatif dkk ?" Tanya Elfiza.
"Siap" jawab Siska menunjukan satu kota yang memperlihatkan semua yang disebutkan Elfiza tadi, perangkat bedah mereka.
"Bahan buat name tag?" Tanya Elfiza kembali, tanpa menjawab Kezia mengeluarkan karton berukuran lebar cukup untuk mereka bertiga, dengan potongan kardus persegi panjang 6 buah.
"Bagus" jawab Elfiza.
"Apa lagi yang belom?" Tambah Elfiza bertanya.
"Tas dari karung, empeng dan terong" jawab Siska.
"Ini sebenernya mau ospek apa mau jadi orang sarap sih?" Tanya Elfiza heran.
"Au, udah cepet buat biar kita cepet istirahat, gue cape seharian keliling pasar cari beginian doang" keluh Siska memerinta.
"Ehh Suketi, emangnya loe doang yang cape, kita juga sama capenya" ucap Kezia.
"Udah - udah, ini buat topi penyihirnya dulu aja, mau warna apa? Kan ini bebas" ujar Elfiza menengahi.
"Gue yang pink" ucap Siska
"Iya ciwek" jawab Elfiza.
"Loe yang mana?" Tanya Elfiza.
"Coba yang ungu aja deh" jawab Kezia.
"Sisanya berarti gue yang biru" ucap Elfiza.
Setelahnya mereka berkutat dengan kegiatan baru mereka, membuat topi penyihir untuk dikenakan dua hari mendatang.
"Kurang lancip itu Sis" ucap Elfiza memberi tahukan.
"Loe liat tuh si Kezia, dia malah bikinnya bulet bukan kerucut" gerutuh Siska yang kena peringatan dari Elfiza sedangkan Kezia dari awal sampai akhir salah.
Elfiza menoleh kearah Kezia dia benar - benar menepuk jidatnya, "Ehhh Surtijah, sejak kapan penyihir pake topi bulat?" Tanya Elfiza heran, yang ditanya malah terkekeh saja, "Habisnya gue kaga bisa buatnya".
"Ngomong dong loe" serbu kedua sahabat Kezia itu, yang membuat Kezia menyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapih.
"Sini gue bantu bikin polanya sisanya loe kerjain sendiri" ucap Elfiza akhirnya.
Dan kembali mereka mengerjakan apa yang mereka tenkuni tadi, sesekali Elfiza dan Kezia saling lirik mana kala memperhatikan satu temannya yang selalu mesem, senyam senyum sendiri setiap kali memegang hpnya.
Entah sedang chatan dengan siapa mis. Perfack satu ini, "Dia lagi kenapa coba?" Bisik Kezia bertanya, Elfiza hanya mengangkat bahunya tanda ia sendiri tak tahu kenapa temanya itu bisa seperti itu.
Saking penasarannya akhirnya Kezia nekat merampas ponsel milik Siska saat dia tengah lengah memperhatikan layar ponselnya, setelah mengirim chat balasan entah kesiapa.
"Serius kali laau, chatan sama siapa sih gue liat ya" ucap Kezia, tanpa persetujuan dari siempunya henpon, hp itu sudah berpinda tangan ketangan Kezia.
"Loe ko bisa chatan sama si bule sih?" Tanya Kezia menyelidik.
Siska yang sudah ketahuan hanya nyengir lebar saja, sejujurnya sih ingin curhat dengan dua sahabatnya itu, hanya saja waktunya belum ada, sejak dari dua minggu yang lalu mereka tak memiliki kesempatan untuk kumpul bareng.
Mereka sibuk dengan urusan pendaftaran serta masa tes diPerguruan tinggi yang mereka inginkan itu, walau pada akhirnya mereka memilih Unipersitas yang sama.
"Dari kapan loe chtan sama si bule?" Sergah Kezia bertanya.
"Hampir satu bulan yang lalu" jujur Siska
__ADS_1
"Hah, udah lama tapi loe ga cerita sama kita berdua, jahat loe" ketus Kezia.
"Maaf deh, bukannya mau nutupin hanya saja.."
"Hanya apa?" Tanya Kezia memotong ucapan Siska, rupanya ada yang tak sabar mendengar cerita dari sang sahabat.
"Belum ada waktu yang pas, emang loe berdua kaga inget dua minggu ini kita sibuk masing - masing" tandas Siska.
"Iya juga ya" ucap Kezia.
"Terus udah sampai mana?" Tanya Elfiza menggoda sahabatnya itu, yang malah membuat rona merah diwajah Siska tercetak manis.
"Ahhhh... udah tahap lanjut nih kayanya" tebak Kezia, semakin membuat Siska merasakan panas yang menjalari pipinya karna malu ketahuan sedang menjalin hubugan dengan lawan jenis, walau belum ketahap pacaran.
"Bentar lagi ada yang jadian nih kenya, atau malah udah pacaran ni.. PJ pasti ada dong Sis" tambah Kezia.
Elfiza hanya tersenyum saja menanggapi ucapan sahabatnya itu, dia melihat bagai mana Siska bersemu malu bercampur rasa bahagia, membuat Elfiza senang karna sahabatnya bahagia.
"Belum sampai kesana, masih tahap perkenalan aja" jawab Siska.
"Apa? Lama amat" ucap Kezia tak percaya, yang dibenarkan oleh Elfiza 'Ni si bule niat dektin Siska apa engga sih, awas aja kalau cuman buat mainan doang, gue jadiin dia perkedel nanti' geram otak Elfiza.
"Lagian ya ngapain aja sih kenapa masih tahap perkenalan, bukannya udah kenal ya, bahkan lebih dari setahun juga, dan sekelas pula pas SMA. Masa iya tahapnya perkenalan mulu" rutuk Kezia.
"Bener tu, si bule kaya siput geraknya lambat" Elfiza meninpali.
"Pelan - pelan kan yang penting hasilnya baik guys" jawab Siska.
"Elah bela aja terus tu pangeran unta arab loe" tukas Kezia.
"Dia dari Turki kambing" ralat Siska.
"Ya dah iya" jawab Kezia.
"Lagian loe pada yakin banget sih si bule bakalan nembak gue" ujar Siska heran.
"Ya elah, diakan beruang kutub wajar aja kalau kita nyangkanya sibule ada rasa sama loe, karna mau chatan sama loe, gue aja yang punya no dia dari lama dan dia punya no gue juga, kaga pernah tu dia chat gue duluan cuman sekedar basa - basi doang" cerocos Kezia.
"Kalau semisal dia cuman nganggap gue temen kaya yang lain gimana?" Tanya Siska cemas.
"Udah tadi dibilang si Kezia, dia itu beruang kutub, mana mau dia berinteraksi dengan yang dia rasa tidak terlalu mengenalnya apa lagi sama cewe" ucap Elfiza menyakinkan Siska.
"Bener tu, sudah ketahuan dari situ saja kalau dia ada rasa sama loe Sis" tambah Kezia.
"Kalau engga gimana? Gue kan ga kaya yang lain" Tanya Siska insecure duluan.
"Gue cuman ga mau berharap lebih. Takut jatuh, soalnya jatuh itu sakit" jawab Siska sambil mendrama.
"Lebay loe nyet!" Tandas Elfiza brigidik ngeri melihat tingkah Siska, Siska hanya mendengus saja mendengar ucapan Elfiza.
"Taruhan sama gue, gue yakin ga bakalan lama lagi tu si bule nembak loe" ucap Kezia menantang.
"Gue setuju" jawab Elfiza menyetujui ide taruhan dari Kezia.
"Gimana?" Tanya Kezia, menanyakan apakah Siska mau ikut dalam taruhan mereka.
"Ayolah Sis, jangan terlalu berlebihan menyikapi semuanya, lagian kenapa kalau sampai loe ga ditembak duluan sama tu bule, sekarang sudah hal lumrah kalau cewe nembak cowo duluan" ujar Elfiza menyemangati sahabatnya itu yang tampak lesu.
'Awas aja loe bule ampe mainin perasaan sahabat gue' batin Elfiza.
"Gue cuman takut patah hati" jujur Siska, dari sana Elfiza sadar jika memang benih cinta sudah tumbuh subur dalam diri Siksa lebih tepatnya dihati gadis manis itu.
"Tapi kalian bener, gue yang terlalu berlebihan dalam menyikapi semua hal akhir - akhir ini" jawab Siska.
"Mungkin laau setres kali gegara mikirin ospek, inget neng ospeknya aja belum ngapa udah oleng duluan loe" ucap Kezia tanpa dosa.
"Mulut loe itu" ketus Siska.
"Udahlah ini jadinya gimana loe ikut taruhan?" Tanya Elfiza kembali.
"Gue yakin si Bule pasti nembak loe" ucap Kezia
"Gue juga" tambah Elfiza.
"Gue kaga yakin tuh" jawab Siska.
"Jadi loe pilih engga?" Tanya Kezia lagi.
"Iyalah" jawab Siska yakin 'orang perkembanganya aja kaya keong' tambah hati Siska berceloteh.
"Karna kita berdua sama, loe yakin si bule nembaknya kapan?" Tanya Kezia.
"Kalau loe?" Tanya Elfiza.
"Pas perkuliahan masuk" jawab Kezia yakin.
__ADS_1
"Nah kalau loe?" Tanya Siska.
"Selepas ospek" jawab Elfiza.
"Berarti ga ada seminggu dong" jawab Siska.
"Iyaps" jawab Elfiza santai.
"Yakin banget sih loe kalau salah gimana?" Tanya Kezia karna seyakin itu Elfiza berucap, sedang Elfiza sendiri menggedigkan bahunya tanda tak perduli, entah kenapa dia seyakin itu.
Padahal dirinya tak tahu apa rencana dari Alexis, entah dia akan menembak Siska seperti perkiraan Kezia atau malah perkiraannya yang benar atau mungkin sedikit lebih maju seperti yang diharapkan atau malah lebih lama dari perkiraan Kezia, Elfiza tidak tahu.
Untuk kali ini dia tak akan ikut campur, dan tak ingin bertanya juga, dia ingin fer saat bermain tak ingin ada kecuarangan walaupun itu hanya bertanya, biarlah itu urusan Alexis.
"Apa taruhanya?" Tanya Siska akhirnya dia penasaran juga.
"Pocer belanja satu setengah juta gimana?" Tanya Kezia memberi usul.
"Hanya segitu?" Tanya Siska meremehkan, karna sudah dipastikan dia yang menang, dia yakin kalau Alexis tak akan menembaknya, jadinya dia sesumbar duluan.
"Jangan begitu, kalau kalah nangis nanti, keilangan jatah jajan selama 1 bulan penuh" ucap Elfiza mengingatkan yang membuat Siska nyengir.
"Iya maaf" jawab Siska.
"Gini deh karna tadi Siska bilang hanya segitu, gimana ditambah sama uang yang biasa kita tf ke panti ditanggu yang kalah selama dua bulan berturut - tueut dengan catatan uang yang ditf harus dua kali lipat dari biasanya gimana?" Saran dari Kezia.
Sebenarnya untuk mereka cukup berat, karna mereka masih mengandalkan uang jajan dari orang tuanya, tapi setelah mendengar kata tf untuk panti asuhan, malah membuat mereka semangat.
Itu pertanda jika panti asuhan Nurullhida akan mendapatkan rizky yang lebih dua bulan kedepan, Ketiganya malah bersemangat agar bisa terlaksana hal itu dan mudah - mudahan saja sampai seterusnya donasi itu akan bertambah.
"Deal" ucap Elfiza dan Siska berbarengan.
"Ok, jadi kita taruhan mulai dari sekarang ya. Siap - siap aja dari sekarang ya loe berdua" ucap Siska memperingatkan.
"Loe yang mestinya siap - siap, karna gue yakin si bule bakal nembak loe" tukas Kezia.
"Kaga yakin gue mah" ucap Siska.
"Kita liat nanti" ucap Elfiza.
"Inget loe ya kalau sampai bener dia nembak loe, loe jagan ampe nutupin dari kita" peringat Kezia.
"Ngapain?" Tanya Siska bingung.
"Ya takut aja, takut loe kaga mau bayar kekalahan loe" jawab santai Kezia.
"Enak aja. Kita liat nanti siapa yang menang" ucap Siska menggebu, hilang sudah rasa takutnya tadi yang bakalan sakit hati jika sampai dirinya hanya jadi korban friend zone.
Sekarang diriya malah berambisi untuk menang karna saking kesalnya terhadap kelakuan sahabatnya itu, dan tak memikirkan hatinya sendiri jika sampai dia menang itu artinya dia hanya akan mendapatkan pocer belanja 1,5 jt.
Dan bukan hati si bule, karna hati si bule ga semurah itu, tapi ya sudahla namanya juga Siska tidak bisa dikompori sedikit langsung meledug...
Elfiza yang melihatnya hanya geleng - geleng kepala sambil melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karna perdebatan konyol yang berakhir dengan pertaruhan, ahhh dasar memang para gadis gesrek.
Entah mengapa malah menjadikan cinta sebagai mainan, bagai mana jika malah mereka yang dipermainkan oleh cinta nantinya, biarkan saja itu urusan nanti.
Saat ini urusan mereka adalah menyelesaikan masala ospek nanti, karna perlengkapanya belum siap semua apa lagi tadi terjeda karna masalah pertaruahan itu.
'Kenapa jadi bertaruh gini ya, kalau sampai si bule tahukan bagai mana perasaannya nanti?' Tanya batin Elfiza.
"Eh terus kalau sibule ampe tahu gimana?" Tanya Elfiza.
"Tinggal bilang yang sebenarnya apa susahnya" jawab Siska enteng.
"Ehh dodol, otak loe ya dipake apa Sis, kalau seandainya ampe tu bule tau abis kita dia pasti marah besar" ucap Kezia.
"Ya dari pada tahu dari orang lain mending tahunya dari mulut kita sendiri, gue yakin ko si bule engga kaya gitu" ucap Siska meyakinkan dua sahabantya.
"Kayanya si Siska udah tau betul dalemnya si bule Kez" goda Elfiza.
"Bener banget tu. Jangan - janga ampe kekolor pula lagi tahunya" tambah Kezia yang berhasil membuat bantal sofa mendarat dimuka Kezia.
"Mulutnya ya kaga difilter dulu kalau ngomong" kencam Siska kesal.
"Ya takut aja gitu, ya ga El" ucap Kezia meminta pembelaan dari Elfiza yang diangguki oleh anak macan itu.
"Punya sahabat cuman dua tapi pikiranya busuk semua" ucap Siska lantang.
"Si kambing" ucap Kezia dan Elfiza berbarengan.
"Udahlah mending lanjutin buatini aja lagi, udah mulai sore tapi belom ada yang jadi satupun" keluh Elfiza.
Karna ucapan dari Elfiza akhirnya mereka kembali mengerjakan aktifitas mereka dengan hikmad kembali menekuri rutinitas yang kembali terjeda itu.
Dan akhirnya mereka benar - benar beribet ria dengan segalahal yang berurusan dengan ospek nanti.
__ADS_1
❄❄❄
TBC...